SIMPANGAN RASA
Cukup Sudah
Bagas masih terus memandangi perempuan yang dia yakini adalah Rena. Cemburu? Tidak. Bagas sama sekali tidak merasakan adanya kecemburuan melihat kemesreaan Rena dengan lelaki yang bersamanya. Bagas cenderung kecewa. Bagaimanapun Rena adalah istrinya. Jika benar lelaki itu memiliki hubungan spesial dengan Rena, maka selama ini Bagas telah ditipu mentah-mentah oleh istrinya. Kemana Rena yang selalu mengatakan kata cinta ketika mereka bertemu? Bagas tersenyum sinis. Walau kecewa, dia tetap senang bisa melihat Rena bersama lelaki lain. Dengan begitu, Bagas sudah memiliki alasan yang jelas untuk menjauh dari Rena.
Perlahan Bagas memakai masker yang tadi sempat dilepasnya. Meski posisi duduknya tidak mudah terlihat, Bagas tidak mau ambil resiko akan dilihat oleh Rena. Dengan tenang, Bagas mengambil Hp nya lalu mulai mengambil beberapa foto Rena yang kini terlihat sedang saling bergenggaman tangan. Lelaki di sampingnya tak segan memberikan beberapa ciuman yang berhasil Bagas foto. Sungguh, Bagas tidak pernah menyangka akan sebebas itu kehidupan yang dilakoni seorang Rena.
“Kenapa pakai masker segala?” Jimmy bertanya sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi depan Bagas.
“Mulai ramai. Gue nggak nyaman.” Bagas memberikan alasan yang dipikirnya masuk akal. Dia masih belum mau bercerita kepada siapapun kalau di sini ada istrinya yang kemungkinan sedang selingkuh dengan lelaki lain.
“Ada-ada aja lo. Nggak bosen duduk terus di sini?”
“Nggak. Gue seneng di sini. Bisa liatin orang-orang yang kurang kerjaan.” Bagas menyeringai.
“Kampret. Lo pikir orang-orang itu ke sini kurang kerjaan? Mereka justru banyak kerjaan bro. Jadi butuh hiburan makanya datang ke sini. Rejeki gue juga kan kalau mereka pada ngabisin duit di sini.” Jimmy terbahak.
“Gue becanda bro. Gue seneng aja liat mereka. Kayaknya udah kelamaan menyepi gue.”
“Lo punya bini malah dianggurin. Bukannya diberdayakan.” Jimmy meledek dengan sudut matanya.
“Lo sendiri gimana? Mana bini lo. Dari kemaren gue nggak liat.”
“Gue belum nikah.”
“Pacar?”
“Nggak punya. Gue nggak mau terikat Gas. Lebih baik gue jalanin hubungan tanpa status aja. Suka sama suka. Nggak perlu ada tuntutan apapun.”
“Lo belum ngerasain jatuh cinta Jim. Ntar ketemu cewek yang bikin lo bucin, baru tau rasa lo.”
“Kalau ngeliat orang yang jatuh cinta tapi kayak elo sih mending nggak usah deh. Jagain jodoh orang bertahun-tahun apa enaknya.” Jimmy mencibir.
“Sialan. Itu tandanya gue setia. Bukan laki gampangan kayak elo.”
“Makan tuh cinta. Ujung-ujungnya elo juga yang sengsara. Udah ah gue ke sana lagi ya. Baik-baik di sini.”
Bagas menyandarkan punggungya. Matanya menerawang menembus ruang dan waktu. Benarkah dia sengsara karena mencintai Rayu? Bagas yakin sekali kalau dia tidak pernah merasa sengsara karena cintanya. Bagas justru bahagia bisa melewati hari-hari bersama Rayu hampir separuh hidupnya. Meski Rayu akhirnya menjadi milik Bintang, Bagas tetap tidak merasa sengsara atau menyesal sedikitpun.
Bersama Rayu, Bagas bisa tahu apa arti cinta sebenarnya. Mereka tumbuh dewasa dengan saling menjaga. Bahkan sampai bertunanganpun, mereka tidak pernah melanggar batas-batas yang sudah ditetapkan. Bagas tidak memungkiri bahwa dia laki-laki normal yang kerapkali tergoda jika sedang berdua dengan Rayu. Namun Rayu mampu mencegahnya hingga mereka tidak pernah lebih dari bergandengan tangan atau berpelukan. Seingat Bagas, dia hanya dua kali mencium bibir Rayu.
“Kalau kamu cinta sama aku, kamu pasti akan menjagaku Gas. Bukan merusak aku.” Kalimat yang Rayu ucapkan itu selalu menjadi alarm di kepala Bagas. Benar, dia mencintai Rayu dengan setulus hatinya. Maka Bagas pun menjaga Rayu seperti dia menjaga mamanya.
Pandangan Bagas kembali ke arah Rena. Istrinya masih di sana dengan lelaki yang sama. Namun Bagas melihat pakaian Rena sudah mulai berantakan. Bagas menghembuskan nafas keras. Jika sudah begini, apalagi yang harus dia pertahankan dalam rumah tangganya? Selingkuh atau tidak, sikap Rena sudah sangat salah di mata Bagas. Tidak ada perempuan baik-baik yang akan pergi dan bermesraan dengan lelaki lain di saat suaminya sedang bekerja.
Bagas melihat kembali foto-foto Rena dan pasangannya yang tadi sempat dia ambil. Ada beberapa video juga. Bibir Bagas tersenyum puas karena hasil bidikannya begitu jelas. Wajah Rena dan lelaki itu tidak terhalang oleh apapun.
Kamu di mana? Bagas mengirimkan pesan kepada Rena. Setelah itu dia memperhatikan Rena apakah terusik atau tidak dengan pesannya. Butuh waktu hampir 10 menit hingga Bagas melihat Rena mengambil HP nya. Lama perempuan menatap layar HP. Mungkin ada beberapa pesan lagi selain dari Bagas.
Aku sedang ada acara di luar. Nanti aku hubungi.
Bagas membaca pesan dari Rena sambil tersenyum kecut. Memang benar saat ini Rena sedang di luar. Bagas menimang apakah dia perlu menghampiri Rena atau tidak. Akhirnya Bagas memilih memanggil Jimmy. Dia harus cerita kepada temannya itu. Ya, Bagas sudah memutuskan akan menunjukkan dirinya di depan Rena. Dia perlu bicara dengan Jimmy karena khawatir akan ada keributan yang timbul terutama dari pihak Rena.
“Apakah teman gue ini mulai kesepian?” Jimmy meledek Bagas.
“Jim, gue mau ngomong serius.”
“Apaan, mendadak merinding tengkuk gue.”
“Lo pindah duduk ke sini.” Bagas menepuk tempat kosong di sebelahnya.
“Gila lo, kita udah macam pasangan aja kalau gue ke situ.”
“Udah jangan ribut. Pindah sini. Ada sesuatu yang harus lo lihat.” Bagas memaksa dengan menarik lengan Jimmy.
“Lo liat perempuan yang duduk di meja nomor 12 itu?” Bagas menunjuk dengan dagunya.
“Yang pakai baju biru muda? Lo ngincer dia? Wah udah ngaco otak lo. Cantik sih. Tapi lo nggak liat itu lakinya nempel kayak perangko gitu?”
“Dia bini gue.”
“Hahhhhhh?” Jimmy setengah berteriak saat mendengar jawaban Bagas. Beberapa pasang mata sontak melirik ke arah mereka.
“Jaga mulut lo Jim. Malu diliatin orang. Iya, dia bini gue.”
“Gas, lo nggak bohong kan? Lo nggak ngerjain gue kan? Kok bisa bini lo di sini sama laki-laki lain?”
“Itulah yang dari tadi lagi gue pikirin. Kok bisa dia di sini sama laki-laki lain? Gue nggak bohong bro. Dia Rena, bini gue. Dari tadi gue mantau terus pergerakan dia. Gue yakin dia belum tahu kalau gue ada di sini.”
“Terus lo mau ngapain? Ngelabrak dia?”
“Nggak. Malu-maluin. Gue masih waras untuk nggak ngelabrak dia.”
“Lo mau diem gitu aja?”
“Ya nggak juga. Gue bisa pinjem ruangan elo nggak? Sekalian minta tolong anak buah lo biar mau ketemu gue di ruangan lo.”
“Oke, gue ngerti. Lo bisa pake ruangan gue buat bahas ini sama bini lo. Nanti gue suruh orang buat hubungin bini lo.”
“Makasih bro.”
***