SIMPANGAN RASA
Bisakah Kita Berteman?
Rena dan Rayu duduk berhadapan sambil menunggu makanan yang mereka pesan. Untunglah Nugi tertidur. Mungkin kelelahan karena sejak pagi sudah sibuk bergerak dengan mainan barunya.
“Kamu tinggal di mana?” Rena basa basi menanyakan tempat tinggal Rayu.
“Aku tinggal di Cipari. Kamu sendiri di mana?” Rayu menatap Rena lekat. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati Rayu. Tapi dia nggak tahu apa.
“Aku sih sebetulnya dari Jakarta. Ke sini nggak sengaja. Aku lagi suntuk banget sama kerjaan. Jadi yah, aku iseng aja jalan-jalan. Eh, malah sampe ke sini.”
“Duh, isengnya kok jauh banget ya.” Rayu tergelak. “Memangnya kamu kerja di mana?” Lanjut Rayu.
“Aku buka butik sendiri. Bisa dibilang tukang gambar sama tukang bikin baju lah. Kalau kamu? Nggak mungkin dong kamu bakalan jawab ibu rumah tangga?”
“Faktanya aku memang ibu rumah tangga.” Rayu tersenyum geli.
“Kamu serius? Suami kamu kerja di mana?”
“Serius. Aku ibu rumah tangga kok. Suami aku sudah meninggal. Belum ada setahun sih. Jadi aku single parent.”
“Eh, maaf, maaf. Aku nggak bermaksud membuat kamu sedih.”
“Nggak apa-apa. Aku sudah baik-baik aja. Mungkin sudah garis tanganku harus melewati semua ini.”
“Lalu bagaimana kamu membiayai hidupmu sama si kecil ini?” Rena tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dari mana Rayu mendapatkan uang untuk kehidupan mereka sehari-hari.
“Mungkin bisa dibilang aku salah satu perempuan yang sangat beruntung. Almarhum suamiku sudah menyiapkan semuanya sebelum dia meninggal. Ada beberapa aset dia yang setiap bulan bisa memberikan pemasukan untuk biaya hidup aku sama anakku. Biaya pendidikan si kecil ini juga sudah disiapkan sama almarhum.”
“Wah luar biasa ya suamimu. Sepertinya dia sudah tahu kalau dia akan meninggalkan kamu secepat ini?”
“Iya. Dia sakit lumayan lama. Bahkan aku juga sempat nggak tahu kalau dia sakit. Kamu juga hebat. Bisa membuka usaha sendiri. Aku selalu ingin jadi perempuan yang bisa mandiri tanpa bantuan siapapun.” Rayu menerawang. Membayangkan apa yang bisa dia lakukan jika Bintang tidak pernah meninggalkan begitu banyak aset.
“Apanya yang hebat. Menurutku, membuka butik itu bukan pencapaian istimewa. Banyak orang yang bisa melakukannya. Kebetulan aja, aku punya previlage untuk mewujudkan impianku. Asal kamu tahu, aku masih mengandalkan orang tuaku untuk membantu modal membuka butik.”
“Tetap hebat. Tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan sesuai passionnya. Kamu termasuk beruntung.”
“Iya, betul banget. Kamu sendiri gimana? Sebelumnya kerja di mana?” Rena mulai mencoba mencari informasi masa lalu Rayu.
“Sebelumnya aku penulis. Mungkin nanti kalau anakku sudah lumayan bisa ditinggal, aku mau coba nulis lagi. Kalau sekarang fokusku emang cuma ngurus anak.” Rayu menepuk punggung Nugi pelan ketika anaknya itu mulai menggeliat tak nyaman.
“Wow, aku kaget loh kalau ternyata kamu penulis. Keren banget. Dulu tinggal di mana? Pastinya kamu bukan tinggal di sini kan?”
“Aku sempat lama juga di Jakarta. Aku di sini juga belum lama kok. Setelah suamiku meninggal baru aku pindah ke sini. Tapi aku menghabiskan masa kecilku di sini kok. Jadi aku nggak asing lagi dengan daerah di sini. Boleh dibilang, ini kampung halamanku juga.”
“Nggak mau pindah ke Jakarta lagi?”
“Untuk saat ini nggak deh. Aku udah nyaman banget di sini. Aku nggak harus terburu-buru mengerjakan apapun. Nggak ada macet yang bikin kepala stres juga.” Rayu menjawab santai. Sedangkan Rena, ada rasa lega di hati Rena ketika Rayu menjawab kalau dia tidak mau pindah ke Jakarta lagi.
“Kamu nggak berpikir mau menikah lagi?” Rena menelisik mata Rayu.
“Nggak. Sama sekali aku nggak punya pikiran untuk menikah lagi.”
Makanan yang dipesan datang. Kedua perempuan cantik itu akhirnya menghentikan obrolan mereka karena harus makan.
Kalau boleh jujur, Rena tidak bisa menikmati makanan yang sedang dikunyahnya. Otak Rena penuh dengan berbagai pikiran tentang Rayu. Sosok Rayu yang sekarang ada di depannya sangat jauh dari ekspektasi Rena.
Rayu begitu tenang. Kharismanya jelas sekali terpancar tanpa harus dibuat-buat. Bahkan dengan dandanan sederhana seperti sekarang pun, Rena masih merasa sedikit terintimidasi. Rena mengakui, senyum Rayu begitu tulus. Bahkan kepada orang yang baru saja dikenal seperti dirinya, Rayu bisa sangat ramah. Sebuah sikap yang terlihat sekali tidak dibuat-buat.
Bagas tidak mungkin akan jatuh cinta kepada perempuan biasa-biasa saja. Itu yang ada di benak Rena sejak pertama kali tahu bahwa sebelum menikah, Bagas hanya satu kali mengisi hatinya dengan nama perempuan. Mereka berpisah pun bukan karena Bagas yang meninggalkan kekasihnya.
Kini, melihat bagaimana dalam waktu kurang dari satu jam, Rena sudah bisa membayangkan mengapa Bagas bisa begitu mencintai Rayu. Tapi Rena tidak mau mengalah. Bagaimanapun caranya, Rena akan berjuang untuk mempertahankan Bagas sebagai suaminya.
“Rencananya kamu mau menginap di mana?” Suara Rayu membuyarkan lamunan Rena.
“Aku belum tahu. Tadi belum sempat mencari penginapan. Mungkin habis dari sini aku baru mau cari penginapan.” Rena menjawab jujur.
Ya, sejak tadi dia hanya memikirkan bagaimana caranya bisa menemukan Rayu. syujur-syukur kalau bisa langsung bertemu dengan Rayu. Meski tubuhnya mulai merasakan letih setelah menyetir lebih dari lima jam, Rena tetap fokus untuk mencari Rayu. Tidak terlintas sama sekali kalau seharusnya dia mencari penginapan dulu.
“Bagaimana kalau menginap di rumahku? Tapi maaf kalau nanti terganggu sama tangisan bocah.”
“Hah?” Rena menganga tak percaya. Semudah itu Rayu menawarkan tempat kepadanya? Apakah dia tidak berpikir jelek sama sekali?
“Iya. Menginaplah di rumahku.” Rayu mengulangi ucapannya.
“Sepertinya nggak deh. Bukan aku menolak, tapi aku nggak mau mengganggu kamu. Bagaimanapun kita baru saja saling kenal. Kamu pasti akan terganggu kalau aku di sana. Lebih baik aku cari hotel dekat sini. Aku juga nggak mau merepotkan kamu.”
Obrolan kami terganggu oleh tangisan Nugi. Bayi itu baru saja bangun dari tidur nyenyaknya. Mungkin sekarang dia sedang merasakan lapar.
“Ini nomor HPku. Maaf aku nggak bisa lama di sini. Anakku udah bangun. Aku harus pulang sekarang. Tolong hubungi aku ya. Aku senang bertemu kamu. Semoga kita bisa menjadi teman baik.” Rayu menyerahkan secarik kertas yang telah dia tulis dengan nomor ponselnya.
Tanpa menunggu jawaban Rena, Rayu menghilang ke dalam mobilnya. Meninggalkan Rena yang diam membeku.
Rena menatap nanar kertas yang diberikan oleh Rayu. Rasanya dia masih tidak percaya bisa langsung menemukan Rayu semudah ini. Apa tadi Rayu bilang? Teman? Bisakah dia dan Rayu berteman? Teman seperti apa? Sepolos itukah Rayu? Tidakkah instingnya menangkap bunyi alarm bahaya? Rena benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dialaminya barusan.
***