SIMPANGAN RASA

Kesempatan Kedua Untuk Rena

Bagas membawa mobilnya menuju rumah orang tua Rena. Dia yakin saat ini Rena sedang di rumah orang tuanya. Ucapan Rayu kembali terngiang di benak Bagas. Pulang dan bicarakan semuanya secara baik-baik dengan Rena. Setelah memikirkan ulang, Bagas merasa ucapan Rayu itu ada benarnya. Dia harus segera menyelesaikan semuanya dengan Rena. Sekarang atau nanti tetap akan sama saja. Bagas tidak bisa lari dari masalah ini.

Rumah berpagar putih itu tampak menjulang angkuh. Setelah membunyikan klakson berkali-kali, akhirnya pintu pagar pun terbuka. Mang Adi tergopoh-gopoh menyambut Bagas. Lelaki paruh baya itu sudah mengabdi di rumah Rena lebih dari separuh hidupnya.

“Malam mang. Maaf saya ganggu istirahat mamang.” Bagas tersenyum ramah.

“Ah ya ndak apa-apa den. Mamang juga belum tidur. Den Bagas mau bertemu Non Rena ya?” Tanya Mang Adi setelah menutup pintu pagar.

“Iya Mang. Rena ada di dalam Mang?”

“Oh ada Den. Non Rena baru saja pulang. Memangnya Den Bagas tidak memberitahu Non Rena ya kalau Den Bagas mau ke sini? Wah pasti mau ngasih kejutan ya? Namanya juga pengantin baru ya Den?”

Bagas hanya tersenyum menanggapi candaan Mang Adi. Andai dia menikah dengan Rayu, mungkin candaan Mang Adi itu akan disambut dengan perasaan bahagia. Tapi Bagas menikahi Rena. Perempuan yang bahkan ingin diceraikannya saat ini juga.

“Bapak sama ibu ada Mang?”

“Kalau bapak sama ibu nggak ada Den. Setelah pernikahan Non Rena sama Den Bagas, besoknya bapak dan ibu langsung ke Australia Den. Sampai sekarang belum pulang.”

Bagas menghembuskan nafas lega. Pantas saja dia tidak mendapatkan banyak pertanyaan dari keluarga Rena. Rupanya mertuanya itu sedang tidak ada. Untunglah. Jadi Bagas tidak perlu menjelaskan banyak hal kepada mereka.

Setelah memarkirkan mobilnya, Bagas langsung menuju ruang tamu. Dia tidak tahu kamar Rena. Dia juga tidak tahu saat ini Rena ada di ruangan mana. Jadi Bagas memilih menunggu di ruang tamu.

Belum lama Bagas mengistirahatkan tubuhnya, tiba-tiba Rena sudah duduk di samping Bagas. Tentu saja Bagas terkejut. Bahkan dia sampai terlonjak saking kagetnya.

“Akhirnya kamu pulang Gas. Aku yakin kamu akan pulang kepadaku.” Rena tersenyum manis sedangkan Bagas masih diam. Sibuk menata hatinya yang sedang tidak ingin berduaan dengan Rena.

“Kamu sudah makan?” Rena kembali bertanya.

“Sudah.” Jawab Bagas pendek.

“Kamu dari mana saja sih Gas? Aku khawatir banget. Aku nggak bisa hubungi kamu. Kenapa kamu matikan handphonemu?” Rena terus saja bertanya.

”Kamu belum lupa kan dengan ucapanku tempo hari? Jangan ikut campur urusanku. Kamu tidak berhak untuk itu.” Bagas menjawab tegas.

“Tapi aku ini istrimu Gas.”

“Jangan ulangi kata itu jika masih ingin aku di sini atau aku akan segera ke Pengadilan Agama kalau kamu masih saja membahas hal itu. Sekarang tolong tunjukkan di mana kamar tamu. Aku ingin segera istirahat.”

“Kenapa kamu tidak ke kamarku Gas? Kita kan suami istri. Apa kata orangtuaku nanti?” Rena masih berusaha menarik perhatian Bagas.

“Orangtuamu tidak ada di sini. Jadi aku bebas mau tidur di manapun aku mau. Tidak ada yang harus aku jaga perasaannya. Sekarang, tunjukkan di mana kamar tamu. Sebelum aku berubah pikiran dan pergi dari sini.” Pungkas Bagas.

Rena memilih diam dan menunjukkan letak kamar tamu. Saat ini, membantah Bagas tentu saja bukan pilihan yang tepat. Dia harus bersikap baik jika ingin Bagas tetap di sisinya. Biarlah, dia akan bersabar menunggu Bagas.

Bagas merebahkan tubuh di kasur. Lelah benar-benar terasa di tubuhnya. Mandi hanya memberikan sedikit kesegaran. Namun tidak bisa melenyapkan lelah yang melanda. Berulangkali Bagas mencoba memejamkan mata. Namun rasa kantuk itu tidak kunjung tiba. Seluruh pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang Rayu.

Sedang apa Rayu di sana? Apakah mereka baik-baik saja? Bagaimana kondisi Nugi? Apakah bayi itu rewel? Apa Rayu bisa mengatasi situasi di sana?

Bagas bergerak gelisah. Tiga hari bersama Rayu dan Nugi benar-benar menyita dunianya. Bagas merasakan bahagia luar biasa berada. Dunia yang selama ini dia impikan. Ada dia bersama Rayu dan bayi mungil di tengah mereka. Bahkan ketika Bagas harus mengadzani Nugi, hatinya tiba-tiba bergetar. Membuncah penuh kebahagiaan.

“Bin, aku tahu kamu ingin Rayu dan anakmu bahagia. Aku akan berjuang untuk mendapatkan mereka. Semoga kamu tenang di sana. Percayakan saja Rayu dan Nugi kepadaku. Aku yakin, aku bisa menemukan jalan menuju mereka.” Bisik Bagas lirih. Bayangan Bintang yang sedang tersenyum sekilas lewat di depan matanya.

Bagas ingin sekali melakukan video call dengan Rayu. Sekedar melihat keadaan Rayu dan Nugi. Namun Bagas tahu bagaimana Rayu akan bersikap. Bidadari hatinya itu tentu akan menolak teleponnya. Rayu sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Salah satu sifat yang sangat Bagas sukai dari Rayu. Bahkan selama mereka berpacaran, tidak pernah sekalipun Rayu meminta kepada Bagas.

Tiap kali Bagas memberikannya hadiah, Rayu pasti akan marah dan memberikan ceramah panjang lebar.

Lamunan panjang dan tubuh yang sudah tidak memiliki energi lagi akhirnya memaksa mata Bagas untuk terpejam.

***

            Pagi yang luar biasa dirasakan Bagas ketika dia bangun. Sesaat dia lupa di mana dia berada. Butuh waktu lebih dari dua menit untuk mengumpulkan kesadarannya. Setelah itu, gegas Bagas melangkah menuju kamar mandi. Cutinya tinggal dua hari lagi. Bagas harus menggunakan waktu yang tersisa dengan sebaik mungkin.

Keluar dari kamar, Bagas langsung menuju ruang makan. Rena sudah menunggunya entah sejak kapan.

“Sepertinya kamu sangat kelelahan Gas.” Rena berkata sambil tersenyum manis.

Bagas hanya menjawab dengan diam. Lalu duduk dan mengambil piring yang sudah tersedia. Bagas menikmati sarapan yang dia yakin bukan buatan Rena. Tentu saja berbeda dengan masakan Rayu yang selalu terasa pas di lidah Bagas. Ah, lagi-lagi Bagas malah membandingkan kedua perempuan itu.

“Ada yang ingin aku bicarakan.” Bagas memulai obrolan setelah menghabiskan sarapannya.

“Tentang apa Gas?”

“Aku sudah memikirkan tentang kita beberapa hari ini. Aku butuh waktu untuk bisa menerimamu Ren. Selain itu, aku tidak bisa menjanjikan cinta kepadamu. Aku yakin, hatiku akan sangat sulit untuk mencintaimu. Tapi kamu boleh ikut denganku ke Lampung jika kamu mau. Aku juga tetap akan memenuhi kewajibanku sebagai suami untuk memberikan nafkah kepadamu. Di luar itu, kita tetap bisa melanjutkan hidup kita masing-masing tanpa harus terikat. Aku minta waktu selama setahun. Sampai waktunya tiba, aku tidak akan berbuat yang tidak-tidak kepadamu.”

“Setelah setahun, apa kamu akan tetap menceraikan aku?”

“Untuk saat ini, aku jawab iya. Aku akan tetap menceraikanmu seperti rencana semula. Aku yakin, kamu juga tidak sepenuhnya mencintaiku. Mungkin kamu hanya terobsesi saja kepadaku. Bukan cinta.”

“Gas, tidak bisakah kita menjalani kehidupan sebagai suami istri seperti pasangan lain? Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu.”

“Jangan memaksakan diri Ren. Aku tidak yakin hatiku bisa berubah. Aku hanya punya waktu dua hari lagi sebelum kembali ke Lampung. Kamu bisa memikirkan dengan baik-baik keputusan apa yang akan kamu pilih.” Bagas mengakhiri pembicaraannya dengan Rena. Dia lebih tertarik untuk melanjutkan tidurnya.

***

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!