SIMPANGAN RASA
Aku Bahagia Melihatmu Bahagia
“Neng... Neng... Neng Rayu... Neng... Ada tamu Neng.” Rayu yang sedang membaca di kamarnya bergegas keluar mendengan suara panik Bi Atikah. Tidak biasanya Bi Atikah teriak-teriak dan panik seperti itu. Batin Rayu.
“Iya Bi. Ini Rayu datang. Coba Bibi tenang dulu. Ada siapa sampai Bibi panik begitu?” Rayu membuka pintu kamar lalu memegang bahu Bi Atikah. Mencoba menenangkannya.
“Neng Rayu bisa lihat sendiri ke depan. Kaki Bibi lemes Neng.” Bi Atikah malah terduduk di depan kamar Rayu.
Rayu segera menuju pintu depan. Penasaran dengan tamu yang membuat Bi Atikah luar biasa panik. Rayu membuka pintu. Tubuhnya membeku melihat sosok di depannya. Jika Bi Atikah teriak memanggilnya, kali ini lidah Rayu malah kelu membeku. Tidak bisa bicara. Bagas. Ya, Bagaslah yang berdiri di pintu rumah Rayu.
“Hai.” Sapa Bagas hangat tanpa menghiraukan kondisi Rayu.
“Oh eh iya hai Gas.” Rayu tidak bisa menutupi kegugupannya.
“Apa aku akan dibiarkan saja berdiri di sini?” Bagas mengerlingkan mata menggoda Rayu.
“Ya ampun, sori Gas. Ayo masuk.” Rayu akhirnya bisa kembali mengumpulkan kesadarannya dan mengajak Bagas masuk.
“Bi, minta tolong buatkan minuman ya. Kamu mau minum apa Gas?”
“Apa aja boleh.”
“Bi, minta teh hangat dua ya Bi.” Rayu setengan berteriak karena dilihatnya Bi Atikah sudah berjalan ke arah dapur.
“Jadi kamu sekarang di sini?” Tanya Bagas memastikan.
“Kamu tahu dari mana kalau aku di sini?” Rayu malah balik bertanya.
“Bukan hal yang sulit mencari di mana kamu. Kenapa kamu melarikan diri ke sini?”
“Aku tidak melarikan diri Gas. Aku hanya butuh tempat untuk menenangkan diri. Aku pikir di sini tempat yang tepat. Beberapa hari di sini membuatku benar-benar merasa nyaman dan tenang.” Kilah Rayu.
“Lalu kenapa kamu mematikan nomor ponselmu. Kamu juga tidak mengaktifkan lagi semua sosial mediamu. Aku kesulitan menghubungimu.” Bagas manatap tajam perempuan di depannya.
Rayu semakin cantik dan menarik. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh penglihatan Bagas. Perutnya yang sudah mulai membuncit menambah daya tarik sendiri bagi Bagas. Pesona khas seorang ibu hamil. Ingin sekali Bagas merengkuh tubuh itu ke dalam dekapannya. Memberikan kedamaian dan kehangatan padanya. Tapi Bagas sadar, statusnya kini sudah terlarang untuk Rayu.
“Aku hanya ingin menyendiri. Fokus kepada bayiku dan tidak mau diganggu keributan media sosial Gas.” Jawab Rayu.
“Apa aku termasuk ke dalam orang yang mengganggumu sampai kamu tidak memberi kabar padaku?”
“Aku hanya tidak mau mengganggumu Gas. Oh iya bukankah seharusnya kemarin kamu menikah?” Rayu terperanjat sendiri ketika ingat kalau kemarin adalah hari pernikahan Bagas.
“Iya. Aku sudah menikah kemarin.” Bagas menjawab lesu.
“Lalu kenapa kamu ke sini? Bukankah kamu dan istrimu sekarang harusnya menikmati bulan madu? Apa istrimu tahu kalau kamu ke sini? Dia tidak marah?”
“Kamu ini kebiasaan deh. Kalau bertanya selalu beruntun. Aku bingung mau jawab yang mana. Coba satu-satu kalau bertanya.” Bagas mengalihkan pembicaraan.
“Sudahlah jawab aja. Aku tahu kamu mau menghindar dari pertanyaan-pertanyaanku. Terserah kamu mau jawab yang mana duluan.”
“Aku ke sini karena ada seseorang yang kabur begitu saja dariku. Bahkan tidak memberi kabar sama sekali ketika dia kehilangan orang yang dicintainya. Hmmm mungkin dia sudah menganggapku bukan sahabatnya lagi. Jadi namaku tidak lagi penting untuknya. Jangan menyela dulu, aku belum selesai bicara. Aku memang menikah kemarin. Tapi bagiku, masih ada banyak waktu untukku dan Rena. Sedangkan denganmu? Aku tidak memiliki banyak waktu dan alasan jika ingin ke sini. Rena tahu aku ke sini. Dia mungkin marah, tapi aku tidak peduli. Ketika dia bersedia menikah denganku tanpa adanya cinta, seharusnya dia sudah tahu resiko apa yang dia hadapi. Aku rasa jawabanku sudah lebih dari cukup.”
“Maaf Gas, aku bukan melupakanmu. Semuanya terjadi begitu saja. Sangat cepat. Bahkan sampai hari ini aku masih belum percaya kalau Bintang sudah pergi. Beberapa bulan yang kami lewati tentunya masih belum cukup. Dia meninggalkan begitu banyak jejak dan kenangan. Aku tidak mau terus menerus melibatkanmu Gas. Cukup sudah aku membuatmu terluka dengan menikahi Bintang. Aku ingin kamu juga bahagia dengan Rena. Aku tahu, jika aku memberi kabar kepadamu, kamu pasti akan datang. Lalu bagaimana dengan Rena? Aku harus menjaga perasaannya Gas. Dia mencintaimu. Kamu juga harus belajar mencintainya dan membuatnya bahagia.”
“Kamu tidak tahu apa yang aku alami sekarang Ray. Aku memilih pergi agar Rena bisa merenungkan semua kesalahannya di malam pengantin kami.”
“Gas, aku memang tidak tahu dan sejujurnya aku tidak mau tahu. Itu masalah kalian berdua. Yang jelas, kamu sekarang harus segera pulang. Temui dan temani istrimu. Dia tanggung jawabmu sekarang Gas. Jika ada masalah yang mengganjal, segera kalian selesaikan berdua. Jangan libatkan orang lain meskipun itu orang terdekatmu.”
“Ray, aku mencintaimu. Sampai sekarang.” Bagas berbisik lirih.
“Aku tahu Gas. Aku juga mencintaimu. Selalu. Tapi cinta banyak sekali wujudnya. Cinta tidak harus bersama. Cinta juga tidak selalu harus saling memiliki. Cinta tidak akan menyakiti. Kamu mengajarkanku itu Gas. Cinta adalah membuat orang yang kita cintai bahagia.”
“Kamu membalasku karena memutuskan pertunangan kita, Ray?”
“Sama sekali nggak Gas. Aku malah sangat berterima kasih kepadamu. Aku berhutang kepada kebesaran hatimu. Makanya sekarang aku ingin kamu bahagia dengan istrimu. Bahagia itu diciptakan Gas. Bukan dicari.”
“Lalu kamu sendiri bagaimana? Apa kamu bahagia hidup sendirian seperti ini?”
“Loh siapa bilang aku sendiri? Di sini ada Bi Atikah. Aku juga ditemani oleh anakku. Aku mohon, pulanglah Gas. Jika kamu mencintaiku, buatlah istrimu bahagia. Jangan libatkan aku dalam permasalahan kalian. Status kita hanya sebatas sahabat. Aku tidak pantas lagi mendapatkan perhatianmu sedemikian rupa.”
“Apa kamu membenciku Ray?”
“Sama sekali tidak Gas. Aku mencintaimu. Aku sangat menyayangimu. Aku tidak mau kita salah dalam melangkah. Kamu sudah punya seseorang yang jauh lebih berhak atas dirimu. Tolong hargai perasaannya Gas. Aku akan baik-baik saja di sini.” Rayu mencoba tetap berpikir jernih.
Jujur, Rayu penasaran apa yang terjadi dengan pernikahan Bagas? Mengapa Bagas memilih menemuinya dibandingkan berbulan madu dengan Rena? Ingin sekali Rayu bertanya lebih jauh. Tapi sekuat tenaga Rayu mencoba menahannya. Bagas sudah menjadi suami orang. Dengan masa lalu mereka, Rayu berpikir dia tidak pantas ikut campur terlalu jauh dalam kehidupan Bagas dan istrinya. Rayu tidak mau mengganggu rumah tangga orang.
“Jadi kamu tidak mau memberikan aku kesempatan lagi Ray? Aku bisa menceraikan Rena secepatnya jika memang kamu terganggu dengan statusku.” Bagas mulai emosi.
“ Gas, sadar Gas. Jangan sembarangan kalau ngomong. Kamu ngomong perceraian di usia pernikahanmu yang baru sehari, itu tidak baik Gas. Cerita kita sudah selesai Gas. Aku tetap sahabatmu. Tapi aku juga harus sadar kalau kini kamu sudah jadi suami orang. Ada perasaan perempuan lain yang harus sama-sama kita hargai dan kita jaga. Sekarang, kamu bisa istirahat dulu biar tenang. Setelah itu, lebih baik kamu pulang. Ada kamar tamu di sana yang bisa kamu pakai untuk istirahat.”
Bagas menatap Rayu nanar. Bagas sadar, semua ucapan Rayu itu benar. Tapi hati kecilnya tetap tidak dapat menerima kelakuan Rena. Bagas pun memilih untuk istirahat sejenak sesuai saran Rayu.
***