SIMPANGAN RASA

Dia yang Memberi Kekuatan

 

Angin menyapa. Semilir. Meski dingin namun terasa menghangatkan hati Rayu. sudah hampir dua minggu dia di Cipari. Salah satu desa yang berada di Kabupaten Kuningan. Letaknya yang persis di kaki Gunung Ciremai menjadikan Cipari memiliki iklim yang lumayan sejuk. Meski masih kalah sejuk jika dibandingkan dengan dua dekade lalu saat Rayu dan Bintang menghabiskan masa kecilnya di sini.

Rayu duduk di teras rumah. Pagi yang benar-benar penuh energi. Kendaraan berlalu lalang. Suara klakson bersahutan. Keramahan yang sangat sulit ditemukan di tempat lain. Meski tetap saja tidak seperti dulu. Tidak ada lagi suara anak-anak yang riuh bermain. Sekarang mereka sibuk dengan gadget masing-masing.

Dulu, saat Rayu kecil, Cipari memang tak pernah sepi. Bahkan sejak dinihari kesibukan itu sudah sangat terasa. Sebelum fajar menyapa, banyak pedagang yang berangkat ke pasar untuk berjualan hasil bumi. Mereka pulang lepas subuh. Melanjutkan aktivitas ke ladang atau ke sawah. Banyak juga yang mengurusi sapi. Ya, sapi menjadi satu komoditi yang membuat Cipari lebih menggeliat.

Pagi begini biasanya anak-anak sekolah ramai berjalan kaki. Ada dua sekolah dasar di Cipari. Jika ingin melanjutkan ke sekolah menengah, SMP yang terletak di Gunung Keling dan Madrasah Tsanawiyah di Cigugur kerap menjadi pilihan. Mereka berjalan kaki menuju sekolah. Jarak tidak pernah menjadi keluhan.

Sekarang pemandangan itu sudah tidak ada lagi. Kesibukan yang terlihat adalah motor dan mobil yang hilir mudik. Perubahan itu terasa sekali bagi Rayu.

Dulu, Cipari hanyalah sebuah kampung yang kadang dilirik sebelah mata. Rayu yang saat itu memilih sekolah di Kuningan Kota, sangat kesulitan mencari kendaraan umum yang berangkat langsung dari dan menuju Cipari.

Rayu harus berangkat jam enam pagi menggunakan elf menuju Terminal Cirendang. Setelah itu barulah naik angkutan kota 03 atau 04 yang akan membawanya ke sekolah. Perjalanan yang lumayan jauh.

Untuk menghemat ongkos, biasanya Rayu memilih pulang naik angkutan umum ke Cigugur. Dari sana Rayu akan berjalan kaki ke Cipari. Lumayan melelahkan karena Rayu harus berjalan hampir tiga kilometer jauhnya. Namun, pada masa itu Rayu tidak merasakan lelah sedikitpun. Energi yang Rayu miliki sepertinya tidak pernah habis.

Jangan tanya bagaimana anak-anak mengisi hari-hari mereka. Selalu ada keceriaan yang mewarnai setiap waktu yang mereka lalui. Lepas pulang sekolah biasanya mereka akan istirahat di rumah hingga terdengar adzan ashar. Sekitar jam setengah empat sore anak-anak akan bermain di beberapa tempat. Mainan khas di masa itu seperti gundu, gobak sodor, lompat tali, dan sebagainya.

Menjelang magrib, mereka pulang lalu mulai mengaji di beberapa mushola yang lumayan banyak tersebar di Cipari. Kegiatan mengaji ini berlangsung sampai waktu sholat Isya. Anak-anak akan pulang setelah sholat Isya. Berlanjut mengerjakan PR dari sekolah. Televisi yang ada saat itu hanya televisi hitam putih dengan satu saluran yaitu TVRI. Baru di awal-awal tahun 90-an masuk RCTI lalu disusul TPI.

Rayu sendiri tidak terlalu suka menonton televisi. Waktu senggangnya lebih banyak diisi dengan membaca buku. Semua jenis buku dia lalap tanpa jenuh. Rayu seakan masuk dalam dunia baru saat dia membaca buku. Imajinasinya berkelana sedemikian luas.

“Neng Rayu, ayo sarapan dulu. Makanannya udah bibi siapkan di meja makan.” Suara Bi Atikah membuyarkan lamunan Rayu.

“Iya Bi. Sebentar lagi Rayu ke sana.” Rayu menjawab lalu berdiri sambil merapikan pakaiannya. Usia kehamilannya yang kian bertambah membuat bobot tubuh Rayu juga ikut bertambah. Lumayan membuatnya sering kelelahan dan merasa gerah. Beberapa pakaian sudah tidak bisa digunakan lagi.

Rayu mengekori langkah Bi Atikah. Dia bersyukur sekali karena Ferdian meminta Bi Atikah menemaninya. Perempuan yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu mengurusi semua kebutuhan Rayu dengan penuh kasih sayang. Beberapa kali Rayu memergoki Bi Atikah yang sedang menangis sambil memandang wajah Bintang.

“Bibi kangen sama Mas Bintang. Sayang sekali Mas Bintang tidak bisa melihat jagoan kecilnya yang sebentar lagi lahir.” Begitu jawaban Bi Atikah ketika Rayu bertanya kenapa dia menangis. Ya, hasil USG menyatakan kalau anak yang ada dalam rahim Rayu itu berjenis kelamin laki-laki.

“Mungkin Allah ingin memberikan pengganti Mas Bintang untuk Mbak Rayu.” Bi Atikah mengatakan itu ketika mereka melihat hasil USG beberapa hari lalu.

Sejauh ini, Rayu mengisi hari-harinya dengan menulis dan membaca. Kadang dia menonton film.

Rayu sangat berterima kasih kepada Bintang yang telah menyiapkan kebutuhan masa depan Rayu dan anak mereka dengan sangat detail. Jadi Rayu tidak dipusingkan dengan biaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Bi, ayo makan bareng.”  Rayu mengajak Bi Atikah untuk menemaninya makan. Awal tinggal di Cipari, Bi Atikah selalu menolak jika Rayu mengajaknya makan bersama. Tapi karena Rayu memaksanya tanpa lelah, akhirnya Bi Atikah mau makan bareng meski tidak setiap waktu makan dia melakukannya.

“Neng, kayaknya Neng Rayu perlu sopir. Bibi kasihan kalau Neng Rayu harus nyetir sendiri kemana-mana.” Bi Atikah memberikan usul.

“Tapi sayang Bi kalau Rayu mencari sopir, nanti dia banyakan nganggurnya. Kan Rayu nggak pernah kemana-mana. Bibi juga ke pasar nggak pernah setiap hari.”

“Nah, gimana kalau sopirnya nggak usah masuk tiap hari. Dia bekerja kalau Neng Rayu atau bibi butuh aja.”

“Memangnya ada yang begitu Bi?”

“Bibi belum tahu sih Neng.” Bi Atikah tersipu menyadari kalau dia tidak bisa memberikan solusi.

“Yeee si Bibi gimana sih. Rayu pikir Bibi udah punya calon makanya kasih usul ke Rayu. Tapi usul Bibi boleh juga tuh. Rayu juga mulai nggak nyaman pas bawa mobil. Apalagi Bunda dan Mama cerewet banget kalau udah ngingetin Rayu supaya nggak bawa mobil.” Rayu teringat ekspresi Bunda dan Mamanya Bintang saat mendengar dari Bi Atikah kalau Rayu periksa kandungan membawa mobil sendiri.

“Duh Neng, kalau Bibi masih muda, mungkin Bibi bisa nekat belajar mobil Neng. Sekarang mah jantung Bibi nggak kuat lagi.”

“Memangnya Bibi punya penyakit jantung?”

“Bukan itu Neng. Jantung Bibi udah gak kuat kalau lihat mobil gede di jalan. Bibi takut.”

“Ya ampun Bi, Rayu pikir Bibi punya penyakit jantung.”

“Jangan dong Neng. Doakan aja supaya Bibi selalu sehat biar bisa mengurus Neng Rayu sama si kecil nanti.”

“Iya Bi. Pasti Rayu doakan Bibi sehat terus. Rayu juga akan berusaha untuk sehat biar jagoan ini baik-baik aja.” Rayu mengusap perutnya.

Meski sudah pergi untuk selamanya, Rayu bisa merasakan kekuatan yang diberikan oleh Bintang melalui anak mereka. kekuatan luar biasa yang membuat Rayu mampu untuk terus bertahan dan berjalan tanpa lelah. Energi bernama cinta yang tidak mungkin Rayu temukan di manapun.       

***

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!