SIMPANGAN RASA

Penjaga Bayangan

Pagi-pagi sekali Bagas sudah berkemas. Bahkan Rena masih terlelap dalam mimpinya. Seperti semalam, Rena masih tidak memakai baju. Hanya memakai pakaian dalamnya saja. Entah sengaja atau tidak Bagas tidak lagi peduli.

Kenyataan yang diterimanya terasa begitu menyakitkan. Sebelumnya, di pertemuan kedua mereka, Rena pernah menceritakan kalau dia sudah lama putus dari pacarnya. Jauh sebelum bertemu Bagas. Rena pacaran saat mereka sama-sama kuliah di luar negeri. Sudah lebih dari setahun lalu. Karena Rena pulang ke Indonesia sudah hampir dua tahun.

Bagas juga pernah bertanya sejauh mana hubungan Rena dengan pacarnya. Katakanlah kalau Bagas kolot. Selama ini, Bagas sangat menjaga dirinya dan Rayu. Bagas memiliki prinsip, dia tidak akan merusak perempuan yang dicintainya. Selama bertahun-tahun mengenal Rayu, berubah menjadi pacar, lalu bertunangan, Bagas selalu memastikan dia dia menjaga kehormatan Rayu. Pun begitu juga dengan dirinya.

Andai Rena jujur, mungkin Bagas akan mempertimbangkannya. Bagas tidak seekstrim itu untuk menghakimi masa lalu seseorang. Namun sikap Rena yang memilih untuk tidak jujur kepada Bagas malah melukai perasaan Bagas semakin dalam.

Bukan saja karena dibohongi, namun Bagas terluka dan merasakan sakit luar biasa ketika istri yang coba diterimanya itu malah menyebutkan nama lelaki lain di malam pertama mereka. Bagas yakin, Rena dan Dion masih berhubungan. Tidak mungkin nama lelaki itu masih melekat kuat di puncak gairah Rena jika memang benar mereka sudah bertahun-tahun putus dan tidak pernah lagi berhubungan sama sekali.

Sesuai ucapannya kepada Rena, Bagas akan pergi ke Kuningan. Tentu saja untuk mencari Rayu. Bagas punya waktu hampir satu minggu untuk bisa menemukan perempuan itu.

Pagi belum sepenuhnya sempurna. Bagas memaksakan diri untuk mengisi perutnya dengan sarapan di hotel. Dia tahu, tubuhnya butuh energi banyak untuk bisa menghadapi semuanya. Entah bagaimana nanti Rena menghadapi kedua orang tua mereka, Bagas tidak peduli. Biarlah itu menjadi urusan Rena. Bagas memang tidak berniat pamit pada siapapun.

Selesai sarapan, Bagas terpikir untuk menemui Ferdian. Jika cerita Bi Isah benar bahwa Rayu ditemani Bi Atikah, maka secara otomatis pasti Ferdian tahu alamat Rayu di Kuningan. Bagas tidak mau dibohongi lagi. Kali ini dia harus memastikan semuanya tidak ada yang salah.

Bagas memarkirkan mobilnya di halaman kantor Ferdian. Masih sangat sepi. Jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit. Tentu saja jam kantor belum dimulai. Bagas memilih untuk menunggu di mobil.

Hampir satu jam Bagas menunggu, dari pintu gerbang tampak mobil Ferdian memasuki halaman kantor. Bagas bergegas keluar dari mobilnya dan berusaha agar tidak terlihat oleh Ferdian. Mobil itu berhenti tepat di depan lobi utama. Ferdian turun lalu menyerahkan kunci mobil kepada security. Tubuhnya baru saja tegak dan berjalan menuju pintu ketika suara panggilan menghentikan langkahnya.

“Mas, Mas Ferdian tunggu.” Bagas memanggil sambil berjalan cepat menghampiri Ferdian.

Ferdian membalikkan badannya. Sesaat raut mukanya terkejut melihat kehadiran Bagas. Namun segera Ferdian menguasai dirinya. Berusaha menepis rasa gugup yang entah kenapa tiba-tiba saja datang.

“Eh, pengantin baru kenapa pagi sekali sudah di sini. Kamu ngapain ke kantor Mas? Bukannya sedang enak-enak dengan istrimu?” Ferdian mencoba menggoda Bagas. Sementara Bagas hanya tersenyum miris. Mau enak-enak bagaimana kalau sang istri malah membayangkan lelaki lain.

“Aku ada perlu penting sama Mas Ferdi. Boleh kita bicara? Aku janji tidak akan menyita waktu Mas Ferdi lebih dari satu jam.”

“Sepertinya memang sangat penting sampai kamu udah di sini sepagi ini. Ya sudah ayo ke ruangan Mas.”

Ferdian melangkah duluan. Sedangkan Bagas mengekor di belakangnya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir kedua orang itu. Ferdian sibuk dengan pikirannya yang menebak-nebak maksud kedatangan Bagas. Sementara Bagas, sibuk merapalkan doa semoga kali ini Ferdia tidak membohonginya lagi.

“Jadi apa yang mau kamu tanyakan sama Mas?” Ferdian mulai bertanya saat mereka berdua sudah duduk di sofa di ruangan Ferdian.

“Mas, kenapa kemarin bohong kepadaku tentang Rayu dan Bintang?” Bagas langsung bertanya tanpa basa basi.

“Maksudmu?” Ferdian masih pura-pura tidak mengerti.

“Setelah dari kantor Mas Ferdi kemarin, aku ke rumah Rayu. Maaf, aku tidak percaya begitu saja dengan omongan Mas Ferdi yang mengatakan mereka baik-baik saja. Aku tahu ada yang disembunyikan sama Mas Ferdi. Jadi aku memilih mencari tahu dan aku ke rumah Rayu. Kebetulan sekali di sana tidak ada siapa-siapa kecuali Bi Isah. Jadi aku bisa bebas mengorek informasi dari dia. Aku turut berduka Mas. Aku tahu Bintang orang yang sangat baik. Karena itulah, aku mau mengalah dan memberikan kesempatan agar dia bisa bahagia dengan Rayu. Tapi kenapa Mas bohong?” Bagas mulau gusar.

“Karena aku tidak mau kamu terpengaruh dengan kabar itu.” Jawab Ferdian tegas. “Kamu datang ke sini dan memberi kabar akan menikah, aku bahagia. Tapi aku juga takut kalau kemarin aku mengatakan Bintang sudah meninggal dan Rayu kini sendirian, kamu pasti akan berubah pikiran dan bisa saja kamu membatalkan pernikahanmu. Aku tidak mau kamu melakukan hal itu untuk kedua kalinya. Aku mau melihat kamu bahagia.”

“Tapi Mas, pada akhirnya mungkin pernikahanku ini pun akan kandas.” Jawab Bagas nyaris tak terdengar.

“Apa yang kamu bicarakan Gas? Mas masih bisa mendengarnya. Kamu jangan main-main dengan pernikahan.” Suara Ferdian mulai naik 1 oktaf.

“Sebetulnya aku malu. Tapi aku sudah menganggap Mas Ferdi sebagai kakakku. Benar Mas, aku berencana mengakhiri pernikahan ini meski tidak sekarang karena aku masih menjaga nama baik dua keluarga. Semalam, ketika aku dan Rena akan bercinta, Rena malah menyebut dan mendesahkan nama lelaki lain. Belakangan aku baru tahu kalau nama lelaki itu adalah mantan pacarnya. Aku minta penjelasan kepada Rena, meski tidak secara gamblang, namun intinya dia mengakui kalau aku bukan lelaki pertama yang akan memasukinya. Dia sudah tidak perawan jauh sebelum bertemu denganku. Kalau dia jujur dari awal, mungkin aku bisa menerimanya dan membantu dia melupakan mantan kekasihnya. Tapi semalam? Dia malah memanggil nama lelaki itu. Aku yang sampai hari ini belum bisa mencintainya, merasa semakin sulit untuk bisa menerimanya.” Bagas meremas rambutnya kasar.

“Mendengar ceritamu, Mas bisa mengerti. Sebagai laki-laki yang menjaga kehormatan perempuan, Mas juga tidak bisa menerima kondisi ini. Tapi kamu harus tenang Gas. Jangan mengambil keputusan sembarangan. Apalagi kondisi kamu masih marah. Dinginkan kepala. Lalu kamu ke ini mau apa?”

“Aku mau ke Kuningan Mas.”

“Apa?” Ferdian sampau terlonjak dari duduknya karena terkejut mendengar ucapan Bagas.

“Iya. Aku mau ke Kuningan untuk melihat Rayu. Sekedar mengucapkan belasungkawa kepada seorang sahabat apa tidak boleh Mas? Aku yakin, Mas Ferdi pasti tahu di mana Rayu tinggal. Bi Isah mengatakan Rayu di sana bersama Bi Atikah.”

Ferdian terdiam beberapa saat. Sejauh apapun dia berusaha menyembunyikan Rayu, ternyata takdir tetap saja menuntun Bagas untuk bisa menemukan perempuan itu.         

“Baiklah. Rayu juga mungkin membutuhkan dukungan dari kamu.” Akhirnya Ferdian memutuskan memberikan alamat Rayu pada Bagas.

Tanpa berpikir lama, Bagas segera melajukan mobilnya menuju Kuningan. tekadnya sudah bulat. Bagas akan kembali menjaga Rayu. Meski kali ini dia hanya menjadi penjaga bayangan saja.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!