SIMPANGAN RASA

Pastikan Dia Akan Baik-Baik Saja

Pagi itu, Bintang pamit kepada Rayu untuk menemui Ferdian. Setelah menikah dan mengatakan hanya ingin di rumah saja, Bintang memang menyerahkan seluruh bisnisnya kepada Ferdian. Satu-satunya orang yang dia percaya selain Papa tentunya.

Rayu sudah memeriksakan kehamilannya ke dokter kandungan. Saat itu usia kandungan Rayu memasuki minggu ke empat. Masih terlalu dini sehingga Bintang berusaha untuk menjaga Rayu dan calon anak mereka dengan sebaik-baiknya.

Kemudian seminggu lalu, Bintang chek up kondisi tubuhnya. Tidak ada perubahan yang berarti. Menurut dokter, dia mampu bertahan sejauh ini karena ditopang oleh semangatnya untuk sembuh yang sangat luar biasa. Bahagia yang kini dirasakan oleh Bintang memberikan banyak energi positif pada raganya.

Bintang pun menyadari hal itu. Bersama Rayu, dia bisa melupakan sejenak tentang sakitnya. Setiap saat dia tak lupa berdoa meminta diberikan lebih banyak waktu lagi agar dapat melihat dan membesarkan buah hati mereka.

Ya, kini tujuan hidup Bintang bertambah. Calon anak merekayang sekarang sudah ada di rahim Rayu.

Namun, Bintang juga harus realistis dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya. Dokter sudah mengatakan, secara medis Bintang tidak akan bertahan lebih dari dua tahun. Bintang harus mempersiapkan segala sesuatu sebagai bekal Rayu dan anak mereka. Untuk itulah kini Bintang menemui Ferdian.

Bintang masuk ke ruangan Ferdian. Kakaknya itu memang sengaja membatalkan semua meeting ketika semalam Bintang menelepon ingin menemuinya. Ferdian memandang wajah Bintang dengan seksama. Meski kini tubuhnya sedikit lebih kurus, tapi rona bahagia sangat terliha dari wajah Bintang. Senyumnya jauh lebih merekah.

“Ada apa pagi-pagi sudah nongol di sini?” Tanya Ferdian tanpa basa-basi.

“Ya ampun Mas. Kamu ini masih saja begitu sama adik kesayanganmu. Apa amu tidak merindukan aku Mas.” Goda Bintang.

“Kalau kamu ke sini hanya ingin mengganggu, lebih baik kamu pulang. Aku sengaja membatalkan beberapa meeting karena teleponmu semalam yang bilang ada yang ingin dibicarakan.”

Bintang menghempaskan tubuhnya di sofa yang tersedia di sana. Untuk beberapa menit keduanya terjebak dalam keheningan. Sibuk dengan pikiran yang ada di benak masing-masing.

“Mas, aku mau semua usaha dan aset yang aku punya dipindahkan atas nama Rayu.” Bintang memulai pembicaraan.

“Maksudmu?” Ferdian mengernyitkan dahinya. Belum bisa memahami ke arah mana pembicaraan Bintang.

“Iya, semua asetku tolong dipindahkan atas nama Rayu.”

“Alasannya?” Tanya Ferdian menyelidik.

“Rayu hamil Mas. Usia kandungannya sekarang mungkin sekitar enam minggu. Dua minggu lalu kami memeriksakannya ke dokter kandungan.”

“Lalu?”

“Mas Ferdi kan tahu, dokter sudah memvonis kalau umurku mungkin tidak akan lebih dari dua tahun. Bisa saja aku tidak melihat kelahiran anakku sendiri. Aku harus berusaha agar Rayu baik-baik saja ketika aku harus pergi. Paling tidak, secara finansial dia dan anak kami tidak akan kekurangan.”    

“Aku mendukung keputusanmu Bin. Meski nantinya aku pasti akan menjaga keponakanku dengan sangat baik, tapi benar apa yang kamu katakan. Kehidupan Rayu dan anakmu secara ekonomi harus terjamin. Tapi apa tidak sebaiknya langsung kamu bagi saja? Mana yang atas nama Rayu dan mana yang nantinya atas nama anak kalian? Bukan apa-apa, aku hanya khawatir nanti timbul masalah jika semuanya atas nama Rayu. Bukan aku menuduh Rayu akan berbuat yang tidak-tidak. Aku hanya menjaga. Mungkin saja nantinya akan menikah lagi. Kan malah jadi repot. Kalau sudah atas nama anakmu, ya bisa jadi akan lebih mudah. Aku sendiri masih belum tahu bagaimana mengurusnya. Sekarang lebih baik kamu pilah dulu saja mana yang akan kamu berikan untuk Rayu dan mana yang untuk kamu.”

“Kamu memang yang terbaik Mas.” Bintang menyunggingkan senyumnya.

“Bin, jujur saja, aku masih berharap semua kabar yang aku dengar dari kamu dan kenyataan yang harus kita hadapi ini hanyalah sebuah mimpi. Saat kita bangun, semuanya akan baik-baik saja. Aku masih tidak percaya kalau kamu sedang berjuang dan bertarung dengan waktu. Itu sangat menyakitkan Bin.”

“Tolong jangan begini Mas. Selama ini Mas Ferdi yang paling kuat menopangku. Kalau Mas Ferdi menyerah, bagaimana dengan aku?” Bintang menatap Ferdian nanar.

Ferdian hanya diam. Dibalik sikapnya yang selalu berusaha untuk keras dan tegas pada Bintang, sesungguhnya Ferdian menyimpan duka yang dalam. Dia sangat menyayangi Bintang lebih dari apapun. Bagi Ferdian, Bintang adalah adik yang teramat baik. Bintang menjalani hidup dengan lurus dan tidak pernah berbuat yang tidak senonoh. Dia tahu sekali bagaimana Ferdian mengelola keuangannya dengan bijak sehingga adiknya itu sekarang benar-benar bisa santai menikmati.

Tapi takdir berkata lain. Bintang malah harus menghadapi cobaan dengan penyakitnya. Ferdian akhirnya resign dari kantornya yang dulu dan memilih mendampingi Bintang sambil mengambil alih serta menjalankan semua usaha Bintang.

Bintang memang memiliki banyak sekali bisnis. Meski yang dia pegang sepenuhnya adalah usaha penerbitannya. Sesuai hobi Bintang yaitu menulis dan membaca. Belakangan, Ferdian baru tahu kalau alasan terbesar Bintang membuka usaha penerbitan buku adalah Rayu. Bintang memiliki keyakinan kalau Rayu akan menjadi penulis. Seperti ucapan Rayu kepada Bintang saat mereka kecil dulu.

“Aku juga masih punya hati Bin. Nggak selamanya bisa kuat seperti yang kamu bayangkan. Lalu sekarang rencanamu bagaimana? Mau menuliskannya dalam bentuk wasiat atau gimana?” Ferdian buka suara.

“Aku pikir lebih baik begitu Mas. Aset-aset tidak bergerak lebih baik diberikan untuk calon anakku. Saat dia besar nanti, nilainya pasti akan sangat tinggi. Kalau untuk deposito dan asuransi, baiknya ditulis untuk Rayu dan anakku. Supaya bisa menjadi bekal untuk mereka berdua. Nah, kalau saham bisa dibagi untuk Rayu, anakku, Papa dan Mama, juga adik kita. Jangan lupakan dia Mas. Royalti sudah aku urus saat tanda tangan kontrak dulu. Royalti yang aku dapat akan secara otomatis diterima oleh Mas Ferdi sebagai ahli waris. Aku hanya minta supaya Mas Ferdi bisa menyimpannya untuk anakku atau Rayu saat mereka membutuhkan.”

“Bin, kamu tidak perlu memikirkan aku. Gini-gini juga aku masih bisa mencari uang untuk diriku dan keluargaku. Pikirkan untuk biaya perawatanmu juga.”

“Aku tahu Mas Ferdi akan selalu bisa aku percaya dan aku andalkan.”

“Karena darah lebih kental dari air Bin. Darah yang mengalir di tubuh kita sama. Aku punya dua adik yang harus aku sayang dan aku jaga dengan baik. Aku laki-laki pertama di keluarga kita. Secara tidak langsung, akulah pengganti Papa untuk kedua adikku. Jadi aku pasti akan menjaga kalian. Kamu juga jangan khawatir tentang calon anakmu nanti. Aku siap untuk mengurus dan melindunginya. Memastikan dia sama seperti anakku. Tidak kurang suatu apapun.”

“Mas, terima kasih banyak sudah berbuat sejauh ini untukku.” Akhirnya Bintang memeluk Ferdian erat. Senang rasanya memiliki orang yang selalu ada di samping kita dalam keadaan apapun.

***

 



Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!