SIMPANGAN RASA

Rumah Ini Adalah Kamu

Rayu terpana melihat rumah di depannya. Rumah dengan halaman yang sangat luas. Ingatan Rayu melayang pada masa kecil mereka di Belitung. Ketika Bintang melihatnya sedang menggambar sebuah rumah.

“Kamu gambar apa?” Bintang memandang kertas yang dipegang Rayu.

“Rumah.” Rayu menjawab sambil tetap fokus menggambar dan mewarnai.

“Halamannya besar amat.” Komentar Bintang.

“Iya aku mau rumahku nanti punya halaman yang luas. Jadi aku bisa puas main di situ. Aku nggak mau rumah tingkat, capek naik turun tangganya. Aku mau rumahku punya satu lantai aja. Jadi nanti semuanya bisa kumpul di bawah. Nggak ada yang di atas.”

“Kok rumah kamu nggak ada warnanya?”

“Biarin. Kan aku maunya rumah aku semuanya warna putih. Biar kayak istana-istana raja yang semuanya warna putih.”

“Halaman segini luas mau kamu jadikan apa?”

“Jadi taman, nanti di samping ini ada banyak pohon-pohon, ada bunga, terus nanti ada ayunan juga.”

“Rumah kamu norak. Kalau cuma rumah begini doang sih aku juga bisa bikin untuk kamu.” Ledek Bintang. Alhasil setelah itu Rayu marah dan selama beberapa hari nggak mau bertemu Bintang. Tapi bukan Bintang namanya jika tidak berhasil membuat Rayu kembali tertawa.

“Kamu jahat. Aku nggak mau rumah dari kamu. Pokoknya kamu harus pergi.” Usir Rayu.

“Kita lihat aja nanti. Aku pasti akan bikinin rumah ini.”

Kini rumah dalam lukisan masa kecilnya itu ada di depan Rayu. Berdiri megah nyaris sempurna sesuai dengan apa yang Rayu gambar.

Rayu tertegun. Tubuhnya menegang. Dia hanya mampu berdiri sambil memandang rumah itu.

“Kamu kenapa Yang?” Bintang menyentuh lengan Rayu lembut.

“Ini rumah siapa?”

“Ya ini rumah kita dong. Memangnya rumah siapa lagi?”

“Tapi... tapi kenapa bisa?”

“Apanya yang bisa? Kamu terkejut? Kamu pasti akan bilang kenapa rumah ini sama dengan rumah impian saat kecil kamu. Iya kan?”

“Kamu masih mengingatnya?” Rayu ternganga.

“Ayo masuk dulu. Kita ngobrol di dalam.” Bintang menggamit lengan Rayu dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu hanya ada sofa berukuran kecil. Selebihnya ruangan itu masih kosong. Ruangan itu tidak ada sekat sama sekali sehingga Rayu bisa bebas melihat ruang tengah dan ruangan-ruangan lainnya. Sama seperti di depan, di dalam rumah pun semuanya bernuansa putih.

“Aku menyimpan gambar rumah impianmu di sini.” Bintang menunjuk dadanya. “Rumah ini baru aku bangun dua tahun lalu. Tepat setelah kita bertemu. Sebelumnya aku hanya tinggal di apartemen.”

“Kenapa kamu membangun rumah ini padahal sudah punya apartemen?” Tanya Rayu penasaran.

“Karena ini rumah impian kamu, sayang. Seperti yang aku ceritakan di rumah sakit, suamimu orang yang gemar menabung. Beberapa novelku ada yang difilmkan. Aku mendapatkan hasil lebih dari yang pernah aku bayangkan. Tapi kamu tahu kan, sejak kecil aku tidak pernah mengelurkan uang untuk hal-hal yang memang tidak perlu. Semua pendapatan itu aku simpan dan sebagian lagi aku pakai untuk membuka beberapa usaha bersama teman-temanku.”

“Loh, bukannya rumah ini juga termasuk salah satu yang tidak perlu? Kenapa kamu menghamburkan uangmu hanya untuk rumah ini?”

“Dua tahun lalu, ketika kita bertemu lagi, semua cerita dan mimpiku tentang kamu ikut kembali. Termasuk rumah ini. Dulu aku berjanji akan mewujudkan rumah impian gadis kecil berkepang dua yang sudah mencuri hatiku sejak itu. sayangnya, kamu hanya menggambar dan menceritakan bagian depannya aja. Aku bingung ketika harus mendesain bagian dalam. Akhirnya ya seperti yang kamu lihat, di dalam sini masih polos semua. Aku belum tahu harus membangun seperti apa. Tapi kalau dapur dan kamar kita sih sudah aku selesaikan. Nggak mungkin aku berani ngajak kamu ke sini kalau kita belum tahu mau tidur di mana. Maaf kalau dua bagian itu akhirnya menyesuaikan dengan seleraku.”

“Memangnya dua tahun yang lalu itu kamu sudah yakin aku akan nikah sama kamu? Kan aku waktu itu bilang kalau aku sudah bertunangan dan akan segera menikah.”

“Aku nggak peduli kita nikah atau nggak. Aku cuma mau membuat rumah untuk kamu. Karena aku sudah berjanji dari dulu. Kamu menikah dengan siapa, aku sudah ikhlas.”

“Bener nih, kamu nggak berharap nikah sama aku.”

“Dua tahun lalu sih iya. Waktu pertama ketemu kamu lagi terus kamu bilang kalau kamu sudah tunangan, aku mulai mencoba tidak berharap banyak. Tapi ya namanya hati tetap saja tidak bisa dibohongi. Kamu selalu aku masukkan dalam daftar keinginanku. Aku doakan setiap saat hahahahaha.” Bintang tergelak mengingat betapa konyolnya dia yang mengharapkan tunangan orang.

“Tuh kan akhirnya kamu ngaku juga.”

“Nggak salah dong kalau aku meminta sama Allah. Kan yang penting aku tidak berusaha mengganggu secara langsung hubungan kamu sama Bagas.”

Rayu terdiam. Masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan dia sendiri sudah lupa tentang rumah ini. Tapi Bintang? Lelaki itu masih mengingat setiap detailnya. Lalu Rayu memandang mata Bintang yang sedang menatapnya juga. Pandangan mereka beradu. Berbicara banyak hal.

“Terima kasih Bin. Sepertinya aku harus mengucapkan terima  kasih ribuan kali. Semua yang kamu lakukan ini benar-benar membuatku seakan menjadi ratu.” Rayu berkata dengan air mata yang sudah mulai menganak sungai.

“Aku ingin bahagia bersamamu.” Desis Bintang sambil mendekap erat istrinya.

“Aku pasti akan berusaha membuatmu bahagia.”

“Kamu harus menepati janjimu. Hanya boleh bekerja sebagai penulis freelance. Kerja di rumah sambil temani aku. Kita akan menghabiskan waktu berdua setiap harinya. Kamu nggak usah mikirin biaya hidup. Uang dan royalti-royaltiku masih sangat cukup untuk biaya hidup kita. Aku juga masih punya penghasilan dari beberapa saham yang aku punya.”

“Bin, memangnya uang kamu berapa? Biaya hidup itu besar loh Bin. Mau berapa lama kita hanya mengandalkan tabungan kamu?”

Aku hanya punya waktu nggak lebih dari dua tahun dan aku ingin menghabiskan sisa waktuku itu hanya dengan kamu. Jerit Bintang dalam hati.

Ya, Rayu tidak tahu ketika dokter menjelaskan secara detail tentang kondisi Bintang. Saat itu, di rumah sakit hanya ada Bintang dan Ferdian. Dokter mengatakan, secara medis tubuh Bintang tidak akan mampu bertahan lebih dari dua tahun.

Bintang meminta Ferdian menyembunyikan fakta ini dari Rayu atau kedua orang tua mereka. Cukup Bintang dan Ferdian saja yang tahu rahasia besar ini.

“Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku dengan melakukan semua impian yang membuatku bahagia. Aku ingin menikmati seluruh waktu yang aku punya hanya dengan Rayu. Tolong bantu aku Mas.”

Ferdian mengangguk di sela tangis yang berusaha ditahannya. Dia harus kuat di depan Bintang. Harus membantu adiknya itu berjuang.

“Bin, sekali lagi terima kasih ya. Aku mencintaimu.” Suara Rayu yang disusul kecupan hangat di pipinya seketika membuyarkan lamunan Bintang.

“Tidak perlu berterima kasih. Bagiku, rumah ini adalah kamu karena semuanya tentang kamu.” 

***

 



Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!