SIMPANGAN RASA

Hidup Baru

Pagi ini semua berkumpul di meja makan. Sarapan lengkap sudah disiapkan bunda. Nasi kuning lengkap dengan aneka lauk dan sayur. Ada nasi putih dan roti juga. Sudah menjadi kebiasaan bunda sejak dulu selalu menyediakan sarapan yang beragam untuk suami dan kedua anaknya.

Padi, adik Rayu yang sedang kuliah di Yogya sudah duduk manis sambil mencomot beberapa lauk. Sebagai anak kost, tentu saja Padi tidak mau menyiaka-nyiakan kesempatan makan enak seperti ini. Perbaikan gizi dan nutrisi katanya. Apalagi sang ayah juga sudah ada di sana. Padi sangat dekat dengan Hendra.

“Gimana kuliahmu? Kapan selesai?”

“Lancar dong Yah. Anak Ayah ini kan the best lah. Aku masih menyusun skripsi sedikit lagi nih. Rencanaku tahun depan wisuda Yah.”

“Terus setelah itu apa rencana kamu? Mau kerja di kantor Ayah?”

“Nggak mau. Kerja sama Ayah itu nggak asyik. Aku mau cari sendiri. Kalau bisa sih biar sekalian travelling. Kayak Mbak Rayu tuh, kerjanya nggak ada jam kantor. Kan enak aku bisa kerja di mana aja.”

“Kamu jangan lihat enaknya aja. Mbakmu itu juga harus kerja keras. Berhari-hari nggak tidur atau mengurung diri. Semua pekerjaan ada enak ada nggak enaknya. Mbakmu enak karena tidak diatur jam kantor, tapi ada deadline yang membuat dia harus selalu siap kapanpun dan dimanapun. Orang kantoran juga enak karena jam kerjanya pasti. Kamu, kalau mikirin travelling terus ya kapan mau kerja benernya?” Bunda mulai mengomel khas ibu-ibu.

“Wah ibu suri sudah mengeluarkan ultimatum. Ayah, bantu Padi dari murka ibu suri dong.” Ledek Padi yang hanya ditanggapi Hendra dengan senyuman.

“Padi, orang tua lagi ngomong malah bercanda. Bunda serius ini.” Tangan bunda terulur cepat menjewer telinga Padi.

“Awwwwww Bunda sakit. Tuh kan Yah, ibu suri murka. Ampun Bun ampun. Iya iya iya nih Padi serius juga. Ampun bun. Wah udah lama nggak pulang, jeweran Bunda malah semakin sadis aja ih.” Padi tak berhenti meledek Bunda. Tentu saja ucapannya itu diganjar dengan pelototan Bunda.

“Sudah sudah sudah. Ayah akan tetap mendukung apapun pilihan kamu. Yang penting kamu tanggung jawab dengan keputusan kamu. Ayah tidak bisa mengatur hidup kalian, tapi Ayah akan selalu ada saat kalian perlukan.”

“Asyiiiiikkkkk Ayah emang paling top. Terima kasih Ayah.”

“Bun, Rayu sama Bintang mana? Kok belum ke sini?” Ayah mulai sadar kalau Rayu dan Bintang belum ada di meja makan.

“Iya, tadi sudah Bunda panggil tapi belum ada jawaban juga. Padi, coba kamu ke atas. Panggil Mbakmu itu.” Perintah Bunda.

“Aku nggak mau ah. Udah biar aja Bun. Namanya juga pengantin baru. Ayah sama Bunda kayak nggak pernah ngerasain jadi pengantin baru aja.” Jawaban Padi langsung disambut jeweran di telinga dari bunda dan sentilan di jidat dari ayah.

“Ya ampuuuuunnnn... Ayah sama Bunda kenapa kompak sekali menyiksa aku? Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga. Aku bisa laporkan ke komnas perlindungan anak kalau begini. Aduh sakit banget.” Padi meringis sambil mengusap jidat dan telinganya.

“Siapa suruh menjawab seenaknya.” Jawab bunda santai. “Udah sana ke atas panggil Rayu dan Bintang. Suruh mereka sarapan.” Lanjut Bunda.

“Baiklah ibu suri. Aduh padahal aku baru beberapa bulan aja nggak pulang. Tapi kekerasan di dalam rumah ini sudah meningkat pesat.” Cicit Padi.

Sementara di dalam kamar, Rayu masih betah bergelung dalam dekapan Bintang. Semalaman mereka nyaris nggak tidur karena melakukan perjalanan panjang menaklukan surga dunia.

“Bin, ini sudah pagi. Biasanya Ayah sama Bunda jam segini sudah siap sarapan.” Rayu mencoba membangunkan Bintang. Tapi dirinya sendiri sebetulnya enggan untuk bangun.

“Hmmmm... Sebentar lagi ya. Aku masih betah seperti ini.” Jawab Bintang serak sambil memeluk Rayu dan menyusupkan kepalanya ke dada Rayu.

Tentu saja Rayu menikmati pelukan Bintang. Meski tubuhnya terasa lelah dan sakit di sana sini tapi Rayu malah tersenyum senang. Malam tadi dia dan Bintang resmi menjadi bagian yang menyatu. Tidak akan terpisah lagi.

“Bin, awas tangan kamu. Aku mau ke kamar mandi.”

“Nanti aja. Aku mau begini seharian.” Ceracau Bintang.

“Bin, aku sudah tidak tahan mau ke kamar mandi. Awas tangan kamu.” Rayu menepiskan tangan Bintang dengan paksa.

Namun baru saja akan melangkahkan kakinya, Rayu merasakan sakit dan linu pada area kewanitaannya. Bahkan dia nyaris tidak bisa berjalan dengan baik. Spontan Rayu mengaduh dan sukses membuat Bintang bangun sepenuhnya.

“Kamu kenapa?” Tanya Bintang panik sambil memeluk Rayu yang kembali duduk di tepi ranjang.

“Badanku sakit semua. Aku juga nggak bisa jalan nih. Semua gara-gara perbuatan kamu.” Jawab Rayu kecut.

“Ya ampun, aku pikir kenapa. Kalau ini sih gampang. Kamu tunggu aja dulu di sini. Jangan kemana-mana.”

Bintang beranjak ke kamar mandi. Untunglah kamar mandi di kamar Rayu ini dilengkapi dengan bathtub untuk berendam. Bintang mengisi air hangat sampai penuh. Lalu menambahkan sabun dan aroma terapi. Setelah selesai, Bintang kembali menghampiri Rayu. Dengan santainya, diangkatnya tubuh Rayu lalu dimasukkan ke dalam bathtub.

“Sepertinya dengan berendam air hangat, tubuhmu akan segar lagi.”

“Kamu tahu dari mana? Atau jangan-jangan kamu sudah pengalaman dengan hal macam ini.” Selidik Rayu.

“Jangan mikir macam-mcam. Walaupun prakteknya nol besar, tapi kalau teori, aku sudah tamat. Sudah sana nikmati saja sebelum aku berubah pikiran. Atau jangan-jangan istri cantikku ini ingin aku temani di dalam sana?” Seringai Bintang.

“Awas aja kalau berani ke sini. Semalaman masih belum cukup?” Rayu melotot marah. Tubuhnya benar-benar lelah setelah digempur oleh Bintang semalaman.

“Mana cukup. Kamu membuatku ketagihan begini. Kalau tahu akan senikmat ini sih dari dulu aku langsung ajak kamu nikah.” Seloroh Bintang sambil berlalu keluar dari kamar mandi.

Rayu baru saja menyelesaikan mandinya ketika terdengar ketukan di pintu kamar disambung oleh suara Padi yang meminta mereka untuk segera turun ke meja makan.

“Iya, sebentar lagi Mbak turun. Itu Mas Bintang masih mandi.” Jawab Rayu.

“Siapa?” Tanya Bintang yang baru keluar kamar mandi. Rambutnya yang masih basah sempat membuat dada Rayu berdesir mengingat keintiman mereka semalam.

“Padi. Ayah sama Bunda sudah di meja makan. Menunggu kita sarapan bareng.”

Bintang pun segera memakai baju. Inginnya Bintang, kembali menerkam Rayu dan melanjutkan sesi pagi mereka lebih hebat dari semalam. Tapi rasanya tidak mungkin. Ayah dan Bunda sudah menunggu mereka. Sarapan pagi itu terasa lebih hangat dengan kehadiran Bintang. 

  “Yah, maaf saya ingin menyampaikan sesuatu.” Bintang memecah keheningan.

“Ada apa Bin?” Tanya Ayah.

“Kalau Ayah mengizinkan, hari ini saya ingin membawa Rayu pindah ke rumah yang sudah saya siapkan untuk kami.”

“Kenapa secepat ini? Kalian kan bisa tinggal di sini?” Sela Bunda.

“Bukan begitu Bun, Rayu dan Bintang ingin mandiri. Belajar berumahtangga. Jadi kami ingin tinggal berdua dan menjalani semuanya bareng-bareng.” Rayu membantu memberikan jawaban.

“Ayah pikir itu ide yang bagus. Kalian bisa lebih saling memahami satu sama lain. Toh rumah kalian juga nggak terlalu jauh dari sini. Ayah setuju dan Ayah memberikan izin.”

“Terima kasih banyak Yah.” Jawab Bintang.

Ya, Bintang dan Rayu sepakat akan memulai hari baru mereka. Kehidupan sebagai suami istri yang sudah ada di depan mata.

***

 



Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!