SIMPANGAN RASA
Apa Kabar Cinta?
Bagas memandang senja yang sedang merekah dari balkon kamarnya. Sudah satu bulan dia berada di sini. Bandar Lampung. Sedikitpun tak pernah terbersit di pikirannya kalau dia akan pergi meninggalkan Bogor dengan alasan ingin menghindar dari Rayu. Sejak dulu, Rayu adalah tujuan masa depannya. Teman yang ingin dia ajak hidup bersama sampai mereka renta.
Dalam satu bulan ini, Rayu beberapa kali menghubunginya. Menanyakan kabar Bagas atau memberikan kabar tentang perkembangan Bintang. Mereka akan menikah beberapa hari lagi. Haruskah Bagas datang? Sebagai laki-laki, egonya sangat terluka. Sulit sekali menepati janjinya untuk selalu ada dan menjadi sahabat terdekat Rayu.
Rayu melakukan video call untuk memberikan kabar itu. Awalnya Bagas enggan mengangkat panggilan itu. Tentu saja karena rindunya akan terusik saat memandang wajah Rayu. Pada panggilan kelima, barulah Bagas mengangkatnya. Sebisa mungkin senyum terukir di bibir Bagas. Sisi lain hati Bagas masih mendamba dapat melihat wajah cantik Rayu. Menuntaskan rindu yang tak pernah padam.
“Gaaaaassssssss... Apa kabar? Kenapa baru angkat telepon? Kamu lagi ngapain sih? Sibuk ya? Aku ganggu ya Gas?”
Sepertinya sudah lama sekali Bagas tidak pernah mendengar lagi teriakan dan rentetan pertanyaan yang menjadi ciri khas Rayu.
“Hmmmmm....” Bagas hanya menjawab dengan gumaman dan seulas senyum.
“Bagas ih... Kebiasaan deh. Kalau ditanya Cuma jawab gitu doang. Padahal aku nanya banyak.” Wajah Rayu terlihat merajuk.
“Kamu juga kebiasaan. Kalau bertanya nggak kira-kira. Suka lebih dari satu. Aku bingung mau jawab yang mana duluan.” Bagas meringis nyeri. Kenapa Rayu harus mengingat kebiasaan mereka?
“Iya deh. Aku nggak pernah menang kalau sama kamu. Apa kabar kamu di sana?” Rayu menatap lekat Bagas di layar handphonenya.
“Aku baik-baik saja. Di sini menyenangkan kok.”
“Terus kenapa kamu baru angkat telepon aku? Pasti karena HP nya kamu silent ya? Kebiasaan deh kamu HP selalu disilent. Gimana kalau ada hal penting Gas?”
“Iya, HP aku silent. Tadi aku lagi meeting.” Kali ini, Rayu salah menebak mengenai kebiasaan Bagas. Sejak di Bandar Lampung, Bagas nyaris tidak pernah mematikan HP atau mematikan nada dering. Selain klien, tidak ada lagi yang sering menelepon Bagas. Biasanya, Rayulah penelepon setia yang akan menanyakan kegiatan Bagas hari itu.
“Gas, aku mau menikah sama Bintang.” Kalimat pendek Rayu sukses membuat tubuh Bagas bergetar.
Sejak memilih melepaskan Rayu, Bagas sudah menyiapkan hatinya untuk mendengar kabar ini. Namun, ketika waktunya tiba, tetap saja hati dan pikirannya tidak bisa diajak kerja sama.
“Selamat ya. kapan?”
“Kok komentarmu Cuma begitu aja Gas?”
“Terus aku harus gimana? Beneran aku bahagia dengernya. Kapan kamu menikah?”
“Minggu depan Gas.”
“Hah? Secepat itu?”
“Ini udah mundur Gas. Tadinya Bintang malah ngajak aku nikah di rumah sakit Gas. Gila kan itu orang. Tapi kami memang harus segera Gas. Kamu tahu sendiri, Bintang bertaruh dengan waktu. Sakitnya dia membuat kami tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan.” Raut wajah Rayu seketika berubah menjadi sedih.
“Hei, jangan ngomong sembarangan. Yakin deh kalau semua akan baik-baik aja. Kamu harus percaya Bintang itu kuat. Pasti bisa melewati semuanya dan membuat kamu bahagia.” Andai dekat, ingin sekali Bagas merengkuh tubuh Rayu ke dalam dekapannya. Memberikan kekuatan yang gadis itu butuhkan.
“Kamu harus datang ya Gas. Aku butuh kamu.” Pinta Rayu lirih.
“Kan sudah ada Bintang. Kenapa masih cari aku?” Ledek Bagas.
“Gas, beneran aku kangen sama kamu. Pokoknya kamu harus hadir. Gas, cuma kamu yang selama ini ngerti aku. Bintang pun mungkin tidak mengenal aku sebaik kamu. Aku ingin ada kamu di sini Gas.”
“Jangan begitu Ray. Kasih kesempatan buat Bintang untuk mengenal dan memahami kamu. Kalian harus banyak melewati hari berdua dan saling terbuka. Bukan aku nggak mau menjadi orang terdekatmu, tapi sekarang ada Bintang. Dia jauh lebih berhak untuk menjadikan dirinya sebagai sandaran kamu. Aku hanya akan memperhatikanmu dari jauh saja.”
“Aku nggak mau tau. Pokoknya kamu harus datang Gas. Kamu adalah orang pertama yang akan aku pastikan kedatangannya.”
“Aku usahakan bisa datang ya. maklum, aku di sini baru. Jadi masih banyak yang harus aku selesaikan. Aku juga masih berusaha untuk menyesuaikan diri.” Terutama menyesuaikan tanpa kehadiranmu. Lanjut Bagas dalam hati.
“Oh iya Gas, kerjaan kamu bagaimana? Lancar kan? Susah nggak Gas adaptasi di sana?”
“Alhamdulillah di sini sangat lancar. Aku tidak mengalami kesulitan. Paling kesulitanku cuma satu. Nggak ada kamu. Biasanya setiap hari aku melihat kamu.” Akhirnya pertahanan Bagas runtuh. Kata-kata itu meluncur sukses dari bibirnya.
“Gas, maaf ya.” Terlihat sekali Rayu kaget dengan ucapan Bagas.
“Kenapa harus minta maaf? Kamu nggak salah. Aku beneran baik-baik saja. Ray, aku harus keluar dulu. Gak apa-apa kan kalau teleponnya aku putus?” Bagas harus segera menghentikan pembicaraan ini sebelum terlalu jauh.
“Iya Gas, gak apa-apa. Aku tunggu minggu depan ya. Bye Gas.”
Bagas menutup teleponnya. Rayu tidak tahu, satu bulan ini Bagas sudah menjadi pembohong ulung tentang perasannya. Ya, Bagas sebetulnya tidak ada meeting. Dia hanya ingin menghindari Rayu. Bagas tahu, Rayu tidak akan menghentikan obrolan mereka secepat itu. Pasti akan banyak sekali pertanyaan yang diajukan Rayu. Bagas tentu saja sangat tidaksiap untuk memberikan jawaban. Bagas tidak ingin hatinya berharap banyak lagi kepada Rayu.
Dan minggu depan yang Rayu bicarakan itu adalah tiga hari lagi. Bagas masih bimbang haruskan dia hadir di sana?
***
Senja sudah beranjak malam. Bagas belum terusik untuk pergi dari balkon kamarnya. Setelah telepon itu, Rayu setiap hari mengirim pesan menanyakan kesediaan Bagas untuk hadir di pernikahannya. Bagas selalu menjawab, aku usahakan.
Rayu tak pernah alpa memastikan kabar Bagas di hari itu.
“Apa kabar Gas?”
Kalimat itu seakan menjadi kata kunci tiap kali Rayu mengirimkan pesan. Entah itu hanya basa-basi atau memang Rayu sedang mengkhawatirkannya. Bagas malas menduga-duga.
Tiap pesan Rayu, seakan menjadi pupuk untuk kerinduan Bagas. Tunas-tunas rindu yang selama ini Bagas bunuh, kembali tumbuh ketika membaca pesan Rayu.
Sejak awal Bagas sadar, menghapus Rayu bukanlah pekerjaan mudah. Jejaknya terekam begitu dalam selama lebih dari sepuluh tahun. seluruh sisi kehidupan Bagas mencatat dengan baik nama Rayu.
“Apa kabar cinta?” Desis Bagas sambil menatap foto Rayu di HP nya. Semoga semua akan baik-baik saja. Untukku dan juga untukmu. Aku berharap kamu selalu bahagia karena aku melepaskanmu bukan untuk melihatmu menangis, tapi agar kamu selalu tertawa. Bagas mengusap wajah Rayu di layar HP nya.
***