SIMPANGAN RASA
Terima Kasih Memilihku
Suasana berbeda sangat terasa di kamar Bintang setelah kepergian Bagas. Bintang terus saja menatap lekat Rayu yang tengah sibuk di depan laptopnya. Sejak kemarin Rayu mengeluhkan deadline yang sudah menunggunya. Bintang sudah menawarkan bantuan untuk membantu, namun perempuan itu menolak mentah-mentah. Alih-alih menerima bantuan Bintang, Rayu malah memberikan ceramah dan omelan panjang lebar. Membuat kuping Bintang panas sekaligus bahagia karena ada yang memperhatikannya. Bintang tahu, Rayu begitu mengkhawatirkan kesehatannya. Meski berulang kali Bintang menegaskan kalau dirinya sudah membaik, tetap saja tidak mudah untuk membantah semua titah Rayu. Akhirnya Bintang memilih duduk manis sambil menikmati wajah cantik Rayu.
Kondisi Bintang sendiri mulai membaik. Sekarang sudah bangun dari tempat tidur dan berjalan-jalan di dalam kamar. Semangat Bintang untuk sembuh sungguh luar biasa. Walaupun dirinya tahu, dia bertarung dengan leukimia yang memiliki peluang sembuh sangat kecil. Tapi Bintang ingin terus berjuang mengalahkan sakitnya. Tentu saja agar bisa membuat semua mimpinya dengan Rayu terwujud. Kehadiran Rayu membuat Bintang mendapatkan kehidupan yang baru.
“Jangan terus menerus melihatku seperti itu.” Tiba-tiba Rayu bersuara.
“Seperti apa?” Bintang mesem-mesem.
“Kamu seperti sedang ingin melahapku.” Rayu mendelik galak.
“Memang. Itu yang ada di kepalaku sekarang. Aku jadi penasaran bagaimana rasanya kalau aku memakanmu.” Bintang malah bercanda.
“Bin, aku sedang tidak ingin bercanda.” Rayu mulai merajuk.
“Aku juga tidak bercanda. Aku serius ingin memakanmu.”
Rayu bungkam. Memilih tak menggubris ucapan. Dia kini kembali fokus pada laptopnya. Sejak merawat Bintang, tulisan yang sedang Rayu kerjakan banyak terbengkalai. Untunglah kliennya tidak mengeluh dan mau sabar menunggu Rayu.
Asyik dengan laptopnya, membuat Rayu tidak menyadari Bintang yang diam-diam berjalan ke arahnya. Bintang memeluk pinggang Rayu dan berhasil membuatnya terlonjak kaget.
“Bin, apa-apaan sih?”
“Biarkan saja seperti ini. Aku ingin minta waktu berhenti agar bisa terus memelukmu. Aku rindu.”
“Ish kamu ngomong apa? Aku di sini setiap hari, kamu malah mengatakan rindu. Dasar aneh.”
“Aku benar-benar merindukanmu. Aku menyesal, banyak sekali tahun-tahun yang telah kamu lewati tanpa kehadiranku. Andai aku mau mengirimkan kabar padamu, mungkin kita tidak akan terpisah dan aku tidak akan kehilanganmu. Aku juga menyesal, setelah pertemuan kita dua tahun lalu itu, aku malah mengabaikanmu. Aku terlalu takut untuk membuka kenyataan tentang sakitku. Aku takut kamu kembali padaku hanya karena rasa kasihan.”
Rayu kini menghentikan aktivitasnya. Ditutupnya laptop begitu saja. Dengan mata terpejam, tangannya menangkup lengan Bintang yang sedang melingkar di perutnya. Dekapan Bintang selalu terasa hangat dan menenangkan. Rasa yang tak pernah berbeda sejak Rayu mengenalinya puluhan tahun lalu.
“Aku mencintaimu Bin. Selama ini tidak pernah ada sosok lain. Semuanya selalu berakhir padamu. Sekarang aku benar-benar menyesal tidak membuka hati sejak dulu. Ketika teman-temanku berganti pacar, aku bahkan tidak memiliki seorang pun untuk dijadikan pacar. Apalagi ketika Bagas selalu ada di sisiku, lelaki yang ingin mendekatiku semakin menjauh. Mereka berpikir aku dan Bagas pacaran. Aku bodoh ya Bin, mau menunggumu padahal aku sendiri tidak tahu bagaimana kabarmu.”
“Aku bersyukur dengan kebodohanmu itu. Aku juga berhutang banyak kepada Bagas. Dia sudah menjagamu dengan luar biasa.”
“Bagas tadi mengatakan dia akan pindah ke Bandar Lampung.” Rayu bersuara lirih.
“Aku tahu. Dia sudah bicara banyak padaku.”
“Kapan?”
“Tadi pas kamu sama Mas Ferdian makan. Saat itu Bagas datang dan kami bicara banyak. Kamu sungguh beruntung memiliki Bagas. Aku harus benar-benar menjaga dan membuatmu bahagia. Kalau tidak, Bagas pasti akan merebut kamu lagi.” Bintang tertawa miris.
“Oh jadi kamu mau membuatku bahagia gara-gara Bagas?” Rayu melepas pelukan Bintang dan kini berbalik menatap lelaki itu.
“Waduh sepertinya aku salah bicara.” Bintang menggaruk tengkuknya. “Bukan itu maksudku. Aku ingin membahagiakanmu tentu saja karena aku mencintaimu. Sejak dulu pun aku sudah berjanji akan membuatmu bahagia.”
“Gombal.” Rayu mendengus.
“Tuh kan kamu selalu nggak percaya.”
“Gimana aku bisa percaya, kamu tadi bawa-bawa nama Bagas.”
“Yu, percayalah padaku. Kamu tahu, sejak aku mengetahui penyakitku ini, aku sudah tidak pernah lagi dekat perempuan manapun. Aku tidak mau memulai sesuatu yang aku pikir toh nantinya akan tetap berakhir dengan menyakitkan. Untuk apa repot memikirkan masa depan ketika aku sendiri sudah tidak punya masa depan. Tapi kamu beda. Pertemuan kita membangkitkan semangatku untuk sembuh. Bersamamu, aku berpikir akan menikmati waktu yang aku punya dengan sebaik-baiknya. Andai umurku hanya beberapa hari bahkan beberapa jam saja, aku ingin menghabiskannya dengan penuh cinta bersamamu. Saat ini, aku mulai serakah. Meminta pada Tuhan untuk memberikan kesempatan hidup yang sedikit lebih lama. Aku ingin mewujudkan semua impian kita.”
Rayu tergugu mendengar ucapan Bintang. Jemarinya terulur menangkup kedua pipi Bintang dan mengusapnya lembut.
“Kita akan punya waktu untuk bersama. Kamu harus yakin. Terima kasih telah memilihku untuk mendampingimu. Terima kasih karena kamu telah memutuskan untuk bersamaku dibandingkan dengan perempuan lainnya.”
“Aku yang seharusnya mengucapkan kata terima kasih itu. Sarayu Indurasmi, terima kasih karena kamu telah memilihku dan bersedia menemani hari-hariku. Padahal kamu punya pilihan lain yang mungkin bisa membuatmu lebih bahagia ke depannya.
“Kamu tahu, sejak dulu bahagiaku hanya kamu, Bin. Bukan yang lain.”
Bintang menepis tangan Rayu dari wajahnya. Kini gantian dia yang menangkup wajah Rayu. Lalu sebelah tangan Bintang beralih memegang tengkuk Rayu. Perlahan Bintang mendekatkan wajahnya pada perempuang yang telah menguasai seluruh hatinya itu.
Rayu memejamkan mata. Hal ini membuat Bintang semakin tak sabar. Pelan, diraihnya bibir Rayu dengan bibirnya. Awalnya ciuman itu terasa sangat lembut. Bintang mencecap rasa manis di bibir Rayu.
Setelah dirasa Rayu menerimanya, Bintang semakin panas melumat bibir Rayu. Apalagi saat Rayu membalas ciuman itu. Kini tangan Rayu sudah melingkar di leher Bintang. Membuat ciuman mereka semakin dalam. Seluruh kerinduan melebur jadi satu tanpa ada batas atau jeda.
Ciuman mereka berakhir tepat ketika keduanya kehabisan oksigen. Bintang masih menatap manik mata Rayu dengan penuh cinta. Sementara Rayu balas menatap Bintang penuh damba.
“Menihkahlah denganku.” Bisik Bintang parau.
“Ya, aku mau menikah denganmu.” Jawab Ragu tanpa ada keraguan sedikitpun.
“Sekali lagi terima kasih telah memilihku.” Bintang menarik tubuh Rayu lalu mendekapnya erat.
“Terima kasih telah menjadikanku yang terakhir.” Rayu membisikkan kalimat itu tepat di telinga Bintang.
Tentu saja tindakan Rayu itu seakan membangunkan macan tidur. Bintang melepaskan pelukannya pada Rayu. Lalu disambarnya kembali bibir manis Rayu. Kali ini, ciuman mereka terasa kasar dan menuntut. Seolah ingin menuntaskan semua hasrat yang telah terpendam selama puluhan tahu.
Bahkan mereka lupa kalau saat ini mereka sedang di rumah sakit. Bisa saja dokter atau perawat masuk dengan tiba-tiba dan mengganggu keasyikan mereka.
***