Seni Seviyorum Aisyah

Gantungan Kunci Persahabatan

Fatimah menghapus air mata Raya dengan lembut, "Sudah tidak perlu menangis, aku datang bukan untuk membuatku bersedih," ujar Fatimah. 

Raya pun tersenyum dengan mata yang masih berlinang, "Makasih sudah datang menjengukku."

"Iya Ray, kau tidak perlu terus-menerus berterima kasih nih kita bawa sesuatu buat kamu," ujar Aisyah dan memberikan bingkisan yang sudah dia beli barusan.

Kemudian Mamahnya Raya datang dengan membawa nampan berisi minuman untuk teman-temannya Raya dan bubur ayam, lalu Mamahnya Raya tersenyum saat melihat ketulusan mereka.

"Mah, mereka sahabat-sahabatku kenalkan yang ini Fatimah," ujar Raya sambil menunjuk Fatimah yang berada di samping kirinya, "Yang ini Aisyah." Raya kembali menunjuk kepada Aisyah yang berada di samping Fatimah. "Dan yang ini Hawa," lanjut Raya sambil menunjuk Hawa yang berada di samping kanannya.

Mereka tersenyum yang dibalas dengan senyuman hangat dari Mamahnya Raya juga, "Makasih ya Nak sudah menjadi sahabat Raya."

Aisyah menunduk memberi salam, "Sama-sama Mah," ujarnya dengan memanggil Mamah sesuai yang Raya panggil untuk orangtuanya.

"Ini Mah kita bawakan sesuatu untuk Raya," kata Fatimah sambil kembali memberikan bingkisan kepada orangtua Raya.

Mamahnya Raya terharu melihat ketulusan sahabat-sahabat Raya, "Sekali lagi Mamah ucapkan terima makasih banyak ya kepada kalian."

"Iya Mah gak apa-apa, Mah biarkan aku yang suapin Raya ya?" ujar Aisyah meraih mangkuk bubur ayam buatan Mamahnya.

Mamahnya Raya mengangguk, "Iya silahkan sayang tidak apa-apa, Raya Mamah tinggal dulu ya mau lanjut masak untuk nanti sore."

Raya tersenyum sambil menguyah bubur yang Aisyah suapkan kepadanya, "Iya Mah gak apa-apa," katanya setelah berhasil menghabiskan bubur di mulutnya.

"Tidak apa-apa Mah biarkan kita yang mengurus Raya hari ini." Hawa menyahut dengan tersenyum sopan.

Akhirnya Mamahnya Aisyah pun pergi meninggalkan Raya bersama sahabat-sahabatnya, sepertinya memang harus seperti itu agar mereka tidak canggung karena ada dirinya.

"Ray, kamu jarang makan ya? kok sampai kurus banget sih?" celetuk Hawa saat meraih pergelangan tangan Raya yang bisa digenggam oleh tangannya.

Raya langsung menghempaskan tangan Hawa sambil tertawa, "Sudah ih tidak usah bahas itu, aku memang kurus dari dulu kok."

Fatimah terkekeh mendengar perdebatan kecil kedua sahabatnya, "Lagian kamu gak mau makan banyak sih."

"Aku mual banget kalau makan banyak-banyak apalagi lagi sakit kaya gini mulutku terasa pahit," ungkap Raya menceritakan apa yang dia rasakan.

"Ya sudah habiskan bubur ini ya agar kamu bertambah kuat dan cepat sembuh." Aisyah kembali memasukan sesendok bubur ke dalam mulut Raya.

Raya sangat merasa bersyukur bisa mempunyai sahabat yang selalu ada untuknya dan sangat peduli dengan dirinya namun hal itu membuat Raya merasa tidak enak hati kepada sahabat-sahabatnya

"Maaf ya aku merepotkan kalian," kata Raya dengan nelangsa.

Melihat raut wajah Raya membuat Aisyah langsung mengelus-elus tangannya Raya, "Ray, kita ini bukan hanya sekadar sahabat saja tapi sudah seperti keluarga tahu gak? jadi aku harap kamu gak perlu berterima kasih atau meminta maaf karena di dalam persahabatan tidak ada kata maaf atau terima kasih okey!" jelas Aisyah panjang lebar membuat semuanya ikut terharu mendengar perkataannya.

"Aku sayang banget sama kalian semua," ujar Raya dengan saling berpelukan ya memang ikatan persahabatan ini tidak akan ada yang bisa memisahkannya kecuali takdir sang pencipta.

Seseorang mempunyai kekurangan dan kelebihan yang kita tidak tahu jadi menurut mereka apa yang salah untuk saling menerima satu sama lain, persahabatan mereka terikat oleh kepercayaan dan kejujuran satu sama lainnya.

"Fat, mana yang tadi kita beli di jalan?" tanya Aisyah sembari melepas pelukannya.

Hawa pun ikut mencari karena sekarang mereka telah meletakan tasnya di bangku, "Sepertinya sama kamu deh Fat," kata Hawa.

"Tara!" teriak Fatimah sambil memegang gantungan bergambar teddy bear yang samaan yang lainnya.

"Waahh?" Raya terkejut bukan main melihat barang yang dipegang Fatimah. "Lucu sekali," katanya.

Fatimah pun langsung memberikannya kepada Raya, "Nih untuk kamu," ujarnya.

"Seriously? untukku?" Raya nampak terkejut dengan apa yang Fatimah berikan.

Aisyah, Fatimah dan Hawa pun akhirnya menunjukan punya mereka secara bersamaan, "Tara, kita beli samaan!" teriak mereka kompak.

Ke dua kalinya Raya kembali terharu atas apa yang sahabatnya berikan, apalagi ini adalah barang pertama yang dimiliki persahabatan mereka betapa berharganya barang ini bagi dirinya kini.

"Ya Allah, aku senang banget gantungan ini lucu sekali makasih ya," ungkap Raya dengan mata yang kembali berlinang.

"Ray, ini tuh barusan kita beli di jalan saat menuju rumah kamu," tukas Hawa sembari terkekeh.

Aisyah tersenyum hangat, kini hatinya merasa damai dan senang sekali melihat Raya yang terlihat senang dengan apa yang telah dia lakukan, "Nih, habiskan dulu buburnya biar kamu bisa masuk sekolah lagi," ujarnya sambil kembali menyuapi Raya.

Fatimah pun terkekeh, "Kamu tahu aku yang buat ide ini semua," katanya dengan bangga.

"Yee, kan aku juga yang bantu kamu untuk membelinya," seru Hawa dengan menepuk lengan Fatimah dengan pelan.

"Tapi kan, ini aku yang beli semuanya," ujar Fatimah merasa tidak terima.

Pada akhirnya perdebatan pun terjadi membuat Raya dan Aisyah pusing mendengar adu mulut di antara Fatimah dan Hawa, entah mengapa hanya karena itu saja menjadi bertengkar.

"Hey, sudah dong!" Aisyah menghentikan ke duanya.

"Tuh dia, duluan yang mulai," ujar Hawa dengan berdecak pinggang.

Fatimah melotot mendengarnya disalahkan, "Apa? kok gue sih?" tanyanya dengan menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.

Kali ini Fatimah terlihat beneran marah sehingga perkataannya terdengar beda ya dia kembali mengubah panggilannya menjadi 'gue' membuat Aisyah dan yang lainnya kaget.

"Sudah, cukup ya! tidak penting siapa yang memilihnya atau pun siapa yang membelinya, intinya aku ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang sudah peduli dan perhatian sama aku." Raya akhirnya buka suara karena menurutnya ke dua sahabatnya berdebat karena dirinya.

Aisyah berpikir apa yang harus dia lakukan untuk membuat ke duanya berbaikan, "Sudah ya kita kan ke sini untuk menjenguk Raya, masa kalian bertengkar hanya karena ini," katanya sambil merayu Fatimah dan Hawa agar bisa tersenyum lagi.

Fatimah yang memang tidak ingin berdebat dan selalu mengalah kemudian dia mengulurkan tangannya, "Ya sudah aku minta maaf," katanya.

Aisyah dan Raya tersenyum mendengarnya dan dia tahu benar bahwa Fatimah bukan sosok orang yang suka berdebat, Hawa kemudian mengulurkan tangan juga menyambut tangan Fatimah hingga akhirnya tangan mereka bertautan.

"Aku juga minta maaf ya!" balas Hawa sambil tersenyum simpul lalu memeluk Fatimah.

Aisyah dan Raya pun ikut memeluk ke dua sahabatnya, untuk ke berapa kalinya mereka berpelukan rasanya selalu sama bahwa mereka saling berkaitan satu sama lainnya jadi tidak bisa dipisahkan begitu saja tanpa kecuali. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!