Seni Seviyorum Aisyah
Aku Mengaguminya
Langit pun terlihat indah menampakan senja yang sudah ditunggu-tunggu semua orang karena keindahan alam yang bisa dinikmati secara gratis senja berawal dari matahari yang tenggelam di ufuk barat, Aisyah menyukai senja sore ini dia pun mengabadikan moment tersebut dengan berfoto lalu memberikan caption atas inspirasi yang telah didapatnya saat melihat senja.
'Penantian di ujung senja' tertulis judul puisi dalam caption Aisyah di Instagramnya, banyak ungkapan kata yang Aisyah dapatkan saat melihat senja judul puisi itu pastinya tertuju untuk seseorang yang sudah lama dia kagumi diam-diam itulah indahnya cinta dalam diam bagi Aisyah.
"Sayang kamu sudah sholat?" tanya Bunda saat melihat Aisyah masuk ke dalam rumahnya.
Aisyah mencium tangan Bundanya lalu tersenyum manis, "Sudah Bun, kalau tidak percaya tanya saja Pak Ujang."
Bunda Aisyah pun terkekeh melihat sikap anaknya yang suka ngambek, "Iya sayang Bunda percaya kok."
"Ya sudah aku ke kamar dulu ya Bun, capek mau bersihin badan juga sudah lengket banget nih," ujar Aisyah dan berlalu pergi ke kamarnya yang terletak di tengah ruangan.
Adiba Bundanya Aisyah hanya tersenyum menatap kepergian anak bungsunya itu, ada harapan yang dalam dirinya untuk anaknya kelak kini selama ini dia sudah menjaga anaknya itu dengan baik.
"Assalamualaikum," ujar seseorang membuat Adiba menoleh lantaran kaget dibuatnya.
"Waalaikumsalam, eh sudah pulang juga?" Ternyata Haris yang telah membuat Adiba kaget.
Haris pun duduk melepas lelahnya karena seharian bekerja, "Iya karena besok akan ada meeting jadi aku harus pulang cepat sekarang, Aisyah ke mana? apakah dia juga sudah pulang?"
Haris adalah sosok Ayah yang tegas dan sangat khawatir kepada anak perempuannya itu, setiap peraturan yang sudah dia tetapkan kepada anaknya itu tidak boleh dilanggar karena pasti akan mendapatkan hukuman karena telah berani membantah perintah Ayahnya.
Adiba menarik napas dengan lega mengingat bahwa Aisyah juga baru saja pulang, "Sudah, dia sedang berada di kamarnya."
Adiba pun mengambilkan teh hangat untuk suaminya karena dia tidak menyukai kopi, Haris pun sangat membenci rokok tidak masalah jika tidak dibilang keren atau apalah tetapi bagi Haris kesetahan dirinya itu nomor satu.
Sedangkan Aisyah masih sibuk dengan aktifitas mandinya hawa dingin menusuk kulit tubuhnya yang sedikit gemuk, Aisyah menyadari bahwa kini berat badanya pasti naik terkadang dirinya sudah merasa tidak enak hati saat teman-temannya mengajaknya untuk makan apalagi si Feby yang gemuk itu sangat suka sekali mengajak teman-temannya termasuk dirinya untuk ikut makan, lebih tepatnya sih memaksanya.
Aisyah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di kepalanya itu setelah keramasan, tidak pernah lupa Aisyah selalu berwudhu setelah mandi karena sebentar lagi akan adzan magrib.
"Aisyah! kamu sudah mandi Nak?" teriak Adiba dari luar sambil mengetuk pintu kamar Aisyah.
Aisyah baru saja memakai pakaiannya sudah diteriakin oleh Bundanya, "Sebentar Bun."
Pintu pun dibuka oleh Aisyah, "Ada apa Bun?"
"Nanti setelah salat ke ruang makan ya, tadi Ayah kamu nyariin untung saja kamu sudah pulang," jelas Adiba sambil tersenyum hangat.
Aisyah membulatkan matanya merasa kaget, "Seriusan Bun, Ayah sudah pulang? kok tumben cepet pulangnya."
"Besok akan ada meeting katanya, ya sudah sana siap-siap salat magrib!"
Aisyah pun kembali menutup pintu saat Adiba sudah pergi, dia menarik napasnya dengan lega karena sudah sampai rumah sebelum Ayahnya pulang jika tidak ah sudah pasti dia tidak akan diizinkan untuk pergi-pergi lagi.
Ponsel Aisyah pun berdering dengan sangat nyaring membuatnya menghentikan aktifitas mengeringkan rambutnya dan meraih ponselnya di atas kasur lalu menekan tombol hijau untuk menghubungkan telepon.
"Aisyahh!" Terdengar teriakan saudarinya itu disertai tawanya.
Aisyah loudspeaker ponselnya, "Iya kenapa Aqila?"
"Aisyah apakah tadi kamu bertemu dengan Ilham?" tanya Aqila dengan antusias terdengar deru tawanya dari via telepon.
Aisyah sudah menduganya bahwa Aqila akan menanyakan itu kepadanya tapi yang anehnya dari mana dia tahu itu
"Tahu dari mana?" tanya Aisyah dengan penasaran.
Aqila tertawa dengan senangnya, "Aku tahu dari Raka, kan tadi Ilham jalan bersama Raka."
Woww Aisyah sangat terkejut mendengarnya, "Raka bilang bagaimana Aqila?"
"Dia bilang bahwa tadi dia bertemu dengan Aisyah di masjid, benar bukan?"
Aisyah tersenyum mendengarnya, "Iya benar, tapi Ilham tidak berkata apa-apa."
"Owh ya sudah deh, tapi dia hanya berdua dengan Raka kan tidak ada cewek lainnya?" tanya Aqila memastikan jika Ilham berkata jujur.
"Iya, ya sudah aku mau salat dulu, kamu jangan pacaran dulu Aqila aku laporin ke Om nih biar tahu rasa!"
Aisyah menutup teleponnya setelah mengancam saudarinya itu, yang sebenarnya Aisyah tidak akan mengatakan hal itu suara adzan pun sudah terdengar sengan segera Aisyah bersiap-siap untuk salat magrib.
Suasana malam ini sungguh terasa damai, Aisyah selalu merasa bersyukur atas apa yang telah dia lalui hari ini sampai Adiba menegur Aisyah yang tidak berhenti tersenyum.
"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Adiba dengan kerutan di alisnya menatap putri bungsunya itu.
Aisyah merasa malu saat Ayahnya juga menatapnya, "Hemm ... tidak apa-apa Bun."
Haris pun menggelengkan kepalanya mendengar jawaban anaknya begitu pun Adiba yang justru ikut tersenyum melihat sikap putrinya yang nampak senang.
"Besok Ayah akan ada meeting ke luar kota jadi Ayah minta kepada Bunda untuk awasi kamu jangan sampai melanggar aturan," terang Haris dengan tidak menatap putrinya.
Aisyah diam terpaku mendengarnya, "Siap Ayah, Ayah juga semangat ya kerjanya jangan lupa stay health okey!" Aisyah mengerlikan sebelah matanya.
Hal itu membuat Adiba hanya menggelengkan kepalanya Haris memang percaya bahwa anaknya sangat patuh kepada dirinya dan tidak akan melanggar perintah Ayahnya namun hal ini akan terus dilakukan apalagi Aisyah sudah mulai dewasa.
"Jangan lupa untuk menghapal al-qurannya dan belajar yang benar di sekolah!"
"Titah Ayah akan aku laksanakan dengan baik," sahut Aisyah dengan tersenyum manis.
Haris pun tersenyum kepada putrinya, hari ini hati Aisyah sedang merasa senang sehingga dia terlihat ceria namun hal itu telah dicurigai oleh Adiba yang sangat tahu dengan putrinya itu, pasti telah terjadi sesuatu saat putrinya berada di luar sehingga membuatnya seperti ini.
"Ya sudah aku ke kamar dulu ya!" kata Aisyah saat sudah menyelesaikan makanannya.
Adiba tersenyum, "Jangan lupa wudhu sebelum tidur ya sayang."
"Siap Bunda," sahut Aisyah dengan melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya sebelum berlalu pergi menuju kamarnya.
Sesampai di kamar Aisyah menyalahkan musik sesuai hatinya kini, entah sejak kapan dia sangat menyukai musik dia tidak tahu namun yang pasti musik dapat membuat pikirannya rileks dan damai, Aisyah tidak akan lupa untuk melaksanakan salat dan murojaah sebelum tidur sesuai ajaran Ayahnya yang selalu dia terapkan.
"Ya Tuhan, maafkan aku yang mengagumi salah satu hambamu itu," gumam Aisyah sebelum terlelap dari tidurnya.