Seni Seviyorum Aisyah

Lelah Tenaga, Lelah Hati

Aisyah yang pandai menyembunyikan perasaanya akhirnya memecahkan kecanggungan yang terjadi diantara dirinya dan Raka dia menyuruh cowok itu untuk terus melanjutkan pekerjaannya dan tidak mendengarkan apa yang teman-temannya katakan.

 

"Owh ya aku kan menyuruh Ilham untuk datang sekarang untuk bantu-bantu lagi pula dia kan petugas bazar seharusnya datang lebih awal bukan?" Aisyah memang sudah menghubungi Ilham saat sedang di mobil.

 

"Iya gak apa-apa bagus kalau gitu biar dia bisa langsung stay by di tempat."

 

Mereka masih disibukan dengan persiapan acara ulang tahun yang akan dimulai jam 08:15 WIB, Amel dan Shela pun sudah datang dari pasar mereka berpakaian santai yang sengaja akan menggantinya saat acara sebentar lagi dimulai, musik tedengar untuk menambah semangat para panitia mempersiapkan acara ulang tahun sekolah tahun ini yang sepertinya lebih meriah dari sebelumnya, para Guru pun sudah datang dan duduk di tempat yang sudah disediakan para panitia acara Pak Bambang yang memang ditugaskan oleh kepala sekolah untuk membimbing anak-anak OSIS dalam acara ini berhasil, karena adanya rasa peduli serta kepekaan yang baik sehingga Pak Bambang tidak perlu susah-susah untuk membimbing anak-anak itu.

 

"Semangat anak-anak!" ujar Bu Ririn memberikan dukungan kepada para anggota osis yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.

 

"Raka, anak-anak sudah pada datang yang jaga tiket masuk siapa ya?" seru Fasya dengan napas yang terengah-engah, para tamu undangan sudah datang yang berasal dari sekolah lain juga.

 

Raka ingat bahwa Aisyah bagian dari penjaga tiket masuk, "Aisyah dan Amel mereka berdua yang jaga tiket masuknya!" sahut Raka yang menoleh sebentar lalu kembali disibukan dengan hal lain.

 

Fasya buru-buru menghubungi Aisyah dan Amel untung saja mereka langsung aktif sehingga mereka langsung berjalan menuju gerbang sekolah yang kini terbuka lebar-lebar.

 

"Duh Syah, aku capek banget masa habis dari pasar gerah sekali kaya belum mandi tahu gak? eh minta tolong dong ambilin minum aku haus sekali nih kalian tidak kasihan melihat peluh yang mengalir di wajahku ini?" Amel menunjukan wajahnya yang berkeringat. "Nih silahkan masuk!"

 

Terlihat sangat ramai anak-anak datang dengan baju seragam yang sesuai dengan kelas mereka masing-masing dan peralatan untuk lomba, Aisyah akui anak kelas 10 cukup kompak baik cewek maupun cowoknya. Amel pun duduk ketika Rangga rekan OSISnya memberikan air minum kepadanya.

 

"Ka Aisyah, nih ambil!" ujar seorang anak laki-laki yang memakai hoodie dan manset hiking yang melekat di tangannya, salah satu tanda bahwa dia salah satu anak basket.

 

Aisyah tersenyum, "Buat saya?" tanyanya meyakinkan sebelah alisnya terangkat.

 

Cowok itu mengangguk. "Iya ka buat kakak," sahutnya dengan tersenyum hingga terlihat lesung pipitnya di pipi sebelah kanan cowok itu. "Aku duluan ya ka."

 

"Terima kasih ya dek," kata Aisyah yang jujur saja dia tidak mengenal nama cowok itu.

 

Amel yang berada di sebelah Aisyah merasa iri mendapatkan perhatian dari juniornya. "Enak sekali kau Syah punya fans aku jadi cemburu loh lihatnya, anak kelas berapa dia?"

 

Aisyah menggeleng sembari meneguk air minum yang diberikan cowok itu, "Tidak tahu bahkan namanya pun aku tidak tahu Mel kau mengenalnya?" ujarnya setelah menghabiskan setengah air dalam botol minumannya.

 

"Lah kenapa kau bertanya balik kepadaku?" Amel mengernyit bingung lalu ikut terduduk di samping Aisyah, "Tapi sepertinya dia anak futsal deh Syah." Ya Amel pernah melihat cowok itu menjadi kipper di pertandingan futsal antar sekolah pekan lalu.

 

"Woy bagi tiketnya!" seru Jaka mengagetkan ke dua cewek yang sedang beristirahat itu. Jaka datang bersama anak kelas 11 yang mengantri di belakangnya.

 

Mereka berdua pun bangkit dan kembali bekerja dengan semangat, Raka yang telah selesai urusannya memilih untuk memantau pekerjaan anak-anak yang lain mulai dari bazar, panggung utama, tempat perlombaan, hidangan tamu, balon yang akan diterbangkan hingga langkah kakinya membawa dirinya ke tempat di mana Aisyah bekerja.

 

Dipandangilah cewek itu yang sepertinya kelelahan karena antrian sangat banyak di sana, begitu pun dengan Amel tetapi ke duanya melemparkan senyuman kepada para tamu bahkan mereka bercanda dengan anak kelas 12 B untuk menghilangkan rasa lelah yang mereka rasakan.

 

Ilham menghampiri Raka yang sedang pokus melihat sahabat cewek itu, "Woy ngelihatin aja, jangan-jangan lo suka ya sama Aisyah?" goda Ilham memancing Raka untuk mengakui perasaannya yang sebenarnya.

 

Satu minggu yang lalu Aisyah ketahuan menangis oleh Ilham yang akhirnya dia harus menceritakan apa sebabnya dari sanalah Ilham mengetahui perasaan Aisyah yang berani jujur kepadanya selama ini Ilham mengira bahwa Aisyah menyukai Fahri bukan Raka tapi nyatanya sahabatnya itu telah memendam rasa pada lelaki yang sangat dekat dengannya yang membuat Ilham merasa khawatir jika suatu saat Aisyah akan disakiti oleh Raka.

 

"Apaan sih lo main tuduh orang sembarangan, lihat tuh sahabat cewek lo kecapean gue kasihan melihatnya apalagi dia sekretaris gue," sahut Raka yang tidak mengalihkan pandangannya dari Aisyah.

 

Ilham mendengus, "Huhf bisa sekali kau mencari alasan."

 

"Ngapain sih lagian lo di sini bukannya jaga bazar sana nanti Aqila nyariin aja." Kini Raka yang menggoda Ilham, dia memang sengaja memasangkan Ilham dengan Aqila untuk menjaga bazar agar mereka bisa bertambah dekat.

 

Mendengar itu justru membuat Ilham kaget, 'tahu dari mana nih cowok kalau gue suka sama Aqila?' batinnya bertanya-tanya. "Ya sudahlah gue duluan ya. Rak, jangan terlalu lama memendam rasa nanti ke buru pergi duluan!"

 

'Sial' perkataan Ilham membuat Raka tertampar oleh kenyataan bahwa waktu untuk bertemu dengan Aisyah semakin menipis apalagi dia gak bisa dekat sulit untuk bertemu dangan cewek itu selain di sekolah atau saat berkumpul OSIS.

 

Aisyah melihat para sahabatnya datang dengan memakai baju kaos dengan kompak, Raya berlari memeluk Aisyah yang langsung disambut oleh sahabatnya itu.

 

"Kamu sudah makan Syah?" tanya Fatimah berbarengan dengan Raya yang kembali melepaskan pelukannya.

 

"Belum nih," jawabnya dengan nelangsa.

 

Raya mengusap kepala Aisyah dengan lembut, "Kasihan sekali kau nanti jika pekerjaanmu sudah selesai kita makan bersama ya!" ujarnya.

 

"Nih buat kalian semua." Amel mengulurkan tiket masuk kepada para sahabat Aisyah sembari tersenyum.

 

Diambilnya tiket itu oleh Hawa, "Thanks ya Mel, oh ya yuk masuk aku sudah tidak sabar melihat Raka sambutan," seru Hawa dengan sumringan dan berlalu pergi masuk ke dalam.

 

Seperti belanu saja, ternyata jauh dari pemikiran Aisyah dan sahabat-sahabatnya Hawa bersikap seolah-olah tidak ada yang harus di jaga hatinya disana meski pun dia sudah tahu kebenarannya. Ya itu memang disengaja.

 

Fatimah menepuk bahu Aisyah pelan, "Ya sudah kita duluan ya Syah!" katanya sembari tersenyum.

 

"Sabar ya Syah! dah aku duluan." Raya berbisik di telinga Aisyah sembari tersenyum.

 

Aisyah kaget mendengar ucapan Raya, ada yang aneh yang dia rasakan pada kalimat Raya saat Aisyah menoleh ke arah Raya cewek itu tersenyum.

 

"Hey!" seru Aisyah yang mencoba menghentikan langkah kaki Raya tapi nihil sahabatnya itu berlalu begitu saja menyusul Fatimah.

 

'Astagfirullah, sejak kapan Raya mengetahuinya?' pekik Aisyah dalam hatinya, dia ingin menyusul Raya untuk sekadar menanyakan dari siapa dan kapan dia mengetahui rahasianya, tapi tugasnya belum selesai hingga acara hendak pembukaan hendak dimulai.

 

"Ada apa Syah?" tanya Amel melihat Aisyah yang terdiam sehingga dia harus memberikan tiket pada para tamu undangan.

 

Aisyah menoleh dan menggeleng kepalanya, "Ah tidak ada apa-apa Mel, oh ya tiketnya di aku sudah habis nih kira-kira anak-anak sudah pada datang apa belum ya?" Bingung tentu saja apalagi ini adalah hari H nya jangan sampai ada yang tidak kebagian tiketnya.

 

"Masih ada nih," sahut Amel sembari melihat ke arah kotak yang terletak sampingnya.

 

"Hay Rak kau sendirian saja," ujar Hawa yang melihat Raka hanya berdiri saja di samping pohon beringin.

 

Cowok itu menoleh memandang Hawa yang ada di belakangnya, "Ada apa hah?" tanyanya.

 

"Apakah kamu sudah siap-siap untuk memberi sambutan?"

 

Tidak sengaja Aisyah menoleh ke arah mereka berdua, hatinya langsung terasa begitu menyakitkan, sampai kapan akan terus merahasiakan ini semua dari Hawa? sampai mereka jadiankah? Aisyah Aisyah mengapa hatimu begitu lembut sekali padahal sahabat yang begitu kau percaya saja telah menusukmu dari belakang, pikirannya terus berperang dengan hati nuraninya. Menyadari akan hal itu emosinya mulai habis kesabarannya pun sudah semakin menipis sesakit itukah dihianati sahabat sendiri?

 

"Mel aku ke sana duluan ya," ujar Aisyah berpamitan ingin pergi ke arah bazaran yang mana penjaganya adalah Feby.

 

"Iya gak apa-apa lagi pula sebentar lagi akan selesai," sahut Amel sembari tersenyum kepada Aisyah dia akui temannya itu mempunyai banyak tugas dalam acara ini.

 

Terdengar suara speaker bluetooth yang menggema di seluruh ruangan diiringi suara riuh para tamu undangan, Raka berpidato di atas panggung untuk mewakili para rekan kerjanya diam-diam Aisyah mengintai cowok yang dengan tegas berbicara dengan di depan banyak orang, suaranya masih terdengar merdu tidak ada perubahan seiring Raka tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa malah lebih terdengar lembut di telinga Aisyah suara yang sangat familiar itu sudah sejak dulu disukai oleh Aisyah apalagi waktu membawakan lagu bersama tim hadrohnya.

 

Setelah sambutan selesai bayangan kedekatan Raka dan Hawa terlintas dipikirannya membuat dirinya kembali termenung dan meredahkan emosi dalam hatinya Aisyah memilih pergi menghampiri sahabat-sahabatnya yang sudah menunggu dirinya sejak tadi namun tiba-tiba Ilham memanggil dirinya untuk berbicara sebentar saja.

 

"Aku mau berbicara sebentar boleh?" katanya sembari tersenyum dan menganggukan kepalanya agar Aisyah mau memberikan waktunya sebentar.

 

Akhirnya Aisyah pun mau berbicara dengan Ilham, "Apa yang ingin kau bicarakan aku sedang sibuk hari ini," kata Aisyah ketus, jujur saja moodnya kini sedang buruk setelah melihat kejadian tadi.

 

"Sepertinya kau sedang sangat sibuk ya sudah kita bicara nanti saja setelah acara selesai," ujar Ilham yang tidak mau ambil pusing dia melihat wajah Aisyah yang begitu dia berpikir Aisyah tidak akan dapat mendengarkan pembicaraannya dengan baik sehingga dia memutuskan untuk kembali bicara di lain waktu.

 

Aisyah mengangguk dia sendiri tidak ingin melampiaskan amarahnya kepada Ilham, "Baiklah aku pergi dulu!" katanya dan berlalu begitu saja.

 

Hatinya masih bergelut dengan egonya, Aisyah marah, dia kecewa kepada Hawa dia juga kesal kepada dirinya sendiri yang terus diam meski diperlakukan seperti ini oleh sahabat yang sudah dia percayai.

 

Di kantin hanya ada Fatimah dan Raya di sana, di mana Hawa? Aisyah tidak peduli lagi dengan satu sahabatnya itu, begitu sakit hatinya saat ini Aisyah duduk dan menyandarkan kepalanya pada punggung bangku.

 

"Kau terlihat begitu lelah sekali Syah?" ujar Raya memperhatikan sahabatnya itu dengan saksama.

 

"Nih minum!" Fatimah menyodorkan botol teh pucuk kepada Aisyah.

 

Aisyah menguap lalu langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya air matanya berbinar dia memang merasa lelah sekaligus sedang merasakan sakit hati atas pengianatan yang dilakukan Hawa air matanya yang tadi disebabkan oleh rasa kantuk dan emosi dalam jiwanya menetes mengalir di pipinya.

 

Ke dua sahabatnya itu saling bertatapan satu sama lain, mereka merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Aisyah Fatimah dan Raya mendekatkan bangku mereka.

 

"Are you okey Syah?" ujar Fatimah dengan prihatin. "Kalau ada masalah cerita sama kita siapa tahu kita bisa bantu."

 

Raya memeluk Aisyah dengan sayang menidurkan kepalanya di bahu Aisyah lalu mendongakan kepalanya memandang Aisyah, "Syah jika ada masalah ceritakan! gak baik loh kalau di pendam sendiri."

 

Meski tidak mau Aisyah tetap menatap ke dua sahabatnya itu, "Aku bingung dengan perasaanku sendiri, aku lelah aku ingin melupakannya namun tidak bisa aku ingin menghindar darinya namun tetap gagal, kini aku malah terjebak cinta segi tiga dan kenapa harus sahabatku sendiri yang juga sangat menyukainya, aku bingun dan tak tahu apa yang harus lakukan?" Air matanya menetes dengan sangat deras, "Ray, maafkan aku yang sudah menyembunyikan semuanya darimu bukan maksud aku ingin merahasiakannya tapi aku belum siap untuk bercerita dengan siapapun saat itu."

 

Kaget! ya Fatimah sangat kaget mendengar ucapan Aisyah yang begitu tak berdaya dan lemah bukan seperti sahabat yang dikenal sebelumnya yang selalu ceria dan tersenyum sepanjang hari, dia jadi turut bersedih merasakan apa yang kini Aisyah rasakan.

 

"Aku tahu Syah, aku minta maaf karena kurang mengerti perasaanmu, aku malah mengira bahwa bahwa kau menyukai Fahri bukan Raka aku baru mengetahui semalam dengan Fatimah itu pun karena dia keceplosan jika tidak begitu sampai kapan pun aku tidak akan mengetahuinya," ungkap Raya sembari mengelus-elus bahu Aisyah yang masih menangis.

 

"Sabar ya Syah, aku yakin kok jika Raka juga menyukaimu dan masalah Hawa akan bantu berbicara dengannya jadi kau tak perlu khawatir dengannya lagi, sudahlah jangan menangis nanti cantinya hilang loh!" ujar Fatimah yang mengusap air mata Aisyah dengan tisu.

 

Di saat itulah, seseorang memanggil Aisyah, "Aisyah kau dipanggil oleh ketua," katanya dengan tergesa-gesa.

 

Sengaja Aisyah pergi dari kerumunan anak-anak yang masih merayakan perlombaan, meninggalkan tugasnya dan malah menangis seperti anak kelas yang sedang patah hati di sini, seketika Aisyah menarik napasnya pelan lalu beranjak pergi menerima panggilan Raka.

 

"Semangat Syah, kau adalah wanita yang kuat!" celetuk Raya melihat kepergian Aisyah yang seharusnya sahabatnya itu akan tetap diam menenangkan dirinya.

 

Aisyah menoleh kepada sahabat-sahabatnya lalu memberikan senyuman terbaiknya meski mereka paham bahwa itu adalah senyuman Aisyah yang terkesan dipaksakan.

 

Terlihat Raka yang sedang bersama juri dari perlombaan menari di sana, ada rasa ragu untuk menghampiri cowok itu namun dia bukan orang yang tak bisa menepatkan sikapnya di tempat yang salah. Aisyah termasuk cewek yang profesional dal bekerja.

 

"Ada yang bisa saya bantu Rak?" tanya Aisyah

 

saat berada di samping cowok itu dia tersenyum seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.

 

Raka memberikan kertas penilaian kepada Aisyah, "Kau jadi juri ya mewakili Bu Luna yang sedang ada acara keluarga sehingga tidak bisa hadir sedangkan Guru lain sudah mempunyai tugas lain, bisa kan?" Raka mengangkat sebelah alisnya memandang Aisyah.

 

"Insya Allah bisa," jawabnya sembari menganggukan kepalanya.

 

"Bagus, setelah ini acaranya akan dimulai kamu ke aula saja!" pinta Raka memberikan aba-aba.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!