Seni Seviyorum Aisyah

Kesalahpahaman

Saat di perjalanan menuju ruang UKS Fatimah bertemu dengan Ilham yang menanyakan soal Aisyah kepada dirinya.

 

"Fatimah, maaf apakah melihat Aisyah di mana?" tanya Ilham seperti ada yang ingin cowok itu sampaikan.

 

Mengingat bahwa Ilham adalah teman dekat Aisyah membuat Fatimah percaya kepada Ilham dan mau memberitahu keadaan Aisyah, "Aisyah ada di ruang UKS tangannya merah sebab genggaman Raka waktu nahan dia yang hampir terpeleset, ini aku mau menemuinya apa ada yang perlu aku sampaikan kepada Aisyah?"

 

Ilham kaget saat mendengar hal itu pasalnya dia tidak tahu akan kejadian yang sebenarnya tapi ada rasa kesal di hatinya mengetahui bahwa Rakalah yang telah membuat Aisyah seperti itu.

 

"Owh ya sudah sampaikan saja tadi aku mencarinya gitu, ya sudah aku masuk ke kelas duluan yah!" seru Ilham dan berlalu pergi.

 

Melihat kepergian Ilham dia pun kembali berjalan menuju ruang UKS Fatimah sangat merasa bingung bagaimana caranya menceritakan kepada Aisyah soal Hawa yang cemburu melihat kejadian tadi, 'Ah sudahlah semoga mereka akan baik-baik saja' gumamnya.

 

"Assalamualaikum Syah." Fatimah telah kembali dari kantin dengan membawa es batu yang sudah dia masukan ke dalam kain.

 

Sebelumnya Fatimah sudah meminta izin kepada petugas UKS untuk masuk ke dalam dan mengobati tangan Aisyah sebentar yang akhirnya mereka mengizinkan bahkan turut mendoakan Aisyah bukan hanya Aisyah yang dikenal oleh para siswa dan siswi di sekolah ini Fatimah pun namanya telah dikenal oleh kebaikan dirinya yang selalu membantu orang-orang dan kebiasaannya yang juga sering memberikan traktiran kepada anak-anak dari adik kelasnya ditambah lagi dia salah satu sahabat dekat Aisyah.

 

"Waalaikumsalam, sebetulnya aku tidak apa-apa loh Fat kamu tidak perlu repot-repot merawatku seperti ini," ujar Aisyah yang merasa tidak enak hati kepada Fatimah.

 

Mendengar perkataan Aisyah dia hanya menghiraukannya dan langsung mengompres tangan Aisyah dengan hati-hati, "Oh ya Syah tadi aku bertemu dengan Ilham dia mencarimu sepertinya ada yang ingin dia katakan kepadamu."

 

'Ilham mencarinya ada perlu apa ya cowok itu? sepertinya dia ada masalah dengan Aqila deh' tebak Aisyah dalam hatinya lalu dia teringat akan janjinya kepada Fahri bahwa hari rabu dia akan menemui Umminya.

 

"Fat, apakah ini hari rabu?" tanya Aisyah memastikan.

 

Fatimah hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, saat bel pelajaran ke dua berbunyi membuat Aisyah langsung melepaskan kompresannya lalu menggerakan tangannya.

 

Sedangkan di kelas Ilham sedang mengintrogasi Raka karena telah berani melukai tangan Aisyah yang sudah dia anggap sahabat sekaligus adiknya sendiri karena umur mereka beda setahun meski kini mereka berada di kelas yang sama.

 

"Woy Rak, lo apakan si Aisyah tadi?" ujar Ilham yang sudah duduk di samping Raka sembari merangkul tangannya di leher cowok itu.

 

Raka yang kaget akan pertanyaan Ilham yang tiba-tiba dia hanya mengerutkan keningnya bingung, "Apa? gue tidak melakukan apa-apa kepada cewek itu," sahutnya yang memang merasa tidak bersalah.

 

"Lo tahu Rak tangan Aisyah merah sebab genggaman tangan lo itu dan gue gak nyangka lo berani megang tangan Aisyah jika sekali lagi lo berani menyentuh Aisyah lo harus berurusan dengan gue," ancam Ilham suaranya tedengar biasa meski wajahnya menampakan kekesalan di sana.

 

Fasya yang berada di depan Raka bingung dan takut kalau Ilham akan mengajak Raka bertengkar sebab masalah ini akhirnya dia pun memisahkan Ilham dan menyuruh cowok itu untuk duduk di tempatnya yang tadi.

 

"Ada apa sih hah kok sikap lo kaya gitu sama Raka?" ujar Fasya kepada Ilham.

 

Raka yang menerka-nerka maksud perkataan Ilham tadi akhirnya dia yang berbicara dan mencoba menjelaskannya, "Oh gue tahu masalahnya dengarkan dulu gue akan ceritakan dari awal agar tidak ada yang salah paham."

 

Raka pun menceritakan kronologi kejadiannya secara detail dia tidak ingin Ilham menghakimi dirinya yang tidak masalah hanya saja dia mengakui akan kesalahannya yang mungkin genggamannya telah membuat tangan Aisyah menjadi memar.

 

"Tuh kan gue gak mau tahu lo harus minta maaf setelah ini kepada Aisyah!" ujar Ilham yang telah mengetahui ceritanya langsung dari Raka sendiri sahabat yang dia percayai.

 

"Iya nanti gue minta maaf sama dia santai aja bro!" Raka menepuk bahu Ilham dengan pelan lalu kembali membaca laporannya yang akan diberikan kepada Pak Bambang di kantornya.

 

Fasya senang melihat mereka yang sudah akur lagi, "Kan kalau gitu enak gue lihatnya eh gays nanti malam kalian bisa gak kumpul bareng lagi?"

 

"Gue sih bisa aja tapi gak tahu tuh gimana si Raka dia kan bakal sibuk sama acaranya," sahut Ilham dengan menunjukan dahunya ke arah Raka.

 

Raka menoleh merasa namanya telah dipanggil, "Gue? gak bisa janji takut gak bisa."

 

Tidak lama kemudian Guru pun masuk ke dalam kelas untuk memulai belajarnya Bu Maya Guru yang terkenal galak namun mampu memberikan penjelasan yang mudah untuk dimengerti oleh semua anak muridnya, hal itu jarang dijumpai di jaman sekarang apalagi mau memberikan pemahaman kepada anak muridnya yang terkenal nakal seperti Adit dan Jaka dengan sabar Guru itu mencoba memerikan yang terbaik untuk semua anak murid tanpa harus membeda-bedakannya.

 

Hari ini adalah pelajaran fisika yang mana Bu Maya akan menepatkan janji minggu kemarin yaitu akan ada ulangan harian dipertemuan berikutnya dan Bu Maya pun langsung menyuruh anak-anak untuk mengumpulkan bukunya di meja depan.

 

"Bu, Raya izin tidak masuk pelajaran hari ini karena harus menemani Hawa yang mendadak sakit perut begitu pun dengan Fatimah yang sedang mengobati Aisyah di UKS." Reyhan pun menyampaikan laporan atas apa yang dikatakan oleh Fatimah dalam pesannya.

 

"Bukan sakit perut kali Bu, tapi Hawa sakit hati hahaha," seru Julia salah satu anggota cheerleaders yang memang tidak suka dengan rombongan Aisyah.

 

Siswa yang lainnya pun ikut tertawa sebab dia melihat kejadian yang membuat sebagian siswi pun patah hati melihatnya, Feby yang dekat dengan Aisyah melemparkan tatapan tajam ke arah Raka yang tidak sengaja pandangan Raka pun melihat ke arahnya.

 

"Stop! hey jamet kalau punya mulut tuh dijaga jangan asal fitnah orang gue gak suka ya temen gue digituin," teriak Feby dengan sangat lantang membuat Bu Maya kaget seketika.

 

Julia berdiri dari tempatnya karena dia merasa terhina atas panggilan Feby untuk dirinya yang sebenarnya dilihat dari penampilan Julia pun semua orang sudah bisa nebak prilaku Julia bagaimana apa lagi sering ganti-ganti cowok, "Berani sekali kau mengakatan gue jamet! lo tuh yang munafik sama seperti teman-teman lo tuh si Aisyah yang sok suci tapi nyatanya berani pegangan tangan di depan umum."

 

Bu Maya yang melihat keributan di saat pelajarannya akhirnya dia pun marah dan memukul papan tulis dengan penggaris panjang sehingga anak-anak bisa kembali diam dan menunduk karena takut.

 

"Sudah diam kerjakan tugasnya! kalian nih ya Ibu gak percaya kalian berani bertengkar di depan Ibu sendiri Feby dan Julia berdiri di luar!" pinta Bu Maya dengan emosi yang mengebu-ngebu.

 

Dengan menurut Feby pun keluar dari kelas diikuti dengan Julia di belakangnya, anak-anak pun langsung mengerjakan ujian harian itu dengan hening namun pikiran Raka masih bergelud tentang sikapnya tadi pagi yang sepertinya telah membawa Aisyah dalam masalah.

 

"Tuh kan Rak, gara-gara ulah lo Aisyah jadi kena masalah," ujar Ilham yang duduk di belakangnya Raka.

 

Raka tak mengubris ucapan Ilham yang dia sendiri telah menyadari atas ulahnya namun tentu saja pikiran Raka menjadi tidak tenang sekarang sebab dia telah menyebabkan cewek itu ada dalam masalah.

 

Akhirnya mereka pun kembali mengobrol menceritakan banyak hal dan tentu saja membahas games yang sedang seru apalagi diduetkan oleh cewek-cewek cantik, Reyhan melirik ke arah Raka dengan sinis entah mengapa dirinya begitu benci kepada Raka yang selalu menjadi saingan dirinya di sekolah padahal cowok itu selalu berbuat baik kepada Reyhan.

 

"Eh gays, nanti malam kita bisa ngumpul lagi gak?" Fasya berseru dia berniat ingin mengajak teman-temannya itu nongkrong di rumahnya.

 

"Gue sih bisa aja tapi kan Raka sekarang ini sedang sibuk ngurusin acara," ujar Ilham sambil menoleh ke arah Raka yang sedang mengerjakan soal ujian harian yang Bu Maya berikan.

 

Raka menoleh saat bahunya ditepuk oleh Fasya, "Woy jangan ngelamun masih pagi."

 

"Eh iya gue gak bisa janji soal nanti malam tapi kalau tugasnya sudah selesai gue akan ke sana kok," ujarnya santai.

 

Tidak lama kemudian bel ganti pelajaran pun berbunyi, Bu Maya langsung menyuruh anak muridnya untuk mengumpulkan tugasnya Ilham dan Adit pun orang yang paling pertama maju ke depan.

 

Kini Aisyah dan Fatimah telah kembali dari ruang UKS namun mereka kaget melihat ke dua teman sedang berdiri di depan kelas, melihat kedatangan Aisyah Julia pun menatap cewek itu dengan sinis.

 

"Kalian kenapa berdiri di luar? kena hukuman?" tebak Fatimah dengan kerutan di keningnya.

 

"Ini semua tuh gara-gara lo Aisyah," sahut Julia dengan nada tinggi serta menatap Aisyah dengan tidak suka, "Awas aja ya lo!" ancamnya dan berlalu masuk ke dalam kelas.

 

"Eh diam ya lo!" sahut Fatimah yang kaget mendengar ucapan Julia ingin rasanya dia menjambak rambut ombre milik Julia tapi tangannya dihentikan oleh Aisyah.

 

Aisyah menatap Fatimah dengan sendu memberikan penenang pada hati sahabatnya yang sedang emosi, mendengar kata 'lo' keluar dari mulut Fatimah membuat Aisyah takut bahwa akan menambah keributan baru, "Sudah Fat," ucapnya lirih.

 

"Maaf ya Syah aku bertengkar dengan Julia sebab dia mengatakan kalau aku dan sahabat-sahabatmu wanita munafik lah aku gak terima aku katain balik dia eh kami terkena hukuman bu Maya," jelas Feby dengan nelangsa.

 

Mendengar hal itu Aisyah langsung membawa Feby dalam pelukannya, "Tindakan kamu tidak salah kok tapi caramu salah apalagi di dalam kelas ada bu Maya pasti beliau marah karena telah membuat keributan di mata pelajarannya."

 

"Iya Feb, aku mengerti kok maksud kamu tapi aku tidak setuju kalau kamu membalasnya apalagi di depan Guru," sahut Fatimah dengan tersenyum simpul tangannya menepuk bahu Feby.

 

"Kalian ngapain masih ada di luar?" tegur Bu Maya setelah keluar dari kelasnya dia kaget melihat anak muridnya masih berada di luar, Aisyah pun langsung melepaskan pelukannya.

 

Mereka kaget dan langsung menatap Bu Maya yang sedang membawa berkas di tangannya, Fatimah pun langsung menggeser dirinya mendengar suara bu Maya dari arah belakangnya.

 

"Ini baru mau masuk bu," sahut Fatimah dengan tersenyum manis.

 

"Aisyah kamu dan kalian berdua tidak ikut ujian harian saya nanti bel istirahat kalian berdua harus mengumpulkan tugasnya ke ruangan saya untuk soalnya tanyakan saja sama anak-anak yang lain," tutur Bu Maya dengan tegas dan berlalu meninggalkan ke tiga muridnya itu.

 

Aisyah menarik napasnya, "Huhf ya sudah yuk masuk nanti kena omel Guru yang lain," katanya.

 

Akhirnya mereka pun masuk ke dalam kelas, pandangan Raka langsung terarah ke arah Aisyah yang kini sedang berjalan di sampingnya dengan tertunduk tangan Aisyah selalu diapit oleh Fatimah sampai duduk di bangkunya masing-masing.

 

Melihat kedatangan Aisyah dan kawan-kawannya membuat Julia menatapnya dengan tidak suka, dia sudah merencanakan sesuatu untuk membuat pelajaran kepada mereka.

 

'Tunggu saja permainannya!' pekiknya dengan penuh kebencian di hatinya.

 

"Fat, Hawa dan Raya ke mana?" tanya Aisyah sadari bahwa ke dua sahabatnya itu tidak ada di dalam kelas, padahal Aisyah ingin bertanya tentang soal yang diberikan oleh bu Maya.

 

Mendengar nama Hawa menyadarkan Fatimah akan sesuatu, "Syah maaf sebelumnya tadi waktu kita ngejar kamu kita gak sengaja melihat adegan kamu dengan Raka, lalu otomatis kami berhenti dong kan saat itu Hawa pergi begitu saja aku rasa sih dia cemburu sama kamu," jelas Fatimah.

 

"Astagfirullah, Ya Allah aku harus bagaimana dong Fat? Hawa pasti cemburu banget dan marah sama aku." Aisyah panik mendengar berita itu. "Ini sebuah kesalahpahaman Fat, aku harus menemui Hawa."

 

"Tapi Syah, Hawa sudah izin tidak masuk hari ini," sahut Fatimah dengan memandang Aisyah, "Kamu tenang saja yah aku sudah suruh Raya buat nemani Hawa."

 

Aisyah tidak menyadari akan hal itu, cemburu itu hadir sebab ada rasa cinta di dalamnya itulah yang dirasakan oleh Hawa kini dia menunduk bingung harus bagaimana sedangkan dia juga harus mengerjakan tugasnya bu Maya yang akan dikumpulkan saat bel istirahat, akhirnya Reyhan pun mau membantu Fatimah dan sahabat-sahabatnya dalam mengerjakan tugas sehingga pada bel istirahat bisa langsung dikumpulkan di ruangan bu Maya.

 

Sedangkan Raya sendiri sedang mencoba menenangkan Hawa yang menangis di caffe kopi tidak jauh dari sekolah, Raya yang melihat keadaan Hawa yang sepertinya tidak memungkinkan untuk ikut belajar akhirnya memutuskan untuk izin tidak masuk kelas.

 

"Hiks, hiks, kenapa sih Raka jahat banget Ray? aku benci sama dia terus kenapa coba Aisyah tidak melepaskan tangan Raka padahalkan itu di sekolah, aku benci mereka berdua," gerutu Hawa sembari terus menangis dia bersandar pada dinding.

 

"Hawa, jangan salahpaham dulu ya! tadi tuh kan kita lihat sendiri Aisyah tergelincir karena lantai depan kelas yang basar." Raya mencoba menjelaskan agar Hawa mengerti dan paham bahwa itu adalah hal yang tidak disengaja.

 

Hawa tetap gegeh hatinya merasa sangat perih sekali melihat kejadian tadi di depan matanya pula ada rasa kecewa, rasa tidak percaya dan ada rasa benci mengetahui bahwa wanita itu adalah Aisyah sahabatnya sendiri yang sudah dia percaya dan temannya bercerita.

 

"Sudahlah Ray kamu gak usah belain mereka!" bentak Hawa masih dengan air mata yang mengalir di pipinya.

 

Ya Hawa memang sudah dibutakan dengan rasa cinta, sikap dan perhatian yang Raka berikan untuknya menambah Hawa percaya jika itu karena cinta ya Hawa merasa bahwa Raka pun memiliki rasa yang sama kepadanya.

 

Raya meraih tangan Hawa dan membawanya dalam pelukan, "Aku di sini bukan untuk membela siapa pun atau menyalahkan siapa pun karena tidak ada yang harus disalahkan kejadian itu memang tidak disengaja jadi aku harap kamu dapat mengerti dan tidak salah paham sama Aisyah kamu sendiri kan kenal bagaimana Aisyah tidak mungkin dong dia ngambil kesempatan atau pengen dipegang Raka."

 

Hawa masih diam pikirannya semakin terasa pening karena menahan gejolak cemburu yang baru kali dia rasakan dan sesakit ini rasanya, dia sendiri pun bingung harus menyalahkan siapa dalam hal ini tapi hatinya masih menyimpan rasa benci dan kekecewaan, apalagi melihat tangan Raka yang memegang tangan Aisyah dengan begitu lama.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!