Seni Seviyorum Aisyah

Raka si Playboy

Tinn ....

Tinn ....

 

Fatimah dengan sengaja menyembunyikan klakson mobilnya dengan sangat keras sehingga Aisyah tergelonjak kaget dan mengucapkan istigfar.

 

"Syah ayo buruan masuk!" seru Raya yang membuka jendela mobilnya.

 

Melihat itu mobil Fatimah, Aisyah mendekati mobil itu sebelumnya dia sudah berpamitan dengan ke dua orangtuanya jadi dia tidak perlu untuk berpamitan lagi dengan Bundanya. Saat ini Pak Ujang menemani Ayah ke kantornya.

 

"Ya Allah kalian mengangetkanku," protes Aisyah saat mengetahui bahwa itu adalah mobil yang ditumpangi oleh para sahabat-sahabatnya.

 

Sedangkan Raya dan Fatimah tertawa dia berhasil berbuat usil kepada Aisyah yang kini sudah masuk di bangku belakang bersama dengan Hawa yang kini sedang bermain dengan ponselnya.

 

"Hey pokus sekali kau bermain ponsel!" tegur Aisyah sembari menepuk bahu sahabatnya itu.

 

Hawa menoleh dan tersenyum kepada Aisyah, "Iyaiya sorry gimana rapatnya kemarin Syah, ceritain dong sedikit dan ada perlombaan apa saja nanti?"

 

Seketika Raya menoleh ke arah belakang, "Hehehe iya Syah ceritain dong."

 

Akhirnya Aisyah pun mengangkat suara dan mulai menceritakan mulai dari bagian-bagiannya sampai selesai rapat Raya dan Hawa tampak menyimak sahabatnya itu lalu Aisyah pun keceplosan bercerita tentang Raka yang menemaninya sebelum pulang.

 

"Eh maaf Hawa bukan maksudku membuatmu cemburu," ujar Aisyah sambil memegangi tangan kanan Hawa dia merasa tidak enak hati kepada sahabatnya itu.

 

Melihat itu Fatimah tertawa ya tentu saja terkadang saat seseorang sedang bercerita mereka lupa akan apa yang tidak harus dia ceritakan karena dia merasa senang dengan apa yang telah dia alami saat itu, Raya pun terkekeh sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

 

Mendengar sahabatnya tertawa Aisyah melemparkan tatapan tajam ke arah Raya dan Fatimah, membuat ke duanya berhenti tertawa seketika itu juga sebab takut akan membuat Aisyah mengamuk Raya menunjukan ke dua jarinya, peace.

 

"Awas ya kalian!" ancam Aisyah lalu kembali memandang Hawa, "Hawa maafkan aku ya."

 

"Iya Syah tidak apa-apa kok aku ngerti karena aku juga pernah berada di posisi itu jadi sudahlah jangan seperti itu," sahut Hawa sembari mengulas senyum pada bibirnya.

 

Aisyah senang saat Hawa tersenyum kepadanya Aisyah sangat takut jika sahabatnya itu akan marah dan menjauh darinya karena hanya mereka yang selalu mengerti keadaannya selain keluarganya sendiri.

 

"Syah katanya mau berhenti dulu di foto copy?" tanya Fatimah yang mengingat pesan chatnya dengan Aisyah sebelum berangkat.

 

Mendengar pertanyaan itu Aisyah terlihat kaget pasalnya dia sendiri pun kini lupa akan hal itu, "Oh iya jadi kok cuma sebentar saja."

 

Fatimah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan saat matanya melihat ada tukang foto copy di depannya setelah mobil berhenti Aisyah pun bergegas turun dengan membawa ponsel miliknya.

 

"Mau apa dia memangnya?" ujar Hawa menatap kepergian Aisyah.

 

"Ada dokumen yang harus dia berikan ke Raka biasalah urusan sekretaris dan ketua." Fatimah menyahut dengan tenang.

 

Deg, kini Hawa merasakan api cemburu membakar dirinya tidak dimungkinkan bahwa Raka juga menyukai Aisyah dengan sebab mereka sering dekat dan bekerja sama menyadari akan hal itu membuat Hawa takut Raka akan berpaling dengan dirinya. Dia sendiri pun mengakui bahwa Raka sangat susah didekatinya semenjak diangkat menjadi ketua OSIS tapi untung saja ada Umminya yang membantu dirinya dari belakang.

 

"Menurut kalian lomba apa yang paling menyenangkan?" Raya memikirkan perlombaan yang akan diadakan sekolahnya itu.

 

"Kayanya aku gak ikut deh malas banget kayanya ikut-ikutan lomba gitu," sahut Fatimah mengingat bahwa tidak ada perlombaan yang dia suka.

 

"Kamu sendiri bagaimana Hawa?" Raya melirik ke arah Hawa yang sedang asik bersandar.

 

"Hah tak tahulah lihat saja nanti."

 

Tak lama kemudian Aisyah pun datang dengan membawa plastik foto copyan, lalu kembali menaruhnya di tas saat sudah berada di dalam mobil.

 

"Sudah Fat," ujarnya menyuruh agar Fatimah kembali menjalankan mobilnya. "Eh tunggu kayanya ada yang aneh deh."

 

Raya mengernyit heran dia tidak menemukan kejanggalan apapun, "Apaan sih Syah?"

 

"Iya apanya yang aneh sih, aku gak merasa ada yang aneh di sini," sahut Hawa.

 

Aisyah terkekeh ternyata ke dua sahabatnya itu menyadarinya, "Hey itu si Fatimah sejak kapan dibolehin naik mobil sendiri memangnya Pak Hendri ke mana?"

 

"Ah iya kamu sudah dibolehin naik mobil sendiri Fat?" timpal Raya yang ikutan terkejut dan ada perasaan senang di sana.

 

"Yeyeye, ada yang bakal mentraktir lagi nih bau-baunya." Hawa terkekeh sambil memegang tangan Aisyah dan tertawa bersama.

 

Sedangkan yang menjadi topik pembicaraan hanya tersenyum saja mendengar pertakataan dari para sahabat-sahabatnya, saat Papahnya langsung memberikan izin dia pun langsung menyuruh Pak Hendri supir pribadinya itu untuk menjaga rumahnya saja dan sebetulnya dia merayakan kebahagiannya itu dengan mengajak para sahabat-sahabatnya itu berangkat bareng ke sekolah.

 

"Orangtua kamu sudah pulang Fat?" Aisyah kembali bertanya.

 

"Belum, kamarin aku minta izin sama Papah untuk mengendarai mobil sendiri dengan alasan sebentar lagi aku akan lulus sekolah akhirnya Papah ngasih izin deh minggu depan aku ulang tahun ke dua orangtuaku akan pulang untuk mengadakan party," ungkap Fatimah secara detail.

 

"Owh gitu selamat deh buat kamu btw aku juga dapat kejutan dari ke dua orangtuaku sebab sebentar lagi aku kan akan berangkat ke Turky untuk melanjutkan pendidikanku di kota impianku itu jadi Ayah memutuskan untuk memberikan aku bimbingan tahfidz dan bahasa turky yang akan dimulai minggu depan juga."

 

Huh mengetahui akan hal itu membuat Raya sedih ada rasa takut kehilangan dalam dirinya mengingat bahwa Aisyah memang sangat berusaha untuk bisa berkuliyah di Turky kota impiannya itu.

 

"Ah aku pasti bakal rindu banget sama kamu Syah," ujar Raya sambil menatap Aisyah dengan sendu.

 

"Iya aku juga pasti akan merindukanmu Aisyah tapi aku senang mengingat bahwa sebentar lagi kamu bakal sampai ke kota impian kamu itu," sahut Hawa dengan mata yang berbinar-binar juga.

 

Aisyah meraih tangan Raya dan Hawa sembari tersenyum, "Sudahlah jangan buat aku susah untuk melangkan ke depan kalian pun harus semangat untuk melanjutkan apa yang kalian impikan di masa depan, aku butuh dukungan dari kalian."

 

Hawa memeluk Aisyah sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aisyah, "Ahh banyak sekali kenangan yang kita lalui bersama."

 

"Aisyah sudah dong jangan buat suasana menjadi mellow aku tidak ingin menangis hari ini," sergah Fatimah yang dikenal sahabat yang paling kuat dari yang lainnya.

 

Jauh dari dalam lubuk hati Aisyah dia senang bahwa Hawa masih menggangapnya tidak seperti dugaannya waktu itu dia berharap Hawa akan mengerti tentang perasaannya yang tidak bisa dibohongi meski kini dia masih merahasiakannya dengan baik.

 

"Okey kita ganti topik pembicaraan ya, kita omongin saja acara kita selanjutnya setelah acara ulang tahun sekolah." Raya salah satu orang yang cengeng namun ini bukanlah kesedihan tapi sebuah kebahagian untuk Aisyah jadi dia berusaha untuk tidak menangis meski tentu saja dia ingin menangis sekuat mungkin dengan memeluk Aisyah.

 

Fatimah menjentikan jari tangannya sehingga menimbulkan bunyi dari sana, "Nah, yuk kita pergi jalan-jalan bareng!" serunya

 

Hawa bangun dari sandarannya, "Bagaimana kalau kita ke pantai asik tuh pasti seru naik banana boat bareng," timpal Hawa.

 

Kini mobil sudah memasuki gerbang sekolah Fatimah seperti sudah mahir dalam mengendarai mobilnya sehingga dia melesat dengan begitu cepat dan selamat sampai tujuan hal itu perlu di tepuk tangan oleh para sahabat-sahabatnya.

 

Prok ... prok ....

 

"Keren kau Fat, aku bangga punya sahabat kaya kamu," sahut Aisyah sembari menepuk bahu Fatimah.

 

"Ya sudah yuk kita masuk ke kelas, kita bahas nanti lagi saja soal jalan-jalan liburannya." Raya pun membuka pintu mobil lalu turun dari sana diikuti oleh para sahabat-sahabatnya itu.

 

"Ya sudah nanti kita bahas di lain waktu saja deh," sahut Fatimah setelah keluar dari mobilnya. "Yuk ke kelas!"

 

Mereka pun jalan beriringan dengan gantungan teddy bear di belakang tasnya yang ikut bergoyang-goyang mengikuti langkah kaki si pemilik gantungan tersebut, di perjalanan mereka saling tertawa dan bercanda bersama membahas apa saja yang ada dipikiran mereka saat itu juga namun langkah kaki mereka terhenti saat ada siswi yang menghampiri Aisyah.

 

"Ka Aisyah aku dikasih amanah dari ka Fahri untuk mengasih surat ini untuk kakak," katanya dengan mengulurkan sebuah amplop berwarna biru dengan tulisan tangan di sana 'Untukmu Ukhty Aisyah' yang Aisyah yakini itu adalah tulisan tangan Fahri sendiri yang terlihat rapih.

 

Aisyah pun menatap sahabat-sahabatnya dengan ragu pasalnya ini di sekolah dan jika ada yang mengadu dia dapat surat dari cowok akan membawanya ke dalam masalah, Fatimah menyandarkan tangannya di bahu Aisyah sembari tersenyum mengejeknya begitu pun dengan Raya yang menyenggol-nyenggol lengannya dia penasaran akan apa isi surat tersebut, ya yang Hawa tahu Fahri menyukai Aisyah meski sahabatnya itu tidak pernah menyadari akan perasaan cowok itu.

 

"Sudah ambil saja ka mumpung kelas masih sepi nih tapi kalau sampai ketua tahu itu bukan urusanku ya ka hehehe," ujar gadis itu yang menjadi salah satu anggota OSIS dari perwakilan kelasnya.

 

Mendengar perkataan adik kelasnya itu Aisyah langsung memberikan tatapan tajam, "Hey diam kau jangan bawa-bawa namanya lagi pula kurasa ini surat dari Umminya bukan dari Fahri langsung, ya sudah syukron ya Vid." Aisyah mengambil surat tersebut dan memandanginya sebentar lalu memasukannya ke dalam tasnya.

 

Vidya tertawa dia sangat kenal betul seniornya itu yang selalu bertengkar dengan Raka entah apapun sebabnya pasti bertengkar dulu baru bisa bicara stabil tapi dia mendukung bahwa ke duanya adalah pasangan yang serasi seperti apa yang dikatakan oleh anggotanya yang lain.

 

"Iya ka sama-sama, aku duluan ya assalamualaikum!" Vidya berlalu pergi sembari tersenyum sopan kepada para seniornya itu.

 

"Waalaikumsalam, ciee ciee dapat surat cinta dari Fahri," ejek Raya sembari terus menyenggol lengan Aisyah.

 

Aisyah menghindar dia berjalan ke depan para sahabatnya itu, "Sudah ih kalian berisik sekali ini tuh bukan surat cinta tahu."

 

"Coba dong buka Fat suratnya!" pinta Fatimah yang ikut pesanaran dia tersenyum jail kepada Aisyah.

 

Mendengar ejekan demi ejekan dari sahabat-sahabatnya akhirnya Aisyah pun berlalu ke kelas dengan langkah cepat-cepat sedangkan melihat kepergian Aisyah mereka langsung ikut berlari menyusulnya hingga saat di depan pintu Aisyah hampir saja jatuh kerena terpeleset lantai yang basah namun ada tangan yang menariknya sehingga dia bisa dengan benar dan tangan kirinya bisa berpegangan pada dinding depan kelasnya itu.

 

"Raka?" ujar Aisyah saat melihat siapa yang telah menyelamatkannya.

 

Para siswa dan siswi menatap Raka dan Aisyah yang mana tangan ke duanya saling bertautan satu sama lain, sedangkan sahabat-sahabatnya Aisyah yang menyusulnya tiba-tiba berhenti melihat adegan di depan matanya itu.

 

"Eh," teriak Fatimah menghentikan langkahnya, tangan kanannya menjulur mencoba menghentikan ke dua sahabatnya itu.

 

Melihat adegan itu membuat Hawa merasakan api cemburu yang kini menguasi dirinya dan saat pandangannya tertuju pada tangan Raka dan Aisyah yang saling bertautan seperti tidak ingin segera melepaskannya membuat dirinya geram sehingga pergi dengan menghentakan kakinya meninggalkan ke dua sahabatnya begitu saja tanpa berkata apapun.

 

"Eh Hawa mau ke mana kau?" teriak Raya saat melihat kepergian Hawa yang dia duga bahwa sahabatnya itu sedang cemburu.

 

Fatimah menoleh menatap kepergian Hawa, "Ya sudah aku susul dia dulu ya," kata Raya dan berlalu mengejar Hawa yang sudah tidak terlihat lagi.

 

Kini Aisyah merasakan desiran darahnya yang mengalir dengan sangat deras merasakan sentuhan dari cowok yang selama ini disukai namun saat dirinya tersadar akan sesuatu pandangannya pun beralih menatap tangannya yang masih digenggam oleh Raka dengan cepat dia pun menarik tangannya agar Raka mau melepaskannya tapi ternyata Raka menahan tangannya dengan kuat sehingga membuat Aisyah menatap cowok itu dengan kesal lalu melemparkan tatapan tajam ke arah Raka.

 

"Hey lepaskan tanganku!" gerutunya sembari berusaha melepaskan tangannya.

 

Sedangkan Fatimah yang melihat itu ikut merasakan kesal kepada Raka sehingga dia pun menghampiri Aisyah dan mencoba melepaskan tangan Raka yang menggenggam tangan Aisyah yang begitu erat.

 

Saat melihat Fatimah Raka pun langsung melepaskan tangannya begitu saja, "Lain kali kalau jalan hati-hati dan lihat-lihat kalau sampai kau jatuh sakit nanti akan menambah masalah buatku," katanya dengan tegas.

 

"Mengapa menjadi masalah buatmu?" sergah Fatimah dengan mengerutkan keningnya dia masih tidak mengerti apa yang dikatakan Raka.

 

"Ya jika tidak aku pegangin tangannya sudah pasti dia akan jatuh dan kakinya akan tergelincir otomatis dia akan menambah masalah baru karena kerjaannya tidak bisa dipegang dan masalah buatku," jelasnya dengan tenang, "Sudahlah mana laporan yang aku berikan tadi malam!" lanjutnya lagi sambil mengulurkan tangan kanannya.

 

Mendengar itu Fatimah menjadi sangat kesal kepada Raka, 'Dasar cowok playboy bilang saja kau ingin menyentuh tangan Aisyah jika tidak ada aku pasti kau menang' gerutunya dalam hati, tangannya dia lipat di depan dada sembari melemparkan tatapan tajam ke arah Raka.

 

Aisyah pun mengambil kertas yang tadi pagi dia print di foto copy dan memberikannya kepada Raka dengan kasar, "Nih laporannya sudah aku print dan terima kasih sudah menolongku tapi aku tidak menyukai caramu itu."

 

Raka mengernyit heran mendengar perkataan Aisyah yang tidak tahu diuntung baginya sudah jelas dia menolongnya dengan baik tapi dia malah kena omelan cewek itu membuat dirinya merasa tidak terima.

 

"Hah, apanya yang salah aku hanya menolongmu yang hampir saja jatuh kok malah marah lagi pula kalau mau jatuh lihat-lihat dulu biar memastikan kalau bukan aku yang akan menolongmu pikir saja sendiri mengapa kau jatuh selalu di depanku!" katanya dengan santai, "Hey siapa yang piket hari ini tolong katakan padanya pel lantai yang basah ini nanti ke buru makan korban lagi!" teriaknya pada teman yang berada di dalam kelas lalu dia pun menyelonong masuk ke dalam kelas meninggalkan Fatimah dan Aisyah yang masih terpaku di sana.

 

"Ihh dasar cowok super ngeselin tahu gak," pekik Aisyah dengan sangat kesal mendengar perkataan Raka barusan yang nampak tidak mau disalahkan lalu dia memandang pergelangan tangannya yang memar sebab genggaman Raka yang terlalu kuat saat menahan dirinya hampir jatuh.

 

Fatimah pun ikut memandang tangan Aisyah lalu diraihnya tangan sahabatnya itu, "Oh my god Syah tangan kamu merah begini aku kompres ya makai es batu yuk ikut aku ke UKS!" ujarnya sembari menuntun Aisyah menuju ruang UKS yang tidak jauh dari kelasnya.

 

Aisyah sumarah pada apa yang Fatimah akan lakukan dia juga merasakan kesakitan pada tangannya itu saat menuju UKS pikiran Aisyah masih terbayang-bayang akan kejadian tadi melihat wajah Raka yang super dingin dan tenang membuatnya begitu kesal dan tidak habis pikir kenapa cowok itu tidak mau melepaskan genggaman tangannya.

 

Setelah Fatimah membuka pintu UKS dia pun membawa Aisyah masuk ke dalam dan mendudukan sahabatnya itu di tepi kasur, "Kamu tunggu di sini ya aku akan ambilkan dulu batu esnya," katanya meminta agar Aisyah tidak pergi ke mana-mana dan sabar menunggu dirinya kembali.

 

Saat Fatimah pergi ponselnya Aisyah pun berdering menampilkan ada pesan yang masuk di sana membuat dirinya langsung membuka ponselnya dan melihat ada dua pesan yang tertera di sana yaitu Raka dan Fahri dengan cepat Aisyah pun membuka pesan Raka terlebih dahulu karena dia penasaran apa isi pesan cowok itu.

 

*Raka

"Syah maaf jika aku telah kembali menyentuh tanganmu, apa kau baik-baik saja?"

 

Membaca itu Aisyah nambah kesal seperti Raka telah mencandainya saat dia berusaha menarik tangannya dari genggan Raka yang kuat itu karena masih kesal akhirnya dia pun mengabaikan pesannya dan menggeser kembali layarnya menampilkan pesan dari Fahri.

 

*Fahri

"Apakah suratnya sudah sampai kepadamu Syah? itu aku sendiri loh yang menulisnya, iqroi Aisyah!"

 

(Iqroi = bacalah) Saat membaca pesan itu Aisyah kembali teringat akan suratnya yang masih belum dia buka ada rasa penasaran di sana tapi dia berniat akan membukanya nanti setelah pulang sekolah.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!