Seni Seviyorum Aisyah
Aisyah Bersikap Munafik
"Kau tahu Fat, tadi Raka menemaniku menunggu Pak Ujang kau tahu apa yang dia katakan?" ujar Aisyah dengan riang tanpa berhenti untuk tersenyum.
Fatimah yang sedang menonton drakor hanya menggeleng sesekali dia mematikannya karena tidak pokus akhirnya dia pun mengubahnya dengan musik kesukaanyanya yang kini sedang trending.
"Kok bisa? bagaimana ceritanya aku ingin mendengarnya!" seru Fatimah dengan tidak sabaran, baginya Aisyah sahabat yang mempunyai prilaku yang lucu dan cenderung bersikap tidak enak hati kepada sahabat-sahabatnya.
Sebelum menceritakannya Aisyah menariknapasnya pelan agar bisa berbicara dengan jelas, "Waktu aku duduk di halte samping sekolah, tiba-tiba aku mendengar seseorang yang memanggil 'Hey' karena aku sendiri ya aku rasa dia memanggilku namun saat aku menoleh ke kanan dan ke kiri tidak adaorang Fat, eh tahu-tahunya Raka muncul dari belakang ya Allah aku kaget ditambah lagi deg-degan melihat cowok itu, lucu banget dia Fat rasanya aku gagal lagi buat move on jika dia terus mendekatiku terus aku syok banget dia ngomong aku cantik Fat oh my god aku ingin teriak saat itu tapi aku malu dan aku harus jaga sikapku di depannya," jelas Aisyah dengan panjang lebar sambil tertawa-tawa saat menceritakan kejadian yang sangat terkesan itu.
"Wooww aku rasa Raka seriusan suka sama kamu Syah, sudah dong Syah jangan bersikap cuek dan marah-marah lagi sama Raka! nanti kalau dia benar-benar menjauh dari kamu bagaimna?" Ya Fatimah hanya takut Raka tidak menyukai sifat Aisyah yang terus-menerus cuek kepada Raka setiap kali dia bertemu pun selalu menghindar dari cowok itu.
Aisyah membenarkan posisi duduknya, "Aku takut dia hanya mempermainkanku saja Fat jadi aku juga ingin memainkan permainkanku yang sudah kumulai apalagi sikap Hawa memancingku untuk seperti ini," ujar Aisyah dengan tersenyum
Dia memang sangat menyayangi Raka tapi dia tidak bisa memaknainya dengan rasa cinta karena di sisi lain dia juga tidak menyukai sikap Raka yang mempermainkan banyak wanita setelah membuatnya baper sehingga dia mendapatkan julukan plaboy dari teman-teman cowoknya Raka juga suka mengucapkan kalimat manis kepada cewek-cewek cantik dikelasnya maupun adik kelas yang ketahuan menyukainya juga. Hal itu dia dengar dari ceritanya Ilham saat itu.
Mendengar hal itu Fatimah pun bertepuk tangan, "Okey hebat juga kamu Syah biar tahu rasa tuh si Raka tapi ingat Syah! hati-hati nanti terjebak dalam permainanmu sendiri."
Itulah yang ditakutkan oleh Aisyah 'Terjebak dalam permainannya sendiri' dia menyadari bahwa sikap Raka kepadanya dapat membuat dirinya lemah tak berdaya oleh asrama cinta yang sudah tumbuh di hatinya tapi dia akan mencobanya sendiri selama ini pun dia sudah berakting bagus di depan Raka dengan menunjukan sikapnya yang cuek tanpa cowok itu sadari bahwa itu semua adalah kebohongan yang dia sembunyikan.
"Kau tak perlu khawatir Fat, aku bisa menjaga diriku sendiri begitu pun dengan perasaanku aku hanya ingin Raka berubah dan bahagia dengan apa yang dia sukai," tukas Aisyah dengan penuh tekad. "Aku bahagia jika dia pun bahagia Fat meski bukan karenaku."
Jika Fatimah ada di dekat Aisyah sudah pasti dia akan memeluk sahabatnya itu, dia mengetahui awal mula sahabatnya itu jatuh cinta kepada Raka meski sangat sulit bagi Aisyah mengakuinya namun saat ini sahabatnya terjebak pada cinta dalam diamnya.
"Uhuhu aku jadi ingin meluk kamu deh Syah, kamu gak usah khawatir aku akan selalu ada di sampingmu kok!" ujar Fatimah.
Terdengar bunyi adzan berkumandang Aisyah pun terpaksa harus mengakhiri ceritanya dan menutup telepon dari Fatimah ada rasa lega setelah bercerita dengan Fatimah.
Tidak lupa Aisyah pun meminta permohonan dan doa untuk cowok yang sedang dia sayangi baginya adalah cara terbaik dalam mencintai seseorang yang tidak saling mengetahui perasaannya satu sama lain sama halnya mencintai dalam diam yang kini Aisyah alami dengan Raka.
Aisyah masih ingat dalam penjelasan dari hadist Abu Hurairah R.A meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya." (H.R. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi) begitulah bunyinya yang sampai sekarang masih ada di ingatannya.
Setelah salat Aisyah pun membuka al-qurannya untuk mengulang hafalannya, kejutan dari Ayahnya sangat istimewa baginya oleh karena itu dia harus berusaha menjadi yang terbaik dan bisa membuat ke dua orangtuanya bangga terhadapnya.
Ponsel Aisyah pun kembali berdering setelah Aisyah menyelesaikan hafalannya, dia bergegas dia pun langsung melihat dan betapa terkejutnya dia melihat bahwa Raka yang telah menelpon dirinya.
"Assalamualaikum Syah," ujar seseorang yang suaranya terdengar khas di telinga Aisyah lembut dan merdu namun masih terdengar tegas.
Dengan gemetaran Aisyah menjawabnya, "Eh waalaikumsalam, ada apa ya Rak?" tanyanya dengan masih menggunakan mukena.
"Aku ganggu kamu gak Syah? soalnya ada hal penting yang perlu aku katakan sama kamu." Kini Raka sedang duduk dengan leptop di pangkuannya.
"Sebentar dulu!" sergah Aisyah yang mengerti pasti cowok itu akan membahas tentang acara ulang tahun yang masih 2 minggu lagi itu, Aisyah melepaskan mukenanya lalu duduk di tempat belajarnya sembari membuka buku catatan hariannya. "Silahkan mau ngomong apa? pasti tentang acara ultah sekolah ya Rak?" tebaknya.
Raka terkekeh, "Iya Syah memangnya apa lagi yang harus aku katakan selain tentang acara, aku lagi buat proposal nih tolong kamu print ya dan kasih ke Pak Bambang untuk minta tanda tangan," jelasnya.
"Owh okey okey tapi harus banget ya di print sekarang?" Acara ulang tahun sekolah memang di waktu yang dekat namun dia rasa mengirim proposal tidak di waktu sekarang ini.
"Ya harus sekaranglah kan nanti akan ada perlombaan-perlombaan di hari senin besok bagaimana sih kamu Syah?" omel Raka membuat Aisyah menyengir malu.
Dia menggigit bibir bawahnya sembari merasakan debaran jantungnya yang terus memompa dengan cepat, "Hehehe maaf aku agak lupa Rak," elaknya.
"Duh lagi mikirin apa sih emang masa sampai lupa gitu?" Kini nada suaranya bukan sedang marah tapi lebih lembut dari yang sebelumnya, Raka akui dia tidak bisa marah dengan cewek meski sangat menjengkelkan apalagi kepada Aisyah sosok wanita yang berbeda dalam pandangannya.
Mendengar perkataan Raka membuat Aisyah terkekeh, "Ya sudah nanti aku kerjakan secepatnya kirim saja filenya okey!"
"Sip nanti aku kirim ya!" ujar Raka.
Tiba-tiba pintu kamar Aisyah terbuka menampakan sosok Bundanya membuat Aisyah kaget, dia menjauhkan ponselnya dari telinganya dan mematikan loudspeaker ponselnya agar suara Raka tidak terdengar oleh Bundanya.
"Sayang kamu sudah salat?" tanya Adiba sembari menghampiri Aisyah.
Aisyah menyembunyikan ponselnya di bawah bantalnya dia takut akan kena omel Bundanya, "Sudah kok Bun, tapi aku harus mengerjakan sesuatu setelah ini," katanya dengan tersenyum manis.
"Ya sudah nanti jangan tidur malam-malam ya dan jangan bergadang jika Ayahmu tahu kamu pasti kena omel darinya jadi lekaslah tidur," jelas Adiba sambil mengusap rambut Aisyah yang tergerai.
Aisyah mengangguk mengerti, "Baik Bun aku tidak akan bergadang malam ini."
"Jangan lupa matikan lampu sebelum tidur okey!" seru Adiba sebelum kembali menutup pintu kamar putrinya itu, sudah menjadi tugasnya untuk mengontrol kamar Aisyah sebelum tidur biasanya anak itu bergadang untuk menonton drama kesayangannya yang berasal dari negri gingseng.
"Tuh dengerin jangan bergadang ya Neng!" sahut Raka saat Aisyah kembali menghidupkan loudspeaker ponselnya.
Mendengar kata 'Neng' membuat Aisyah tersenyum tidak tentu saja itu tidak heran sebab Bibinya pun memanggil dirinya dengan sebutan Neng dan dia pernah dengar bahwa orangtua Raka sering memanggil Neng kepada anak perempuan.
'Saya tahu itu hal biasa bagi kamu Rak tapi apakah kau mengerti kalau kamu itu salah menyebutku dengan panggilan itu' keluh Aisyah mendengarkan kalimat yang pasti akan berefek untuk dirinya kini dia seperti menerima satu kebahagiannya lagi.
'Saya tahu itu hal biasa bagi kamu Rak tapi apakah kau mengerti kalau kamu itu salah menyebutku dengan panggilan itu' keluh Aisyah mendengarkan kalimat yang pasti akan berefek untuk dirinya kini dia seperti menerima satu kebahagiannya lagi.
"Hey kau mendengarnya?" tanya Aisyah dengan tersenyum senang.
Terdengar suara Raka yang tertawa dari sebrang sana, "Ya jelas aku mendengarnya orang panggilannya aja masih tersambung."
"Iya tapi kenapa kamu menyahut hah?" kesal Aisyah.
"Orangtuamu pasti baik banget dan menjaga dirimu dengan sangat ketat, aku jadi ingin berkenalan dengan Bunda kamu deh," celetuk Raka entahlah mengapa cowok itu bisa berkata seperti itu membuat Aisyah kaget bukan main.
Aisyah menutup mulutnya dengan telapak tangannya lalu menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya, "Jangan bercanda deh jika tidak ada yang mau di bicarakan lagi aku matikan ya!"
"Jangan galak-galak sama aku Syah, kau tahu aku ini ketuamu loh!" protes Raka mengingatkan akan jabatannya yang mana Aisyah ada bawahan dirinya, dengan cara itu Aisyah akan kembali patuh dengannya.
Mendengar perkataan itu Aisyah tersenyum, "Iya maaf Paketu tapi aku harus tidur cepat malam ini jadi aku matikan ya teleponnya."
"Okey aku maafkan tapi jangan lupa ya print dokumennya dan selamat tidur ya assalamualaikum." Akhirnya Raka menutup teleponnya membuat Aisyah bisa bernapas lega dengan bening-bening kebahagian di hatinya.
'Waalaikumsalam, selamat tidur juga Raka,' gumam Aisyah dengan senyum-senyum sendiri kalian harus mengerti bagaimana sikap Raka dengan Aisyah sebelumnya lebih tepatnya sebelum Raka di angkat menjadi ketua OSIS.
Dulu Raka sangat menyebalkan sekali di mata Aisyah hanya dia laki-laki yang paling Aisyah tidak suka di kelas sebab semua cewek-cewek bilang kalau Raka suka mengatakan hal manis yang membuat mereka baper kadang dia suka perhatian ke para cewek-cewek hal itu tentu saja wajar bagi Aisyah jika para cewek-cewek baper dengan sikap Raka kepadanya. Aisyah juga ingat waktu itu.
flasback ...
"Bel kamu kok beda banget sih makai bando kaya gitu," ujar Raka dengan tatapannya yang teduh melihat Bela yang sedang duduk bersama teman-temannya.
"Ihh masa sih apanya yang beda memangnya?" tanya Bela dengan panik sambil memantulkan dirinya di cermin.
Raka tersenyum manis, "Lebih cantik kelihatannya."
Terdengar suara-suara teman Raka yang saling sahut-sahutan mendengar rayuan Raka yang receh itu hal itu membuat Aisyah gedek dan membencinya bagi Aisyah, Raka memanfaatkan wajahnya yang tampan untuk membuat wanita tergoda kepadanya apalagi Raka sering terpilih untuk mewakili lomba bersama kakak kelas yang lainnya dari situ banyak sekali para senior yang mencoba menjadikan Raka adik-adikannya.
Dan waktu itu juga Raya beserta Fatimah hampir dibuat tergoda oleh Raka yang selalu memberikan perhatian kecil dan mendekatinya yang secara Raka tidak pernah sembarangan berteman dengan siapa pun itu, selagi banyak yang menyukai Raka cowok itu pun mempunyai musuh yaitu Reyhan dan anak basket lainnya dari sana Aisyah mengetahui sedikit tentang Raka namun seiring berjalannya waktu Raka menjadi pendiam tidak banyak omong dan terlihat cuek terhadap wanita tapi tentu saja itu tidak mengubah julukannya sebagai playboy sampai akhirnya Raka terpilih menjadi ketua OSIS.
***
Pagi harinya Aisyah terbangun dari tidurnya namun pagi ini dia terlihat kegerahan dan terlihat kaget sebab Raka kembali hadir dalam mimpinya tapi kali ini berbeda seperti dua sebelumnya cowok itu terlihat menyebalkan membuat Aisyah menangis karena dalam mimpinya Raka mengatakan bahwa 'dia tidak suka dengan Aisyah yang munafik dan sok anggun mending dengan Hawa yang sudah jelas cantik pintar lagi' lalu Raka pergi bersama Hawa dan lebih menyakitkannya lagi Hawa mengejek Aisyah dan tidak menganggap bahwa Aisyah adalah sahabatnya sendiri.
Aisyah kembali meneteskan air matanya dadanya terasa sesak bibirnya tidak pernah berhenti beristigfar dia meraih minumnya di atas nakas dan meminumnya hingga tak tersisa.
'Duh kenapa aku bisa bermimpi seperti ini ya?' gumam Aisyah sembari mengusap sisa air matanya entahlah mengapa juga dia bisa menangisi cowok itu.
Akhirnya Aisyah pun bangkit dari tempat tidurnya untuk menunaikan ibadah salat subuh saat keluar kamar rumah pun masih terlihat sepi sepertinya ke dua orangtuanya masih tertidur.
Entah untuk ke berapa kalinya Aisyah meneteskan air matanya untuk Raka, cowok itu terlalu sulit untuk dia ambil hatinya dan Aisyah pun merasa bahwa mungkin Raka bukan jodohnya tapi anehnya kenapa cowok itu datang dalam mimpinya bahkan semakin hari Aisyah dan Raka semakin dekat hal itu tentu saja membuat Aisyah merasa bingung.
"Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)." Doa Aisyah pada pagi hari itu.
Doa tersebut merupakan doa yang sering kali diucapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Beliau mengajarkan kepada umatnya untuk memasrahkan hati kepada Yang Maha Penguasa agar selalu diberikan keteguhan hati dalam hal keimanan dan akhlaqul karimah. Itu doa merupakan sebuah permohonan agar tidak dijatuhkan dalam kehancuran iman, takwa, dan akhlak mulia.
Kadang cinta, kadang benci kadang kecewa dan kadang pun tidak peduli apapun tentang Raka, itulah yang Aisyah rasakan selama ini dan usahanya pun untuk menghilangkan rasa sukanya kepada Raka selalu gagal dia selalu berakhir dengan patah hati karena melihat Raka genit dengan cewek lain dan kerap kali di gosipkan dengan ketua dari para Cheerleaders di sekolah bahkan dia sangat kaget waktu dengar Hawa nonton berdua dengan Raka di bioskop. Itu lebih menyakitkan dari pada melihat Raka jalan dengan cewek lain selain sahabatnya sendiri.
Pintu kamar pun diketuk oleh seseorang bertepatan dengan Aisyah yang telah menyelesaikan doanya saat pintu dibuka ternyata itu adalah Bundanya.
"Kamu sudah salat ya? Bunda kira kamu belum bangun," ujar Adiba dengan tersenyum sebetulnya dia tahu dan sempat mendengar Aisyah berdoa tapi karena dia khawatir kepada putrinya akhirnya nalurinya memaksa dirinya untuk melihat keadaan Aisyah.
"Aku baru saja selesai Bun, apa Bundanya juga baru bangun tidur?" tanya Aisyah mengingat bahwa rumahnya masih terlihat sepi tidak ada suara Bundanya yang memasak atau Bundanya yang sedang mengaji.
"Bunda dari tadi sudah bangun kamu baik-baik saja Nak?" Adiba mengusap kepala Aisyah dengan lembut lalu mendekapnya.
Saat ini Aisyah memang membutuhkan seseorang untuknya bersandar kedatangan Bundanya mengundang air matanya untuk kembali menetes tapi dia sangat takut untuk terbuka masalah hati kepada ke dua orangtuanya yang selama ini menyuruhnya untuk mementingkan pendidikan terlebih dahulu.
"Aku baik-baik saja kok Bun," katanya dengan tersenyum menatap Bundanya.
Mendengar jawaban Aisyah, Adiba langsung mengangguk mengerti dia tahu bahwa anaknya sedang menyembunyikan sesuatu darinya tapi dia tidak terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Aisyah karena dia juga yakin anaknya itu pasti cerita tanpa perlu diminta.