Seni Seviyorum Aisyah
Seperti Mimpi
"Ya tentu tidak apa-apa Syah, jika kamu ingin tahu info selanjutnya aku akan tag kamu saja ya di IG soalnya aku juga dapat berita itu di IG," jelas Raka dengan raut wajah yang sangat tenang dan menenangkan.
Mendengar penjelasan itu Aisyah mengangguk mengerti, "Ya sudah tidak apa-apa kamu tahu kan nama IG aku?"
Raka mengangkuk tentu saja dia tahu nama instagram Aisyah kan yang duluan minta follow cewek itu yang akhirnya dia follback, "Iya aku tahu, owh ya Syah kamu pulang nungguin siapa, ada yang jemput memangnya?" tanya Raka yang menyadari bahwa sudah lumayan lama dia duduk dengan Aisyah.
Disadarkan kembali oleh sesuatu yang hampir saja dia lupakan bahwa tujuannya berada di tempat ini untuk menunggu supir pribadinya itu yang sejak tadi belum terlihat olehnya, "Pak Ujang supir pribadi yang Bunda utuskan untuk menjemputku, sudah sana kamu pulang saja!" pinta Aisyah.
"Owh ya sudah biarkan aku menunggunya juga, gak baik cewek kaya kamu sendirian paling tidak sebentar lagi juga sampai," ungkap Raka dengan tersenyum hangat.
Wajahnya terlihat datar menatap jalanan tanpa cowok itu sadari hati Aisyah berdenyut mendengar ucapan manis dan penuh perhatian itu andai saja dia bisa membuatnya pergi namun kini keadaanya tidak bisa melakukannya karena Raka berniat menjaga dirinya takut ada yang menganggu bukan sebab alasan lainnya.
Kemudian Raka melirik Aisyah yang sedang tersipu malu dibuatnya dia pun mengulun senyum dan kembali menatap kendaraan yang berlalu lalang di sana, menunggu Pak Ujang akhirnya Aisyah menghubungi Bundanya lagi untuk memastikan bahwa Pak Ujang memang sudah berangkat.
*Aisyah
"Bunda kok Pak Ujang belum juga sampai ya?"
Tidak butuh waktu lama Adiba pun langsung membalas sebab dia sendiri sedang menunggu putrinya segera pulang, mendengar bahwa Pak Ujang yang belum sampai di sekolahan Aisyah membuat wanita berparuh baya itu heran.
*Bunda
"Sudah sejak dari kok Nak, sabar saja mungkin masih di jalan."
'Huhf, apa jangan-jangan jalanan macet ya?' pekik Aisyah dengan gelisah dia ingin sekali cepat sampai rumah dan beristirahat.
"Ada apa Syah kok kayanya gelisah gitu, apa ada masalah?" Raka memperhatikan cewek di sampingnya yang terlihat gamang melihat ke arah jalanan.
Aisyah menoleh ke arah Raka, "Hemm, Pak Ujang lama sekali aku sudah lelah ingin langsung pulang dan bisa istirahat," ungkap Aisyah dengan nelangsa.
"Sabar Syah, mungkin sebentar lagi sampai," ujar Raka, 'Jika aku bisa mengantarkanmu pulang akan kulakukan itu tapi aku tahu itu tidak bisa kulakukan' lanjutnya dalam hati.
"Iya, makasih ya sudah menemaniku." Aisyah tersenyum memandang Raka dia sangat senang ditemani cowok itu.
Tidak lama kemudian terlihatlah mobil Ayahnya Aisyah yang sedang berjalan ke arahnya membuat dirinya langsung bangkit dari duduknya dia sudah bisa menebak bahwa itu memang Pak Ujang.
"Non Aisyah!" panggil Pak Ujang setelah kaca jendela mobil terbuka lebar sehingga bisa melihat bosnya itu.
Melihat kedatangan supir pribadi Aisyah membuat Raka bangkit dari duduknya sedangkan Aisyah pun bergegas meraih tasnya dan memasukan bukunya yang kini waktunya membacanya terhalangi juga sebab kehadiran Raka.
Sebelum pergi Aisyah menoleh ke arah Raka, "Aku duluan ya Rak," ujarnya dengan tersenyum.
"Hati-hati ya Pak bawa mobilnya!" Raka tersenyum kepada orang yang disebut Aisyah dengan nama Pak Ujang itu.
'Hah cowok itu mengapa jadi sok akrab banget dengan Pak Ujang' Aisyah tidak habis pikir dengan sikap Raka akhirnya dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Assalamualaikum," ujar Aisyah kepada Raka yang masih setia berdiri di sana, "Yuk Pak jalan!" lanjutnya.
"Okey siap Non," kata Pak Ujang dengan sigap.
Mobil pun dijalankan oleh Pak Ujang meninggalkan Raka yang entah mengapa masih setia berdiri di sana, Aisyah kemudian menoleh ke arah belakang untuk melihat apakah Raka sudah pergi apa belum dan ternyata cowok itu mulai beranjak dari sana dan pergi mengambil motornya.
'Ah Raka terima kasih untuk hari ini seperti mimpi bisa duduk berdua bersamamu dan berbincang-bincang hangat bahkan mendapatkan perhatian darimu yang terkesan basi sebab kamu seorang playboy.' gumam Aisyah dalam hati.
"Non Aisyah tadi itu siapa? kasep pisan," ujar Pak Ujang sembari menatap Aisyah dari kaca depan.
Mendengar pertanyaan itu Aisyah langsung panik, "Teman kelas Pak, Bapak jangan ngadu-ngadu ke Ayah atau ke Bunda ya soal ini dia tadi hanya menemaniku saja sebab menunggu Pak Ujang yang lama, aku takut Ayah akan marah jika tahu aku duduk dengan cowok," katanya.
Pak Ujang pun terkekeh melihat tingkah laku Aisyah, "Hehehe iya siap non, Pak Ujang akan tutup mulut rapat-rapat tapi Pak Ujang kira itu pacarannya si Non Aisyah."
"Bukan Pak, dia ketua OSIS di sekolah akupun anggota OSIS mana mungkin kami bisa berpacaran," ungkap Aisyah dengan sedih itu memang sudah jelas tapi tetap saja perasaan Aisyah tidak bisa dibohongi bahwa dia memang sangat menyukai Raka dan sikap cowok itu kepadanya.
Selama perjalanan Aisyah memilih untuk tidur itu juga dipengaruhi oleh rasa lelah yang mendominasinya saat ini, Pak Ujang yang pokus menyetir tidak mengetahui bahwa seseirang yang dibawanya tertidur, hal itu diketahui waktu mobil sudah memasuki jalan menuju rumahnya.
"Non Aisyah sebentar lagi sampai Non," seru Pak Ujang saat menyadarinya.
Karena Aisyah tidak tertidur dengan begitu nyenyak dia pun terbangun saat mendengar Pak Ujang memangil-manggil namanya, "Iya Pak."
Kini mobil sudah masuk ke dalam gerbang rumah Aisyah, di sana terlihat Bunda dan Ayahnya yang sedang duduk bersama di depan rumah, Aisyah langsung turun dari mobilnya untuk menghampiri kedua orangtuanya itu.
"Assalamualaikum Bun, Ayah," salam Aisyah sembari mencium satu per satu tangan ke dua orangtuanya.
Diusapnya pelan kepada Aisyah oleh sang Bunda, "Waalaikumsalam, bagaimana rapatnya lancar?" tanya Adiba yang megetahuinya.
"Alhamdulillah Bun, pada acara ulang tahun sekolah Aisyah terpilih menjadi sekretaris acara akan begitu melelahkan Bun," lirih Aisyah yang kini duduk bersama ke dua orangtuanya.
Haris sibuk membaca koran namun telingannya masih mendengar apa yang sedang anaknya bicarakan, "Ya bagus dong Syah, owh iya Ayah punya kejutan buat kamu." Haris tersenyum membuat Aisyah penasaran.
Adiba pun tersenyum sebab dia mengetahui kejutan apa yang akan suaminya itu berikan untuk Aisyah, pandangannya berbinar-binar ada rasa penasaran dalam diri Aisyah kini.
"Apa Ayah? buruan katakan saja aku penasaran," serunya dengan senang.
Dengan sengaja Haris lama dalam mengatakan kejutan itu agar membuat anaknya penasaran, "Sebentar ya, sebelumnya Ayah minta maaf sama kamu tapi Ayah harap kejutan ini bisa membuat kamu bahagia dan senang."
"Aamiin Yah, cepat katakan saja apa itu kejutannya?!" teriak Aisyah tidak sabaran dia gemas dengan permainan Ayahnya.
"Ayah dan Bunda sudah mendaftarkan kamu ikut bimbingan tahfidz, karena Ayah dengar kelulusan kamu tinggal 4 bulan lagi jadi Ayah sudah mempersiapkan bimbingan ini untuk kamu, semoga hafalan kamu bisa bertambah ya Nak." Haris nampak sangat senang mengatakan hal itu.
Mendengar kejutan itu memang sangat membuat Aisyah bahagia karena selama ini dia butuh mentor atau musyrif untuk membimbingnya dalam kegiatan menghafal dia juga ingin tahu sejauh mana dia menghafal al-quran selama ini.
"Terima kasih banyak Bunda, Ayah aku sangat senang banget dengarnya," ungkap Aisyah sembari memeluk Bundanya.
***
Setelah Aisyah sudah pulang bersama supir pribadinya hal itu membuat Raka pun beranjak dari sana untuk mengambil motornya yang dia pakirkan di sebrang sekolah di mana di sana ada warung kecil yang biasanya untuk anak bolos atau nongkrong di waktu istirahat.
"Bi, saya pamit pulang ya terima kasih sudah jagain motor saya eheheh," ujar Raka pada Ibu-ibu warung yang biasanya dipanggil Bi Ayu itu sebab nama anaknya Ayu dia bersekolah di sini juga.
Bi Ayu pun menoleh menatap Raka yang sudah datang kembali, "Owh iya Dek tidak apa-apa, sudah mau pulang memangnya?"
"Iya Bi langsung pulang saja makasih ya Bi, assalamulaikum." Raka menyalakan mesin motornya lalu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan asap yang mengebu di atas sana.
Bi Ayu hanya menggelengkan kepalanya saja dia sudah pernah menyaksikan lomba balap motor dulu jadi dia tidak begitu kaget melihat Raka membawa motor seperti itu.
Di perjalanan pikiran Raka masih melayang entah ke mana banyak sekali tugas yang harus dia selesaikan, ponselnya berbunyi seperti ada yang menelpon itu sangat mengganggunya yang sedang dalam perjalanan akhirnya dia mengabaikan bunyi ponselnya itu, kembali teringat bayang-bayang dirinya bersama Aisyah cewek yang dianggapnya berbeda dengan yang lainnya bahkan sahabat-sahabatnya sendiri Aqila pun yang sebagai saudarinya sangat berbeda akan tetapi cewek itu kadang begitu ngeselin ketika bersikap cuek dan ketus kepadanya kini dia telah tahu bahwa dibalik sikap cewek itu ternyata asik juga.
"Kamu sudah pulang, Nak?" tanya seorang wanita paruh baya yang sedang menyirami tanaman di depan rumahnya.
Raka pun turun dari motornya dan melepaskan helmnya lalu menghampiri Umminya untuk bersalaman, "Assalamualaikum Mi."
"Waalaikumsalam, Ummi kira kamu bakal pulang malam ternyata lebih cepat dari dugaan Ummi ya," ujarnya dengan tersenyum.
"Hehehe gak lama kok Mi rapatnya, ya sudah aku ke dalam dulu ya mau mandi badanku sudah lengket sekali." Raka pun berlalu masuk ke dalam rumahnya setelah diizinkan oleh Umminya.
"Kak, aku minta tolong boleh?" ujar seorang anak perempuan yang kini menghalangi jalan Raka menuju kamarnya.
"Apa? mengerjakan tugas lagi, kakak capek ah kerjakan sendiri saja!" Raka berlalu mengabaikan bocah perempuan itu.
Diabaikan begitu saja oleh kakaknya membuat gadis cantik bernama Ameera itu bersedih, tugas fisika yang Gurunya begitu begitu susah bahkan dia sendiri pun tidak mengerti bagaimana cara menjawabnya.
"Kakak, please bantuin aku dong, nanti aku bakal lakukan apa saja deh asal kakak mau bantuin aku," rengek Ameera sembari memegangi tangan Raka yang hendak pergi meninggalkannya.
"Kakak sedang capek minta bantuan Ummi saja sana!" elak Raka merasakan tubuhnya yang begitu lelah dan kepalanya yang sedikit pusing.
Mendengar Kakaknya yang masih tidak mau membantunya akhirnya dia pun memasang wajah nelangsa. "Please kak bantuin aku, ini pelajarannya sangat sulit sekali aku belum paham apalagi cara mengisinya ayolah kak bantu aku sebentar saja," pintanya dengan memohon.
Melihat adiknya bersedih akhirnya dia pun mau menuruti apa yang gadis itu inginkan, "Ya sudah kakak mau mandi dulu nanti kakak turun lagi tunggu saja di ruangan kakak!" katanya.
"Baik kak, aku akan menunggunya," ujarnya dengan riang ternyata dia berhasil menaklukan hati kakaknya.
Setelah membuat sang adik tersenyum Raka pun meninggalkannya dan berlalu naik ke atas menuju kamarnya, rasa lengket pada tubuhnya sangat menganggunya saat sampai di kamarnya Raka langsung menghempaskan tasnya serta ponsel miliknya dan membuka bajunya lalu menghempaskan dengan asal di atas kasur.
Byurr, Raka menyiram tubuhnya dengan air yang begitu dingin dan menyegarkan terdengar suara pintu yang terbuka yang dia duga itu adalah Umminya tapi dia tidak tahu apa yang akan Umminya lakukan di dalam kamarnya.
"Raka, apakah kamu sedang mandi?" tanya Umminya dengan mengetuk pintu kamar mandi.
Raka kaget saat Umminya mengetuk pintu kamar mandi, "Iya Mi," sahutnya saat sudah membilas wajahnya.
Umminya hanya menggelengkan kepala saat mengetahui anak laki-lakinya itu sedang mandi sedangkan pakaiannya berserakan di atas kasur, akhirnya dia pun merapihkan tempat tidur Raka dan meletakan pakaian yang sebelumnya dia bawa.
"Ummi sudah biarkan aku saja yang membereskannya," sergah Raka saat melihat Umminya sedang membereskan pakaiannya.
Habibah, Umminya Raka pun menoleh memandang anaknya itu, "Lagian kakak meletakan baju sembarangan jangan biasakan prilaku buruk seperti itu kak."
"Iya enggak Mi tadi tuh aku sedang buru-buru gerah sekali rasanya ingin segera mandi jadinya aku meletakan pakaianku begitu saja di atas kasur," jelas Raka dengan tersenyum.
"Ya sudah Ummi maafkan, nanti jangan lupa turun ya kak Ummi sudah masakan makanan enak buat kamu dan Abi." Habibah tersenyum sembari menepuk bahu Raka dan pergi meninggalkan anaknya itu.
Melihat kepergian Umminya Raka pun mengambil pakaiannya dan memantulkan diri di cermin, "Wajahku memang tampan wajar saja banyak cewek yang mendekatiku tapi kenapa hanya Aisyah yang sepertinya menolakku," pekik Raka sambil memperhatikan wajahnya dan sesekali memainkan rambutnya yang basah.
Ponselnya pun kembali berdering menampilkan panggilan serta pesan entah dari siapa saja akhirnya dia pun membuka ponselnya dan melihat satu per satu pesan yang masuk di dalam ponselnya.
*Ilham
"Rak, nanti malam jadi gak nih kita nongkrong bareng?"
Melihat pesan Ilham dia kembali ingat akan janjinya kepada teman-temannya yang setelah isya akan ada acara makan-makan di tempat biasa sambil nongkrong di sana.
Setelah membalas pesan dari Ilham kini dia pun menggeser layarnya dan membuka pesan dari Hawa yang berupa perhatian cewek itu terhadap dirinya.
*Hawa
"Aku tahu kamu capek jadi jangan lupa beristirahat ya hehe!"
Raka tersenyum membaca pesan tersebut baginya hanya Hawa yang selalu menampakan perasaannya kepada dirinya dia sangat tahu dan sikap Hawa sangat terlihat di matanya bahwa cewek itu mempunyai rasa kepadanya.
*Fasya
"Rak, jangan lupa kasih laporan hasil rapat kepada Pak Bambang takutnya lo lupa gue hanya ingetin saja dan jangan lupa juga nanti malam datang ke tempat biasa."
Itulah sisi lain dari Fasya dia begitu peduli kepada dirinya meski kadang cowok itu tidak berpihak kepadanya namun dia percaya bahwa Fasya mempunyai hati yang tulus.
Setelah membalas satu per satu pesannya akhirnya dia pun turun ke bawah untuk mengajarkan adiknya yang sudah menunggunya di bawah begitu pun Umminya yang mengajaknya makan bersama.
"Kak, jangan lupa ya soalnya tugasnya mau dikumpulkan besok," ujar Ameera melihat kakaknya telah turun dengan pakaian biasanya.
"Iya setelah makan ya dek," katanya menenangkan lalu menarik bangkunya untuk dia duduki.
Habibah yang memberikan piring untuk Ameera dan Raka, "Mi, aku ambil sendiri saja Ameera kamu juga tuh ambil sendiri jangan manja!"
"Iya kak," sahut Ameera mendengar perintah kakaknya, selama ini dia sangat menurut kepada omongan kakak dan ke dua orangtuanya.
Azmi tersenyum melihat ke dua anaknya yang sangat nurut dan bangga terhadap anak pertamanya yang sudah mempunyai pikiran yang dewasa dan bisa mencontohkan yang baik kepada adiknya membuatnya percaya bahwa anak pertamanya itu bisa dipercaya untuk menjaga adiknya.
Tidak lupa keluarga Azmi selalu membaca doa sebelum makan yang dipimpin oleh dirinya sendiri dan kadang jika dia tidak ada Raka yang akan memimpin doanya hal itu dia terapkan agar keluarganya lebih mensyukuri nikmat yang sang pencipta berikan terhadap dirinya dan keluarganya.