Seni Seviyorum Aisyah

Tempat Favorit Kita

"Fat, yuk pulang!" ajak Aisyah saat menyelesaikan makanannya.

 

Fatimah yang masih asik makan hanya mengangguk saja, "Heem iya Syah sebentar lagi ya," katanya dengan tidak jelas.

 

Kini Aisyah beranjak dari tempat duduknya untuk mencuci tangannya yang tempatnya tidak jauh dari dia duduk dan di samping tempat itu ada kolam renang.

 

"Syah, aku ke toilet dulu ya," ujar Fatimah yang melihat kedatangan Aisyah.

 

"Ya sudah jangan lama-lama ya." Dia pun kembali duduk di tempatnya dan membuka ponselnya.

 

Ada dua pesan yang membuatnya sedikit kaget dan pesan itu yang dia tunggu-tunggu sejak kemarin sebab sudah lama dia tidak pernah mendengar kabarnya, yaitu dari Katya dan Fahri anak dari Yayasan Cinta Quran.

 

*Katya

 

"Assalamualaikum dek Aisyah, bagaimana kabarmu dan kabar Ayah dan Bunda? apakah kalian baik-baik saja di sana? kakak kangen banget sama keluarga di rumah dek, owh iya kamu bagaimana sekolahnya? belajar yang rajin ya dek jangan malas buat hafalan al-qurannya."

 

Aisyah terharu membaca pesan dari kakaknya betapa susahnya dia memberi kabar kepada keluarganya pasti kakaknya sangat merindukan dirinya dan kedua orangtuanya, waktu itu ka Katya pernah bercerita bahwa jaringan di sana sangat buruk jadi susah untuk mengbungi keluarganya yang berada di Indonesia, meski dia kadang suka berantem tapi dia sangat merindukan kakaknya itu.

 

"Waalaikumsalam ka Katyaaa ... aku sangat merindukanmu ka, alhamdulillah aku dan Ayah Bunda baik-baik saja kakak sendiri bagaimana kabarnya? jangan lupa jaga kesehatannya ya ka, aku di sini sekolah dengan baik kok ka dan hafalan aku juga alhamdulillah lancar ka."

 

Dengan tersenyum Aisyah menyelesaikan kalimatnya untuk dikirim ke kakaknya yang berada jauh dari keluarga, 'ah kapan aku akan menyusulnya ke sana?' gumam Aisyah dalam hatinya, lalu tangan Aisyah menggeser layar menampilkan pesan dari ka Fahri.

 

*Kak Fahri

 

"Assalamualaikum Syah, maaf aku disuruh Ummi buat bilangin sesuatu hari rabu kamu bisa enggak ke rumah bertemu dengan Ummi."

 

'Ada apa ya? tumben banget Ummi Sarah menyuruhku ke rumah, ah apa mungkin Ummi rindu kepadaku ya?' batin Aisyah memikirkan Ummi Sarah yang memanggilnya dengan cepat dia pun mengetik memberikan balasan untuk Fahri.

 

"Waalaikumsalam, baik kak Fahri hari rabu aku akan menyempatkan waktuku mampir ke rumah salam buat Ummi ya."

 

Setelah itu Fatimah pun kembali dari kamar mandi dengan tangan yang sudah dia bersihkan dia pun duduk kembali di kursinya dan memandang sahabatnya yang sepertinya sedang bingung.

 

"Syah, ada apa kok raut wajah kamu seperti itu?" celetuk Fatimah sembari mengambil air minumnya.

 

'Ah Fatimah dia selalu bisa menebak perasaanku' gumam Aisyah yang merasakan bahwa Fatimah cukup peka terhadap dirinya, tidak salah dia memilih Fatimah untuk menjadi sahabatnya.

 

"Iya Fat, aku sedang heran nih tadi kak Fahri bilang kalau Ummi menyuruhku untuk ke rumahnya di hari rabu," kata Aisyah lalu meletakan ponselnya dan meraih gelas minumannya.

 

Setelah Fatimah selesai minum dia pun kembali meletakan gelasnya di atas meja yang airnya sudah habis setengah, "Kak Fahri?" katanya dengan alis yang menaik ke atas tanda bahwa dia ingin tahu.

 

"Iya kak Fahri anaknya Ummi dari yayasan pengajian Fat kamu belum bertemu sih dengannya dia sibuk kuliyah di UIN Syarif Hidayatullah aku juga kalau ke rumah Ummi jarang melihatnya," ungkap Aisyah yang memang dia mengenal Fahri dari cerita Ummi sendiri.

 

Fatimah mengangguk mengerti, "Owh anaknya Ummi ya mungkin ada sesuatu yang ingin dibicarakan, ya sudah yuk kita pulang!" ajak Fatimah.

 

"Ya sudah aku bayar dulu ya, kamu tunggu di luar saja sana." Aisyah berlalu pergi ke kasir untuk membayar makanannya.

 

Mendengar perintah Aisyah segera mungkin Fatimah bangkit dari duduknya dan berjalan keluar restoran tersebut dia berniat untuk mengambil foto di sana sebelum pulang sebab tempatnya sangat asri.

 

"Makasih mba," ujar Aisyah kepada pelayan kasir setelah memberikan uangnya dia pun berlalu keluar menghampiri Fatimah.

 

Menjelang sore restoran tersebut cukup ramai oleh pembeli di sana juga tersedia nasi goreng dan mie tiaw yang memang bukan masakan padang sebab ada pelayan yang bisa memasak menu tersebut dengan rasa yang nikmat sehingga banyak pembeli yang datang di waktu sore hingga malam harinya.

 

"Syah, sini kita ambil foto bersama!" seru Fatimah saat melihat Aisyah.

 

"Tidak ah Fat, sini aku foto kan saja kamu," balas Aisyah yang memang tidak ingin berfoto di tempat yang cukup ramai seperti ini, memalukan saja.

 

Fatimah pun memberikan ponselnya kepada Aisyah dan bersiap-siap untuk berpose layaknya selebgram terkenal ya Aisyah akui bahwa wajah Fatimah memang mirip seperti orang rusia begitu cantik dan bertubuh tinggi semapai lebih tinggi darinya.

 

"Makasih ya Syah," kata Fatimah setelah melihat hasil pengambilan gambar dirinya yang begitu memuaskan, dia percaya Aisyah pandai dalam memotret.

 

Setelah urusan selesai Aisyah dan Fatimah kembali ke mobil untuk pulang namun sebelumnya Aisyah akan mengantarkan Fatimah ke rumahnya terlebih dahulu, Pak Ujang yang melihat bosnya sudah keluar dia pun langsung membukakan pintu mobilnya.

 

"Bagaimana Non sudah kenyang?" tanya Pak Ujang dengan terkekeh.

 

"Alhamdulillah sudah Pak, nikmat sekali makanan di tempat ini" Aisyah berseru dengan antusias dia tidak bisa berbohong soal makanan di tempat ini yang sangat menggoda seleranya.

 

"Sepertinya tempat ini akan menjadi tempat nongkrong kita Syah, menjadi makanan favorite kita nih hehehe," sahut Fatimah dengan tertawa dia pun sangat menyukai makanan di sana tempatnya pun bagus untuk pastinya pas untuk berfoto.

 

"Lain waktu kita ajak Raya dan yang lainnya ya untuk makan di sana pasti mereka juga ketagihan deh," tukas Aisyah dengan percaya diri.

 

Pak Ujang pun ikut terkekeh dia sendiri pun pernah mencoba makan di sana bersama keluarga Aisyah sendiri, Fatimah pun memainkan ponselnya membalas pesan yang masuk dan tidak lupa dia pun menupload foto yang sedang di dekat kolam ikan di instagram miliknya.

 

Selama perjalanan Aisyah pun melantunkan ayat suci al-quran dengan suara yang pelan sebab dia tidak ingin mengganggu Fatimah yang berada di sampingnya, semakin hari hafalannya semakin bertambah membuat dirinya bersemangat untuk terus mendalami al-quran.

 

Ponsel Aisyah berdering terus menerus menandakan terdapat pesan di sana di saat menghafal Aisyah terlihat pokus dan tidak ingin membuka ponselnya yang mungkin saja itu pesan penting dari seseorang.

 

'Kok Aisyah tidak membuka ponselnya ya? yang terus menerus bunyi pokus sekali tuh anak,' gumam Fatimah dalam hatinya, matanya melirik ke arah Aisyah yang masih pokus menghafal.

 

Tiba-tiba ponsel Fatimah pun berdering dengan sangat nyaring menampilkan ada panggilan suara di sana dari Ilham, membuat tanda tanya dalam diri Fatimah.

 

"Assalamualaikum Fat," seru Ilham dari sebrang sana.

 

"Waalaikumsalam iya Ham ada perlu apa?"

 

"Ada Aisyah?" Ilham tahu bahwa Aisyah sedang bersama Fatimah dari Raya.

 

Fatimah melirik Aisyah yang sedang menatapnya juga, "Ada nih, kamu mau berbicara dengannya?"

 

"Gak perlu Fat, kamu bilang aja ke dia buka pesan darinya gitu ya? ya sudah assalamualaikum."

 

Tutt ... Tutt

 

Sambungan pun terputus secara tiba-tiba membuat dirinya bingung dengan cowok itu dia pun akhirnya memasukan ponsel ke dalam tasnya bersiap-siap karena sebentar lagi akan sampai di rumahnya.

 

"Syah, kamu disuruh buka pesan dari Ilham!" ujar Fatimah dengan tersenyum.

 

Alis Aisyah terangkat sepertinya cowok itu memang sedang membutuhkannya sebab sampai menelpon lewat Fatimah untuknya bisa membaca pesan darinya.

 

Lalu Aisyah pun membuka ponselnya yang memang penuh dengan pesan akhirnya dia memutuskan untuk menaruh al-qurannya di tasnya kembali, ya memang setiap hari Aisyah selalu membawa al-quran berukuran sedang di dalam tasnya.

 

*Ilham

 

"Syah, maaf aku mau minta tolong sesuatu boleh sama kamu?"

 

"Tolong buatkan puisi ya cuma 10 baris kok Syah, please aku minta tolong ya!"

 

Membaca pesan Ilham membuat Aisyah tersenyum yang benar saja cowok itu menyuruhnya untuk menulis puisi, Fatimah menatap pesan Ilham yang tidak sengaja terlihat olehnya.

 

"Udah Syah, bantuin aja kasihan dia," seru Fatimah yang berada di dekatnya.

 

"Tapi kan."

 

"Gak ada tapi-tapian dalam menolong orang yang membutuhkan Syah," sergah Fatimah.

 

Aisyah memang suka menulis syair tapi itu hanya untuk di tulis dalam buku diarynya saja bukan untuk dijadikan tugas sekolah, dia tidak begitu yakin bahwa tulisannya itu bagus makanya dia selalu menolak jika ada yang mengatakan bahwa dia pandai menulis.

 

Akhirnya Aisyah mengangguk setelah berpikir dengan cukup lama, bagus enggaknya itu urusan Ilham yang terpenting dia sudah membantunya untuk mengerjakan tugasnya.

 

"Okey deh Ham, aku akan mengerjakannya tapi jangan bilang jika itu tulisanku."

 

Aisyah pun mengirim balasan kepada Ilham dan kembali pokus kepada akun sosmednya dan melihat kutipan-kutipan motivasi di sana, rumah Fatimah sudah terlihat dari samping.

 

"Syah makasih ya, aku turun di depan saja owh iya kalau udah sampai rumah kabarin aku lagi ya!" ujar Fatimah saat mobil sudah berhenti di depan gerbang rumahnya.

 

Aisyah tersenyum manis kepada Fatimah, "Okey Fat, makasih juga ya sudah menemaniku."

 

Fatimah pun turun dari mobil Aisyah, kini mobil pun kembali berjalan meninggalkan kediaman rumah Fatimah yang masih nampak sepi seperti hanya Fatimah seorang diri yang tinggal di rumah sebesar itu, Aisyah jadi merasa rindu dengan Ayahnya.

 

"Pak, tolong bawa mobil dengan cepat ya! aku sudah rindu dengan Ayah," seru Aisyah kepada Pak Ujang dia sudah tidak sabar ingin sampai rumah.

 

Pak Ujang mengangguk dan menatap Aisyah dari kaca depannya. "Siap non," katanya

 

Mobil pun kembali membelah jalanan kota Jakarta, untuk ke dua kalinya dia melihat senja di sore hari yang tampak begitu cantik dengan jemarinya Aisyah mencoba menghalangi sinar senja tersebut yang begitu menyilaukan pandangannya dan tidak lupa dia pun mengambil gambar dirinya bersama senja.

 

"Bagus," gumamnya saat melihat foto dirinya sendiri.

 

Ya siapa lagi yang akan memujinya selain dirinya sendiri, tidak lama kemudian mobil pun sudah memasuki gang melati dan akan masuk ke gang berikutnya yang mana itu adalah gang rumahnya.

 

"Non, sepertinya Bapak belum pulang deh," ujar Pak Ujang yang melihat tidak ada mobil lain di depan rumahnya Aisyah.

 

Mendengar kabar tersebut Aisyah pun langsung turun dari mobilnya untuk menemui Bundanya yang sudah pasti sedang menunggunya di dalam, akhirnya dia pun memutuskan untuk turun dari mobilnya.

 

"Pak, aku berhenti di sini saja deh nanti jangan lupa mobilnya dimasukan ke dalam ya!" ujar Aisyah sembari membuka pintu mobilnya lalu beranjak keluar dari mobil.

 

"Owh siap non tidak masalah," kata Pak Ujang lalu memasukan mobilnya ke dalam garasi yang terletak di samping rumahnya.

 

Dengan rasa senang hati Aisyah pun membuka pintu rumahnya namun tidak melihat Bundanya di dalam membuat hati Aisyah seketika gelisah, dia pun mencari sosok Bundanya di dapur yang hasilnya tetap saja nihil dia pun kembali mencari Bunda ke kamar yang ternyata kosong tidak ada seseorang pun di sana, akhirnya Aisyah memutuskan untuk menelpon Bundanya.

 

'Duh, Bunda ke mana sih? katanya nungguin aku pulang tapi kok gak ada di rumah?' sesal Aisyah dalam hatinya menunggu panggilannya terhubung dengan ponsel milik Bundanya.

 

Terdengar dering telepon berbunyi Aisyah pun mencari di mana asal suara tersebut yang ternyata ponsel milik Bundanya yang terletak di atas nakas ruang tamu di samping bingkai.

 

"Ada apa non?" tanya Pak Ujang tidak sengaja melihat bosnya mondar-mandir tidak jelas.

 

Aisyah menoleh menatap Pak Ujang yang sedikit mengangetkan, "Duh Pak Ujang," keluh Aisyah. "Pak, kok Bunda tidak ada di rumah ya? aku sudah cari di mana-mana tapi tidak juga melihatnya."

 

"Hehehe si Non mah kaya gak tahu Ibu saja, kan sore ini ada pengajian Ibu-ibu di rumah Bu Maya," seru Pak Ujang dengan terkekeh.

 

"Hah, Pak Ujang aku lupa banget dan kenapa Bunda meninggalkan ponselnya di rumah coba kan biar bisa dihubungin," gerutu Aisyah pada Bundanya yang membuatnya cemas.

 

Pak Ujang hanya terkekeh, "Ya sudah mungkin sebentar lagi juga pulang, Pak Ujang pamit ke belakang dulu ya Non."

 

"Iya Pak, makasih ya," ujar Aisyah sebelum Pak Ujang berlalu pergi.

 

Dia pun akhirnya pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan menunggu ke datangan ke dua orangtuanya, perlahan Aisyah melepaskan hijab yang dia gunakan dan meletakannya di bangku rias lalu meraih handuk di gantungan pakaian dan masuk ke kamar mandi.

 

"Alhamdulillah airnya tidak dingin seperti biasanya," ujar Aisyah dengan riang.

 

***

 

Haris pun kembali dari kantornya diantarkan oleh salah satu asistennya, pekerjaannya telah selesai dengan lancar hari ini membuat dirinya bisa langsung pulang ke rumah.

 

"Pak, apakah kita langsung pulang?" tanya Aji asistennya di kantor.

 

Haris yang memang sudah merindukan keluarganya, "Iya langsung pulang saja istriku sudah menyiapkan makanan untuk nanti malam."

 

"Wah hebat banget ya Pak, istri Bapak sangat pengertian," seru Aji dengan tersenyum mengakui bahwa Adiba selalu menanyakan kabar kepulangan suaminya.

 

"Ya sudah buruan makanya cepet-cepet nikah biar bisa diperhatiin penuh hahaha," ceteluk Haris dengan terkekeh.

 

Perjalanan dari kantor ke rumah memang memakan waktu cukup lama, Haris pun yang merasa kelelahan memutuskan untuk tidur di mobil sedangkan Adiba pulang dari pengajian rutinnya.

 

"Assalamualaikum," ujar Adiba saat membuka pintu rumahnya.

 

Aisyah yang berada di kamar langsung meraih kerudung instan dan berlari keluar kamarnya untuk menghampiri Adiba yang terdengar sudah suaranya.

 

"Waalaikumsalam, Bundaaa!" teriak Aisyah sambil memeluk Bundanya dengan senang lalu dia pun mencium tangan dengan sopan. "Bunda kok pergi tidak bilang ke aku sih, tadi aku panik banget waktu pulang tidak melihat Bunda di rumah." Aisyah menceritakan kekesalannya yang barusan dia rasakan.

 

Dengan lembut Adiba mengusap-usap kepala Aisyah, "Sayang, Bunda minta maaf ya! ya sudah Bunda mau siap-siap dulu ya takut Ayah kamu sebentar lagi pulang."

 

"Ya sudah deh Bun, biar aku bantu ya Bun?" Aisyah yang sudah rapih berniat membantu Bundanya menyiapkan hidangan makan malam bersama Ayahnya.

 

"Okey deh terserah kamu saja." Adiba tersenyum senang mendengar ketulusan anaknya itu.

 

Mereka pun berlalu ke dapur untuk merapihkan hidangan makan malam, Aisyah melihat semuanya sudah siap tinggal dirapihkan dan dibawa ke meja makan, Adiba pergi ke kamar mandi untuk membersikan dirinya lalu menghampiri Aisyah yang sedang bolak-balik membawa makanan ke meja makan, ada rasa senang terhadap diri Adiba melihat sosok anaknya yang mulai tumbuh dewasa.

 

"Bunda semuanya sudah siap," seru Aisyah dengan tersenyum.

 

"Wahh baru ditinggal sebentar, meja makan sudah terlihat penuh saja." Adiba menguji hasil kerja Aisyah yang begitu cepat dan rapih tidak ada bercakan yang tumpah-tumpah. "Ya sudah, sebentar lagi adzan magrib kamu siap-siap buat salat nanti kita kumpul lagi di meja makan."

 

"Siap Bunda." Aisyah memberikan penghormatan kepada Bundanya.

 

Mobil Haris pun sudah sampai di depan rumahnya dia terbangun saat terdengar suara adzan dan akhirnya dia pun menunaikan ibadah di masjid terdekat klakson mobil pun dibunyikan gerbang dibuka oleh Pak Ujang yang melihat kedatangan bosnya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!