Seni Seviyorum Aisyah

Tiket Nonton Dari Hawa

"Nak Raka ngapain masih di sini?" tanya penjual gudang buku yang sudah sangat akrab dengan Raka.

 

Raka tersadar dari dari lamunannya dan tersenyum menatap Paman Bayu sang pemilik gudang buku ini, yang mana dia juga seseorang jurnalis yang aktif dalam media sosial.

 

"Ah Paman, membuatku kaget saja." Raka terkekeh menyadari melamun, "Aku mau nyari buku yang bisa kubaca Paman," katanya dengan tersenyum.

 

Kemudian Paman Bayu pun memberikan Raka buku dari rak belakangnya dan memberikannya kepada Raka, "Nih coba kamu baca yang ini deh!" ujar Paman Bayu menyerahkan buku yang memang sudah dia baca sebelumnya.

 

Raka menatap buku yang ada digenggaman, "Ini seru tidak Paman?" Raka memang tidak suka baca buku dengan alur yang datar dan membosankan bahkan tanpa ada pesan yang dapat dipetik dalam ceritanya.

 

"Seru dong Rak, itu buku yang sudah pernah Paman baca dan banyak sekali pelajaran yang berharga dalam cerita tersebut," ujar Paman Bayu sambil menepuk-nepuk bahu Raka. "Ya sudah Paman pergi dulu ya Rak, jangan lupa dibaca ya bukunya!"

 

Raka mengangguk, "Okey siap Paman, aku akan membacanya!" Dengan tersenyum.

 

Paman Bayu pun berlalu meninggalkan Raka yang masih melihat-lihat buku di sana, dia berniat akan membeli buku lima untuk dibawa pulang dan tentu saja buku yang Paman Bayu berikan itu tidak termasuk dalam pembayaran.

 

"Bagaimana Rak? bukunya sudah ketemu?" tanya Fasya menepuk Raka dari belakang.

 

"Sudah nih barusan dikasih sama Paman Bayu, yuk cari yang lain lagi," ajak Raka dan berlalu meninggalkan Fasya di belakang.

 

Minggu ini Fasya dengan setianya menemani Raka ke gudang Buku dengan syarat Raka akan membantu mengerjakan tugasnya nanti hal itu memang sudah biasa dia lakukan kepada Raka yang sebenarnya Fasya tahu bahwa Raka pasti akan membantunya meski tidak menemaninya ke sini.

 

Ya tempat ini memang asri sangat nyaman untuk tempat baca, Raka pun duduk di salah satu bangku yang sudah disediakan di sana disusul oleh Fasya yang malah mengambil komik karena dia lebih suka komik dibanding novel.

 

"Fasya, lo gak lihat Ilham?" tanya Raka saat tidak melihat kedatangan Ilham.

 

Saat itu mereka bertiga sudah berjanji akan ke gudang buku menemani Raka membeli buku dan akan pergi makan di rumah joglo namun Ilham memilih datang terakhir karena ada urusan dengan seseorang.

 

Fasyah pun terlihat bingung, "Ya gue juga tidak tahu mungkin urusannya belum selesai," katanya asal karena dia sendiri pun belum tahu kebenarannya.

 

"Coba deh lo hubungi takutnya ada sesuatu sama dia!" ujar Raka lalu kembali pokus membaca buku, hari ini dia ingin membaca setengah buku untuk memastikan apakah novel itu menarik atau enggak.

 

Fasya pun beranjak dari duduknya mencoba menghubungi Ilham dia pergi ke depan toko sebab jika dia sampai berisik tentu saja akan menimbulkan masalah di dalam sana.

 

"Ah sial!" umpat Fasya saat sambungannya tidak terhubung.

 

Dia pun kembali mencoba menghubungi Ilham, dengan sabar Fasya menunggu namun tetap saja Ilham tidak bisa dihubungi olehnya akhirnya dia pun kembali masuk ke dalam toko untuk menemui Raka.

 

"Bagaimana apakah dia akan kemari?" tanya Raka yang melihat kedatangan Fasya.

 

Fasya memasang wajah cemberut menimbulkan tanda tanya dalam pikiran Raka yang kini menatap cowok itu sinis sambil menunggu jawabannya.

 

"Tidak bisa dihubungi, mungkin dia lagi berada di jalan sudah tunggu saja dulu!" kata Fasya sembari menyela rambutnya yang tebal dan menyandarkan punggungnya di kursi.

 

"Huhf ya sudahlah, lo kalau mau di luar keluar saja ya gue masih mau baca buku ini sebentar nanti gue nyusul kok," seru Raka kepada Fasya yang memang suka tempat ramai.

 

Fasya menatap Raka sambil menatap sahabatnya itu yang kini mengizinkannya untuk pergi dari tempat yang membosankan, "Ya ampun Rak dari tadi ke lo ngomong gitu, lagian ya Rak gue tuh lebih suka mall dibanding toko buku gini ya sudah gue cabut keluar dulu ya!" ungkap Fasya dengan tersenyum senang.

 

Raka hanya menggelengkan kepalanya melihat kepergian sahabatnya itu dan kembali pokus membaca buku, sudah sejak SMP Raka gemar membaca dan menghabiskan waktunya untuk membaca serta berlatih hadroh bersama teman-temannya.

 

Tidak ada yang tahu tentang kehidupan Raka yang sebenarnya termasuk Ilham yang sangat dekat dengannya, ada luka yang dia sembunyikan dari banyak orang selama ini tiba-tiba ponselnya berdering dengan sangat nyaring menampilkan nama Hawa yang tertera dalam layar ponselnya hal itu sangat mengganggu dengan cepat dia pun keluar dari gudang buku tersebut untuk mengangkat panggilan dari Hawa.

 

"Assalamualaikum Raka," ujar seseorang dari sebrang sana dengan nada senang.

 

Raka menarik napasnya pelan, "Waalaikumsalam, ada apa Hawa?"

 

"Raka, besok ada acara gak?" tanya Hawa dengan gugup, jujur saja dia sangat deg-degan saat berbicara.

 

Tumben nih bocah nanyain itu? apa jangan-jangan Hawa mau mengajakku pergi ke suatu tempat ya? batin Raka terus bertanya-tanya tentang ke mana alur pembicaraan Hawa.

 

"Hemm, sepertinya tidak ada deh Hawa memangnya ada apa?" Jika dugaannya benar mau diajak kemana dia, Raka jadi penasaran.

 

Hawa terdiam, tiba-tiba dia jadi takut untuk mengajak Raka pergi takut cowok itu akan menolaknya, "Aku takut mau ngomongnya Rak heheh," ujar Hawa.

 

"Ngomong aja Hawa, sebenarnya ada apa?" Raka sangat begitu penasaran apa yang akan Hawa bicarakan.

 

"Jadi gini Rak, aku habis beli tiket nonton di bioskop dan lebih satu jadi apakah kamu mau menemani aku menonton?"

 

Hawa menarik napas yang terasa berat dia gak menyangka bahwa dia bisa mengucapkan itu kepada Raka apapun jawabannya dia tidak mau tahu yang terpenting dia sudah mengatakannya kepada cowok itu.

 

Terdiam cukup lama Raka memikirkan tawaran Hawa matang-matang, "Gimana ya? ya sudah boleh deh, jam berapa?" jawab Raka yang merasa jika dia menolaknya maka Hawa akan kecewa dan sakit hati.

 

Demi apa? Raka menerima ajakannya, Hawa pun loncat-loncat di kamarnya dia sangat senang sekali mendengar jawaban Raka, ternyata cowok itu bukan hanya pintar tetapi ramah dan baik hati juga.

 

"Sore habis asar, ngomong-ngomong makasih banyak ya Rak mau menerima ajakanku," ujar Hawa dengan tersenyum-senyum sendiri.

 

Ya dia berharap jawabannya adalah yang terbaik terdengar jelas dari nada suara Hawa yang terdengar senang, "Okey deh, ya sudah aku masih ada urusan."

 

"Owh ya sudah Rak, maaf ya mengganggumu." Hawa pun akhirnya mematikan panggilannya secara sepihak setelah mengatakan kalimat tersebut.

 

Melihat sambungan telah terputus Raka pun terdiam memandang tanaman yang ada di luar, dengan lemah dia terduduk di bangku panjang depan toko tersebut pikirannya kembali terusik oleh tatapan Aisyah saat dirinya membantu cewek itu.

 

"Astagfirullah, apa mungkin Aisyah marah gara-gara aku menyentuhnya?" Raka menepuk jidatnya dengan kesal betapa bodohnya dirinya yang tidak menyadari hal tersebut, sudah pasti cewek itu sangat malu bertemu dengannya.

 

"Sepertinya besok pagi aku harus menemui Aisyah dan meminta maaf kepadanya atas kejadian ini," gumam Raka yang merasa tidak enak hati kepada cewek yang dia kenal selalu menjaga dirinya dan pandangannya dari para laki-laki.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!