Seni Seviyorum Aisyah

Kejadian Tak Terduga

Aisyah dan Raka menoleh menatap Fatimah yang menunjuk Raka karena sedikit kaget melihat cowok itu berada di gudang buku ini, Raka sendiri pun tidak tahu jika mereka berdua berada di tempat ini.

 

"Lah kamu juga ada di sini Fat?" ujar Raka dengan tersenyum simpul.

 

Fatimah menatap Aisyah yang berada di samping Raka, apakah sahabatnya itu tidak memberitahunya bahwa dirinya datang bersamanya sendiri, Aisyah yang paham akan tatapan Fatimah akhirnya menatap Raka.

 

"Iya aku memang ke sini bareng Fatimah," seru Aisyah dengan sedikit gugup.

 

Fatimah pun tersenyum, "Iya bener lagian kamu sedang apa ke sini?"

 

"Yahh aku juga mau beli buku, kenapa sih pada nanya gitu sudah jelas ini gudang buku," sahut Raka yang terdengar kesal.

 

Aisyah dan Fatimah sampai heran mendengar cowok itu mengomel, Aisyah mengerti bahwa Raka merasa kesal karena pertanyaan itu selalu terulang yang jelas pertemuan mereka secara kebetulan.

 

"Ya sudah kita pergi dulu ya Rak," ujar Aisyah sambil membawa Fatimah pergi.

 

Raka mengangguk dan menatap kepergian dua orang perempuan itu, ada rasa aneh dalam hatinya saat mengingat kejadian barusan ada rasa senang dalam hatinya bahkan detak jantungan masih berdebar dengan sangat kencang.

 

Begitu pun dengan Aisyah dia yang entah mengapa hatinya merasa senang dan sedikit malu mengingat kejadian itu namun dia merasa dirinya telah terdonai saat Raka menyentuh tubuhnya dengan mudahnya.

 

"Aahhh!" teriak Aisyah tiba-tiba.

 

Fatimah kaget dan langsung menghentikan langkahnya dan memandang sahabatnya itu. "Ada apa Syah?"

 

Aisyah menutup wajahnya dengan ke dua tangannya, "Duh Fatimah tadi aku sempat mau jatuh gara-gara ngambil buku di rak paling atas tapi tiba-tiba Raka datang dan menopang tubuhku duh Fatimah, aku merasa diriku ternodai oleh sentuhannya!" jelas Aisyah dengan meringis.

 

Fatimah terkekeh mendengarnya, "Aduh Aisyah kok aku gak lihat sih adegan kalian berdua, pasti sweet banget ya?"

 

"Apaan sih kamu Fat, orang aku lagi sedih juga malah nanya gitu," gerutu Aisyah dan meninggalkan Fatimah dengan bunyi kaki yang sengaja di hentakan karena dia sangat merasa kesal.

 

"Yaahhh si Aisyah ngambek lagi, Aisyah maafin aku hey tunggu!" Fatimah pun berlari mengejar Aisyah yang marah kepadanya.

 

Aisyah mengelilingi buku dan mengambil buku kimia dan religi berserta buku islami lainnya yang menceritakan tentang 'selak-beluk islam' dan 'wanita harus tahu ini' dengan cepat dia langsung mengambil lima buku itu lalu berjalan menuju kasir tapi saat di jalan dia kembali bertemu dengan Raka membuat dirinya langsung berhenti dan mundur dua langkah takut akan terjadi benturan antara dirinya dan cowok itu.

 

Raka menoleh menatap Aisyah, "Kamu lagi, belum pulang juga?" ujar Raka saat kembali bertemu dengan Aisyah.

 

Dengan gugup Aisyah pun membalikan tubuhnya dan berjalan begitu saja meninggalkan Raka yang masih diam terpaku menatapnya dengan tanda tanya, ya hal itu Aisyah lakukan karena dia sangat malu pada dirinya sendiri ketika melihat cowok itu apalagi tangannya telah disentuh oleh cowok itu.

 

"Lah kok dia pergi ya? aneh, sepertinya Aisyah malu denganku atas kejadian barusan," tebak Raka mengingat wajah Aisyah yang begitu merah merona.

 

Dengan tergesah-gesah Aisyah berjalan menuju jalan lain agar dirinya tidak bertemu dengan Raka, dan langkahnya kembali berhenti saat melihat Fatimah di depannya.

 

"Syah, aku minta maaf ya!" ujar Fatimah dengan lirih, tangannya menggandeng lengan Aisyah sambil membujuknya agar memaafkan ucapannya itu.

 

Aisyah menghela napasnya pelan saat mendengar permintaa maaf sahabatnya yang malah membuatnya merasa tidak enak hati padahal bukan sepenuhnya kesalahan Fatimah.

 

"Ya sudah, ya sudah yuk buruan pulang!" katanya dan berlalu pergi.

 

Dengan bergegas Fatimah pun mengikuti Aisyah ditangannya kini sudah menggengam satu buah novel roman yang baru saja ditemukan saat mencari Aisyah, mereka pun menuju kasir untuk melakukan transaksi dan berjalan ke luar gudang buku tersebut.

 

"Syah ada apa kok kayanya kamu terburu-buru gitu sih?" tanya Fatimah disela-sela perjalanannya menuju tempat parkiran

 

Aisyah masih terdiam. "Di dalam masih ada Raka aku tidak ingin melihatnya," ujar Aisyah sembari mencari Pak Ujang.

 

Mendengar ucapan Aisyah membuat Fatimah tahu akan sikap sahabatnya yang memang sangat menjaga dirinya dari perbuatan yang tentu saja dilarang agama, Aisyah sangat begitu prustasi mengingat kejadian tadi betapa bodohnya dia yang malah memperhatikan mata indah Raka saat itu.

 

Fatimah menepuk-nepuk bahu Aisyah dengan pelan, "Aku mengerti Syah keadaanmu sekarang tapi kamu gak bisa marah sama Raka karena bagaimana pun dia sudah menolongmu."

 

"Iya aku juga tidak menyalahkannya hanya saja aku trauma melihatnya." Aisyah masih pokus mencari Pak Ujang dirinya sudah tidak sabar untuk pergi dari tempat sini agar dia tidak melihat Raka.

 

Dengan penuh pengertian Fatimah berusaha untuk menenangkan hati Aisyah yang gelisah dan ketakutan tak lama kemudian Pak Ujang pun datang menghampirinya.

 

"Non, sudah mau pulang?" tanya Pak Ujang dengan mulut yang penuh dengan makanan.

 

"Iya Pak, cepetan buka pintunya!" seru Aisyah dengan tidak sabar.

 

Fatimah pun memegangi tubuh Aisyah memberikan ketenangan dalam diri sahabatnya itu, pintu mobil pun akhirnya bisa dibuka dengan cepat Aisyah masuk terlebih dahulu disusul Fatimah sembari menutup pintu mobil.

 

"Kita ke Ramyan ya Pak!" ujar Aisyah memberitahu tempat untuknya akan berhenti.

 

Ramyan adalah restoran makanan dengan ciri khas padang, yang pernah Aisyah kunjungi bersama kedua orangtuanya kali ini dia juga akan ke sana bersama dengan sahabatnya karena perutnya sudah menangis minta untuk segera diisi.

 

Aisyah pun membuka buku yang barusan dia beli dan membaca di mobil, sedangkan Fatimah menyalahkan ponselnya untuk membalas pesan dari Raya dan Reyhan, ponsel Fatimah pun berdering menampilkan vidio call.

 

Lalu Fatimah menggoyangkan lengan Aisyah, "Syah, ada panggilan dari Raya!" serunya dengan antusias.

 

"Hay Fatimah, Aisyah!" teriak Raya dengan tersenyum ceria.

 

Aisyah pun tersenyum melihat Raya yang nampak begitu ceria, "Hay Ray, kamu sudah sehat?" tanyanya.

 

"Alhamdulillah Syah, aku sudah membaik mungkin besok aku bisa pergi sekolah," kata Raya dengan wajah yang begitu senang. "Kalian mau pergi ke mana?"

 

Fatimah mengarahkan lagi kameranya ke arah Aisyah, "Syah kita mau ke mana nih?"

 

Dengan senang Aisyah tersenyum, "Kita mau pergi makan Ray tadi habis dari gudang buku di Asty City tahu kan?"

 

Raya mengangguk karena dia pun pernah ke sana bersama Aisyah, "Kok gak ajak aku sih kalian jahat banget ya jadi sahabat," gerutu Raya dengan wajah yang nampak memelas.

 

Fatimah terkekeh melihat ekspresi Raya, "Ayo Ray cepet sembuh biar kita bisa jalan-jalan lagi!" katanya

 

"Iya Ray, sebentar lagi kan liburan sekolah ayo kita pergi jalan-jalan bersama," seru Aisyah yang ingin menghabiskan waktu liburannya bersama sahabat-sahabatnya juga.

 

"Wahh aku senang sekali Syah, Fatimah akhirnya liburan sekolah sebentar lagi ya! akan ada waktu banyak buat kita bersama," sahutnya dengan begitu ceria.

 

Ya tidak ada waktu yang lebih menyenangkan bagi mereka selain berkumpul bersama apalagi pergi jalan-jalan bersama itu pasti akan lebih menyenangkan bagi mereka, ya liburan sekolah akan datang hal itu sudah pasti ditungu-tunggu oleh semua anak-anak sekolah seperti mereka, Aisyah pun minggu depan akan masuk kelas khusus tahfidz dan itu akan menyita waktunya bersama sahabat-sahabatnya jadi dia berharap liburan sekolah kali ini bisa menghibur dirinya dan melakukan hal yang menyenangkan bersama sahabat-sahabatnya.

 

"Syah apakah masih lama aku sudah lapar banget nih," gerutu Fatimah yang sudah tidak bisa menahan rasa laparnya.

 

Aisyah menoleh manatap ke arah jalanan yang sudah tidak asing lagi dilihatnya ya dia memang suka ke daerah sini bersama Aqila dan keluarganya, lalu dia pun mengalihkan pandangannya ke arah depan menatap Pak Ujang yang sedang pokus menyetir.

 

"Pak Ujang, nanti parkirnya masuk saja ya!" tukas Aisyah, "Fat sabar ya, sebentar lagi sampai kok."

 

Fatimah ikut menoleh memandang jalanan, "Iya Syah tenan saja aku akan sabar kok menunggu."

 

"Ya ampun kasihan banget kalian, sini mampir ke rumah!" seru Raya yang masih setia menemani perjalan mereka.

 

Akhirnya mobil mereka pun telah memasuki tempat makan tertera nama Ramyan di atas sana, tempat itu dihiasi dengan kolam ikan dan banyak tanaman yang menggantung di depan restoran hal itu menambah keindahan tempat tersebut.

 

Fatimah menatap Raya yang kini sedang makan mie di rumahnya, "Hey Ray kok kamu makan mie sih lagi sakit?" tanyanya.

 

Raya langsung menoleh dan terkekeh, "Hehehe aku sudah bilang aku sudah baik-baik saja kok, ya sudah sana kalian makan pada lapar kan?"

 

Maksud Raya dia menyuruh Fatimah untuk mengakhiri sambungannya itu dan pergi makan karena mobil pun telah terparkir di halaman restoran Fatimah dan Aisyah pun turun dari mobilnya.

 

"Syah!" Fatimah menarik tangan Aisyah untuk melihat Raya yang sedang asik makan mie.

 

Aisyah langsung kaget melihatnya, "Ya Allah Ray, kok makan mie sih kamu?"

 

"Sudah biarin saja dia sudah bilang katanya dia sudah sembuh, udah biarin saja Syah," sergah Fatimah dia pun sudah melarang Raya namun cewek itu bersikeras berkata sudah sembuh.

 

"Maaf Syah, Fat, aku gak bisa nahan untuk tidak makan mie, ya sudah sana kalian makan juga!" Raya pun memutuskan sambungannya secara sepihak membuat ke dua sahabatnya itu saling bertatapan.

 

Aisyah mengangkat bahunya, "Emang ya tuh anak susah banget dibilanginnya," gerutu Aisyah dan berlalu pergi untuk masuk ke dalam restoran.

 

"Pak kita masuk ke dalam dulu ya!" seru Fatimah kepada Pak Ujang yang masih duduk di dalam mobil lalu dia pun memasukan ponselnya ke dalam tas.

 

Tiba-tiba ponsel Aisyah berdering dengan sangat nyaring panggilan dari Bundanya yang sudah pasti akan menanyakan tentang kepergiannya yang sudah terlalu lama membuat Bundanya pasti khawatir.

 

"Assalamualaikum Syah," ujar Adiba dari sebrang sana terdengar nada yang begitu sendu di telinga Aisyah.

 

"Waalaikumsalam Bun, ada apa ya?" tanya Aisyah yang sudah menduduki bangkunya di dekat kolam ikan agar dia bisa melihat hewan kecil yang lucu itu.

 

"Kamu lagi di mana sayang? sudah sore loh kok belum pulang? Bunda takut Ayah kamu pulang nyariin kamu nanti," ungkap Adiba yang merasa risau dengan kepergian anak perempuannya itu.

 

Aisyah menoleh menatap Fatimah yang sudah datang lalu duduk di sampingnya, "Hem, Aisyah sama Fatimah sedang mampir di restoran Bun kita lapar jadi kita mau makan dulu," jelas Aisyah.

 

"Ya ampun sayang seharusnya kamu ajak Fatimah saja ke rumah, Bunda sudah memasakan makanan kesukaan kamu loh sama Ayah." Adiba menggelengkan kepalanya mengetahui sikap anak bungsunya itu.

 

Aisyah menyengir menunjukan gigi ratanya, "Maafin Aisyah Bun, aku tidak tahu jika Bunda sudah masak, ya sudah malam kan Ayah pulang nanti kita makan malam bersama di rumah ya," ujar Aisyah memberikan solusi atas masalah yang telah dia perbuat.

 

"Ya sudah ya sudah Bunda tunggu kamu, cepetan pulang Bunda gak ada temen di rumah nih kamu tega sama Bunda?" tanya Adiba kepada anak perempuannya itu yang suka sekali berada di luar meski sudah dilarang-larang.

 

Mendengar ucapan Bundanya membuat Aisyah tersenyum, "Iya Bun sebentar lagi aku akan pulang, ya sudah assalamualaikum Bunda."

 

"Waalaikumsalam sayang," ujar Adiba sebelum panggilan diakhiri oleh Aisyah.

 

Lalu Adiba pun duduk di bangku ruang televisi menunggu kedatangan anaknya dan suaminya yang sudah berjanji akan pulang malam ini, betapa rindunya dirinya kepada suaminya itu yang sudah bekerja keras untuk keluarganya.

 

"Ada apa Syah?" tanya Fatimah setelah melihat Aisyah meletakan kembali ponselnya ke dalam tas.

 

Aisyah menoleh memandang Fatimah, "Biasa Fat, Bunda kesepian di rumah dan katanya Bunda sudah masak buat aku dan sepertinya Bunda sedikit kecewa mendengar aku makan di luar," jelas Aisyah.

 

"Syah, are you okey?" ujar Fatimah menatap wajah sahabatnya itu

 

Fatimah ingin menyakinkan bahwa sahabatnya sudah merasa baik-baik saja setelah kejadian tadi dia sangat khawatir sahabatnya akan terus menyalahkan dirinya atas kejadian tadi yang faktanya itu tidak disengaja.

 

Aisyah terdiam nampak berpikir, "Hemm, iya Fat aku baik-baik saja kok maafin sikap aku ya!"

 

Fatimah mengangguk tersenyum tangannya mencubit pipi Aisyah dengan gemas, "Iiihhh, aku tuh takut banget kamu bakal terus mengingat kejadian itu."

 

"Auww sakit Fat," jerit Aisyah merasakan ngilu di wajahnya, Fatimah pun langsung mengakhiri permainannya karena merasa kasihan kepada sahabatnya, "Fatimah, sebenarnya aku masih sedikit malu untuk kembali dengan Raka besok," keluh Aisyah dengan nelangsa.

 

"Aku tahu Syah, tapi aku rasa itu hal yang tidak disengaja yang tidak mungkin membuatmu ternodai oleh sentuhannya," kata Fatimah dengan tersenyum simpul.

 

Aisyah terdiam sibuk dengan pikirannya sendiri sedangkan Fatimah menunggu makanan akan datang ke mejanya perutnya sudah tidak tahan lagi menahan rasa lapar.

 

"Syah, kamu sudah pesan makanan belum sih?" tanya Fatimah dengan penasaran sebab dari tadi tidak ada satu pun pelayan yang datang memberikannya makanan.

 

Lantaran kaget Aisyah langsung menepuk jidatnya dan tersentak bahwa dia memang belum memesan makanan, Fatimah mengernyit heran melihat Aisyah.

 

"Apakah benar perkataanku Syah?" tanya Fatimah dengan sebelah alisnya yang terangkat.

 

"Ya ampun Fat maafkan aku, aku lupa banget." Aisyah meringis meminta maaf kepada Fatimah atas kesalahannya.

 

Mendengar jawaban Aisyah, Fatimah pun langsung bangkit dari duduk untuk pergi memesan makanan dia tidak habis pikir dengan Aisyah yang sebab masalah ini pikirannya berubah jadi kacau.

 

"Duh, kamu kenapa sih Syah?" Aisyah menenggelamkan wajahnya di ke dua telapak tangannya. "Astagfirullah, sepertinya aku harus banyak-banyak beristigfar deh," gumam Aisyah.

 

Fatimah pun kembali dengan membawa nampan yang berisi nasi padang, diikuti dengan pelayan yang membawa es jeruk ditangannya melihat kedatangan Fatimah, Aisyah pun membantu Fatimah untuk meletakan piring yang dibawanya di atas meja.

 

"Nih makan dulu Syah biar pikiran kamu tenang!" seru Fatimah yang sudah mulai melahap nasi di depannya kini.

 

Dengan tersenyum cewek itu pun akhirnya mau makan karena perutnya tidak bisa dibohongi jika dia memang sangat lapar dan tentu saja agar dia bisa segera pulang ke rumah. Keadaan pun menjadi hening tidak ada satu pun yang bersuara karena ke duanya sama-sama lapar dan Aisyah yang paham akan adab sopan santun yang menjelaskan bahwa jika sedang makan tidak boleh banyak bicara hal itu selalu dia terapkan saat makan.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!