Seni Seviyorum Aisyah
Mulai Ada Rasa
Aisyah terbangun dari tidurnya yang nyenyak karena mendengar ponselnya berdering beberapa kali dengan mata yang masih terpejam dia meraih ponselnya dan membuka matanya sedikit untuk melihat panggilan dari siapa subuh-subuh begini.
"Assalamualaikum."
Terdengar suara dari sebrang sana, terdengar serak dan dapat dikenalinya dengan jelas bahwa itu suara Raka.
"Waalaikumsalam, maaf aku baru bangun," ujar Aisyah lalu bangkit untuk bersandar di punggung kasur.
Aqila masih tidur dengan membelakanginya membuatnya tenang, karena suaranya tidak akan mengganggunya, Aisyah masih bingung kenapa cowok itu tiba-tiba menelponya di jam tiga pagi.
"Maaf aku mengganggumu Syah, aku hanya ingin membangunkanmu agar tidak telat melaksanakan salat subuh," katanya dengan pelan, Aisyah yakin dia pun sepertinya bangun tidur terdengar dari suaranya yang masih serak dan berat.
"Masya Allah Rak, aku kira ada apa tidak biasanya kamu menelpon apalagi pagi-pagi begini membuatku kaget."
Raka tertawa, "Hehehe awalnya aku kira kamu sudah bangun Syah tapi ternyata kamu masih tidur," ledeknya.
"Kamu terlalu menilai diriku dengan baik Rak, biasanya aku bangun jam empat," ujar Aisyah dengan terkekeh.
"Bagaimana tidurmu apakah nyenyak?"
Hah? Aisyah kaget mendengar pertanyaan Raka tiba-tiba rasa kantuknya menghilang begitu saja, dia tersenyum senang, ada apa dengan Raka hari ini? aneh sekali cowok itu batin Aisyah berkata.
"Hemm, alhamdulillah aku tertidur dengan nyenyak tadi malam."
Raka senang mendengarnya, "Alhamdulillah, sekali lagi maaf ya kalau aku mengganggu tidurmu."
"Hemm, tidak masalah Rak, lagi pula harusnya aku berterima kasih, kamu sudah membangunkanku," sahut Aisyah dengan senyum-senyum sendiri.
Raka terdiam merasa bingung apa yang harus dia katakan, "Aisyah."
"Iya," seru Aisyah yang masih setia menunggu Raka untuk kembali bicara.
"Aku pernah lihat kamu menghafal al-quran, di taman belakang sekolah waktu istirahat atau sebelum bel masuk itu hobby atau bagaimana?"
Mendengar pertanyaan Raka membuat Aisyah kaget, ternyata cowok itu diam-diam memperhatikannya sungguh hal itu membuatnya senang namun ada perasaan aneh di dalamnya.
"Hehehe, iya orangtua memang sudah mendidikku sejak kecil dan mengharapkan salah satu anaknya ada yang hafidzoh selain itu aku juga ingin pergi ke Turky," jelas Aisyah merasa bahwa itu perlu dikatakan.
"Owh begitu, Syah di sini sudah adzan aku salat dulu ya kamu juga jangan lupa untuk sholat," ujar Raka
Aisyah menatap jam di ponselnya yang sudah menunjukan pukul 05:00 WIB, "Ya sudah sana salat!"
"Kamu juga jangan lupa salat ya, assalamualaikum." Raka memutuskan sambungannya setelah mengucapakan kalimat manis.
Ah senangnya Aisyah, jantungnya berdebar-debar dengan berirama, jujur ini pertama kalinya Aisyah mengangkat telepon dari cowok, duh rasanya seperti mimpi saja, dia sampe mencubit lengannya untuk memastikan jika ini bukan mimpi.
"Aauww," teriak Aisyah mengaduh kesakitan, dia melirik ke arah Aqila yang masih tertidur pulas.
Aisyah takut jika orangtuanya tahu dia menerima telpon dari cowok, tapi untungnya orangtuanya tidak pernah mengusik urusan pribadinya selain harus menjaga pergaulan terhadap lawan jenis.
Sebelum beranjak dari tempat tidur, Aisyah membangunkan Aqila yang masih terlelap, namun Aqila hanya menggeliat saja membuat Aisyah tidak enak hati untuk terus membangunkannya.
"Aqila, hey bangun kita salat dulu yuk!"
Setelah tidak ada respon Aisyah beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, saat membuka knop pintu terlihat Bundanya yang sedang menuju kamar mandi juga.
"Bunda," panggil Aisyah pelan.
Adiba menoleh menatap anaknya, "Kamu sudah bangun sayang?" tanya Adiba dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Aisyah mengambil air putih sambil menunggu Bundanya berwudhu, tidak lama kemudian Adiba keluar dari kamar mandi dengan tersenyum melihat anaknya yang tidak biasanya sudah bangun duluan sebelum dibangunkan.
"Tumben sayang kamu sudah bangun?" Akhirnya pertanyaan itu berhasil diucapkan.
Mendengar pertanyaan itu Aisyah tersenyum manis, "Kok gitu nanyanya Bun, kan seharusnya bagus dong aku bangun duluan," ujar Aisyah lalu melangkah ke kamar mandi, "Ada perubahan Bun," lanjutnya dengan tersenyum.
"Owh iya iya, " gumam Adiba yang agak aneh melihat anaknya seperti itu apalagi melihatnya tersenyum setelah bangun tidur.
Tidak mau pusing-pusing memikirkan anaknya yang terlihat aneh, lebih seger dari biasanya, dia pun berlalu menuju kamarnya untuk menunaikan ibadah salat subuh, tidak lama setelah kerpegian Adiba pintu kamar mandi pun dibuka oleh Aisyah dia telah selesai mengambil air wudhu, dengan sedikit bergegas dia pun melaksanakan ibadah salat di kamarnya, jika ada Ayahnya pasti dengan berjamaah.
"Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi 'alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”Tidak pernah lupa Aisyah selalu membacakan doa tersebut setelah selesai berdoa.
Bagaimana pun ujian hidup pasti selalu ada sebaik-baiknya seseorang dalam menjaga imannya syetan pun tidak akan tinggal diam untuk menguji iman umat islam dari sudut mana pun, hari ini Aisyah merasa bahwa sang pencipta telah membolak-balik hatinya yang sedang lemah karena tergoda dengan salah satu ciptaannya.
"Ya Allah jika dia memang bukan untukku kumohon jauhkanlah dia namun jika dia memang ditakdirkan untukku dekatkanlah kami."
Entah bagaimana Aisyah sangat merasa bimbang dengan perasaannya, dia tahu betul tidak baik berhubungan dengan laki-laki yang bukan mahromnya tapi dia merasakan bahwa bukan lagi rasa kagum yang dia rasakan terhadap Raka melainkan rasa cinta sesama lawan jenis dan ingin memiliki.
"Semoga aku dijauhkan dari zina, yang sesungguhnya akan menyesatkan diriku sendiri," gumam Aisyah pelan.
Setelah salat Aisyah mulai menghafal dan bermurajaah hafalannya karena tidak lama lagi dia berharap bisa mempunyai hafalan yang banyak meski tidak semuanya dia hafalkan karena dirinya takut tidak bisa istiqomah.
"Aisyah!" seru Aqila pelan memanggil Aisyah yang sedang membaca al-quran, "Kamu tidak membangunkanku?" tanyanya.
Mendengar itu Aisyah menjeda bacaannya, "Sudah aku bangunkan tapi kamu tidak kunjung bangun, aku jadi tidak hati membangunkan, sudah sana ambil air wudhu!"
Aqila bangkit dari tidurnya lalu menggosokan matanya yang terlihat kurang jelas, "Ya sudah aku ke kamar mandi dulu ya," katanya.
Aisyah hanya mengangguk saja karena dia sedang pokus menghafal al-quran, menghafal waktu subuh sangatlah bagus karena kondisi pikiran manusia sedang dalam keadaan bersih, dan belum banyak digunakan atau lebih tepatnya masih segar sehingga hafalan sangat mudah masuk.
"Aisyah!" seru Aqila setelah kembali dari kamar mandi.
Aisyah menoleh menatap Aqila yang sedang berdiri di sampingnya, "Ada apa?" tanya Aisyah dengan lembut.
"Minjem mukenanya Aisyah!" geram Aqila menyadari bahwa Aisyah kurang peka terhadapnya.
"Owh maaf aku lupa La," ujar Aisyah lalu menutup al-qurannya merasa sudah cukup.
Seperti biasa Aisyah melihat tayangan ustad Hanan Attaki di channel youtubenya yang menjelaskan tentang 'Tidak ada kondisi yang sia-sia' entah sejak kapan Aisyah menyukai ceramah dari ustad tersebut, tapi awal dia mengetahuinya ketika Fahri menyuruhnya untuk mendengarkan lantunan beliau, saat membaca surat hal itu membuatnya penasaran dan hampir setiap pagi dia selalu mendengarkan ceramah beliau membuat hatinya menjadi tentram dan damai.
Aqila beranjak naik ke atas kasur setelah menyelesaikan ibadah salatnya membuat getaran pada kasur Aisyah, "Kamu lagi nonton apa Syah?" tanya Aqila dengan penasaran.
Aisyah tersenyum, "Ceramah Ustad Hanan Attaki, nih kamu dengerin deh pasti langsung suka suaranya terngiang-ngiang dan insya Allah akan selalu diingat kata-katanya."
Mendengar ucapan Aisyah membuat Aqila pun penasaran lalu dia mendengarkannya sambil membuka ponselnya takut ada balasan dari orangtuanya maupun seseorang.
"Morning Aqila."
Yang benar saja Ilham dengan sweetnya memberikan ucapan di pagi hari untuknya sepertinya cowok itu sudah bangun saat adzan berkumandang karena Ilham pernah bercerita kepada Aqila dia selalu kaget mendengar adzan sebab rumahnya dekat dengan masjid.
"Morning to Ilham."
Setelah membalas pesan dari Ilham, Aqila pun mengeser layar ponselnya untuk menampilan pesan dari Mamahnya.
"Ya sudah."
Jawaban singkat dan padat dari Mamahnya yang tidak berubah Aqila sangat menghafal sikap Mamahnya itu, dengan gusar dia pun kembali meletakan ponselnya di atas nakas dekat tempat tidur kemudian kembali pokus menyimak ceramah Ustad Hanan Attaki berharap mendapat pencerahan dalam hidupnya.
Aisyah merasa menoleh menatap Aqila yang sudah tertidur lagi, ponselnya masih menyala menampilkan whatsappnya tidak sengaja dia melihat pesan yang paling atas tertera nama Ilham dan Tante Monica Mamahnya Aqila.
"Pasti dia sedang menyembunyikan sesuatu darinya," ujar Aisyah pelan lalu layar ponselnya pun terkunci kembali.
Orangtua Aqila memang sering bertengkar hal itu juga diketahui oleh orangtua Aisyah, karena Papahnya Aqila adalah adik kandung dari Ayahnya Aisyah, Bundanya menyuruh untuk menjaga Aqila agar tidak bersedih melihat pertengkaran ke dua orangtuanya, dengan penuh rasa prihatin Aisyah pun mengusap rambut Aqila yang menutupi wajahnya dan menarik selimut untuk Aqila.
"Sepertinya aku juga mengantuk deh," gumam Aisyah pelan merasa rasa kantuk yang melandanya.
Setelah melaksanakan salat, Raka terdiam di jendela kamarnya memikirkan sikapnya tadi pagi dengan Aisyah, dia sendiri bingung apa yang telah dilakukannya namun itu terjadi karena dorongan dari hatinya yang meminta agar menelpon Aisyah.
"Astagfirullah ada apa dengan dirimu Rak?" gerutu Raka pelan sambil menyisir rambutnya dengan jemari tangannya prustasi.
Tiba-tiba ponselnya pun berdering terdapat panggilan dari kawan satu grup hadrohnya yang sudah pasti akan membahas tentang bermain hadroh, Raka menekan tombol hijau lalu menempelkannya di daun telinga.
"Assalamualaikum Guru," seru seseorang dari sebrang sana.
Raka tidak menanggapi panggilan orang itu kepada dirinya, "Waalaikumsalam, ada apa Ky?" tanya Raka dengan lirih.
"Kok suaranya begitu, apa ada masalah Guru?" tanya Rizky dengan antusias.
Dia selalu bisa memahami keadaan Raka, baik dari sikapnya maupun suaranya seperti sekarang ini.
Raka merasa terusik mendengar cowok itu memanggilnya dengan sebutan 'Guru' akhirnya Raka pun menegurnya.
"Stop manggil gue Guru! Ada apa, pagi-pagi telpon?" ujar Raka mencoba bersikap santai meski suasana hatinya sangat buruk untuk diajak bercanda.
Terdengar suara Rizky yang tertawa, "Iya maaf Rak, awalnya gue mau bahas undangan panggilan hadroh di desa Cimangi, tapi kayanya lo lagi gak bisa diajak ngomong deh."
Raka terdiam apa yang dikatakan Rizky memang benar dia sedang tidak bisa diajak berbicara untuk saat ini, entah mengapa pikirannya menjadi sangat gamang dan galau.
Suara Raka tak terdengar lagi membuat Rizky menegurnya, "Hallo, Raka! jangan ngelamun! masih pagi," teriak Rizky lalu dia berpikir sejenak, "Ya sudah cerita saja sama gue Rak."
"Gue lagi galau Ky," ungkapnya berterus terang.
Rizky kembali terkekeh. "Hahaha, ternyata lo bisa galau juga ya?"
Ingin sekali rasanya Raka menoyor kepala Rizky jika cowok itu berada di dekatnya kini, "Bisalah dikira gue gak punya hati apa."
"Sorry mas Bro, yaudah cerita ajh sama gue, kenapa?" tukas Rizky terdengar heboh sekali.
Raka menarik napasnya dan menghembuskannya dengan perlahan dia pun menutup jendela dan berbaring di atas kasurnya yang empuk dia mulai bercerita kepada Rizky sebab dari kegalauannya kini.
"Ya ampun Rak, lo naksir sama Aisyah?" seru Rizky dengan nada tinggi.
Raka kesal mendengar suara Rizky, membuat moodnya bertambah buruk saja, "Tidak sampai sejauh itu, sudahlah gue mau istirahat dulu, Lo urus ajh jika ada suatu tentang hadroh."
"Ye si Raka, ya sudahlah istirahat saja biar pikiran lo fresh dan inget ya Rak! gue dukung apapun keputusan lo," sahut Rizky dengan antusias kali ini nadanya terdengar serius.
"Assalamualaikum." Raka pun menutup ponselnya dan mencoba untuk kembali tertidur untung saja hari ini dia libur sekolah jadi tugasnya tidak terlalu menumpuk.
Terkadang orang pintar pun akan tergoda dengan paras wanita, bagi laki-laki yang tahu aturan islam dia akan sekuat mungkin untuk menahan gejolak cinta yang tumbuh dalam dirinya dan jika rasa itu sudah tidak bisa ditahan, dia akan langsung melamar wanita pujaan hatinya itulah yang kini sedang Raka pikirkan, begitu banyak wanita yang mendekatinya dan dia pun meresponnya dengan baik tapi tetap saja rasanya beda saat dia bertemu dengan Aisyah yang malah suka menjauhinya dan bersikap cuek kepadanya.
"Allahu akbar," desis Raka lalu memejamkan matanya perlahan.
Hari minggu adalah harinya Aisyah untuk menonton film dan membaca buku-buku yang sudah dia beli dari perpustakaan terdekat tapi waktu Aisyah ingin membaca buku dari perpustakaannya ternyata semua bukunya sudah dia baca membuatnya kesal dan berniat akan membelinya nanti siang.
"Yahh kayanya nanti siang harus pergi ke toko buku deh," ujar Aisyah dengan cemberut.
Adiba menghampiri anaknya yang sedang berdiri menatap koleksi buku-bukunya, "Ada apa sayang?" tanya Adiba sambil mengusap lembut punggung anaknya itu.
"Eh Bunda, ini Bun aku mau baca buku hari ini tapi buku-buku sudah kubaca semua," keluh Aisyah sedikit kecewa oleh kenyataannya.
Adiba tersenyum hangat, "Ya sudah beli lagi saja!"
Mendengar persetujuan Bundanya, Aisyah pun tersenyum senang, "Serius Bun? aku berniat nanti siang ingin ke toko buku, bolehkan?"
"Iya boleh sayang, asal jangan lama-lama ya. Nak!" Adiba ikut tersenyum tidak bisa dia pungkiri bahwa anak bungsunya sangat suka membaca buku bergengre religi berbeda dengan kakaknya yang lebih condong dengan menulis dan membaca buku yang berbau politik dan satra.
"Aqila masih tidur sayang?" tanya Adiba yang menyadari bahwa dirinya belum melihat keponakannya itu pagi ini.
"Lagi mandi Bun," ujar Aisyah dengan tersenyum, matanya masih berbinar-binar dia merasa bahwa kejadian tadi malam akan membuat orangtuanya melarangnya untuk berpergian ternyata tidak, dia mempunyai Bunda yang sangat baik dan berpengertian.
Setelah masakan sudah siap mereka pun berkumpul di meja makan, Aqila pun datang dengan memakai pakaian Aisyah yang sengaja dia pinjam karena pakaian semalan sudah bau.
"Pagi Tante, pagi Aisyah," sapa Aqila dengan tersenyum riang.
Ya itulah Aqila anak yang selalu bisa tersenyum meski dirinya sedang tidak baik-baik saja cewek yang cengeng dipaksa untuk menjadi anak yang kuat dengan segala cobaan yang menimpa orang yang dia sayangi.
"Pagi juga Aqila," sahut Adiba, "Silakan duduk dan makan bersama!" lanjutnya dengan begitu ramah.
Aisyah mengambil nasinya sendiri begitu pun dengan Aqila yang terlihat sangat lapar pagi ini mungkin gara-gara semalam kecapean jadi paginya lapar, Aisyah hanya terkekeh memandang saudarinya itu.
"Aqila, siang aku akan pergi ke toko buku bersama Fatimah apakah kamu mau ikut?" ajak Aisyah disela-sela makannya.
Mendengar ajakan Aisyah yang akan pergi ke tempat yang bukan dia suka membuatnya bingung harus jawab apa tapi untung saja Aisyah langsung berkata lagi.
"Jika tidak mau tidak apa-apa La, aku bisa pergi bersama Fatimah kok," sergah Aisyah yang menyadari bahwa Aqila memang tidak suka dengan tempat yang berbau buku-buku apalagi dia termasuk cewek yang malas membaca.
"Maaf ya Syah, aku harus pulang setelah makan takut Mamah mencariku." Aqila mencoba menolak secara halus agar Aisyah tidak tersinggung dengan penolakan yang dilakukannya.