Seni Seviyorum Aisyah
Baper Dengan Sikapnya
"Syah, kamu jadi datang kan?"
Ilham mengirim pesan kepada Aisyah untuk menanyakan apakah cewek itu akan datang atau tidak? meskipun dia sudah menyuruh Aqila untuk membujuk orangtuanya Aisyah.
Mendapat pesan tersebut Aisyah langsung tersenyum dan membertahukannya kepada Aqila yang duduk di sebelahnya membuat cewek itu ikut tersenyum.
"Bilang saja tidak ikut gitu Syah," ujar Aqila.
Aisyah melotot mendengarnya tentu saja dia menolak ide jelek Aqila yang menyuruhnya berbohong. "Apaan sih kamu La."
Dengan cepat jemari Aisyah telah mengetik kalimat jawaban untuk Ilham, "Sudah lagi di jalan."
Mobil pun berjalan dengan sangat cepat malam ini Jakarta nampak begitu indah saat di malam hari, ya itu asli dari sudut penglihatan Aisyah dan Aqila yang sibuk mengambil gambar dalam ponselnya, lampu-lampu hotel dan gedung itu menyala dengan sangat cantik serayu malam pun masuk dari jendela mobil menerpa kerudung Aisyah dan Aqila.
"Aku hampir tidak pernah loh jalan malam di kota Jakarta ini," ungkap Aisyah dengan berbinar karena dia diberikan kesempatan untuk melihat keindahan kota ini.
Aqila terkekeh mendengarnya, "Lagian sih di rumah terus," ejeknya dengan sarkatis.
Aisyah melirik Aqila dengan tatapan membunuh, saudaranya itu memang anak gaul yang suka nongkrong dan travelling berbeda dengan dirinya yang selalu berada di rumah dan di sekolah saja.
"Non, rumahnya di mana ya?" tanya Pak Ujang yang memang belum pernah ke rumah Ilham.
Aqila pun menoleh manatap jalanan yang gelap membuatnya agak kesusahan menemukan gang rumah Ilham berbeda jika di siang hari, "Terus saja Pak nanti akan aku kasih tahu."
Sedangkan di rumah Ilham sudah ramai sudah banyak sahabat-sahabatnya yang berdatangan ke rumahnya, hadroh pun sudah dimulai sejak lima menit yang lalu.
"Ilham, apakah Aisyah jadi datang?" tanya Mamahnya Ilham.
Mendengar pertanyaan itu Ilham bingung sebab dia sendiri pun tidak tahu keberadaan cewek itu, "Masih di jalan Mah, tenang saja dia akan datang kok."
Mamahnya tersenyum mendengar jawaban Ilham lalu menepuk bahu cowok itu, "Ya sudah Mamah ke dalam dulu ya, mau menyiapkan semuanya kamu juga nanti masuk ke dalam jangan di luar!"
Ilham mengangguk dan tersenyum, "Baik Mah."
Suara deru motor pun terdengar membuat Ilham menoleh siapa yang telah datang dan penasaran siapa di balik helm tersebut, setelah melihat cowok itu melepaskan helmnya Ilham langsung menghampirinya.
"Keren banget motor lo bro!" seru Ilham memuji milik sahabatnya itu.
"Sorry gue telat, btw Aisyah jadi datang tidak?"
"Masih di jalan, lo jangan main-main dengan sahabat gue Rak! awas aja kalau sampai buat cewek itu nangis." Ilham mengetahui sikap Raka yang diam-diam ingin mengambil hati Aisyah yang sudah dia anggap sahabatnya sendiri.
Raka turun dari motornya dan meletakan helmnya di sana, "Tenang saja, gue gak akan macam-macam sama dia," kata Raka dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Halah, gue gak percaya dengan perkataan playboy seperti lo," balas Ilham dengan menepuk bahu cowok itu.
Raka hanya tertawa mendengarnya, seberapa buruknya dia di mata semua orang? mengapa kata playboy masih belum hilang bahkan sahabatnya sendiri mengakui bahwa dirinya playboy.
"Apakah wajahku mirip seperti playboy?" Raka bertanya dengan wajah yang nampak serius.
Ilham terkekeh mendengar pertanyaan bodoh itu, "Hey Raka, lo sebenarnya tidak playboy namun banyak wanita yang tersakiti karena lo tolak namun mereka bilang bahwa sikap lo manis kepadanya, ya suruh siapa lo bermain-main dengan perasaan wanita, hah?"
Raka terdiam seperti tertampar oleh kata-kata Ilham, kini pikirannya memutar memori tentang kejadian dulu dan apa yang sudah dia lakukan apakah Aisyah tahu jika dirinya playboy? jika memang benar otomatis tidak ada harapan baginya.
"Sudah tidak usah dipikirkan! yuk masuk." Ilham merangkul Raka untuk masuk ke dalam rumahnya.
Namun tiba-tiba cahaya terang terlihat Ilham dan Raka berhenti melangkah untuk mengetahui siapa yang ada di dalam mobil tersebut, Raka terkejut saat melihat Aisyah dan Aqila turun dari mobil itu.
"Aisyah!"
"Aqila!"
Entah mengapa cowok itu bisa mengatakan dengan bersamaan membuat Aisyah kaget saat mendengar Raka menyebut namanya, Aqila hanya tertawa mendengarnya Ilham memanggil namanya.
"Assalamualaikum." Aisyah dan Aqila berujar bersamaan
"Waalaikumsalam," jawab Ilham dan Raka pelan.
Raka menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia kaget melihat cewek itu yang barusan saja telah menghantui pikirannya, Mamah Ilham datang menyalamatkan Raka dari rasa malunya karena telah spontan menyebut nama cewek itu
"Ilham, kok gak disuruh masuk temannya?" ujar Mamahnya dengan tersenyum ramah dan manis.
"Eh iya Mah, yuk masuk gays!" Ilham pun berjalan duluan disusul dengan Raka di belakangnya.
"Malam Tante" ujar Aisyah sembari tersenyum dan mencium tangan Mamahnya Ilham dengan sopan.
Aqila malu bertemu dengan Mamahnya Ilham dan ini pertama kalinya dia bertemu sosok Ibu yang telah melahirkan pujaan hatinya, tangannya menggandeng tangan Aisyah karena rasa gugup sedang melandanya.
"Aish, sudah biasa aja La." Aisyah akui keadaan Aqila saat ini tapi dia harus tahu jika Mamahnya Ilham begitu ramah dan baik.
Acara pun di mulai, Aisyah tidak sengaja menoleh ke samping namun tatapannya bertemu dengan ke dua bola mata Raka dengan cepat dia pun kembali mengalihkan pandangannya itu, rasa deg-degan dan malu dia rasakan secara bersamaan.
"Duhh kenapa aku jadi begini sih, lagian Raka kenapa bisa menoleh ke arahku juga sih? duh cowok itu semakin membuatku melemah," gumam Aisyah dalam hati kecilnya.
Tidak lama kemudian pengajian pun selesai, Pak Ujang sudah pulang duluan atas suruhan Aqila yang akan menjamin bahwa Aisyah akan pulang bersamanya dengan cepat, meski lama Pak Ujang menyetujuinya pada akhirnya Pak Ujang pun mau menuruti perintah dari anak saudara bosnya itu.
"Aqila, Aisyah kalian pulang di jemput apa naik taksi?"
Aisyah diam dan menyenggol lengan Aqila, karena dia sendiri pun masih belum tahu apa yang akan Aqila pilih untuk kendaraan pulangnya.
Aqila tersenyum, "Kami belum tahu Tante, mungkin naik taksi."
Ilham menatap Aqila dari jarak jauh lalu tersenyum saat cewek itu melihatnya juga, mendengar jawaban itu Mamahnya Ilham jadi tidak tega jika cewek itu pulang hanya berdua apalagi ke duanya cewek itu sangat bahaya.
"Duh, kok naik taksi malam-malam? sangat bahaya loh di luar sana apalagi kalian cewek," ujar Mamahnya Ilham dengan nelangsa menatap ke duanya.
Aqila lupa jika sekarang dia sedang di kota Jakarta, "Iya Tante, Syah kamu telepon Pak Ujang deh buat jemput," seru Aqila.
Ilham mendengarkan percakapan mereka lalu bangkit dari duduknya mengampiri mereka. "Mah biar aku saja yang menghantarkan mereka," katanya tiba-tiba
"Kamu yang benar saja, kan mereka berdua masa satu motor bertiga?" Mamahnya menatap anaknya itu dengan heran.
Lalu Ilham pun melirik teman-teman cowoknya yang hadir dalam acara, begitu matanya bertemu dengan Raka dia langsung melambaikan tangannya kepada cowok itu.
"Aku sama Raka Mah yang akan antar mereka pulang," serunya dengan tersenyum.
Aisyah kaget mendengarnya yang benar saja bagaimana jika Bundanya tahu bahwa dia pulang bersama laki-laki sudah pasti dia akan kena omel dan melanggar aturan Ayahnya.
"Aku tidak bisa Ilham, kami pulang naik taksi saja Mah," sergah Aisyah dengan rasa gamang.
Aqila jadi serba salah namun dia akan mengikuti kemauan Aisyah, "Iya Mah kita akan baik-baik saja kok."
Ilham paham mengapa Aisyah menolaknya, "Begini saja, kalian naik taksi aku dan Raka akan mengikuti kalian dari belakang untuk menjaga takutnya terjadi sesuatu, Syah aku gak mau disalahkan oleh Bunda kamu jika sesuatu telah terjadi."
Mendengar itu Raka pun tersenyum ide Ilham cukup bagus dan bisa dia setujui, "Iya seperti itu saja, kita paham kok jika kalian tidak bisa dibonceng oleh laki-laki jadi itulah jalan pintasnya."
Mamahnya Ilham tersenyum mendengar solusi dari masalah kecil yang terjadi, "Ya sudah, gak apa-apa ya sayang seperti itu?"
Aisyah dan Aqila akhirnya menyetujuinya meski sedikit bingung, "Baik Tante tidak masalah," kata Aisyah tersenyum kaku.
"Nih bawa pulang untuk di rumah jangan lupa sampaikan salam untuk Bunda kamu ya, Nak." Mamahnya Ilham memberikan bingkisan kepada Aisyah dan Aqila sebagai tanda terima kasih karena telah hadir.
"Nak Aisyah makasih ya sudah datang ke rumah Tante, Aqila juga Tante ucapkan terima kasih banyak ya, kalian hati-hati di jalan ya Nak!"
Setelah bersalaman mereka pun akhirnya pulang bersama, jujur di saat itu Aisyah sangat merasa tidak enak hati kepada ke dua cowok yang sudah mengikutinya di belakang taksi.
"Aqila, ini gara-gara kamu yang nyuruh Pak Ujang pulang," gerutu Aisyah.
Aqila memelas merasa bersalah, "Maaf, aku lupa jika ini di kota Jakarta jadi aku kira naik taksi lebih enak dari pada naik mobil bareng Pak Ujang."
Aisyah menoleh menatap Raka dan Ilham dari kaca mobil dia berharap cowok itu ikhlas menolongnya dan perlu diketahui bahwa Raka menjadi sangat idaman di hatinya saat ini.