Sebelum Kau Pergi Lagi
SEBUAH JANJI
“Sudah selesai?” tanya Rio, suaranya tenang.
“Sudah. Kenapa kamu masih di sini?” Kinan bertanya, ada sedikit nada kesal dalam suaranya.
“Aku sudah bilang akan menunggumu.” Rio membuka pintu mobil untuk Kinan.
Kinan ragu sejenak, lalu masuk. Rio menyusul, menyalakan mesin mobil.
“Sepertinya kamu tidak main-main dengan semua kewajiban suami-istri ini ya,” Kinan akhirnya bersuara, memecah keheningan.
Rio meliriknya. “Aku memang tidak pernah main-main. Bahkan dengan janji sekecil apa pun.” Matanya kembali fokus ke jalan. “Aku akan pastikan modal kafemu segera cair. Kamu bisa mulai renovasi kapan saja kamu mau.”
Kinan terdiam. Rio memang memegang perkataannya. Ia tidak bisa menyangkal itu. Hanya saja, di balik segala profesionalisme dan tanggung jawab ini, ia merasakan sebersit rasa penasaran. Siapa sebenarnya Rio Basupati ini?
Setibanya di rumah, Kinan langsung menuju kamarnya. Ia lelah. Rio membereskan barang-barangnya ke kamar yang tadi ditunjukkan Kinan.
Malam itu, mereka makan malam di luar. Rio yang memilih tempatnya. Sebuah restoran seafood di tepi pantai. Kinan merasa sedikit aneh. Mereka tidak bertingkah seperti pasangan suami-istri, tapi juga tidak seperti orang asing. Mereka berbicara tentang hal-hal umum, tentang proyek film Rio, tentang rencana Kinan untuk kafenya. Rio mendengarkan Kinan dengan saksama, sesekali mengajukan pertanyaan cerdas.
“Bagaimana dengan risetmu untuk film itu?” tanya Kinan.
“Sudah hampir selesai. Tapi ada beberapa hal yang harus aku pastikan lagi. Aku mungkin akan mengunjungi beberapa perkebunan kopi lagi.”
“Kalau butuh teman, aku bisa menemanimu.” Kinan menawarkan, tanpa berpikir panjang. Ia menyadari ucapannya setelah itu. Kenapa ia menawarkan diri?
Rio tersenyum. Senyum tulus yang jarang Kinan lihat. “Terima kasih. Aku akan sangat senang jika kamu mau menemaniku.”
Malam itu berakhir dengan suasana yang sedikit lebih cair. Kinan tidak lagi merasa terlalu canggung di dekat Rio. Ia mulai terbiasa dengan kehadirannya. Bahkan, ia merasa sedikit… nyaman.
Saat mereka kembali ke rumah, sudah hampir pukul sepuluh malam. Kinan langsung menuju kamarnya. Rio juga masuk ke kamarnya.
Pagi berikutnya, Kinan terbangun lebih awal. Ia mendengar suara dari dapur. Rio. Lelaki itu sedang membuat kopi. Kinan menghampirinya.
“Kamu sudah bangun?” Rio menoleh.
“Iya.”
“Kopi?” Rio menyodorkan secangkir kopi hitam.
“Americano?” Kinan bertanya.
“Tebakan yang tepat.” Rio tersenyum.
Mereka duduk di meja makan sederhana Kinan. Diam, menikmati kopi masing-masing.
“Hari ini ada jadwal syuting?” tanya Kinan memecah keheningan.
“Tidak. Hari ini aku ada meeting dengan tim casting.”
“Oh.”
Suasana kembali hening. Kinan melihat Rio yang tampak berpikir. Ada sesuatu yang ingin ia katakan.
“Kinan,” Rio akhirnya bersuara. “Aku sudah bicara dengan bank soal modal kafemu. Dana akan cair dalam beberapa hari ke depan. Misye akan membantumu mengurus renovasinya.”
Kinan menatap Rio, terkejut. Rio bergerak begitu cepat. “Terima kasih.”
“Sama-sama. Itu janjiku.”
Perlahan, hari-hari mereka berlalu. Rio mulai rutin tinggal di rumah Kinan. Ia akan pergi pagi dan pulang malam, terkadang tidak pulang sama sekali jika ada urusan di Jakarta. Kinan sibuk dengan kafenya, berkoordinasi dengan Misye untuk renovasi.
Suasana rumah Kinan perlahan berubah. Ada sentuhan Rio di sana. Beberapa buku-buku berat Rio mengisi rak kosong di ruang tamu. Peralatan gym kecil di sudut kamar gudang. Meskipun mereka jarang berinteraksi intens, kehadiran Rio terasa.
Suatu sore, Kinan menemukan Rio di dapur. Rio sedang mencoba membuat sesuatu.
“Apa yang kamu lakukan?” Kinan bertanya.
“Aku mencoba membuat omelette. Tapi sepertinya aku tidak berbakat.” Rio tertawa kecil. Tawa yang jarang Kinan dengar.
Kinan mendekat, melihat omelette Rio yang bentuknya… aneh. Ia tersenyum. “Sini, biar aku ajari.”
Kinan mengambil alih wajan, dengan cekatan membuat omelette yang sempurna. Rio mengamati setiap gerakannya. Ada sesuatu yang menarik dari Kinan saat ia di dapur, aura profesionalisme dan gairah yang terpancar jelas.
“Ini. Coba.” Kinan menyodorkan piring berisi omelette buatannya.
Rio mencicipinya. “Enak sekali. Jauh berbeda dari punyaku.”
“Itu karena kamu tidak punya perasaan saat membuatnya,” Kinan bergurau.
Rio terdiam sejenak. “Mungkin.” Ia menatap Kinan. Tatapan yang kali ini terasa lebih dalam, bukan sekadar datar atau misterius.
Sejak itu, sesekali Rio akan mencoba memasak di dapur, dan Kinan akan mengajarinya. Momen-momen kecil ini mulai menciptakan jembatan di antara mereka, sedikit demi sedikit mengikis tembok yang selama ini mereka bangun. Mereka mulai berbagi cerita ringan, bukan hanya tentang pekerjaan, tapi juga tentang hobi, buku, atau film.
Rio mulai memahami mengapa Kinan begitu mencintai kafenya. Ia melihat dedikasi Kinan, kegigihannya membangun Dejavu dari nol. Di sisi lain, Kinan mulai melihat Rio bukan hanya sebagai sutradara kondang yang dingin dan terkesan seenaknya, tetapi sebagai pria yang punya sisi tanggung jawab, pekerja keras, dan ternyata… tidak terlalu buruk dalam urusan rumah tangga, meski canggung.
Suatu malam, Rio pulang larut malam. Ia melihat lampu dapur masih menyala. Kinan ada di sana, sedang meracik dessert sambil mendengarkan musik.
“Belum tidur?” Rio bertanya, suaranya serak.
Kinan terlonjak. “Rio? Kamu sudah pulang?”
“Baru saja.” Rio melangkah mendekat. Ia melihat dessert yang Kinan buat. Sebuah kue tart dengan topping buah-buahan yang berwarna-warni. “Itu terlihat enak.”
“Mau coba?”
Rio mengangguk. Kinan memotong sepotong kecil dan menyodorkannya. Rio mencicipi. Matanya membulat.
“Ini… luar biasa, Kinan.”
Kinan tersenyum. “Terima kasih.”
“Kamu punya bakat luar biasa.” Rio menatapnya, ada kekaguman yang jelas di matanya.
Kinan merasakan pipinya memanas. Pujian dari Rio terasa berbeda dari pujian lainnya.
“Bagaimana meetingmu hari ini?” Kinan mencoba mengalihkan topik.
Rio menghela napas. “Cukup melelahkan. Ada sedikit masalah dengan lokasi syuting di Jakarta.”
“Semoga cepat beres.”
Mereka berbincang santai selama beberapa menit, sebelum Kinan menyadari Rio tampak sangat lelah.
“Kamu harus istirahat,” Kinan berkata. “Aku akan membereskan ini.”
Rio mengangguk. “Terima kasih, Kinan.” Rio berbalik, melangkah ke kamarnya.
Kinan membereskan dapur, tapi pikirannya melayang pada Rio. Ia mulai menyadari sesuatu. Kehadiran Rio di rumahnya, meski awalnya terasa mengganggu, kini mulai terasa… wajar. Bahkan sedikit menenangkan. Ada rasa aman yang tak terucapkan. Dan ia, yang selama ini hanya mengandalkan dirinya sendiri, kini merasakan ada seseorang yang berbagi atap dengannya.
Pada hari ketujuh Rio tinggal di rumah Kinan, sebuah surat datang dari bank. Modal untuk renovasi kafe Kinan telah cair. Angka yang tertera di rekening Kinan membuat matanya membulat. Jumlah itu jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Rio benar-benar serius dengan janjinya.
Kinan segera menelepon Misye. Mereka membuat janji untuk membahas renovasi kafe secara detail. Rio yang mendengar percakapan itu dari ruang keluarga hanya tersenyum tipis. Janji adalah janji. Dan ia senang bisa menepatinya.
***