Sebelum Kau Pergi Lagi
TERIMA KASIH MAU MENIKAH DENGANKU
Kinan mendekat bingung. Lelaki itu mendengar langkahnya, tapi tidak langsung menoleh.
“Kamu sudah ketemu Mak Monit?” tanya Rio, matanya tetap menatap langit Bandar Lampung.
“Sudah,” jawab Kinan. “Mak minta kamu turun. Dia mau pamit.”
Rio mengangguk. “Oke. Sepuluh menit.”
Kinan mengangguk, hendak kembali masuk ketika suara Rio memanggilnya.
“Kinan.”
Kinan menoleh.
Kini, Rio sudah mematikan rokoknya, menaruh puntungnya di asbak kecil di meja balkon. Dia menatap Kinan lama, seakan ingin memastikan sesuatu.
“Apa kamu marah?” tanya Rio pelan.
Kinan mengerutkan dahi. “Marah?”
“Karena semalam aku pergi.”
Kinan menghela napas. “Rio, kita sudah sepakat. Kita ini menikah karena kebutuhanmu dan karena aku butuh modal. Kita bukan pasangan yang harus menuntut atau marah-marah.”
“Tapi tetap saja,” balas Rio, sorot matanya tajam. “Aku suami kamu.”
“Dan kamu pergi bukan urusan besarku,” jawab Kinan tegas. “Aku Cuma kaget.”
Rio menatap Kinan lebih lama, seakan membaca sesuatu dalam raut wajahnya. “Kalau kamu keberatan, kamu bisa bilang. Kita masih bisa mengatur ulang ...”
“Aku tidak keberatan.”
Rio menggeleng pelan, seperti tidak percaya. “Kamu selalu bilang tidak apa-apa. Tapi wajah kamu selalu berkata lain.”
Perut Kinan seperti ditarik ke bawah. Ada sesuatu dalam suara Rio. Halus, namun menyentuh.
“Aku Cuma masih belum tahu harus berbuat apa,” jawab Kinan akhirnya. “Ini semua baru buat aku.”
“Aku juga,” balas Rio jujur.
Keheningan turun untuk beberapa detik. Lalu Rio berjalan masuk, mengambil jaketnya.
“Ayo. Kita turun.”
“Kamu yakin mau tinggal di rumahku?” Kinan berbalik, matanya memicing. Rumahnya kecil, hanya cukup untuk dirinya sendiri. Rio adalah sutradara kondang, dengan gaya hidup yang jelas jauh berbeda.
“Kenapa tidak? Aku hanya butuh tempat untuk tidur dan sesekali bekerja. Lagi pula, aku tidak akan lama-lama di sana. Aku akan sering ke lokasi syuting atau ke Jakarta.” Rio melipat tangannya di dada, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang membuat Kinan merasa sedikit kesal. Rio tampak terlalu santai menghadapi semua ini, seolah pernikahan mereka hanyalah proyek lain yang harus diselesaikan.
“Terserah kamu saja kalau begitu,” Kinan menyerah. Ia tahu percuma berdebat dengan Rio yang punya tekad sekuat baja. “Aku mandi dulu.”
Kinan buru-buru masuk ke kamar mandi, meninggalkan Rio sendirian di kamar. Air dingin yang menyiram tubuhnya tidak mampu meredakan gejolak pikiran Kinan. Ia membiarkan air mengalir, membasahi rambutnya, mencoba membersihkan segala kekalutan di benaknya. Pernikahan ini. Rio. Status ini. Semuanya terasa begitu asing dan mendadak. Ia bertanya-tanya, apakah ia benar-benar melakukan hal yang benar? Modal untuk kafe adalah impiannya, tapi apakah harganya semahal ini?
Sementara itu, di luar kamar mandi, Rio duduk di tepi ranjang. Ia meraih ponselnya, mengetik pesan singkat kepada asistennya, Raka.
Rio: Bereskan semua keperluanku. Hari ini aku pindah ke rumah Kinan di Bandar Lampung.
Raka: Astaga, Bos! Serius? Anda yakin? Oke, siap. Saya akan siapkan semuanya. Tapi, apakah itu ide yang bagus?
Rio tidak membalas lagi. Ia menghela napas. Bukan ide yang bagus, mungkin. Tapi ia harus melakukannya. Demi ibunya. Dan entah kenapa, demi dirinya sendiri. Kinan adalah pilihan yang tepat. Logis, mandiri, tidak merepotkan. Setidaknya itu yang ia lihat dari Kinan sejauh ini. Perempuan yang tidak akan mengharapkan cinta darinya. Justru itu yang Rio butuhkan.
Setengah jam kemudian, Kinan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit rambut dan tubuhnya. Rio sudah rapi, mengenakan kaus polo berwarna gelap dan celana chino. Ia sedang memeriksa sesuatu di laptopnya.
“Sudah siap?” tanya Rio tanpa menoleh.
“Iya.” Kinan buru-buru memakai pakaiannya. Sebuah celana jeans dan kaus longgar, pakaian kasual yang menjadi ciri khasnya di luar jam kerja kafe.
Mereka tiba di lantai 3. Mak Monit sudah menunggu di luar kamar, berdiri dengan tas kecil di tangannya. Begitu melihat Rio dan Kinan, senyum lebarnya mengembang.
“Rio, kamu ini ya … anaknya bikin orang tua deg-degan terus,” celetuk Mak Monit sambil memukul lengan Rio pelan.
Rio mencium tangan ibunya, lalu memeluk Mak Monit sebentar. “Maaf, Mak.”
“Kamu jangan minta maaf sama saya. Minta maaf sama istri kamu tuh,” ucap Mak Monit sambil mengarahkan dagunya ke Kinan.
Kinan hampir tersedak udara. Rio hanya mendengus pendek.
“Ayo Mak, aku antar sampai lobby.”
“Mak bisa turun sendiri,” tolak Mak Monit.
“Enggak usah. Kita antar.”
Akhirnya mereka bertiga turun bersama. Saat sampai di lobby, Mak Monit menoleh ke Kinan.
“Kinan…”
“Iya Mak?”
“Kamu memang kelihatannya pendiam. Tapi mak lihat kamu perempuan kuat.” Mak Monit menyentuh pundaknya. “Rio itu keras kepala. Tapi kalau dia sudah sayang, dia akan mati-matian menjaga.”
Kinan menelan ludah. “Mak…”
“Jangan takut sama pernikahan ini. Takdir itu suka jahil. Kadang kita dikasih sesuatu yang terlihat salah, tapi di akhir ternyata benar.”
Rio memalingkan wajah, seakan ucapan ibunya terlalu telak.
Setelah pamit, Mak Monit masuk ke mobil keluarga. Mobil itu perlahan menjauh, menyisakan Rio dan Kinan berdiri berdampingan di depan hotel.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, hening itu terasa. Tidak canggung. Justru seperti dua orang yang sedang mencoba memahami keberadaan satu sama lain.
“Aku mau ke kafe,” ujar Kinan akhirnya.
“Aku ikut.”
Kinan menoleh. “Kamu?”
“Kenapa?” Rio mengangkat alis. “Aku suamimu. Masa aku nggak boleh ikut lihat tempat kerja istri sendiri?”
“Rio…”
“Aku janji nggak ganggu. Cuma mau lihat.”
Kinan ragu. Tapi melihat sorot itu—yang lebih lembut dari biasanya—dia akhirnya mengangguk.
“Baiklah.”
Rio membuka pintu mobil untuknya. Kinan masuk, duduk, memasang sabuk. Rio menutup pintu dan memutar ke sisi pengemudi.
Saat mesin menyala, Kinan memandang keluar jendela. Jalanan tampak biasa saja. Namun hidupnya tidak lagi sama.
Tidak ada cinta. Tidak ada rencana. Tidak ada janji manis.
Tapi ada Rio.
Dan entah kenapa … justru itu yang membuat hati Kinan terasa paling rumit.
Mobil melaju melewati jalanan kota. Sesekali Rio melirik Kinan yang duduk tenang, memandangi trotoar dan toko-toko yang mereka lewati.
“Kinan.”
“Hm?”
“Terima kasih,” ucap Rio tiba-tiba.
“Untuk apa?”
“Untuk menikah denganku.”
Kinan menatapnya. Sejenak, Rio seperti bukan sosok dingin yang dikenal publik. Ada kejujuran yang jarang muncul di wajahnya.
“Nggak usah terima kasih,” ujar Kinan pelan. “Kita sama-sama butuh.”
Rio terkekeh lirih. “Benar juga.”
“Tapi…” Kinan menarik napas. “Semoga kita nggak saling menyusahkan.”
Rio meliriknya lama.
“Kamu nggak akan pernah menyusahkanku,” jawab Rio mantap. “Yang bikin susah itu aku.”
Kali ini, Kinan tertawa kecil. Rio ikut tersenyum.
Untuk sesaat, semuanya terasa tidak serumit sebelumnya.
Dan mungkin—meski sangat samar—di antara jeda napas, mereka berdua mulai menyadari bahwa pernikahan tanpa cinta bukan berarti pernikahan tanpa kemungkinan.
***