Sebelum Kau Pergi Lagi

Panggil Aku Mak Monit

“Tunggu,” Kinan meletakkan kembali koper besar dan tas tangan yang sedang dipegangnya. “Semalam kamu ke mana?”

Rio terpaku. Tangannya yang sudah memegang gagang pintu seketika terhenti dan melayang di udara. Tadi malam dia memang meninggalkan Kinan sendirian di kamar pengantin mereka.

“Sudahlah,” lanjut Kinan. “Itu nggak penting. Ada masalah lain yang tadi aku lupakan. Ibu kamu. Bukankah dia juga menginap di sini? Kalau kita pulang sekarang, apa yang harus aku katakan ke ibumu?”

“Astaga...” Rio menepuk jidatnya. “Aku lupa kalau Mak Monit masih di sini. Oh ya, kamu harus terbiasa memanggil dia dengan nama Mak Monit. Itu panggilan kesukaannya. Menurut kamu, aku harus gimana?”

“Sialan. Harusnya dalam kontrak kita, aku menambahkan klausul jangan minta pendapat atau melibatkan aku dalam urusan kamu. Bikin pusing aja.”

“Loh, kan kita suami istri.” Rio menggoda Kinan dengan menaikturunkan alisnya.

“KONTRAK. Ingat itu baik-baik.” Kinan terduduk. Menjatuhkan tubuhnya di ranjang king size yang seharusnya menjadi ranjang pengantin mereka. Jemari tangan kanan Kinan memijit pelan pelipisnya. Baru tiga puluh jam Kinan menyandang status sebagai istri, mengapa kerumitan demi kerumitan sudah mulai manampakkan diri?

Ketika menyetujui pernikahan kontrak ini, Kinanti lupa bahwa dia hidup di tempat yang menganut paham kalau menikah itu artinya menyatukan dua keluarga besar. Bukan sekadar dua individu. Meski kedua orangtunya sudah meninggal, masih ada uwa, om, tante, dan kerabat lain yang merasa “berhak” mengatur hidup Kinanti.

Pun begitu dengan Rio. Tumbuh dan besar di Jakarta, tidak bisa menarikan keberadaan keluarganya. Apalagi Rio masih memiliki seorang ibu. Pernikahan kontrak yang mereka sepakati hanya memiliki arti di antara mereka berdua saja. Tidak berlaku di hadapan dua keluarga besar mereka.

Baru kemarin lusa Kinan bertemu dengan Mak Monit. Dua perempuan yang menjadi bagian hidup Rio itu hanya bertegur sapa alakadarnya. Belum ada kesempatan untuk berbincang panjang.

“Aku berubah pikiran. Aku nggak jadi pulang,” cetus Kinan.

“Kamu mau kita menghabiskan waktu di sini?”

“Nggak. Aku memang nggak pulang. Tapi bukan berarti aku mau sama kamu di sini. Aku mau ngobrol sama Mak Monit.”

“Terus, aku ngapain?”

“Terserah kamu.”

Kinan membuka tas tangannya. Mengambil gawai, lalu menyimpan kembali tas itu di atas meja rias. Langkah kakinya ringan menuju pintu, lalu keluar tanpa mengindahkan kehadiran Rio.

Sementara itu, Rio menatap punggung Kinan yang menghilang dari padangannya dalam lima belas detik. Rio merebahkan tubuhnya di ranjang. Menatap langit-langit kamar tanpa tahu apa yang sedang dicari.

Kinan keluar dari kamarnya, berbelok ke arah kanan, tempat lift berada. Keluarga Rio dan keluarga Kinan ada di lantai 3. Sedangkan kamar presiden suite yang ditempati Kinan dan terletak di lantai 7. Lantai teratas di mana saat membuka balkon, akan terlihat keindahan kota Bandar Lampung. 

Kinan sampai di kamar 307. Jemari tangan kanannya mengetuk pelan pintu tersebut. Jantungnya berdegup lebih cepat.

Pintu kamar 307 terbuka perlahan. Dari balik celah, muncul wajah Mak Monit, masih mengenakan daster bermotif bunga-bunga yang sejak semalam tidak berganti. Rambut perak yang diikat seadanya tampak kusut, namun mata tuanya langsung berbinar ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.

“Kinan … ayo masuk, Nak,” ucap Mak Monit lembut, membuka pintu lebih lebar.

Kinan membungkuk sedikit. “Maaf Mak, mengganggu pagi-pagi begini.”

“Tidak mengganggu. Masuk, masuk.” Mak Monit menarik tangan Kinan, mengajaknya duduk di sofa kecil dekat jendela. “Rio ke mana?”

“Nggak tahu, Mak. Tadi dia bilang mau menyelesaikan sesuatu,” jawab Kinan berbohong.

Mak Monit mengangguk pelan, seperti sudah menduga. “Itu anak … sejak kecil selalu begitu. Kalau kepalanya lagi penuh, semua hal dia tinggalkan.”

Kinan tersenyum hambar.

Sesaat, keheningan menggantung di antara mereka. Hanya ada suara AC dan deru samar kendaraan dari luar hotel. Hati Kinan berdebar. Dia tidak pernah benar-benar berdua saja dengan Mak Monit sebelumnya. Kemarin, saat resepsi, percakapan mereka hanya sebatas ucapan selamat dan senyum sekilas. Kini, entah kenapa, dada Kinan terasa sesak oleh canggung yang muncul entah dari mana.

“Kamu tidur nyenyak semalam, Nak?” tanya Mak Monit akhirnya. Nada suaranya tulus, penuh hangat.

“Lumayan, Mak.”

Mak Monit mengangguk, tapi tatapannya mengamati raut wajah Kinan. “Rio nggak bikin kamu sedih, kan?”

Pertanyaan itu menghentikan napas Kinan sekejap.

Rio memang tidak menyakitinya. Tidak juga membuatnya bahagia. Hanya membuat segalanya terasa kabur.

“Nggak kok, Mak,” jawab Kinan pelan.

Mak Monit mencondongkan tubuh, menggenggam kedua tangan Kinan. Kulitnya hangat, meski penuh keriput. “Nak, saya ini orang tua. Meski kamu sama Rio belum saling kenal lama, saya tahu dari cara dia melihat kamu. Kamu itu penting.”

Pipi Kinan terasa panas. “Mak, saya dan Rio … pernikahan kami…”

“Tidak apa-apa, Kinan,” potong Mak Monit lembut. “Saya tidak akan memaksa kamu cerita. Yang penting sekarang, kamu tahu kalau mulai hari ini, kamu bukan hidup sendiri lagi.”

Ada ketukan kecil di hati Kinan. Hangat dan menyakitkan.

Kalimat Mak Monit terdengar sederhana, namun justru mampu membuat Kinan teringat betapa sunyinya hidup setelah kedua orang tuanya meninggal. Dia membiasakan diri menjadi mandiri. Terlalu mandiri, hingga lupa rasanya punya seseorang yang menunggu di rumah.

Mungkin Rio bukan pilihan terbaik. Namun kehadiran Mak Monit membuat keputusan spontan itu terasa tidak seburuk yang ia bayangkan.

“Terima kasih, Mak.”

“Terus, kapan kamu sama Rio pulang?” tanya Mak Monit sambil tersenyum menggoda. “Saya mau pamit duluan atau nunggu kamu di rumah?”

Kinan langsung tergelak pelan. “Saya belum tahu, Mak. Baru tadi mau ngomong sama Rio.”

“Kalau gitu nanti bilang ke dia. Suruh dia turun ke sini sebentar.”

Kinan mengangguk.

Sebelum bangkit, Mak Monit memegang tangan Kinan sekali lagi. “Satu hal ya, Kinan. Mulai hari ini anggap saya sebagai ibumu. Panggil Mak Monit seperti Rio.”

Kinan mengangguk.

“Bagus. Sekarang sana bilang ke Rio. Biar saya siap-siap.”

Kinan berpamitan, keluar dari kamar itu dengan napas sedikit lebih lega. Jika awalnya dia takut bertemu ibu Rio, kini justru merasa nyaman. Mungkin, ini satu-satunya bagian dari pernikahan ini yang membuatnya merasa tidak kesepian.

Di dalam lift, Kinan memejamkan mata. Belum satu hari penuh menjadi istri Rio, tapi rasanya seperti berminggu-minggu. Ada terlalu banyak yang harus dipikirkan: rumah, publik, wartawan, keluarga besar … dan Rio sendiri, yang meski tidak dingin, tetap saja sulit ditebak.

Sesampainya di lantai 7, pintu lift terbuka. Kinan melangkah ke lorong, menuju kamar suite yang besar itu.

Ketika dia membuka pintu, Rio sedang berdiri di balkon, punggungnya menghadap ke dalam kamar. Kemeja hitamnya sudah rapi, rambutnya disisir cepat. Di antara dua jarinya, sebatang rokok menyala. Asap tipis melayang tertiup angin.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!