Sebelum Kau Pergi Lagi
Morning
“Morning ...”
Kinan yang memang sudah mulai bangun dari tidurnya seketika melompat dan duduk dengan wajah kaget karena mendengar ada suara laki-laki dalam kamar tersebut.
“Morning ... aku suami kamu. Mungkin kamu lupa.” Rio yang duduk di sisi ranjang kembali menyapa Kinan. Kali ini Rio memandang lekat wajah Kinan. Sudah hampir 24 jam perempuan itu sah menjadi istrinya.
“Morning.” Kinan mulai mengumpulkan keping demi keping kesadaran.
Perlahan dia mulai ingat. Saat ini dia ada di sebuah kamar hotel yang telah disulap menjadi kamar pengantinnya. Ingatannya kembali mundur ke hari kemarin.
Dia baru saja melepas status lajangnya.
Semalam, lelaki ini malah meninggalkannya di malam pertama mereka sebagai suami istri.
“Kapan kamu datang? Udah lama?” Kesadaran Kinan mulai utuh.
“Nggak. Aku baru datang. Terus lihat kamu masih tidur.”
“Sorry. Habis Subuh aku tidur lagi.”
“Jadi, hari ini apa agenda kamu?” tanya Rio.
“Mungkin aku langsung ke kafe.” Kinan memijit pelipisnya pelan. Sejujurnya, dia tidak punya agenda apapun. Dia sudah mengajukan cuti selama tiga hari dan meliburkan kafe. Meski tidak dilandasi cinta, Kinan tidak berpikir main-main dengan pernikahan ini.
“Aku free. Kamar ini pun masih atas nama kita sampai besok.” Rio menjelaskan tanpa Kinan minta.
“Lalu?” Kinan menatap Rio penuh selidik.
“Bisa kita bicara?”
“Tentang apa?”
“Kita,” jawab Rio singkat.
“Apa lagi yang harus dibicarakan? Aku pikir semuanya sudah jelas. Kita keluar dari kamar ini sebagai suami istri hanya di depan publik saja. Selebihnya kita bisa menjalani hidup masing-masing seperti sebelumnya. Bukankah begitu?”
“Kita bicarakan masalah uang.”
“Tunggu. Uang? Uang apa? Oh, modal untuk kafe? Bukankah kemarin sudah kita sepakati angkanya?”
“Berapa uang yang kamu minta sebagai nafkah dariku?”
“Hah?”
“Sekarang aku suami kamu. Aku punya kewajiban untuk memberikan nafkah kepadamu. Setidaknya nafkah lahir. Semua kebutuhan kamu dan urusan rumah tangga kita otomatis menjadi urusanku. Tinggal kamu sebutkan saja berapa yang kamu minta.”
“Nggak perlu. Kita berdua hanya butuh status bukan? Kamu tepati saja janjimu untuk memberikan tambahan modal untuk kafeku. Selebihnya, biar aku yang urus sendiri.”
“Sebutkan saja angka yang kamu butuhkan untuk keperluanmu. Mulai kemarin, kamu sudah menjadi tanggung jawabku.”
“Ayolah Rio, jangan membuat seolah kita ini memang pengantin baru seperti orang lain yang menikah atas dasar cinta.”
“Aku suami kamu. Secara hukum mana pun. Minimal, jangan membuatku menjadi suami yang tidak bertanggung jawab.”
“Oke, tentang nafkah atau apapun, itu terserah kamu.”
“Hmmmmm... tolong kirim nomor rekening kamu. Nanti aku transfer setiap awal bulan. Untuk bulan ini, akan aku kirim setelah kamu memberikan nomor rekeningmu.”
“Terserah. Nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi tentang pernikahan ini. Minggir, aku mau mandi dan siap-siap ke kafe.”
“Bukannya kafe libur?”
“Aku baru saja memutuskan untuk membukanya.”
“Kenapa?”
“Apanya yang kenapa?”
“Kenapa kamu berubah pikiran? Aku tahu kamu sudah meliburkan kafe. Lalu kenapa sekarang malah mau membukanya.”
Kinanti bergeming. Tak menghiraukan ucapan Rio. Apa yang harus dia katakan? Haruskah dia berterus terang kalau saat ini dia merasa canggung jika hanya berdua dengan Rio? Hubungan suami istri macam apa yang akan dia hadapi mulai pagi ini? Apakah dia perlu melayani Rio seperti menyiapkan sarapan, perlengkapan mandi atau baju ganti? Rasa-rasanya Kinan tak perlu melakukan hal-hal seperti itu.
“Begini Kin, mungkin pernikahan kita memang hanya formalitas. Tapi aku tidak akan abai dengan kewajibanku sebagai suami. Terutama masalah finansial. Sebagai suami, aku punya kewajiban untuk memberikan kehidupan yang layak. Sekarang, kamu bisa menentukan sendiri berapa uang bulanan yang kamu minta.”
“Itu sudah selesai beberapa menit yang lalu.”
“Aku tidak bisa mengabaikan kamu. Oke, begini saja. Ini kartu ATMku. Kamu pegang dan kamu bisa menggunakan uang di dalamnya untuk semua kebutuhanmu.” Rio menyerahkan sebuah kartu ATM kepada Kinan. “Jangan ditolak. Sebagai laki-laki, harga diriku terluka kalau kamu menolaknya,” lanjut Rio.
“Terima kasih.”
“Untuk tempat tinggal, kita cari pelan-pelan ya. Sementara ini, aku pikir tidak masalah tinggal di rumah kamu. Toh, aku juga bakalan sering bolak-balik ke Jakarta.”
“Bukannya kamu bilang, setelah menikah kita akan menjalani hidup masing-masing seperti biasanya? Apakah kita perlu untuk tinggal serumah?”
Kinan berdiri lalu berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan tempat dia menyimpan tas tangan miliknya. Dia memasukkan kartu ATM itu secara asal. Sedikit pun tak ada niat di hatinya untuk menggunakan uang milik Rio. Bagi Kinan, pernikahannya dengan Rio adalah murni hanya sebuah status. Entah setahun, dua tahun, atau mungkin beberapa bulan ke depan, mereka harus mengakhiri semuanya.
“Aku tidak ada masalah dengan tempat tinggal yang terpisah. Tapi apa kata saudaramu? Apa kata mamaku? Kin, aku tidak bisa melepaskan diri dari para wartawan. Mereka akan mengendus keanehan ini. Kamu siap kalau harus menghadapi pertanyaan mereka?”
“Kenapa jadi rumit begini?”
Kinan melenguh lirih. Wartawan. Tak pernah sekali pun Kinan memikirkan tentang posisi Rio yang menjadi incaran pemburu gosip. Kinan mulai menyesali keputusannya menerima tawaran menikah dari Rio.
“Baiklah. Kamu boleh tinggal di rumahku,” putus Kinan dengan berat hati.
“Siap. Tenang Kin, aku nggak akan menyusahkan kamu.”
Justru kamu baru saja membuat keputusan yang sepertinya akan menyusahkanku. Rutuk Kinan dalam hati.
“Kapan kamu pulang?” Kinan bertanya sambil merapikan beberapa barang pribadinya.
“Maksud kamu pulang itu apa?”
“Keluar dari kamar hotel ini. Jelas?” Suara Kinan sedikit melengking. Kinan tak habis pikir, entah kenapa empat minggu lalu Rio bisa menjadi teman berbincang yang cukup menyenangkan.
“Terserah kamu. Setelah ini, kita bisa langsung pulang ke rumahmu.”
“Kamu yakin mau tinggal di rumahku?” Kinan kembali bertanya.
“Yakin. Kecuali kalau kamu ingin kita pindah dari rumahmu.”
“Mau pindah ke mana?”
“Mungkin kita bisa membeli rumah baru.”
“Bersiaplah. Sebentar lagi aku mau pulang.”
Kinan enggan menanggapi candaan Rio. Entah itu serius atau hanya asal menjawab, membeli rumah baru bukan hal yang mudah.
Tanpa mengindahkan kehadiran Rio, Kinan sibuk merapikan barang-barang bawaannya. Tidak banyak. Namun cukup merepotkan.
Di sisi tempat tidur di seberang Kinan, Rio duduk dengan tenang. Matanya terus memperhatikan tubuh ramping Kinan yang sibuk bergerak. Rambut ikal Kinan yang dikuncir ekor kuda bergoyang ke kanan dan ke kiri seirama dengan pergerakan kakinya.
Sudah lama sekali Rio tidak pernah melihat perempuan bangun tidur bergerak lincah di depan matanya. Mungkin lima tahun. Bahkan lebih. Rio tertegun. Manyadari kalau otaknya gagal memanggil kenangan itu. Sejenak, ragu menyergapnya. Benarkah dia telah melupakan perempuan yang bersamanya terakhir kali?
***