Sebelum Kau Pergi Lagi

Retak yang Disengaja 2

Sidang berikutnya menjadi titik balik.

Pengacara Rio mengajukan satu bukti yang selama ini disimpan rapat: rekaman audio dari rapat internal bertahun-tahun lalu. Suaranya tidak sempurna, ada gangguan, tetapi cukup jelas untuk menangkap inti percakapan.

Di dalam rekaman itu, terdengar Armand dan dua figur industri lain membicarakan Rio bukan sebagai manusia, melainkan sebagai aset. Ada kalimat tentang mengelola emosi, mengatur relasi, dan menjaga narasi domestik.

Ruangan pengadilan membeku.

Armand berdiri. "Keberatan. Ini diambil tanpa izin."

Hakim menatapnya lama. "Keberatan dicatat. Rekaman akan dievaluasi sebagai bukti tambahan."

Rio menutup mata sejenak. Ia tidak merasa lega. Ia merasa kosong, seperti seseorang yang akhirnya melihat peta lengkap dari labirin yang selama ini ia jalani sambil meraba.

Nama Kinan tidak disebut langsung dalam rekaman itu, tetapi implikasinya jelas. Ada rujukan tentang “pasangan” dan “peran penenang”. Media tidak membutuhkan waktu lama untuk menarik garis.

Kinan mengetahui hal itu dari seorang teman, bukan dari berita. Ia menghargai cara itu. Manusiawi, tidak sensasional.

Ia duduk lama di balkon malam itu, mendengarkan suara kota yang mulai melambat. Ada ketakutan yang nyata, tetapi tidak lagi melumpuhkan. Ia tahu, menyebut namanya berarti konflik ini telah masuk wilayah yang lebih pribadi.

Namun ia juga tahu, mundur sekarang hanya akan mengembalikan semua orang ke posisi lama.

Ia membuka laptop, mulai menulis esai pendek. Bukan klarifikasi, bukan pembelaan. Sebuah refleksi tentang relasi kuasa dan bagaimana perempuan sering dijadikan peredam konflik yang tidak mereka ciptakan.

Ia tidak menyebut Rio. Tidak menyebut Armand.

Ia menyebut sistem.

Rio dan Kinan berbicara lewat telepon dua malam kemudian. Tidak lama. Tidak hangat.

"Namamu mulai disebut," kata Rio.

"Aku tahu," jawab Kinan.

"Aku bisa—"

"Jangan," potong Kinan. "Jangan hentikan apa pun atas namaku."

Hening sejenak.

"Aku tidak ingin kamu terluka," kata Rio.

"Aku tidak ingin kamu kembali diam," balas Kinan.

Tidak ada kata kita. Tidak ada rencana.

Namun percakapan itu meninggalkan sesuatu yang lebih stabil daripada janji: saling menghormati batas.

***

Di ruang kerjanya, Armand melemparkan map ke meja. Orang-orang di sekitarnya bergerak lebih cepat, bicara lebih pelan. Aura kekuasaannya masih ada, tetapi retaknya kini terlihat.

Ia tahu, rekaman itu adalah kesalahan lama yang akhirnya menemukan waktunya. Ia juga tahu, jika ia jatuh, ia tidak akan jatuh sendirian.

Untuk pertama kalinya, ia mempertimbangkan langkah yang lebih ekstrem.

Bukan damai.

Tetapi menghancurkan balik.

Malam itu datang tanpa peringatan, seperti kebanyakan krisis yang sesungguhnya. Tidak ada pemicu tunggal, tidak ada kejadian dramatis yang bisa ditunjuk sebagai sebab. Hanya akumulasi—sidang demi sidang, berita demi berita, ingatan demi ingatan—yang akhirnya menekan satu titik rapuh di dalam diri Rio.

Ia terbangun pukul dua dini hari dengan napas tersengal. Kamar gelap, sunyi, tetapi tubuhnya bereaksi seolah ada sesuatu yang mengejarnya. Dadanya terasa sempit. Telapak tangannya dingin. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu di mana ia berada.

Ia bangkit dari ranjang, berjalan tanpa menyalakan lampu, menyusuri rumah yang ia kenal tetapi terasa asing. Setiap bayangan di dinding tampak bergerak lebih lama dari seharusnya. Setiap bunyi kecil terdengar seperti isyarat bahaya.

Rio berhenti di dapur, bersandar pada meja. Ia menunduk, mencoba mengatur napas seperti yang pernah diajarkan seorang terapis bertahun-tahun lalu—terapi singkat yang dihentikannya karena jadwal syuting. Tarik. Tahan. Hembuskan.

Tidak berhasil.

Pikirannya dipenuhi fragmen: suara Armand di rekaman, wajah Kinan di forum, judul-judul berita yang belum ia baca tetapi sudah ia hafal polanya. Ia teringat malam-malam lama ketika ia harus tampil sempurna keesokan harinya, meski tubuhnya menolak. Bedanya, dulu ia masih bisa berpura-pura bahwa semua itu terkendali.

Sekarang, tidak ada panggung yang harus ia naiki. Dan justru itulah yang menakutkan.

Ia duduk di lantai dapur, punggung bersandar pada lemari. Tangannya gemetar. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya tidak kuat. Tidak ada kamera. Tidak ada manajer. Tidak ada siapa pun yang perlu diyakinkan.

Ia mengambil ponsel. Jemarinya bergerak otomatis, membuka kontak Kinan. Nama itu muncul di layar seperti sesuatu yang hangat sekaligus berbahaya. Ia hampir menekan tombol panggil.

Hampir.

Ia menurunkan ponsel itu perlahan. Ia tahu, menelepon Kinan dalam kondisi ini hanya akan mengulang pola lama: mencari penyangga ketika ia runtuh. Ia tidak ingin kembali ke sana.

Sebagai gantinya, ia membuka catatan suara dan merekam napasnya sendiri—tersendat, tidak rapi. Ia merekam kalimat-kalimat pendek, terputus, tentang ketakutan kehilangan segalanya, tentang rasa bersalah karena terlambat jujur, tentang kemarahan pada dirinya sendiri yang selama ini terlalu patuh.

Rekaman itu tidak untuk siapa pun. Ia tidak berniat memutarnya kembali. Ia hanya ingin ada bukti bahwa malam ini pernah ada, dan ia tidak mati karenanya.

Menjelang subuh, tubuhnya mulai tenang. Kelelahan datang menggantikan kepanikan. Ia bangkit, minum segelas air, lalu duduk di sofa ruang tamu. Cahaya pertama pagi menyelinap lewat jendela, tipis dan pucat.

Rio menatap cahaya itu lama.

Ia menyadari sesuatu yang sederhana tetapi menentukan: jika ia terus berjalan di jalur ini, malam-malam seperti ini akan datang lagi. Mungkin lebih sering. Mungkin lebih berat. Namun ia juga tahu, mundur sekarang berarti mengkhianati dirinya sendiri.

Ia mengambil keputusan kecil yang tidak akan masuk berita: ia akan kembali menemui terapis. Ia akan meminta bantuan tanpa merasa gagal.

Ketika matahari benar-benar terbit, Rio berdiri dengan tubuh masih lelah tetapi pikiran lebih jernih. Krisis itu tidak menghilang sepenuhnya. Ia hanya surut.

Dan untuk pertama kalinya, itu cukup.

***

Tidak ada perang yang benar-benar dimulai dengan dentuman. Yang ada hanyalah rangkaian keputusan kecil, percakapan tertutup, dan kebohongan yang dipoles agar tampak rasional. Armand memahami itu lebih baik daripada siapa pun. Ia telah hidup cukup lama di dalam sistem untuk tahu bahwa serangan paling efektif bukan yang paling keras, melainkan yang paling terkoordinasi.

Pagi ketika ia memutuskan untuk menyerang balik, Armand tidak tampak seperti seseorang yang sedang terpojok. Ia mengenakan kemeja putih rapi, jas gelap tanpa cela, dan ekspresi tenang yang telah ia latih bertahun-tahun. Di cermin kamar kerjanya, ia melihat seorang pria yang masih berkuasa—atau setidaknya, cukup berkuasa untuk tidak jatuh sendirian.

Ia mengangkat telepon pertama hari itu bukan untuk pengacara, melainkan untuk seorang redaktur senior media hiburan terbesar di kota itu. Percakapan berlangsung singkat, penuh basa-basi yang menyembunyikan maksud sebenarnya.

"Aku punya arsip lama," kata Armand santai. "Dan kurasa ini saat yang tepat untuk mengingatkan publik bahwa kebenaran selalu punya banyak versi."

Redaktur itu tertawa kecil. Ia mengerti kode itu dengan baik.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!