Sebelum Kau Pergi Lagi

Dua Cara Bertahan dari Dunia yang Sama

Kinan

 

Tempat Kinan bersembunyi tidak benar-benar tersembunyi. Ia bukan vila terpencil, bukan penginapan rahasia. Ia hanya sebuah rumah kecil di pinggir kota. Rumah seorang teman lama yang tidak pernah bertanya terlalu banyak. Rumah itu memiliki halaman sempit dengan pohon mangga tua yang daunnya sering jatuh ke atap seng. Tidak ada pagar tinggi. Tidak ada kamera. Tidak ada penjaga. Yang ada hanyalah jarak.

Jarak dari sorotan. Jarak dari nama Rio. Jarak dari dirinya yang hampir hilang.

Hari pertama, Kinan hampir tidak melakukan apa-apa. Ia tidur lama, bangun sebentar, lalu duduk menatap halaman tanpa tujuan. Tubuhnya seperti baru saja keluar dari sesuatu yang terlalu ramai. Bahkan suara burung terdengar berlebihan.

Ia membuka ponselnya hanya sekali. Cukup untuk mematikan notifikasi. Tidak ada pesan dari Rio. Tidak ada panggilan. Dan justru itu membuat dadanya terasa aneh.

Ia tahu, Rio akan menghormati permintaannya. Dan ia juga tahu, harga dari penghormatan itu adalah sunyi.

Hari kedua, ia mulai menulis.

Bukan laporan. Bukan jurnal akademik. Ia menulis tentang dirinya sendiri, tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan yang tiba-tiba dibicarakan tanpa pernah diminta pendapatnya. Tentang bagaimana namanya dipelintir, disempitkan, dijadikan keterangan tambahan dari nama laki-laki yang ia nikahi.

Ia menulis dengan marah.

Lalu dengan lelah.

Lalu dengan jujur.

Di sela-sela tulisan itu, pikirannya sering kembali ke rumah yang ia tinggalkan. Ke cara Rio berdiri terlalu lama di jendela. Ke caranya menahan diri untuk tidak menyentuh Kinan, seolah tahu bahwa setiap sentuhan bisa menjadi janji yang tidak bisa ia penuhi.

Kinan tidak membenci Rio. Yang ia takuti adalah kehilangan dirinya sendiri di dalam dunia Rio.

Hari ketiga, ia membaca berita.

Ia tahu ia tidak seharusnya. Tetapi keingintahuan selalu datang dengan dalih kewaspadaan. Ia membaca judul-judul yang menyebut “krisis”, “retakan”, “sumber dekat”. Ia membaca namanya disamarkan, dihilangkan, atau justru dibesar-besarkan secara tidak proporsional.

Ia menutup laptop dengan tangan gemetar.

“Aku bukan cerita kalian,” gumamnya.

Malam itu, ia menangis. Bukan tersedu-sedu, melainkan tangis yang sunyi dan panjang. Tangis seseorang yang akhirnya menyadari bahwa menjadi dewasa tidak selalu berarti kuat, tetapi sering kali berarti sendirian.

Namun di tengah tangis itu, satu kesadaran tumbuh perlahan:

Ia tidak pergi untuk dihancurkan. Ia pergi untuk menyusun ulang.

***

Rio

 

Rio tidak pernah benar-benar sendirian. Di mana pun ia berada, selalu ada orang. Manajer. Asisten. Pengacara. Kru. Semua berbicara, semua memberi saran, semua membawa kepentingan.

Namun sejak Kinan pergi, kesendirian itu justru semakin terasa. Bukan karena tidak ada suara, tetapi karena tidak ada satu pun suara yang benar-benar ia percayai.

Armand menghubunginya hampir setiap hari.

Kadang langsung. Kadang lewat orang lain. Kadang lewat berita yang jelas-jelas “dibocorkan”. Armand bermain rapi, seperti biasa. Tidak menyerang secara frontal. Ia membiarkan opini publik bekerja lebih dulu.

“Rio terlalu tertutup.”

“Istri Rio tidak siap dengan dunia publik.”

“Pernikahan ini terburu-buru.”

Narasi itu berputar.

Rio menghadiri rapat demi rapat, sebagian dengan kamera tersembunyi, sebagian dengan ancaman halus. Ia ditanya bukan tentang karyanya, tetapi tentang stabilitas emosionalnya. Tentang apakah ia “masih layak dipercaya”.

Pada suatu malam, setelah rapat panjang yang berakhir tanpa keputusan, Rio pulang ke rumah dan duduk di lantai ruang tamu. Ia tidak menyalakan lampu. Ia membiarkan gelap menelan bentuk-bentuk yang dulu akrab.

Ia mengambil ponselnya.

Nama Kinan ada di sana. Tidak berubah. Tidak menghilang.

Ia menahan diri.

Jangan mencariku dulu.

Rio menutup mata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu apakah ia sedang melakukan hal yang benar. Baik dengan diam, maupun dengan bertahan.

Hari berikutnya, Armand memaksanya bertemu.

Mereka duduk berhadapan di sebuah restoran yang terlalu mahal untuk percakapan yang akan terjadi.

“Kamu kehilangan kendali,” kata Armand sambil memotong makanannya dengan tenang.

“Aku memilih,” jawab Rio.

Armand tersenyum tipis. “Kamu memilih perasaan di atas sistem.”

“Kamu memilih sistem di atas manusia,” balas Rio.

“Dan itu yang membuatku bertahan tiga puluh tahun,” kata Armand. “Kamu baru sepuluh. Jangan sok suci.”

Rio mencondongkan tubuh. “Apa yang kamu mau?”

“Kejelasan,” jawab Armand. “Atau setidaknya ilusi kejelasan. Publik tidak peduli kebenaran. Mereka peduli cerita yang rapi.”

“Kamu ingin aku menceraikannya?” tanya Rio tajam.

Armand mengangkat alis. “Aku ingin kamu berhenti menjadikannya pusat.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada ancaman apa pun.

***

Kinan

 

Di tempat persembunyiannya, Kinan mulai menemukan ritme.

Ia bangun pagi. Menyeduh kopi sendiri. Menyapu halaman. Menyapa tetangga yang tidak mengenalnya sebagai siapa pun selain perempuan baru yang menumpang tinggal.

Di sanalah ia kembali menjadi dirinya sendiri. Ia menulis lebih teratur. Ia membaca ulang catatan lama. Ia mengingat mengapa ia memilih jalan hidupnya. Jalan yang tidak pernah bergantung pada sorotan.

Suatu sore, ia menerima pesan dari nomor tak dikenal.

“Kami ingin mendengar versi Anda.”

Ia tahu siapa itu. Tangannya gemetar. Ia tidak membalas. Ia mematikan ponsel. Malam itu, ia menulis satu kalimat besar di buku catatannya:

Aku tidak akan menjelaskan diriku kepada orang yang tidak berniat memahami.

Namun setelah menulisnya, ia terdiam lama. Apakah ia benar-benar tidak ingin menjelaskan? Atau ia hanya belum siap?

***

Rio

 

Tekanan mencapai puncaknya ketika salah satu proyek Rio resmi ditunda.

Bukan dibatalkan. Itu terlalu terang-terangan. Ditunda tanpa tanggal. Investor mundur dengan alasan “situasi tidak kondusif”.

Rio berdiri di ruang kerjanya, menatap poster-poster lama. Wajahnya sendiri menatap balik. Lebih muda, lebih percaya diri, lebih naif.

Ia menyadari sesuatu yang pahit: dunia yang membesarkannya tidak pernah mencintainya. Dunia itu hanya menggunakan namanya selama ia patuh.

Dan kini, ketika ia memilih sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, dunia itu menggertaknya.

Rio menulis pesan. Bukan kepada Kinan. Kepada pengacaranya. Ia memutuskan melawan.

***

Malam yang sama, di dua tempat berbeda, Kinan dan Rio terjaga.

Kinan menatap langit-langit kamar kecilnya.

Rio menatap layar laptop yang penuh dokumen hukum.

Keduanya lelah.

Keduanya takut.

Keduanya bertahan dengan cara masing-masing.

Dan tanpa saling tahu, mereka membuat keputusan yang akan mempertemukan kembali jalan mereka. Bukan sebagai orang yang sama seperti sebelumnya, tetapi sebagai dua individu yang telah belajar satu hal penting: cinta bukan tentang bertahan bersama dalam satu ruang. Kadang cinta adalah keberanian untuk tumbuh terpisah agar ketika bertemu lagi, tidak ada yang hilang.

Tapi kini jelas: mereka tidak lagi lari. Mereka sedang bersiap.

***

Malam turun lebih cepat di rumah kecil itu. Lampu teras menyala redup, menarik serangga-serangga kecil yang beterbangan tanpa arah. Kinan duduk di meja kayu, buku catatannya terbuka, halaman-halaman sebelumnya penuh tulisan yang semakin rapi seolah pikirannya mulai menemukan irama.

Ia membaca ulang kalimat yang baru saja ia tulis: Aku tidak ingin dikenal sebagai istri siapa pun. Aku ingin dikenal sebagai diriku sendiri.

Kalimat itu benar. Tapi belum lengkap. Kinan menyadari, selama ini ia bersembunyi di balik diam dengan keyakinan bahwa diam akan melindunginya. Namun diam juga memberi ruang bagi orang lain untuk menulis ulang dirinya. Untuk memutuskan siapa ia, apa yang ia rasakan, dan apa yang seharusnya ia lakukan.

Ia menutup buku, bersandar di kursi, menatap langit-langit. Ia teringat pesan yang ia abaikan siang tadi. Kami ingin mendengar versimu.

Bukan versi Rio. Bukan versi media. Versinya.

Kinan tidak naif. Ia tahu berbicara berarti membuka pintu. Tetapi ia juga tahu, pintu itu tidak bisa selamanya ditutup jika ia ingin tetap utuh.

Ia mengambil ponsel, menyalakannya. Jarinya mengetik satu kalimat singkat: Saya bersedia bicara. Tapi dengan syarat tidak ada kamera, tidak ada siaran langsung, dan tidak ada judul sensasional.

Ia mengirim pesan itu, lalu segera meletakkan ponsel kembali. Dadanya berdebar, tetapi ada sesuatu yang terasa lebih stabil di dalam dirinya, seperti seseorang yang akhirnya berdiri di tanahnya sendiri.

Malam itu, ia tidur tanpa mimpi.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!