Sebelum Kau Pergi Lagi
etelah Ia Pergi, Dunia Tidak Memberi Waktu Berkabung
Kinan pergi ketika subuh masih menggantung sebagai kemungkinan, bukan kepastian.
Udara pagi masih dingin, dan rumah itu belum sepenuhnya terbangun dari malam yang berat. Tidak ada bunyi selain derit pelan pintu dan langkah kaki yang ditahan agar tidak mengganggu. Kinan bergerak dengan kehati-hatian yang nyaris ritualistik seperti seseorang yang tahu bahwa setiap suara kecil bisa mengubah keputusan besar.
Tas kecil di tangannya tidak penuh. Ia tidak membawa seluruh hidupnya. Ia hanya membawa yang ia butuhkan untuk bertahan: pakaian secukupnya, laptop, buku catatan yang sudah lama menjadi tempatnya menyusun pikiran, dan satu jaket tipis yang tanpa sadar ia kenakan sejak lama. Jaket yang sering dipinjamkan Rio kepadanya ketika malam terlalu dingin.
Ia berhenti di ruang makan.
Meja itu masih menyimpan bekas dua cangkir semalam. Kursi Rio sedikit bergeser, seolah ditinggalkan dengan tergesa. Kinan menatapnya lama, lalu mengeluarkan secarik kertas dari tasnya. Tulisan tangannya rapi, tanpa coretan. Tidak ada kata-kata yang berlebihan.
Aku pergi bukan untuk menjauh darimu.
Aku pergi agar aku tidak kehilangan diriku.
Jangan mencariku dulu.
Aku akan kembali saat aku siap.
— K
Ia melipat kertas itu perlahan, meletakkannya di tengah meja, memastikan Rio akan langsung melihatnya. Tidak ada tanda tangan panjang, tidak ada penjelasan. Ia tahu, semakin banyak ia menulis, semakin besar kemungkinan kata-kata itu terdengar seperti permintaan maaf. Dan ini bukan permintaan maaf.
Ini keputusan.
Kinan berdiri beberapa detik lebih lama dari yang ia rencanakan. Dadanya naik turun pelan. Ia tidak menangis. Bukan karena tidak sedih, tetapi karena ia tahu, jika ia membiarkan satu air mata jatuh, ia mungkin akan kembali ke kamar dan membatalkan segalanya.
Ia memilih pergi.
Pintu tertutup tanpa suara keras. Tidak ada yang pecah. Tidak ada yang runtuh secara dramatis.
Namun rumah itu, sejak saat itu, kehilangan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh kehadiran siapa pun.
***
Rio bangun hampir satu jam kemudian.
Awalnya ia mengira Kinan hanya keluar sebentar—membeli sesuatu, berjalan pagi. Namun ketika ia melangkah ke ruang tamu dan tidak menemukan apa pun yang biasa menandai kehadiran perempuan itu—tidak ada suara, tidak ada aroma teh, tidak ada gerakan kecil yang sering mengisi pagi. Tubuhnya langsung menangkap sinyal yang lebih jujur daripada pikirannya.
Ia melihat kertas itu di meja makan. Rio membacanya sekali. Lalu sekali lagi.
Huruf-hurufnya sederhana, tetapi setiap kalimat terasa seperti diletakkan dengan hati-hati agar tidak melukai, sekaligus tidak bisa ditarik kembali. Ia duduk di kursi itu lama sekali, tangannya menggenggam kertas tipis yang kini terasa lebih berat dari apa pun yang pernah ia pegang.
Kinan tidak pergi dengan kemarahan. Ia pergi dengan kesadaran. Dan justru itulah yang membuat Rio tidak punya apa pun untuk disalahkan selain dirinya sendiri dan dunia yang mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat napasnya tertahan sepersekian detik.
Armand.
Produser yang membesarkan namanya. Orang yang dulu dianggap mentor. Figur masa lalu yang selalu muncul kembali setiap kali hidup Rio berada di persimpangan.
“Rio,” suara Armand terdengar tenang, terlalu tenang. “Kita harus bicara. Sekarang.”
“Aku tidak siap,” jawab Rio datar.
“Tidak ada kata siap dalam situasi seperti ini,” balas Armand. “Istrimu pergi. Media tahu. Investor panik. Ini sudah bukan soal pribadi.”
Rio mengusap wajah. “Kehidupanku bukan properti publik.”
Armand tertawa kecil. “Kamu salah sejak awal kalau percaya itu.”
“Kamu tidak berhak...”
“Aku punya kontrak,” potong Armand. “Dan aku punya cerita. Kamu tahu, cerita selalu lebih menarik daripada kebenaran.”
Nada suaranya tidak mengancam, tapi justru itulah yang membuatnya berbahaya.
Sambungan terputus.
Rio menatap layar ponselnya lama. Untuk pertama kalinya sejak ia dikenal publik, ia merasa benar-benar sendirian. Bukan karena tidak ada orang di sekelilingnya, tetapi karena tidak ada lagi ruang aman untuk bersembunyi.
***
Menjelang siang, dunia mendekat tanpa izin.
Mobil-mobil parkir lebih lama di ujung jalan. Orang-orang berdiri terlalu dekat dengan pagar. Kamera sesekali terangkat, lalu diturunkan ketika Rio menutup tirai. Rumah itu masih sama, tetapi udara di sekitarnya telah berubah.
Manajernya datang dengan wajah yang tidak mencoba menyembunyikan kepanikan.
“Kita dalam posisi buruk,” katanya. “Armand sudah bicara ke beberapa redaksi. Mereka akan memaksakan konferensi pers sore ini.”
“Aku tidak akan datang,” jawab Rio cepat.
“Kamu harus,” sahut manajer itu. “Kalau kamu tidak bicara, mereka akan bicara untukmu.”
“Dan Kinan?” tanya Rio.
Manajernya terdiam sejenak. “Justru karena Kinan tidak ada, mereka akan mengarang apa saja.”
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan kejam.
Rio berdiri, berjalan mondar-mandir. “Aku tidak akan menjadikan kepergiannya sebagai konsumsi publik.”
“Ini bukan soal etika,” jawab manajer itu lirih. “Ini soal kendali narasi.”
Rio berhenti. “Atau soal siapa yang paling dulu mengkhianati siapa.”
Manajernya tidak membantah.
***
Konferensi pers berlangsung sore itu, di sebuah hotel dengan ruangan putih dan lampu yang terlalu terang. Ruangan itu dirancang untuk satu hal: membuat orang yang berdiri di depan kamera terlihat telanjang.
Rio berdiri sendirian di belakang podium.
Ketiadaan Kinan di sisinya terasa seperti lubang besar yang tidak bisa ditutupi oleh kata-kata apa pun. Kamera menyala. Mikrofon mengarah. Wajah-wajah di depannya tidak menunjukkan empati atau kebencian. Mereka menunjukkan rasa lapar.
“Rio,” seorang jurnalis membuka, “benarkah istri Anda meninggalkan rumah karena tekanan publik?”
Rio menghela napas pelan. “Tidak.”
“Lalu ke mana ia pergi?”
“Itu bukan konsumsi publik.”
“Apakah ini krisis rumah tangga?”
“Pernikahan bukan pertunjukan,” jawab Rio tegas.
Beberapa jurnalis saling pandang. Ada yang mencatat cepat. Ada yang tersenyum tipis, seolah kalimat itu justru mengonfirmasi sesuatu.
“Apakah Anda menyesal menikah?” tanya suara lain.
Rio terdiam sepersekian detik. Lalu berkata, “Tidak.”
Di barisan belakang, Armand berdiri dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya tenang, nyaris puas.
“Benarkah proyek terbaru Anda terancam batal karena kondisi ini?” tanya jurnalis lain.
Rio tahu pertanyaan itu datang dari arah yang sama. “Aku tidak akan membahas kontrak di sini.”
Konferensi pers berakhir tanpa ledakan. Tapi justru itulah masalahnya. Tidak ada satu kalimat pun yang cukup kuat untuk menghentikan spekulasi.
***
Malam datang dengan berat yang tidak biasa.
Rio kembali ke rumah yang kini terasa seperti bangunan kosong. Ia duduk di sofa, membuka ponsel, lalu menutupnya lagi. Judul-judul berita bermunculan: “Krisis Pernikahan”, “Istri Menghilang”, “Sumber Dekat Mengungkap Ketegangan Lama”.
Nama Armand muncul sebagai narasumber anonim.
Rio mengepalkan tangan.
Ia membuka kembali kertas yang ditinggalkan Kinan. Jangan mencariku dulu. Itu bukan larangan. Itu permintaan kepercayaan.
Dan di situlah Rio sadar: melindungi Kinan kini berarti bertarung sendirian melawan dunia yang tidak sabar menunggu luka benar-benar terbuka.
Yang ada hanyalah satu rumah yang kehilangan kehadiran, satu laki-laki yang kehilangan kendali, dan satu dunia yang tidak memberi waktu berkabung.
Setelah Kinan pergi, segalanya baru benar-benar dimulai.
***