Sebelum Kau Pergi Lagi
Cukup Katakan Ya
Pertemuan pertama Kinan dan Rio terjadi dua bulan lalu. Rio datang ke kafe milik Kinan, memesan americano, lalu duduk tenang menghabiskan hampir tiga jam waktunya sambil menikmati berbatang-batang rokok. Tidak ada yang istimewa saat itu. Percakapan mereka sebatas ucapan terima kasih dari Kinan ketika beranjak pulang dan dibalas seulas senyum oleh Rio.
Keesokan harinya Rio datang lagi. Masih memilih duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Pun masih memesan minuman yang sama. Americano. Namun, kali ini lelaki itu menambah pesanannya dengan seporsi tiramisu.
Tidak ada obrolan apa pun antara Rio dan Kinan atau Rio dengan karyawan Kinan atau Rio dengan pengunjung lain. Rio sibuk berkutat dengan laptopnya. Sedangkan Kinan fokus di dapur dengan dessert yang sedang dia siapkan.
Rio menutup laptopnya ketika langit gelap paripurna. Ekor matanya melirik Kinan yang keluar dari bagian belakang kafe sambil membawa piring kecil berisi sepotong dessert yang tampak begitu menggoda. Gadis itu masih mengenakan celemek dengan rambut yang dicepol asal.
Seksi. Kata itu melintas cepat di kepala Rio. Perpaduan keanggunan dan maskulinitas. Setelahnya, Rio pun pergi menuju hotel tempat dia tinggal untuk beberapa hari ke depan.
Hari ketiga Rio masih setia memilih tempat yang sama. Sudut kanan cafe, dekat dengan jendela, tak tersentuh keramaian namun bisa melihat sekeliling dengan bebas. Entah kebetulan atau memang keberuntungan, kursi yang Rio pilih sejak tiga hari lalu tak pernah ada yang menempati selain dirinya. Padahal pengunjung kafe ini tidak bisa dikatakan sepi.
Kinan hanya diam melihat sudah tiga hari berturut-turut sudut yang menjadi favoritnya itu dikuasai oleh Rio. Satu kesamaan yang kelak akan menjadi sebuah jembatan yang membentuk ruang kehangatan.
Kali ini Rio memesan hazelnut latte dan seporsi potato wedges sebagai pengganti makan siang yang sudah terlambat dua jam. Saat sibuk seperti ini, makan adalah rutinitas yang sering terlupakan di kepala Rio. Dia lebih membutuhkan kombinasi cafein dan tembakau.
Kedatangan Rio yang ketiga kalinya ini memantik sedikit perhatian Kinan. Lelaki itu terlihat berbeda dari pengunjung lainnya. Dia datang sendiri dan selalu duduk di tempat yang sama. Lelaki itu seperti tidak merasa terusik dengan sedikit keriuhan yang ditimbulkan para pengunjung lain.
Mungkin dia sedang butuh tempat dan suasana baru untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pikir Kinan. Sama seperti dirinya yang nyaman tenggelam dalam kesendirian.
Setelah itu, Kinan berinisiatif menyuguhkan white romantic. Dessert yang sengaja dibuat serba putih dengan komponen gelato melati, ganache kelapa beku, cokelat putih, gum jelly strawberry, gel yoghurt, dan gel consomme strawberry.
“Silakan dicoba. Ini gratis. Anggap sebagai bonus kepada pelanggan Dejavu yang telah datang selama tiga hari berturut-turut.” Kinan menyodorkan sepiring white romantic ke depan Rio.
Rio menghentikan tangannya yang tengah menari di atas keyboard. Mengalihkan matanya dari layar laptop ke piring yang baru saja hadir di depannya, memandang hidangan itu nyaris tanpa kedip.
Potongan dessert yang sangat elegan. Sungguh memanjakan mata. Hampir seperti dalam laboratorium sains. Membuat siapa pun ingin menyelam ke dalam mangkuk saji. Semua rasa itu, coklat putih, stroberi, dan kelapa melengkapi satu sama lain dengan sangat baik. Teksturnya sangat kontras. Isian gel cair dalam serpihan cokelat renyah bagaikan ceri di atas salju.
Tangan kanan Rio terulr mengambil sendok kecil lalu menyendok sedikit white romantic. “Rasanya luar biasa. Jauh melampaui ekspektasi saya. Sepertinya kamus kosa kata saya tidak cukup untuk menggambarkan rasa yang baru saja menari di lidah saya.” Rio tak mampu menyembunyikan rasa kagumya.
“Terima kasih. Saya senang jika pelanggan di sini menyukai hidangan kami.”
“Rio.”
Tangan yang penuh guratan urat itu terulur ke depan Kinan.
“Kinan.”
Dan Kinan menyambut uluran tangan Rio tanpa ragu. Setelahnya, dia duduk di seberang Rio, terhalang meja bar yang menjadi pemisah di antara keduanya.
“Kamu pemilik kafe ini?” tanya Rio
“Tebakan yang sangat tepat. Dan kamu sendiri?”
“Kalau aku bilang nama lengkapku Rio Basupati, apakah kamu bisa menebaknya?”
Kinan mengernyitkan dahi. Memutar ingatan, apakah memorinya pernah menyimpan nama itu. Nihil. Sel kelabunya tak menemukan nama Rio Basupati di antara tiap lipat ingatan.
“Maaf?”
Gelengan kepala Kinan sedikit mengejutkan Rio.
“Aku sutradara film sekaligus penulis skenario. Aku dari Jakarta.” Rio menjelaska dengan sedikit heran saat ada perempuan cantik yang tidak mengenal namanya.
“Sepertinya aku sempat mendengar nama itu. Maaf karena aku benar-benar tidak tahu. Mungkin aku terlalu lama berada di dapur, jadi kurang mengenal dunia luar. Lalu, jauh-jauh datang ke sini untuk apa?” Sejujurnya, Kinan merasa dia tidak pernah mendengar nama Rio Basupati.
“Riset. Film yang sedang aku kerjakan kali ini menceritakan pengusaha kopi di Lampung.”
“Based on novel?”
“Yes.”
“Boleh aku tebak lokasinya?”
“Dengan senang hati.”
“Sumber Jaya dan Tanggamus. Right?”
“Kamu membaca novelnya?”
“Yes, I’m.”
Lalu mereka mulai membicarakan novel yang dimaksud.
Di hari kelima, Kinan menemani Rio menjelajah kebun kopi di Sumber Jaya. Belajar tentang berbagai jenis kopi di Sekolah Kopi. Menikmati kembang kopi yang mulai memutih. Hingga ...
“Kita harus menikah.”
Kinan mengerjapkan mata berkali-kali mendengar ucapan Rio. Menikah? Dia dan Rio? Demi apapun, ini adalah hal terkonyol yang dia dapatkan dari seorang Rio.
“Kenapa kita harus menikah?”
“Karena aku yakin, kita memang harus menikah.”
“Tapi kita tidak saling cinta.”
“Justru itu alasan utamanya.”
Kepala Kinan makin berdenyut. Dia percaya, ada pernikahan yang tanpa dilandasi cinta. Tapi itu hanya terjadi dalam perjodohan. Karena kepentingan yang saling menguntungkan. Sedangkan dia dan Rio? Keuntungan apa yang bisa mereka peroleh?
“Untuk beberapa alasan, aku diminta untuk segera menikah. Tapi aku tidak bisa menikah dengan perempuan yang jatuh cinta padaku.”
“Kamu yakin kalau aku tidak akan jatuh cinta kepadamu?”
“Yakin.”
“Lalu, apa keuntungan yang aku dapat kalau aku mau menikah denganmu?”
“Kamu bisa mendapatkan modal untuk kafemu tanpa harus meminjam ke bank seperti yang kamu ceritakan kemarin.”
Tawaran yang cukup menggiurkan bagi Kinan. Sudah lama dia ingin merenovasi kafe kecil miliknya, namun selalu terbentur masalah biaya. Untuk mengajukan pinjaman ke bank, rasanya Kinan masih berat.
“Setelah menikah, bagaimana kita akan tinggal?” Kinan membayangkan betapa lelahnya andai dia harus bolak-balik Bandar Lampung – Jakarta.
“Bisa di atur. Setahun ke depan, aku akan tinggal di sini untuk menyelesaikan filmku,” jawab Rio santai.
“Apa aku bisa menolak?”
“Cukup katakan ya.”
Empat minggu kemudian, Rio Basupati mengumumkan berita pernikahannya dengan Kinanti Larasti. Tak sampai 24 jam, wartawan sudah memburu Kinan. Bahkan kafe miliknya tak pernah sepi dari kerumunan para pewarta. Kinan harus pintar-pintar menyembunyikan keberadaan dirinya.
***