Sebelum Kau Pergi Lagi

DI ANTARA JARAK YANG MENDADAK TERASA DEKAT

POV Rio

 

Kinan sudah pergi hampir satu jam. Aku mencoba melakukan apa pun untuk mengalihkan pikiran: menyapu sedikit, merapikan meja, memeriksa laptop, bahkan membuka-buka catatan riset. Tidak ada yang berhasil.

Bukan karena aku takut dia tidak pulang. Tapi karena aku ingin bicara dengannya. Dengan benar.

Aku duduk di sofa, kepala menyandar, jari mengetuk-ngetuk lutut tanpa sadar. Saat pintu akhirnya terbuka, aku hampir berdiri, tapi kutahan. Aku hanya menoleh.

Kinan masuk. Membuka sepatu pelan. Tidak menatapku dulu. Aku tidak bergerak dari sofa.

Sampai akhirnya ia berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah di depanku.

“Kamu sudah makan?” suaranya pelan.

“Belum. Nunggu kamu.”

Dia mengangguk, tapi tidak bergerak pergi. Ia berdiri kaku, seolah sedang memilih kata.

“Aku sudah lebih tenang,” katanya akhirnya. “Maaf kalau tadi aku tiba-tiba pergi.”

Aku menggeleng. “Tidak apa-apa.”

Kinan mengalihkan pandangan, menatap lantai. Seolah takut kalau menatapku terlalu lama, sesuatu akan keluar dari kepalanya yang tidak siap ia ucapkan.

“Kinan.”

“Ya?”

“Aku tidak minta kamu merasa sesuatu yang tidak kamu mau.”

Dia menatapku sekilas. “Aku tahu.”

“Tapi aku juga tidak mau pura-pura seolah kita ini dua orang asing.”

“Tidak.”

Dia menghela napas. “Kita bukan orang asing.”

Ada jeda. Sunyi. Tapi bukan sunyi yang buruk. Sunyi yang membuat hati berdetak keras karena menunggu sesuatu.

“Aku…” Kinan memegang lengan bajunya sendiri, gelisah.

“Aku hanya takut.”

“Aku juga,” jawabku jujur.

Dia menatapku. “Takut apa?”

“Takut kamu menjauh lagi.”

Kinan membeku.

Aku bangkit dari sofa, tapi aku mendekat perlahan, memberi ruang baginya untuk mundur kalau ia mau. Tapi dia tidak mundur. Hanya berdiri diam.

“Kinan,” kataku pelan, “aku tidak bilang kita harus berubah jadi pasangan sempurna. Atau harus jatuh cinta. Atau harus romantis. Yang aku bilang, aku tidak keberatan kalau kamu ada di hidupku lebih dari sekadar kontrak.”

Kinan menelan ludah. “Rio ...”

“Aku tidak minta kamu membalas apa pun,” potongku pelan. “Aku cuma minta kamu tidak pergi dari aku.”

Kinan memejamkan mata sesaat. Lalu membuka mata dengan napas yang berat. “Aku tidak akan pergi.”

Aku merasakan sesuatu melonggar di dada.

“Tapi aku butuh waktu,” lanjutnya. “Waktu untuk memahami apa yang sedang terjadi.”

Aku mengangguk. “Kamu boleh ambil waktu sebanyak yang kamu perlu.”

Dia mengusap ujung matanya, seperti menyingkirkan ketegangan. “Terima kasih.”

Kami terdiam lagi beberapa detik. Tapi hening itu kali ini tidak menakutkan. Tidak menekan. Justru terasa seperti jembatan kecil yang baru saja terbentuk.

Hati yang sebelumnya jauh, sekarang berdiri di jarak yang cukup dekat untuk saling melihat.

Kinan akhirnya berkata, “Aku masak dulu, ya?”

Aku mengangguk. “Aku bantu.”

Dia terkejut sesaat. “…boleh.”

Kami masuk ke dapur bersama. Untuk pertama kalinya, tidak ada rasa kikuk. Tidak ada rasa terancam oleh kedekatan. Justru ada rasa damai yang sulit dijelaskan.

***

 

POV: Kinan

 

Aku tidak tahu apa yang lebih menenangkan: suara Rio yang berjalan di belakangku atau fakta bahwa dia tidak memaksaku bicara lebih jauh. Ia hanya mengambil talenan dan mulai memotong bawang merah tanpa banyak tanya.

Aku mengaduk tumisan pelan. “Kamu bisa aja motong bawang?”

“Bisa.”

“Tapi omelet kamu… bentuknya...”

“Jangan bahas omelet itu lagi.”

Aku tertawa. Tidak keras, hanya seujung napas. Tapi itu sudah cukup membuat ketegangan yang menempel di dadaku sejak tadi perlahan melonggar.

Rio menatapku sekilas dengan mata yang lebih hangat dari biasanya. Tidak intens, tidak menekan. Hanya hadir. Dan itu lebih berbahaya dari apa pun.

Ia mengambil wajan kedua dan memulai sesuatu tanpa menunggu instruksi. “Aku bikin telur ceplok saja, jangan komentar tentang bentuknya.”

“Aku baru mau bilang ...”

“Kinan.”

“Oke, oke.”

Aku menyerah. Untuk pertama kalinya hari ini, aku merasa ringan.

Saat kami selesai dan membawa makanan ke meja, rumahku terasa berbeda. Lebih penuh. Lebih hidup. Sesuatu yang sebelumnya sunyi kini terisi kehadiran yang entah sejak kapan ternyata kubutuhkan.

Kami makan tanpa banyak bicara, tapi tanpa rasa canggung seperti sebelumnya.

Di tengah makan, Rio menatapku sebentar. Hanya sebentar, tapi cukup membuatku terdiam.

“Aku senang kamu kembali,” katanya pelan.

Ada sesuatu yang jatuh di dalam diriku. Tidak keras, tapi bergema.

“Rio…” suaraku bergetar sedikit. “Aku cuma butuh waktu.”

“Aku tahu.”

Ia mengangguk.

“Aku tidak akan menyentuh batas yang kamu bikin.”

Aku menatapnya lebih lama kali ini. “Terima kasih.”

“Kalau aku lewat batas,” ia menambahkan, “kamu boleh marah.”

Aku menahan senyum. “Dan kamu?”

“Aku apa?”

“Kamu boleh marah juga kalau aku yang lewat batas.”

Dia memiringkan kepala, wajahnya serius tapi matanya menyimpan sesuatu yang hangat. “Kamu melewati batas itu tadi.”

Aku langsung menegang. “Apa?”

“Kamu bilang kamu tidak akan pergi.”

Ia menunduk sedikit, memegang sendoknya.

“Itu melampaui batas yang kupikir akan kamu biarkan.”

Hatiku berdegup keras. Aku tidak sadar bahwa kalimat itu begitu berarti untuknya. Aku menatap makanan di piring, tidak tahu harus mengatakan apa. Mungkin tidak ada yang perlu dikatakan. Percakapan kami sudah cukup jujur.

Sehabis makan, aku mencuci piring, Rio mengeringkan. Kami bekerja dalam sinkron yang tidak pernah kami rancang. Seperti dua orang yang tiba-tiba menemukan ritme yang cocok tanpa disuruh.

Dan aku harus jujur pada diriku sendiri. Aku menyukai ini. Terlalu menyukai ini.

“Besok kamu mau ke lokasi riset lagi?” tanyaku.

Rio mengangguk. “Kalau kamu mau ikut.”

“Kamu butuh aku?”

Ia diam sesaat, lalu berkata pelan tapi jelas, “Aku ingin kamu ada.”

Aku menelan ludah. “Kalau begitu, aku ikut.”

Dia mengangguk kecil, seolah mencoba menahan senyum yang tidak ingin ia tunjukkan. “Oke.”

Ada sesuatu yang berubah sore ini. Tidak drastis, tidak meledak. Tapi tetap nyata. Perlahan, tanpa kami sadari, kami mulai bergerak ke arah yang sama. Aku hanya belum tahu ke mana semua ini akan menuju. Dan itu yang membuat degup jantungku tidak stabil.

***

 

POV: Rio

 

Kinan berdiri di depan rak kecil berisi koleksi buku dan jurnalnya, mencari sesuatu yang tidak kumengerti. Cahaya lampu sore memantul di rambutnya yang sedikit kusut, membuatnya terlihat—aku benci harus mengakui ini—lembut dan menenangkan untuk dilihat.

“Aku lagi cari buku fermentasi kopi. Kayaknya aku mau kamu baca ini,” katanya sambil menarik satu buku.

Ia menyerahkannya padaku. “Ini bagus.”

Aku menerima buku itu. “Kamu yakin aku butuh ini?”

“Kamu butuh.”

Ia menyilangkan tangan.

“Kamu riset jenis fermentasi, kan?”

Aku memutar buku itu. “Ya, tapi, kamu bisa saja jelasin.”

“Aku capek ngomong sama kamu selama tiga hari terakhir.”

Dia memutar bola mata, pura-pura kesal.

Aku tertawa pelan. “Kamu tidak capek denganku.”

“Kenapa kamu yakin begitu?”

“Kamu kembali.”

Wajahnya memerah seketika. Tidak seluruhnya, hanya pipi kanan. Tapi aku melihatnya. Dan aku menikmati melihatnya.

“Kamu...” Kinan membuka mulut, ingin membantah, tapi tidak ada kata keluar. Ia akhirnya mendengus dan pergi ke dapur.

Aku mengikuti.

“Jangan ikut-ikut.”

Aku menyandarkan bahu pada pintu. “Rumah kamu kecil. Mau ke mana aku?”

Dia mengangkat gelas untuk minum, tapi tangannya sedikit bergetar. Aku deduksi dengan cepat:

Dia gugup. Tentang aku. Dan itu membuatku ingin tersenyum seperti orang bodoh.

“Kinan,” panggilku.

“Hm?”

“Kalau kamu benar-benar tidak nyaman, kamu boleh minta aku diam.”

Dia berhenti. “Kamu tidak akan diam.”

“Kalau kamu minta, aku coba.”

Dia menatapku. Lama.

“Rio…”

“Ya?”

“Aku bukan tidak nyaman.”

Suaranya turun, hampir seperti bisikan.

“Aku cuma belum tahu harus apa.”

Jantungku turun sedikit, lalu naik lagi dengan kecepatan tidak wajar. Aku melangkah mendekat.

“Kamu tidak perlu tahu sekarang,” bisikku.

“Cukup jalan pelan.”

Ia menghela napas, seolah melepaskan sesuatu yang ia tahan.

Aku menambahkan, “Aku tidak akan buru-buru. Aku tidak akan tarik kamu.”

Matanya naik menatap mataku.

“Tapi kalau kamu datang,” aku menambahkan lirih, “aku tidak akan menolak.”

Dadanya naik turun, teratur tapi berat.

Ini bukan rayuan.

Ini bukan drama.

Ini kebenaran yang tidak bisa kutahan lagi.

Dia akhirnya berkata pelan, dengan suara yang hampir pecah:

“Aku takut nanti kita salah.”

Aku menatapnya tanpa berkedip. “Kalau kita salah, kita perbaiki.”

“Aku takut kita berharap.”

“Kalau kita berharap, kita bicara.”

“Aku takut...”

“Aku juga takut, Kin.”

Aku mendekat setengah langkah.

“Tapi aku tidak takut sama kamu.”

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!