Sebelum Kau Pergi Lagi

KITA MANUSIA, BUKAN ROBOT

POV Kinan

 

Ada hal yang tidak ingin aku akui. Bahwa kata-kata Rio mulai menembus pertahananku. Bahwa cara dia menatap, cara dia menggenggam lenganku waktu aku hampir jatuh, cara dia jujur tanpa drama, semua itu tidak terasa seperti sesuatu yang seharusnya ada dalam pernikahan kontrak.

Dan aku takut.

Bukan takut pada Rio.

Takut pada diriku sendiri.

Takut bahwa aku mulai merasa nyaman. Merasa diperhatikan. Merasa dilihat. Dan yang paling buruk, merasa dihargai.

Aku memasak nasi goreng sederhana, mencoba mengalihkan pikiran. Aku bergerak cepat. Memanaskan minyak, menumis bawang, memasukkan nasi. Tapi tanganku sedikit gemetar, dan aku membencinya.

“Perlu dibantu?”

Suara itu terlalu dekat. Terlalu rendah. Terlalu lembut.

“Aku bisa sendiri,” jawabku tanpa menoleh.

Dia tidak pergi. “Kamu marah?”

“Tidak.”

“Kelihatan marah.”

“Aku tidak marah,” ulangku, sedikit lebih keras.

“Kamu menghindar.”

Aku berhenti mengaduk. “Aku tidak menghindar.”

“Kamu bahkan tidak menatap aku.”

Itu benar. Dan aku benci bahwa dia menyadarinya.

Aku akhirnya menoleh.

Kesalahan besar.

Rio berdiri terlalu dekat, matanya dalam, sedikit lelah tapi fokus. Wajahnya masih menyimpan sisa ketampanan yang media sering bicarakan, tapi ketika melihatnya dari jarak ini, rasanya berbeda. Ada sesuatu yang manusiawi, lembut, dan jujur.

Terlalu jujur.

“Aku cuma butuh jarak,” bisikku.

“Dari aku?”

Dari semua ini.

Dari tatapanmu.

Dari caramu bersikap seolah kamu tidak keberatan aku ada di hidupmu.

“Dari situasi yang membuatku lupa bahwa ini hanya kesepakatan,” kataku pelan.

Rio menatapku lama. Sangat lama.

Lalu ia mundur.

Satu langkah.

Dua.

Tapi tatapannya tetap menempel padaku.

“Oke,” katanya akhirnya. “Kalau itu yang kamu butuhkan.”

Dan ia benar-benar pergi ke ruang tamu.

Aku berdiri kaku di dapur. Ingin lega. Tapi yang terasa justru seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat kugenggam.

Kami makan siang tanpa bicara. Rio menghabiskan nasinya dengan perlahan, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku juga diam. Tidak tahu harus memulai dari mana.

Setelah makan, Rio berdiri. “Aku mau mandi.”

Aku hanya mengangguk.

Saat ia berjalan menuju kamar mandi, ponselnya bergetar keras di meja. Sebuah notifikasi muncul di layar, aku tidak berniat mengintip, tapi namanya muncul begitu jelas: Nadine.

Aku menelan ludah.

Nama yang bahkan tidak pernah dia sebutkan.

Nama yang terlalu sering muncul di gosip dunia hiburan sebagai “kedekatan lama Rio Basupati.”

Aku tidak menyentuh ponselnya.

Tapi notifikasi itu membuat hatiku terasa kacau.

Dan itu sangat tidak masuk akal.

Ini pernikahan kontrak.

Kenapa aku peduli?

***

 

POV Rio

 

Saat keluar dari kamar mandi, aku mendapati ponselku tergeletak di meja. Ada notifikasi panggilan tak terjawab.

Nadine.

Aku menghela napas panjang.

Tidak sekarang. Tidak hari ini.

Aku memeriksa dapur. Kinan sedang mencuci piring, bahunya tegang. Seperti seseorang yang sedang menahan seribu pertanyaan.

“Kinan.”

Dia tidak berhenti mencuci. “Hm?”

“Kamu lihat ponselku berdering?”

“Ya. Tapi aku tidak buka.”

“Mau tanya siapa dia?”

“Tidak.”

Tapi itu bohong. Wajahnya jelas ingin tahu.

Aku mendekat sedikit. “Dia masa lalu.”

Kinan berhenti mencuci.

“Tapi masa lalu itu, tipe yang suka datang lagi.”

“Dan kamu?”

Suaranya datar.

“Tipe yang menyambut?”

Aku menatapnya lama. “Tidak.”

Dia tidak menjawab. Tapi bahunya sedikit rileks.

Aku menambahkan pelan, “Kalau aku ingin menyambut, aku tidak akan menikah denganmu.”

Kinan memejamkan mata sesaat, seperti berusaha memahami atau mengabaikan kalimat itu. Aku tidak tahu.

Sore harinya, aku duduk di ruang tamu, memeriksa hasil foto dari kebun. Kinan keluar membawa dua gelas es teh. Satu ia letakkan di sampingku, satu ia pegang sendiri.

“Terima kasih,” ucapku.

Dia mengangguk kecil dan duduk di sofa berlawanan.

Kami diam beberapa menit.

Sampai akhirnya, aku berkata pelan, “Tentang yang tadi pagi, kamu tidak salah paham.”

Kinan menoleh.

“Tentang apa?”

“Pernikahan ini tetap sesuai kesepakatan.”

Aku menatapnya lekat.

“Tapi kita manusia, Kin. Bukan robot.”

Dia menggigit bibir pelan. “Aku tahu.”

“Kita boleh biasa. Boleh akrab. Boleh jujur.”

Aku melanjutkan, “Itu tidak membuat kita melanggar apa pun.”

“Rio…”

Aku bangkit, berjalan mendekat, dan duduk di sofa tempat ia duduk. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa aku ada di sana.

“Kamu bukan masalah, Kin.”

Nada suaraku turun.

“Apa pun yang kamu takutkan… itu bukan kamu.”

Dia menatapku. Ada ketakutan, ada kebingungan, dan ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih lembut daripada keraguan.

“Aku cuma takut hubungan ini… tidak lagi terasa seperti awalnya,” katanya lirih.

“Bagus.”

Dia mengerutkan kening. “Bagus?”

“Kita bukan aktor. Kita tinggal bersama. Berbagi ruang. Berbagi hidup. Tentu saja akan berubah.”

“Tapi kalau berubah ke arah yang salah?”

“Kin.”

Aku menatap matanya dalam-dalam.

“Yang salah itu berpura-pura tidak ada apa-apa padahal ada sesuatu.”

Dia tersentak.

“Ada sesuatu?” bisiknya.

Aku mengangguk.

Dia tidak menjawab apa-apa. Hanya menunduk. Bahunya naik turun perlahan, seolah ia sedang mencoba menerima kemungkinan itu.

Beberapa detik berlalu hening.

Lalu Kinan berdiri.

“Rio… aku butuh udara.”

Aku juga berdiri. “Mau aku antar?”

Dia menggeleng cepat. “Aku jalan sebentar. Sendirian.”

Aku menahan napas.

Ini bukan penolakan. Ini ketakutan.

“Baik,” kataku akhirnya.

Kinan mengambil jaket tipis dan keluar rumah. Pintu tertutup pelan. Aku menatap pintu itu lama. Sangat lama. Ada rasa yang tidak bisa kujelaskan. Perih kecil. Retakan halus. Tapi juga lega. Karena akhirnya, kami berhenti berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa. Kami sama-sama tahu ada sesuatu. Dan itu adalah titik di mana semuanya mulai berubah.

***

POV Kinan

 

Udara sore terasa lebih dingin dari biasanya. Aku berjalan tanpa arah jelas, melintasi jalan-jalan kecil di kompleks rumah. Matahari mulai turun, menyisakan langit jingga yang memudar perlahan, seolah mengikuti suasana hatiku yang juga meredup.

Aku butuh udara.

Aku butuh ruang.

Bukan karena Rio melakukan kesalahan.

Bukan.

Justru karena ia tidak salah.

Dan itu yang membuatku semakin bingung.

Perasaanku belakangan ini bukan hal yang ingin kuakui. Ada kedekatan yang tidak kami rencanakan. Ada kebiasaan baru yang menjebakku perlahan. Cara dia menatapku. Cara dia berbicara. Cara dia mengingat hal-hal kecil tentangku.

Lama-lama aku lupa bahwa kami bukan pasangan sungguhan.

Kami hanya sedang memainkan peran.

Atau, sudahkah kami berhenti berperan?

Aku duduk di pinggir lapangan kecil dekat rumah. Anak-anak bermain bola, tertawa, saling berteriak. Ada rasa nyaman melihat mereka begitu bebas, seakan dunia dewasa tidak pernah ada.

Aku menarik napas panjang. Terus saja memandang arah tak jelas. Tanpa tahu apa yang menjadi fokus pandanganku.

Aku berdiri perlahan.

Aku belum siap bicara. Belum siap untuk menjadi dekat dengan Rio. Tapi aku tahu Rio tidak pantas dibiarkan sendirian di rumah. Maka, aku kembali ke rumah.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!