Sebelum Kau Pergi Lagi
OKE MESKI TIDAK OKE
POV Kinan
Rio menyadari tatapanku dan mendecak pelan. “Jangan komentar.”
“Aku belum ngomong apa-apa,” elakku.
“Tapi mukamu sudah ngomong banyak.”
Aku tertawa kecil.
Rio mematikan kompor dan mendekat. “Aku bikin kopi. Mau?”
“Tentu.”
Dia menuangkan dua cangkir. Kami duduk berhadapan di meja makan kecil itu. Kepulan kopi naik di antara kami, seperti tirai tipis yang memisahkan sesuatu yang tidak kami mengerti.
Rio menyesap kopinya. “Aku sudah kontak Pak Armand. Dia tunggu kita jam delapan di Tanggamus.”
“Baik.”
“Kita bisa berangkat sekitar jam enam. Jalannya agak jauh.”
Aku mengangguk. “Aku siap.”
Rio menatapku lama, seolah ingin memastikan. “Kalau kamu capek, kamu bisa tinggal.”
“Aku ikut,” jawabku cepat. Lalu menatap cangkirku. “Aku suka bagian riset.”
Ada yang berubah di sorot matanya. Tidak tahu apa.
“Baiklah,” katanya pelan.
Kami berangkat tepat pukul enam. Udara masih dingin, jendela mobil berembun, dan jalanan belum ramai. Sepanjang perjalanan, Rio fokus menyetir, sementara aku menikmati pemandangan. Pohon-pohon tinggi, ladang-ladang yang mulai terkena sinar pagi, dan aroma tanah basah pasca hujan.
“Kamu sering bangun sepagi ini?” tanya Rio, memecah keheningan.
“Kadang. Waktu kafe masih buka full, aku bangun jam tiga pagi setiap hari.”
“Hm. Itu sebabnya kamu selalu terlihat capek waktu pertama kali ketemu.”
Aku menoleh cepat. “Kamu ingat?”
“Ya.”
Aku menggigit bibir. Tidak menyangka Rio memperhatikan hal sekecil itu.
“Aku ingat kamu sibuk sekali waktu itu,” katanya lagi.
“Kamu juga sibuk.”
“Tapi kamu berbeda.”
Berbeda.
Kata itu menggantung di antara kami. Membuat jantungku berdetak pelan tapi dalam.
“Apa yang berbeda?” tanyaku tanpa sadar.
Rio tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah ke jalan. Setelah beberapa detik, ia berkata pelan,
“Kamu tidak berusaha membuatku tertarik.”
Aku terdiam.
Rio melanjutkan, “Semua orang yang pernah dekat denganku selalu menunjukkan sesuatu. Entah perhatian berlebihan, entah sikap pura-pura tenang. Tapi kamu, kamu cuma jadi dirimu.”
Aku tidak tahu harus merespons apa.
“…dan itu yang membuatku datang lagi ke kafe,” tambah Rio lirih.
Aku menelan ludah. Perjalanan tiba-tiba terasa terlalu sunyi.
Tidak. Aku tidak boleh membiarkan hal-hal seperti ini masuk terlalu dalam. Ini pernikahan kontrak. Ini tidak nyata. Tidak boleh menjadi nyata.
Aku memalingkan wajah ke jendela, meredakan gejolak di dadaku.
“Kita akan terlambat kalau kamu melambat seperti ini,” kataku pelan.
Rio tertawa pendek. “Baik, Bu Bos.”
***
POV Rio
Tanggamus terlihat indah pagi itu. Kabut turun pelan seperti tirai yang enggan menghilang. Kami menemui Pak Armand, pemilik salah satu kebun kopi terbesar di daerah itu. Dia ramah, banyak bercerita, dan tampak senang melihat Kinan.
“Wah, Bu Kinan! Saya sudah kenal Dejavu sejak lama. Banyak pelanggan saya yang selalu bawa oleh-oleh dari kafe Ibu.”
Kinan tersenyum. “Terima kasih, Pak.”
“Dan sekarang pemiliknya sudah menikah. Ckckck… selamat, ya!”
Dia menatap Kinan lalu menatapku. Aku mengangguk sedikit. Kinan tersenyum kaku. Matanya menghindari tatapanku.
Kenapa?
Setelah itu kami berkeliling kebun. Aku mengambil banyak foto, bertanya tentang proses fermentasi, mencatat warna daun, tekstur buah kopi. Tapi pikiranku tidak bisa fokus sepenuhnya.
Kinan terlihat berbeda hari ini.
Mungkin karena ucapan di mobil tadi. Mungkin karena aku terlalu jujur. Atau mungkin karena dia mulai merasa berat menjalani kontrak ini.
Aku berhenti di dekat area pengeringan. Kinan berdiri di bawah sinar matahari yang pelan menembus kabut, rambutnya diterpa angin. Dia tampak begitu menyatu dengan tempat ini.
“Aku mau ambil gambar dari sini,” kataku.
Kinan mengangguk dan mengambil langkah mundur. Saat ia melangkah, ujung sepatunya tersangkut akar pohon. Tubuhnya oleng.
Refleks, aku tangkap lengannya.
Kali ini aku menariknya lebih dekat dari seharusnya. Nafasnya menabrak dadaku. Dan entah apa yang membuatku tidak langsung melepaskannya.
Kinan menegakkan tubuh, wajahnya jelas gugup. “Aku bisa sendiri.”
“Aku tahu,” jawabku.
Tapi aku tetap tidak melepasnya beberapa detik lagi.
Demi Tuhan.
Ini berbahaya.
Aku akhirnya melepaskannya. Kinan mundur cepat, bahkan terlalu cepat. Dia membenarkan rambutnya, namun tangannya sedikit gemetar.
“T-terima kasih,” katanya tanpa menatapku.
Aku pura-pura sibuk dengan kamera.
“Jaga langkahmu,” ujarku pelan.
Dia tidak menjawab.
Tapi pipinya memerah.
Dan itu membuatku hampir kehilangan napas.
Kami selesai menjelang siang. Pak Armand menawarkan makan, tapi Kinan menolak halus, jadi kami pulang lebih awal. Perjalanan kembali jauh lebih hening dibandingkan berangkat tadi.
Sekitar lima belas menit sebelum sampai rumah, Kinan membuka suara.
“Rio…”
“Hm?”
“Kenapa kamu bilang hal-hal seperti tadi?”
“Yang mana?”
“Yang… di mobil.”
Aku meliriknya sekilas. “Karena itu jujur.”
“Tapi kita janji pernikahan ini nggak pakai perasaan.”
“Bukankah tidak ada perasaan dalam kata-kataku?”
Kinan menatapku, terlihat bingung. “Entahlah.”
Aku melambatkan mobil. “Kinan…”
Dia menegakkan tubuh, seolah bersiap.
“Kita tidak perlu jatuh cinta untuk memperlakukan satu sama lain dengan jujur.”
Dia terdiam.
Lama.
Saat mobil berhenti di lampu merah, dia menoleh padaku dan berkata pelan,
“Tapi jangan buat ini terasa seperti sesuatu yang bukan bagian dari kesepakatan.”
Aku menoleh balik.
“Kamu takut?” tanyaku pelan.
“Bukan. Aku hanya tidak mau salah paham.”
“Salah paham tentang apa?”
Dia menelan napas pelan. “Tentang kamu. Tentang kita.”
Aku tidak menjawab pertanyaan Kinan. Setidaknya tidak langsung.
Sebab tatapannya itu… bukan tatapan seseorang yang ingin berdebat atau memaksa. Itu tatapan seseorang yang takut salah melangkah. Takut berharap. Takut memahami sesuatu yang ia pikir tidak seharusnya ia pahami.
Dan itu membuat dadaku terasa aneh.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Kinan membuka pintu lebih cepat dari biasanya, seolah ingin mengusir udara percakapan tadi. Aku juga turun, menutup pintu, dan menyusulnya masuk.
Dia langsung menuju kamar dan meletakkan tas kecilnya di kursi. Aku menatap punggungnya dari ambang pintu dapur.
“Kin.”
Dia berhenti, tapi tidak menoleh.
“Aku tidak berniat bikin kamu salah paham.”
Suaraku lebih lembut dari yang kuinginkan.
Kinan menutup mata sesaat, lalu berbalik perlahan. “Rio… aku cuma mencoba menjalani ini sesuai kesepakatan kita. Kamu juga harus begitu.”
“Aku menjalani sesuai kesepakatan.”
“Tapi kamu bicara seolah ...”
Aku melangkah mendekat. Empat langkah. Tiga. Dua. Sampai jarak kami hanya sejengkal.
“Aku bicara apa adanya.”
Nada suaraku sedikit turun. “Jujur itu tidak memperumit kesepakatan.”
“Tapi bisa memperumit hati,” gumamnya nyaris tak terdengar.
Dan aku terpaku.
Itu kalimat paling jujur yang pernah ia keluarkan sejak kami menikah.
Kinan melangkah ke samping, menjauh sebelum aku bisa mengatakan apa pun. Ia masuk ke dapur.
“Mau makan malam?” tanyanya cepat, seperti membuat topik baru.
“Kinan ...”
“Rio, aku… hanya ingin semuanya tetap berjalan seperti seharusnya. Tidak lebih.”
Aku ingin mengatakan itu tidak sesederhana itu. Bahwa sesuatu sudah bergeser. Bahwa ini bukan skema dingin seperti yang kubayangkan.
Tapi aku tidak bisa memaksanya.
Aku hanya berkata, “Oke.”
Meski rasanya jauh dari oke.
***