Sebelum Kau Pergi Lagi
DI ANTARA BAYANG DAN CAHAYA 1
Malamnya, hujan turun deras. Angin membuat dedaunan bergetar di luar. Kinan duduk di sofa ruang tamu, menonton drama keluarga favoritnya sambil memakan tart kecil yang ia buat sore tadi.
Rio duduk di kursi berbeda, memeriksa skrip. Tapi pikirannya tidak berada di halaman laptop.
Pikirannya berada pada perempuan di depannya.
Pada jawaban sederhana yang memberi efek lebih besar dari yang ia kira.
Ya, Rio. Aku nyaman.
Kalimat itu membuat sisi dirinya yang sudah lama mati… seperti bangkit perlahan.
Rio menutup laptop. “Kinan.”
“Hm?”
“Kamu tadi bilang kamu nyaman.”
Kinan menatapnya sekilas. “Iya.”
“Aku juga,” ujar Rio.
Kinan langsung diam.
Matanya tidak berkedip selama dua detik penuh.
“Dan itu masalah,” tambah Rio dalam nada rendah.
Kinan menghela napas. “Aku tahu.”
Rio bersandar. “Kita menikah untuk alasan rasional. Tapi perasaan tidak selalu rasional.”
“Perasaan siapa yang kamu maksud?” tanya Kinan datar.
Rio tidak menjawab.
Keheningan panjang menggantung.
Lalu Kinan bangkit dari sofa. “Jangan berpikir terlalu jauh, Rio.”
“Kamu menyuruhku mengabaikan sesuatu yang nyata,” balas Rio.
Kinan menggeleng. “Bukan nyata. Itu hanya kebiasaan. Kita tinggal serumah. Bekerja bersama. Tentu saja kita mulai nyaman.”
“Dan kalau itu berkembang?” suara Rio lebih rendah, lebih berat. “Kalau aku mulai merasa lebih?”
Untuk pertama kali sejak pernikahan mereka, wajah Kinan benar-benar kaget.
Rio sendiri baru menyadari ucapannya setelah terlontar.
Ia tidak berbohong.
Ia tidak sedang bercanda.
Ia tidak sedang mencoba menakut-nakuti Kinan.
Ia… jujur.
Kinan menatap Rio lama. Sangat lama. Lalu ia mengalihkan pandangan.
“Kalau itu terjadi,” ucap Kinan pelan, “kita akan berhenti di titik itu. Kita sudah sepakat, Rio. Tidak ada cinta. Tidak ada hubungan emosional.”
“Kesepakatan bisa berubah,” balas Rio spontan.
“Tidak, Rio. Tidak semua hal bisa berubah.” Kinan mundur satu langkah. “Aku tidak siap… kehilangan siapa pun lagi dalam hidupku.”
Ada retakan kecil dalam suara itu.
Dan Rio melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya: Kinan… takut.
Rio perlahan berdiri. “Aku tidak akan membuat kamu kehilangan apa pun.”
“Kamu tidak bisa jamin itu,” balas Kinan, langkahnya mundur lagi.
Rio mendekat satu langkah.
“Kinan—”
“Sudah,” potong Kinan cepat. “Aku capek. Aku tidur dulu.”
Perempuan itu berbalik dan masuk ke kamarnya, menutup pintu pelan tapi tegas.
Rio berdiri di ruang tamu, memandang pintu kamar itu lama.
Dadanya berat.
Tangannya mengepal.
Ia tahu ada batas.
Ia tahu ia tidak boleh menembus batas itu.
Tapi sejak pagi tadi… sejak Kinan memanggilnya untuk sarapan… sejak ia menangkap tubuh Kinan di kebun kopi… sejak jawaban “aku nyaman” itu…
Rio tahu satu hal:
Batas itu mulai retak dari dalam.
Dan jika ia terus tinggal di rumah kecil itu… retakannya akan membesar.
***
Keesokan paginya, Rio bangun lebih cepat dari Kinan. Ia membuat kopi, duduk di meja makan, dan menatap pintu kamar Kinan.
Ketika Kinan akhirnya keluar, wajahnya tampak lebih segar. Tapi matanya menghindari mata Rio.
“Kamu mau sarapan?” tanya Rio.
“Tidak. Aku mau langsung ke kafe. Ada bahan yang harus di-restock.”
“Aku ikut.”
Kinan berhenti. “Tidak perlu.”
“Kinan,” suara Rio rendah. “Kita tidak bisa pura-pura tidak terjadi apa-apa.”
“Aku bisa.”
“Kamu tidak.”
Kinan menatapnya, dingin tapi rapuh. “Aku sudah terbiasa menahan banyak hal, Rio.”
“Ada hal-hal yang tidak perlu kamu tahan.”
“Dan ada hal-hal yang seharusnya tidak kamu ubah.” Kinan meraih tasnya. “Termasuk batas antara kita.”
Rio bangkit dari kursinya.
“Kinan. Kita menikah. Kita tinggal serumah. Mau atau tidak, akan ada momen ketika semuanya menjadi… lebih rumit.”
“Ketika itu terjadi, aku yang akan pergi.” Kinan menatapnya tajam. “Aku sudah bilang sejak awal, aku tidak akan jatuh cinta padamu.”
Rio terdiam.
Kinan menambahkan, “Dan aku minta kamu juga tidak jatuh cinta padaku.”
Kinan melangkah pergi.
Rio hanya bisa berdiri.
Tatapannya mengikuti langkah perempuan kecil berambut ikal itu, yang kini terasa seperti badai dalam hidupnya.
Dan untuk pertama kalinya…
Rio Basupati takut.
Bukan takut pada pernikahan mereka.
Atau pada wartawan.
Bukan pada publik yang selalu menguntitnya.
Tapi takut pada satu hal:
Bahwa ia sudah mulai jatuh pada sesuatu yang tidak boleh ia sentuh.
Pada sesuatu yang tidak boleh ia kejar.
Pada seseorang yang sudah memperingatkannya…
lebih dari sekali.
Dan di luar sana, pagi yang cerah seolah tidak peduli bahwa batas antara Rio dan Kinan baru saja berubah.
Dari garis halus menjadi garis yang hampir tidak terlihat lagi.
***
Rio memandangi halaman belakang rumah Kinan dari jendela kamarnya. Matahari pagi menembus sela-sela dedaunan, menimbulkan kilau keemasan pada embun yang masih bertahan di rumput pendek itu. Seharusnya pagi ini terasa biasa saja. Seperti pagi-malam-pagi yang ia lalui selama seminggu terakhir. Tapi hari ini terasa berbeda.
Ada sesuatu yang menyentak dari dalam dirinya sejak semalam, ketika ia melihat Kinan tertidur di meja dapur karena kelelahan. Entah bagaimana, senyum tipis Kinan saat ia membangunkannya terus terpatri dalam benaknya, seakan membentuk ruang kecil yang mustahil ia tutup rapat kembali.
Rio Basupati adalah lelaki yang hidup berpuluh tahun dengan prinsip: jangan beri ruang pada apa pun yang bisa melemahkan logika. Jangan beri celah pada perasaan yang bisa menjerat. Jangan beri kesempatan bagi orang lain untuk menjadi pusat gravitasi hidupmu. Itu sebabnya ia menjauhi perempuan yang mencintainya. Itu sebabnya ia menawarkan pernikahan pada Kinan — seseorang yang terlihat terlalu kuat untuk membutuhkan siapa pun, dan terlalu logis untuk jatuh cinta begitu saja.
Namun, dalam sepuluh hari, rumah kecil ini telah menciptakan retakan kecil pada benteng itu.
Rio menghela napas, menepis pikiran yang mulai menjerat dirinya. Ia mengambil jaket, ponsel, dan keluar dari kamar.
Ketika ia tiba di dapur, Kinan sudah berada di sana, rambutnya diikat asal, wajahnya masih basah oleh percikan air wudu. Celana training dan kaus longgar yang ia pakai tidak mengurangi pesona natural yang justru selalu memancing perhatian Rio tanpa ia minta.
“Pagi,” sapa Kinan tanpa menoleh, sibuk memotong buah naga.
“Pagi.” Rio mengambil gelas, mengisi dengan air.
“Kamu ada jadwal ke luar kota hari ini?” tanya Kinan sambil tetap bekerja.
“Tidak. Ada meeting online dengan pihak studio siang nanti.”
“Oh.”
“Kamu?”
“Kafe. Ada urusan dengan kontraktor. Mereka mau cek pondasi struktural sebelum mulai renovasi.”
Rio mengangguk sambil memperhatikannya.
Gerakan Kinan luwes, efisien, dan entah mengapa selalu terlihat indah, bahkan ketika ia hanya memotong buah.
“Rio,” panggil Kinan tiba-tiba. “Jangan lupa, Mak Monit bilang hari Minggu beliau mau datang ke sini.”
“Aku ingat.”
“Baik. Aku cuma mengingatkan.”
Rio menaikkan satu alis. Nada Kinan terdengar formal. Terlalu formal untuk seorang istri.
“Kamu kenapa?” Rio merasa perlu bertanya.
Kinan berhenti memotong. Ia menatapnya. Tatapannya jernih, tapi lelah. “Tidak kenapa-kenapa.”
“Tapi kamu terlihat menjauh.”
“Aku tidak menjauh.”
“Ya, kamu menjauh.”
Kinan menghela napas panjang.
“Kita ini bukan pasangan sungguhan, Rio. Jadi wajar kalau aku berusaha memberi jarak.”
“Kenapa?” Rio bertanya, meski ia tahu bagian dari jawabannya.
“Karena aku harus tetap ingat apa status kita,” balas Kinan pelan. “Kita menikah karena kepentingan. Bukan karena cinta. Kita tidak perlu menjadi terlalu dekat.”
Kalimat itu menusuk sesuatu di dalam dada Rio. Dingin dan panas sekaligus. Ia mengerjapkan mata.
“Kalau kita terlalu dekat,” lanjut Kinan, “aku takut… semuanya jadi sulit ketika waktunya selesai.”
Ada jeda. Sunyi mengental. Rio memejamkan mata satu detik.
Jadi itu, batin Rio. Perempuan itu takut. Takut pada kedekatan. Takut pada sesuatu yang ia sendiri tidak ingin akui. Sama seperti dirinya.
“Kinan,” Rio menurunkan nada suaranya, “aku tidak berniat menyulitkan hidupmu. Dan aku tidak akan melanggar kesepakatan. Tapi kita tinggal di rumah yang sama. Kita tidak bisa pura-pura tidak mengenal.”
Kinan menunduk, menyerah. “Iya, aku tahu.”
“Bagus. Sekarang makan,” ucap Rio sambil mengambil piring berisi potongan buah dari depannya.
Kinan memutar bola mata, namun duduk.
Mereka makan tanpa banyak bicara, tapi kali ini heningnya terasa lebih muda, ringan, tidak sekaku sebelumnya. Setelah makan dan membereskan meja, Kinan mengambil tas.
“Aku berangkat dulu.”
Rio mengangguk. “Aku antar.”
“Tidak usah. Aku naik motor.”
Rio mendekat. Teman baiknya—keras kepala—itu berdiri tepat di depannya. “Aku antar,” ulangnya.
“Rio—”
“Terserah kamu mau naik motor atau apa. Tapi aku tetap ikut.”
Kinan menatapnya, ragu, bingung, lalu menyerah. “Jangan bikin keributan di depan kafe.”
“Kamu pikir aku ini selebriti TikTok?” Rio tersenyum miring.
“Lebih buruk,” balas Kinan.
Rio tertawa pendek. Kinan juga tersenyum tipis sebelum melangkah keluar.
***