Sang Pelindung Bumi
Ingatan Aline
”Kak Dion! Bangun sekarang juga!” sebuah teriakan cukup keras di telingan Dinan.
Dinan membuka matanya, seperti itu adalah suara adik lelakinya, Dion?
Saat membuka matanya, Dinan melihat Dion adiknya yang membangunkannya. Apa yang terjadi? Dia sudah kembali ke rumah?
”Siang-siang jangan tidur brother Dinan! Ayo main bola sebentar.”
Dion tak peduli bahwa Dinan masih baru bangun dari tidur, dia tetap menarik tangan Dinan. Dinan pun mengikuti tarikan dari tangan Dion tersebut. Dinan masih belum percaya bahwa dia kembali ke rumah. Semuanya masih seperti baru saja terjadi, kehancuran Bumi dan peperangannya dengan Bangsa Cyprus. Terakhir, dia bertemu dengan Abras.
Dinan tergopoh-gopoh mengikuti Dion, dirinya masih sedikit mengantuk dan mengucek matanya karena baru saja bangun. Saat melewati ruang tamu, Dinan menghentikan langkahnya. Namun, tangannya masih terus menerus ditarik oleh Dion.
”Ayo Kak, temani sebentar untuk main Bola!” Dion kesulitan menarik tangan Kakak lelakinya itu. Dan, Dinan mematung karena melihat dua sosok yang sedang duduk di ruang tamu.
Seorang lelaki yang sedang duduk menjahit sebuah baju putih, sedangkan satu lagi sedang mengepel lantai. Mata Dinan tak bisa lepas dari penglihatannya. Tubuhnya gemetaran seluruhnya.
”Ayah! Ibu!”
Kedua sosok itu kaget dan melihat ke arah Dinan, mereka tersenyum pada Dinan.
”Kamu sudah bangun, Dinan. Kamu terlalu nyenyak tidur, Ibu tidak berani membangunkanmu,” senyuman khas Ibunya. Dinan tak percaya dengan semua ini, dia masih gemetaran.
”Apakah kamu lapar, Dinan?” suara Ayahnya sekarang, ”Ayah masih menjahitkan kancing baju adikmu, Dion. Dua kancing bajunya copot sekaligus!” suara ayahnya dan juga senyumannya.
Dinan mundur dua langkah, dia memegang tubuhnya, memegang kedua pipinya. Dia mencubit pipi kanannya. Ini bukan mimpi!
Apakah ini, efek dari kekuatan menciptakan dunia baru seperti dalam imajinasi Dinan? Dia memang membuat dunia baru yang di dalamnya, tidak ada Portal Dimesi. Tidak ada kekacauan semesta, dan tentu saja tidak ada kekuatan Hunter.
”Ayah! Ibu!” Dinan berlari dan memeluk Ibunya. Ibunya bingung dengan apa yangn dilakukan Dinan, Ayahnya juga ikut menepuk pundak kanan Dinan.
”Tidak apa-apa Dinan, mungkin kamu baru saja bermimpi buruk!”
Dinan masih meneteskan airmatanya, dia melepaskan pelukan Ibunya. Dia mencoba menenangkan dirinya. Dia kemudian tersenyum pada keduanya.
”Aku akan pergi sebentar, aku akan segera kembali. Aku ada keperluan penting!” Dinan bergegas untuk keluar rumah dan menuju pintu. Dia teringat pada Arya yang masih di dalam melihatnya.
”Kakak janji, nanti kita akan bermain lagi denganmu. Kakak ada masalah penting!”
Dion tersenyum, ”Baiklah, kamu selalu begitu brother Dinan! Namun, berjanjilah untuk selalu pulang!” kata Dion.
Dinan menganggukkan kepalanya, ”Pasti, Adikku Dion! Kakak akan selalu pulang!”
Dinan pun keluar, dia melihat udara yang begitu sejuk. Ini rumahnya, rumahnya cukup sederhana. Sama seperti rumahnya dulu sebelum terjadi Portal Dimensi, dan Portal Crash terjadi di dekat rumahnya.
Dinan mengambil Hanphone di kantongnya. Tahun 2030, tidak ada yang berubah dengan hari. Ini adalah hari pertempuran dirinya dengan Giganos, hari ini adalah hari di mana Dinan mendapatkan tiga Artefak Semesta dan menyatukan dua bumi.
Dinan ingin memastikan sesuatu, dia pergi ke jalan raya dan mendapatkan Taxi. Tujuannya adalah Minimarket di pinggir Sungai Seine. Di sana, semuanya akan terjawab sekarang. Dinan sampai di depan Rumah Makan Les Deux Colombes, Toko Minimarket di sebelahnya. Dinan sedikit ragu untuk mendekati Mini Market tersebut.
Cukup ramai orang keluar dan masuk, Dinan pun memberanikan diri memasuki Mini Market tersebut.
”Dinan! Kemana saja, Kamu! Ayahku selalu membicarakanmu sejak kamu menghilang begitu saja!” suar seorang wanita, dia agak marah sambil mengankat satu keranjang barang yang akan ditata di rak Mini Market tersebut.
Mata Dinan tak percaya melihat siapa yang bicara tersebut.
”Hunter ..., Sophie! Kamu ...”
”Hunter, Hunter! Memangnya aku pemburu Hantu! Aku sudah memburumu cukup lama untuk mengetahui keberadaanmu. Kamu menghilang begitu saja, setahun yang lalu tanpa pamit!”
Wanita itu adalah, Sophie, dan dia terlihat kesal.
”Sejak kamu pergi, aku yang selalu membantu Ayah. Aku lelah sekali!” teriak Sophie lagi.
Ada apa ini sebenarnya?
”Oh, Dinan! Kamu datang rupanya, ha.. ha.. ha..!” tawa seorang lelaki yang tubuhnya sedikit gemuk, dia sedang berada di kasir dan melihat Dinan masuk.
”Paman, Agra ...!” kata Dinan agak ragu.
”Tentu saja, memangnya siapa aku! Hah! Kamu menghilang begitu saja, jika kamu memang tidak betah kerja denganku, ya katakan saja! Tidak perlu menghilang begitu!” kata Agra sambil melayani pembeli yang mengantre, ada dua pembeli yang dilayani paman Agra.
”Oh, baiklah Paman. Maafkan aku, aku harus pergi karena ada urusan penting saat itu!” Dinan bingung menjelaskannya. Dia menjawab sekenanya.
”Tentu saja dia pergi, Ayah. Dia pasti tidak betah dan bekerja terlalu keras di sini! Atau ..., jangan-jangan dia pergi ke tempat yang jauh sehingga aku juga tak bisa menemukannya,” Sophie masih terlihat kesal, ”Mungkin, dia pergi ke Planet Nibiru sehingga aku tak bisa menemukannya!”
Sophie masih terlihat kesal.
”Sudahlah, Sophie. Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri, benar bukan, Dinan?” tanya paman Agra.
Dinan pun tersenyum pada Sophie dan paman Agra, semua baik-baik saja. Itu yang penting, Dinan bahagia karena paman Agra bisa berkumpul bersama dengan Puteri yang dicintainya.
”Baiklah, Paman Agra dan Sophie. Lain kali, aku janji akan mampir lagi. Aku ada keperluan lain lagi, jadi ... aku pergi dulu.”
”Kamu mau pergi ke planet Nibiru lagi!” teriak Sophie. Hal itu membuat Dinan menyadari, bahwa Sophie tak berbeda dengan saat dia menjadi seorang Hunter. Dia begitu galak. Namun, di balik itu semua, dia menyadari betapa cintanya dia kepada Ayahnya.
”Baiklah, Dinan. Mampirlah kapan-kapan, kita bisa makan bersama lagi!” kata paman Agra.
Dinan tersenyum, ”Aku bahagia melihat kalian berdua sehat dan baik-baik saja. Kebahagiaan tertinggi adalah kebersamaan dan senyuman. Jangan sia-siakan kebersamaan dengan orang yang kita cintai. Selamat tinggal, Paman Agra dan Sophie!”
Paman Agra tersenyum, dan Sophie juga tersenyum meskipun masih sedikit jengkel.
”Datanglah lagi, Dinan! Jangan lupa, bawakan aku buah apel!” teriak Sophie.
Dinan berbalik, ”Tentu saja, Sophie!”
Dinan meninggalkan Mini Market itu dengan senyuman. Dia keluar di jalan raya, dia memakai penutup kepalanya. Hari yang indah, Dinan terus berjalan menyusuri jalanan sepi dan lorong. Dia tersenyum, tidak pernah dia dengar pembicaraan Portal Dimensi sama sekali. Dunia ini, tidak memiliki Portal Dimensi. Sungguh melegakan.
Ngiinggg! Suara sistem?
[Bumi sudah menyatu dengan anti materi yang anda bentuk! Tidak ada Portal Dimensi dan tidak ada monster. Memori semua manusia dihilangkan tentang Portal Dimesi dan Monster!]
Apa ini artinya ...? Apakah berhasil seperti yang dikatakan Profesor Smith? Bumi kembali normal?
”Benar Dinan,” seseorang turun dari udara dan mendekati Dinan. Dia turun di tempat yang sepi di lorong jalan.
”Kamu .., Kasa!”
Kasa pun mengangguk, ”Kamu berhasil, semua telah normal dan Portal Dimensi tertutup. Menara sudah hancur, dan mungkin hanya aku yang tidak kehilangan ingatan. Karena aku bukan penduduk bumi.”
”Apakah semua kemampuan Hunter juga menghilang?”
”Benar! Semua manusia yang sudah mengubah diri menjadi Hunter, mereka lupa akan kekuatannya dan lupa bahwa mereka pernah masuk ke menara ujian.”
”Apa artinya manusia akan kembali hidup dengan normal?”
Kasa tersenyum, ”Hal itu, bisa saja itu terjadi.”
Kasa pun berpamitan.
”Lalu ..., dimana aku bisa menemuimu lagi, Kasa?”
”Kamu punya alat komunikasi di pergelangan tanganmu itu, hunter Dinan. Kita akan selalu bertemu. Selamat tinggal.”
Splash!
Kasa pun menghilang.
Bumi kembali normal, apakah semua akan berjalan dengan normal? Dinan tidak tahu persoalan itu. Dia hanya bisa menjalani hidupnya saat ini.
***
Seorang wanita tengah keluar dari sebuah kantor jasa periklanan. Dia memakai baju kerja dan rok panjang. Rambutnya nampak sebahu dan memgang beberapa buku, di tangan kirinya.
Saat keluar dari kantornya, ada dua pemuda di dekat jalan yang memperhatikannya. Kedua orang itu berlari ke arah wanita itu dan mengambil tas yang ada di tangan kirinya.
”Perampok!”
Keduanya lari dan meningalkan wanita itu.
Seorang lelaki berjalan dari arah berlawanan dengan dua lelaki yang lari tersebut, dia memakai jaket dan penutup kepala. Lelaki itu membuka penutup kepalanya ke belakang punggungnya.
”Minggir!” teriak salah seorang lelaki yang mencuri tas tersebut.
Lelaki berjaket itu membuka kedua tangannya dan ...
Bruuushh!
Dia mendorong kuat kedua pencuri tas itu, dan membuat mereka terjatuh hingga keduanya tersedak, keduanya merasa dorongan itu menghancurkan seluruh tulang mereka.
”Jangan ulangi lagi perbuatan jahat kalian, atau aku akan membunuh kalian!”
Kedua penjahat itu melihat mata pemuda itu, matanya sekilas menyala dan keduanya ketakutan hingga pingsan. Pemuda itu mengambil tas yang terjatuh, dan berjalan menuju wanita itu.
Wanita berambut sebahu melihat bahagia, ada seorang lelaki yang menolongnya dengan gagah berani. Lelaki itu mendekat dengan membawa tas wanita itu.
”Salam Aline, ini tasmu.”
”Apakah aku mengenalmu?” tanya Aline.
”Aku Dinan, bukankah tempo lalu kamu mengajakku makan malam?”
”Maafkan aku, aku lupa. Tapi ... aku sedikit ingat padamu, tapi ... aku lupa dimana.”
Dinan tersenyum, ”Baiklah, kamu akan ingat jika nanti malam kamu mau makan malam bersamaku. Aku akan menghubungimu nanti sore, aku sudah punya nomor ponselmu.”
Dinan berpamitan dan wajah Aline memerah, karena dia merasakan debar jantungnya sedikit berdetak. Apakah ini cinta pertama atau cinta karena melihat seorang pahlawan?
Aline tersenyum, dan seolah menemukan belahan hatinya. Kenapa Aline merasa sangat mengenal pemuda itu? Apakah ini yang disebut takdir perjodohan dari Tuhan? Aline pun tersenyum.
Malam ini, dia akan memakai baju yang mana? Aline bingung sendiri, padahal hari masih sore.
Selesai kawan ...