Restu untuk Raya

PUTUSKAN TANPA KEMARAHAN 1

Sekitar delapan bulan lalu, Ares memang sempat mengatakan kepada Raya tentang keinginannya mengabdi di tempat kelahirannya. Ares berasal dari Desa Terara. Lahir dan tumbuh di sana. Hingga di tahun 2009, dia harus pindah ke Desa Puncak Jeringo. Desa Terara menjadi salah satu desa yang terkena proyek dan genangan Waduk Pandan Dure. Hal ini membuat penduduk Desa Terara bertransmigrasi lokal ke Desa Puncak Jeringo.

Mata Ares menerawang membayangkan kampung halaman barunya. Desa Puncak Jeringo adalah kepingan surga yang tercecer. Berada persis di kaki Gunung Rinjani. Pada ketinggian 1.200 meter. Udara di sana begitu sejuk. Khas dataran tinggi. Dari desa ini, keindahan Selat Alas yang memisahkan Lombok dan Sumbawa tersaji di depan mata. Malam hari, kerlap-kerlip lampu kapal penyeberangan yang hilir mudik adalah pemandangan yang tak boleh dilewatkan pemuja keindahan. Dimulai menjelang matahari terbenam.

Saat tiba di sana, Ares merasakan semuanya begitu sulit. Sebagai desa transmigran, tentu saja fasilitas yang ada di desa ini masih terbatas. Jangan disandingkan dengan desa-desa yang sudah mapan. Apalagi difase-fase awal. Di balik lahan garapan yang subur, pemandangan yang indah, terselip aneka masalah. Macam air bersih yang kerap menghilang pada musim kemarau. Dan juga listrik. Tak ada listrik di sana. Sehingga jadilah desa begitu gelap gulita. Butuh memupuk kesabaran hingga sewindu bagi warga Desa Puncak Jeringo untuk bisa menikmati listrik. Mereka menjadi bukti, betapa hidup tak akan pernah sempurna, manakala listrik masih tiada.

“Puncak Jeringo butuh aku. Butuh anak-anak muda yang akan memegang tongkat estafet pembangunan di desa itu,” tegas Ares, matanya penuh semangat.

“Jadi kamu mau pulang ke sana?” Raya bertanya, ada secercah harapan dalam suaranya.

“Tidak untuk saat ini. Aku masih harus mengumpulkan uang dan membangun relasi. Sementara waktu ini, aku lebih banyak

support dari sini. Apa yang bisa aku berikan, pasti aku berikan.”

Dan, obrolan mereka menguap begitu saja. Namun bibit ide sudah tertanam di benak Raya.

***

“Kenapa kamu mau ke Jeringo?” tanya Ares penasaran, tatapannya menyelidik. Dua mangkok soto ayam lengkap dengan nasi, terhidang di depan mereka.

“Aku pengen cari suasana baru,” kilah Raya, mencoba menyembunyikan badai di hatinya.

“Bohong,” potong Ares tajam, tak yakin dengan jawaban itu. “Pasti ada sesuatu yang terjadi. Kamu baru saja lamaran, sebentar lagi menikah. Kenapa mau ke Jeringo? Bukannya siap-siap jadi istri Danu.”

Raya menunduk, menghela napas. “Aku nggak jadi tunangan.”

“Hah?” Ares terbelalak, terkejut mendengar pengakuan itu.

“Aku nggak bisa cerita alasannya. Pokoknya, sekarang aku nggak ada hubungan apa-apa sama Danu.” Raya mengangkat kepala, sorot matanya menunjukkan keputusan yang sudah bulat.

“Terus kamu mau melarikan diri ke Jeringo? Kamu pikir Jeringo itu tempat liburan?” sindir Ares, ada nada tidak percaya.

“Bukan begitu, Res,” jawab Raya, suaranya lebih mantap. “Aku cuma mau mencari suasana lain. Pergi jauh dari sini dan melakukan banyak kegiatan baru. Aku ingin sendiri. Aku perlu waktu untuk diriku. Untuk memproses semua ini, dan menemukan kembali siapa diriku. Kata kamu, Jeringo sedang butuh anak muda yang mau membangun desa itu. Pasti kamu tahu, aku sangat pantas untuk itu. Aku butuh tujuan baru, tantangan baru.”

Ares menatapnya lekat. “Tinggal di Jeringo bukan sesuatu yang gampang. Kamu harus paham. Nggak ada fasilitas wah seperti yang kamu nikmati di sini. Kamu harus mau hidup susah. Jeringo itu tempat orang-orang berjuang, bukan tempat pelarian.”

Raya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih menunjukkan ketegaran daripada keputusasaan. “Aku yakin, aku bisa. Kamu cukup percaya sama aku. Aku tidak mencari pelarian, Res. Aku mencari diriku. Dan aku akan membuktikan, bahwa aku adalah seseorang yang punya asal-usul, meskipun mungkin bukan dari harta atau tahta.”

***

“Res, ayolah. Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri. Kapan pun aku bisa berangkat ke Jeringo. Kamu meragukan aku?” Suara Raya terdengar lelah, namun ada nada tegas yang tak terbantahkan. Matanya memancarkan tekad yang membara, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri lebih dari Ares.

Ares menatapnya lurus, sorot matanya tajam, mencoba membaca gejolak di balik ketegaran Raya. “Aku nggak pernah ragu sama kamu, Ray. Itulah mengapa dulu aku langsung memilih kamu untuk membantu mewujudkan mimpiku di Jeringo. Kamu punya potensi. Tapi itu berbulan-bulan lalu. Waktu kamu belum memutuskan menikah dengan Danu. Kamu tahu, Jeringo itu bukan tempat wisata, Ray. Itu tempat perjuangan, tempat keringat dan air mata.”

“Aku nggak akan menikah dengan Danu,” jawab Raya lirih, namun penuh penekanan, seolah mengukir kembali luka di hatinya. Setiap kata itu terasa berat.

“Iya, kamu udah bilang dari dua minggu lalu. Tapi aku masih nggak habis pikir. Kamu dan Danu itu… pasangan ideal. Lebih baik kamu pikir ulang lagi. Menikah dengan Danu itu udah jadi keputusan paling benar untuk masa depanmu, Ray. Karier yang cemerlang, keluarga terpandang…” Ares mencoba meyakinkan, nada suaranya dipenuhi kekhawatiran yang tulus terhadap masa depan sahabatnya. Ia tahu seberapa besar potensi Raya jika didukung oleh jaringan seperti keluarga Samiadi.

“Ngaco. Aku nggak jadi menikah. Keputusan itu sudah final,” balas Raya, ada sedikit kekesalan dalam nada suaranya. Ia merasa semua orang seolah memaksanya kembali ke kehidupan yang ia tahu sudah tidak mungkin, kehidupan yang kini terasa hampa.

“Jelaskan alasannya. Aku butuh alasan yang masuk akal, Ray. Bukan cuma bilang nggak jadi.” Ares menuntut, raut wajahnya serius. Sebagai seorang pengacara, ia terbiasa dengan fakta dan bukti.

“Kenapa harus ada alasan?” Raya membuang pandangan, tidak siap membuka luka itu lagi, takut air mata yang sudah susah payah ia tahan akan tumpah.

“Karena aku butuh alasan kenapa kamu mau ke Jeringo. Kalau kamu ke sana hanya untuk mengalihkan patah hati kamu, aku tidak akan setuju. Aku tidak mau Jeringo menjadi tempat sampah emosimu, Ray. Masyarakat di sana tidak butuh pelarian, mereka butuh solusi.” Nada bicara Ares kini lebih serius, menyiratkan kepedulian yang mendalam terhadap kampung halamannya.

Raya memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia tahu Ares pantas mendapatkan kebenaran, setidaknya sebagian, karena Ares adalah satu-satunya yang ia percaya untuk saat ini. “Aku perlu tempat yang bisa membuatku merasa berharga, Res. Tempat di mana masa laluku tidak mendefinisikan siapa aku. Tempat di mana aku bisa membangun diriku dari nol, tanpa bayang-bayang status atau silsilah keluarga, tanpa embel-embel dari orang lain.”

“Bisa cerita apa yang sebenarnya terjadi?” Ares mendesak, suaranya melembut, menyadari ada hal yang jauh lebih besar dan menyakitkan di balik keputusan Raya. Ia tahu Raya bukan tipe orang yang mudah menyerah.

“Keluarga Danu menolakku,” Raya berkata lirih, nyaris tak terdengar, suaranya tercekat oleh kepahitan yang menusuk.

“Apa?!” Ares nyaris berteriak, suaranya tinggi, dan membuat beberapa pengunjung kafe melirik ke arah mereka. Mata Ares membelalak tak percaya. Ini kabar yang sangat mengejutkan, baginya Raya adalah sosok yang sempurna.

“Bisa nggak, kamu biasa aja? Nggak usah heboh begitu.” Raya menatap Ares tajam, malu menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkannya.

“Nggak bisa! Ini kabar tak biasa dari pasangan Raya dan Danu! Mereka pasangan ideal! Impian semua orang!” Ares masih dalam mode terkejutnya, tidak bisa menyembunyikan keterheranannya.

“Sekarang bukan pasangan lagi.” Raya menghela napas, menerima kenyataan itu sebagai bagian dari hidupnya.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!