Restu untuk Raya

INGIN SENDIRI

Dinihari.

Pekat.

Sunyi dan gelap.

Raya terus saja memacu mobilnya menyusuri Tol Cipali, menyatu dengan kesunyian malam, seolah ingin melarikan diri dari segala hiruk pikuk yang baru saja menghancurkan hidupnya. Logikanya mengatakan, dia harus kembali ke Cipari, menemani Meylin yang masih dalam kondisi tidak baik, yang pasti juga sedang terpuruk oleh pengungkapan kebenaran pahit semalam. Namun, hatinya punya kehendak lain. Amarah, kekecewaan, dan rasa terkhianati menuntun Raya meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi perjalanan hidupnya, rumah yang kini terasa asing, penuh rahasia yang ia tak pernah tahu. Kenapa semuanya jadi begini? Kenapa aku? Raya tidak tahu harus kepada siapa dia melampiaskan marahnya.

Dua puluh empat tahun dia hidup dalam keyakinan kalau keluarganya baik-baik saja, sebuah kebahagiaan yang dibangun di atas fondasi yang kini runtuh. Dua puluh empat tahun ia percaya ayah kandungnya sudah meninggal dunia, sebuah kebenaran yang kini diragukan dan dikoyak oleh perkataan tajam Raden Samiadi.

Sebuah fragmen masa lalu tiba-tiba melintas di benaknya, kenangan saat usianya baru beranjak lima tahun. Raya kecil melihat kesibukan yang tidak biasa terjadi di rumah Abah Juhri. Besi-besi terpancang di halaman rumah yang cukup untuk menampung empat mobil. Setelahnya, enam orang laki-laki sibuk memasang tenda berwarna kuning gading dipadukan merah darah. Raya tahu, tenda semacam itu hanya dipasang di kampungnya saat ada acara tertentu seperti pernikahan atau sunatan anak orang kaya. Raya tidak punya adik, Abah juga tidak punya cucu laki-laki yang akan disunat. Lalu ini pesta siapa? Rasa penasaran Raya terjawab saat malamnya keluarga mereka berkumpul di ruang tengah. Ada papa mamanya, ada Abah Juhri dan Emak Juminah. Juga ada kedua tante Raya yang selama ini tinggal di Yogya.

“Papa dan mama akan menikah,” Surya berkata pelan sambil mengelus kepala Raya yang sedang duduk di pangkuannya.

Raya mengernyit. Dia ingat, Apudin, temannya di TK, pernah mengatakan kalau orang dewasa itu harus menikah dulu baru bisa punya anak. Lalu, kenapa sekarang papa mamanya baru akan menikah setelah Raya lahir? Apa bisa orang dewasa itu punya anak dulu baru menikah setelahnya? Pikirannya yang kanak-kanak saat itu dipenuhi kebingungan. “Papa Surya ini akan jadi papanya Raya,” Meylin menjelaskan, senyum tipis di bibirnya. “Kan papa Surya sudah jadi papanya aku,” Mata Raya mengerjap lucu, belum mengerti kompleksitas di balik kata-kata itu.

Setelahnya, Raya mulai banyak bertanya alasan Surya dan Meylin menikah, dengan pertanyaan polos yang selalu dijawab dengan senyum dan pelukan hangat. Sampai kemudian satu siang sepulang sekolah, kebingungan itu berubah menjadi tangisan pilu. Entah siapa yang mulai, ada beberapa teman yang mengatakan Raya bukan anak Surya. Sejak itu, untuk menenangkan hatinya, Raya tahu ayah kandungnya sudah meninggal saat dia masih di dalam perut Meylin. Otak kanak-kanaknya belum bisa memahami alur hidup mamanya yang terdengar begitu rumit dan menyakitkan. “Kamu punya papa, yaitu Papa Surya.” Kalimat mamanya menjadi keyakinan yang terus tertanam di dalam pikiran dan hatinya, menjadi jangkar kehidupannya. Setidaknya sampai tadi malam. Sebelum Samiadi mengungkapkan kenyataan yang begitu menyakitkan, menjuluki Raya sebagai 'si anak yang tidak jelas asal-usulnya'.

Raya tiba di apartemen yang dia tempati hampir setahun belakangan. Atau lebih tepatnya apartemen milik Danu yang dia sewa karena Danu pindah ke Kuningan untuk lebih fokus dengan kariernya sebagai politisi. Besok, Raya harus mencari tempat tinggal baru. Sisa malam itu dilaluinya dengan meluruhkan air mata, tangisan pilu yang tak mampu mengobati sakit di hatinya. Hubungannya dengan Danu jelas sudah berakhir, meskipun lelaki itu belum mengatakan apapun secara eksplisit. Penolakan yang terucap dari mulut Samiadi, dengan segala penghinaan itu, sudah lebih dari cukup untuk menyadarkan Raya dan membuatnya tahu diri, dia tidak pantas untuk bersanding dengan Danu, seorang calon bupati yang silsilahnya begitu diperhitungkan. Rasa sakit itu kian dalam, seolah mengukir luka baru di jiwanya.

***

Matahari masih terlihat ragu dan malu-malu, enggan menampakkan diri seutuhnya. Namun Raya sudah menyusuri jalanan ibukota, matanya menelisik setiap sudut, mencari tempat kost yang bisa dia tempati. Hari ini juga dia bertekad untuk keluar dari apartemen Danu. Sudah tak ada waktu untuk menangis. Hidup harus tetap berjalan, meski tidak akan pernah sama lagi dengan hari kemarin. Kawasan Sudirman menjadi pilihan Raya. Walaupun harganya sedikit mahal, setidaknya dia bisa dapat tempat kost yang dekat dari kantornya. Raya cukup naik busway, tidak perlu membawa mobil seperti biasanya. Beruntung, sebelum senja, Raya sudah mendapat tempat kost yang sesuai dengan keinginannya, sebuah langkah kecil menuju kemandirian yang pahit.

Ada getir yang merayapi hati Raya. Seharusnya, hari ini Danu melamarnya secara resmi, membawa kebahanan yang ia impikan. Saat membuka mata tadi pagi, Raya berharap apa yang dia alami hanyalah mimpi buruk yang akan pergi setelah dia bangun dari tidurnya. Namun, ketika menyadari dia bangun di apartemen milik Danu, Raya sadar kalau dia harus menghapus nama Danu dalam setiap rencana masa depannya. Bahkan, sejak semalam tidak ada satu pesan pun dari Danu yang masuk ke ponselnya, sebuah konfirmasi bisu bahwa ia tidak diperjuangkan.

Sementara itu, puluhan pesan dan panggilan dari Surya sengaja diabaikan oleh Raya. Hatinya masih dipenuhi amarah. Ini salah. Raya tahu, tidak seharusnya dia membenci Surya dan Meylin, dua orang yang selama ini menjadi dunianya. Hanya saja, Raya benar-benar belum siap jika harus berhadapan dengan Surya dan Meylin. Apalagi menerima kisah masa lalunya yang begitu rumit dan penuh penderitaan, yang kini terasa seperti beban yang menimpanya. Raya merasa sudah dibohongi, dan itu membuat kepingan hatinya sulit untuk direkatkan kembali. Luka itu terlalu dalam.

***

Sebulan berlalu. Raya sudah pindah dari apartemen Danu. Dia juga sudah mengabarkan kepindahannya, namun belum mendapat respons apapun hingga hari ini.

Danu ternyata tidak memperjuangkanku, pikir Raya, sebuah kesimpulan pahit yang kini menjadi kenyataan. Surya masih terus mengirim pesan. Menanyakan keadaan Raya sekaligus mengabarkan kondisi Meylin. Selain Surya, ada satu orang lagi yang begitu rajin menanyakan kabar Raya. Dia adalah Dewi, adik Raya, anak kandung Surya. Dewi menghubunginya dan minta waktu untuk bertemu. Raya terus menghindar dengan alasan sibuk. Dewi bahkan mengunjungi apartemen Raya, terkejut ketika apartemen itu sudah kosong. Raya masih belum siap untuk bertemu Dewi. Ada kesedihan dan penyesalan yang mendalam:

mengapa harus Dewi yang menjadi anak kandung Surya? Mengapa bukan dirinya? Pertanyaan itu menghantui, menambah kompleksitas luka di hatinya.

Di tempat kerjanya, Raya sudah mengajukan surat pengunduran diri. Tanpa bertanya lebih jauh, keinginannya itu langsung disetujui. Hanya saja, Raya harus tetap bekerja untuk sebulan ke depan, menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Semua orang di kantornya mengira kalau Raya berhenti dari pekerjaannya karena akan segera menikah dengan Danu dan fokus mendampingi Danu sebagai calon bupati. Tak ada yang tahu kebenarannya, kecuali Ares.

Nama lengkapnya Ares Selaparang. Berasal dari Lombok Timur. Merantau ke ibukota sejak kuliah. Sudah dua tahun ini Ares menjadi rekan kerja Raya. Ares masuk ke kantor pengacara itu enam bulan sebelum Raya diterima di sana. Mereka menjadi dekat karena merasa sama-sama anak baru yang belum memiliki pengalaman dan ingin belajar banyak agar bisa menjadi pengacara andal. Ares tidak bisa dikelabui. Dia melihat dengan jelas ada yang berubah dari Raya. Harusnya Raya terlihat bahagia karena baru saja bertunangan. Dalam hitungan bulan, sahabatnya itu akan menikah dengan lelaki yang dicintainya. Tapi, Raya malah menanyakan lowongan pekerjaan di Lombok Timur yang pernah Ares ceritakan beberapa bulan lalu.

“Aku tertarik sama tawaranmu dulu.” Siang itu, saat sedang istirahat makan siang, Raya tiba-tiba saja mengekori Ares.

“Tawaran apa?” Tentu saja Ares bingung.

“Itu loh, pendampingan di Puncak Jeringo. Masih berlaku kan?”

“Kita bicara sambil makan.” Ares memutuskan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!