Restu untuk Raya
TAKDIR YANG TAK BISA DIUBAH
“Ceritakan semuanya. Apakah kamu ayah dari anak yang dikandungnya?” Juhri menatap tajam ke arah Surya.
Tiga minggu lalu, saat Dokter Mumun datang ke rumahnya, Juhri sudah merasa akan ada masalah besar yang menunggu di depannya. Dokter Mumun tidak menjelaskan secara rinci apa yang menimpa Meylin. Sahabat Juhri sejak kecil itu hanya mengatakan kalau keluarga Meylin adalah salah satu dari ribuan korban kerusuhan lebih dari sebulan yang lalu. Meylin kehilangan seluruh keluarganya.
Surya yang menemukan Meylin di dekat Stasiun Juanda berinisiatif menolong gadis itu dan membawanya ke rumah sakit tempat Dokter Mumun bertugas. Tak lupa Dokter Mumun juga memberi tahu kalau seluruh biaya rumah sakit sudah diselesaikannya. Juhri pasti akan bertanya tentang masalah itu, karena penghasilan Surya jelas tidak akan cukup jika dipakai untuk menanggung biaya pengobatan Meylin. Dalam obrolan itu, Dokter Mumun memberi tahu rencana Surya yang akan membuka usaha di kampungnya. Situasi Jakarta yang masih belum stabil, tidak bisa lagi diharapkan oleh Surya untuk menggantungkan masa depannya. Perusahaan tempat Surya bekerja juga sudah memberi tahu bahwa seluruh karyawan dirumahkan untuk jangka waktu yang belum ditentukan sampai kapan.
Juhri bisa menerima semua informasi dari Dokter Mumun meski dengan berat hati. Orang tua mana yang tidak sedih mendapati kenyataan kalau anaknya kehilangan pekerjaan. Ketika Surya benar-benar pulang membawa Meylin, Juhri dan Juminah menerima keduanya dengan tangan terbuka. Cipari, tempat mereka tinggal hanyalah sebuah kampung kecil yang terletak di kaki Gunung Ciremai.
Sebagian besar masyarakatnya mencari nafkah dengan menjadi pedagang aneka hasil bumi. Sebagian lainnya memiliki mata pencarian sebagai peternak sapi perah. Juhri termasuk ke dalam segelintir orang yang berprofesi sebagai abdi negara. Juhri merupakan seorang pensiunan guru agama. Sebagai orang yang dianggap mumpuni secara ilmu agama, Juhri sangat dihormati di kampungnya. Selepas pensiun, Juhri menyibukkan diri dengan mengurus kebun miliknya yang dominan ditanami kopi dan cengkeh. Ada juga tanaman labu siam dan pisang yang hasilnya bisa dinikmati dengan cepat. Selain itu, Juhri juga aktif mengisi pengajian terutama setiap hari Senin dan Kamis ba’da Ashar. Dia dipercaya menjadi ketua Dewan Kesejahteraan Mesjid (DKM) serta khatib setiap salat Jumat.
Kehadiran sosok Meylin di rumahnya tentu menimbulkan banyak spekulasi dari masyarakat di sana. Bagaimana tidak, fisik Meylin yang memiliki mata sipit dan kulit seputih porselen, terlihat begitu menonjol di antara masyarakat Cipari yang dominan dengan kulit sawo matang. Hampir tidak ada etnis Tionghoa yang tinggal di Cipari. Hubungan Meylin yang penganut Katolik, dengan Surya, anak seorang ulama juga menjadi buah bibir walau tidak secara terang-terangan. Rasa segan masyarakat Cipari kepada Juhri membuat mereka hanya kasak-kusuk di belakang keluarga Juhri. Baik Juhri maupun Juminah bukan tidak tahu dengan isu tak sedap itu, mereka berdua memilih tutup telinga. Percaya sepenuhnya kepada Surya. Sebagai sesama manusia, Juhri dan Juminah tidak keberatan membantu Surya menyelamatkan hidup Meylin meski mereka berbeda keyakinan.
Kehamilan Meylin telah mengguncang Juhri dan Juminah. Apa yang disembunyikan oleh Surya? Mengapa Meylin hamil? Siapa ayah dari anak yang dikandungnya? Jauh di dasar hatinya, Juhri yakin bahwa Surya tidak bersalah. Dia mengenal anaknya dengan sangat baik. Juhri tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai Surya berbuat hal yang sudah jelas dilarang oleh agama mereka.
“Mamak sama mimih percaya sama kamu, Sur. Tolong jelaskan semuanya. Meylin hamil. Ini bukan masalah sepele.” Kali ini suara Juhri jauh lebih tenang.
“Bukan Surya yang melakukannya. Surya juga baru tahu kalau Meylin hamil. Mamak sama mimih bisa percaya ke Surya.”
Lalu mengalirlah cerita dari mulut Surya. Mulai dari awal pertemuannya dengan Meylin di tengah kerusuhan Jakarta, bagaimana ia membawa Meylin ke rumah sakit, hingga segala upaya yang telah ia lakukan untuk membantu Meylin pulih. Ia menceritakan hasil pemeriksaan dokter dan psikiater, tentang trauma yang dialami Meylin, dan kondisi keluarganya yang sudah tiada. Suara Surya bergetar saat ia mencapai bagian di mana ia mengetahui kehamilan Meylin. Ia mengakui keterkejutannya, namun dengan tegas menyatakan niatnya untuk tetap menjaga Meylin, terlepas dari siapa ayah biologis anak itu.
Hening menyelimuti ruangan. Baik Juhri maupun Juminah mendengarkan dengan saksama, sesekali menghela napas berat. Ketika cerita Surya usai, Juhri memandang putranya dengan tatapan yang dalam. Bukan hanya sekadar "menjaga nama baik", Juhri melihat lebih dari itu. Dia melihat ketulusan, rasa tanggung jawab yang besar, dan sebuah tekad yang kuat dalam diri putranya. Juminah, dengan mata berkaca-kaca, memegang tangan Surya, mengisyaratkan dukungan tanpa kata.
Beberapa hari kemudian, setelah diskusi panjang dan mendalam dengan Juhri dan Juminah, Surya mengambil keputusan besar. Dia akan menikahi Meylin. Keputusan itu bukan hanya didasari oleh keinginan untuk menjaga nama baik keluarga atau Meylin di mata masyarakat Cipari yang masih kental dengan adat istiadatnya. Jauh di lubuk hatinya, Surya merasakan panggilan yang lebih dalam. Sejak ia menemukan Meylin di tengah kekacauan, ada ikatan tak kasat mata yang terbentuk. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan dan masa depan gadis rapuh itu. Lebih dari itu, selama merawat Meylin, Surya melihat kebaikan dan ketegaran yang tersembunyi di balik trauma. Hatinya mulai tumbuh rasa kasih, bukan sekadar iba, melainkan sebuah bentuk cinta yang lahir dari kepedulian tulus. Meylin adalah korban, dan Surya ingin menjadi pelindungnya.
Pernikahan sederhana pun dilangsungkan di rumah Juhri, disaksikan oleh keluarga dekat dan beberapa tokoh masyarakat yang dihormati. Meylin, dengan wajah yang masih pucat dan tatapan sendu, mengucap janji dalam balutan kebaya putih seadanya. Surya menggenggam tangannya erat, berusaha menyalurkan kekuatan dan keyakinan bahwa ia akan selalu ada di sisinya.
Hari-hari awal pernikahan mereka dihabiskan dengan Meylin yang masih berjuang melawan traumanya. Surya selalu sabar mendampingi. Ia menemani Meylin ke psikiater, mendengarkan keluh kesahnya tanpa menghakimi, dan menciptakan lingkungan yang aman dan tenang di rumah. Kadang, Meylin akan tiba-tiba terbangun di tengah malam dengan jeritan, bayangan Mei 98 masih menghantuinya. Surya akan segera memeluknya, menepuk punggungnya perlahan, membisikkan kata-kata penenang hingga Meylin kembali terlelap dalam tidurnya yang gelisah. Ia juga sering mengajak Meylin berjalan-jalan di kebun kopi milik Abah Juhri, menghirup udara segar pegunungan, berharap alam bisa membantu menyembuhkan luka batinnya. Perlahan, sangat perlahan, Meylin mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Senyum tipis mulai menghiasi bibirnya, meski masih jarang.
Meylin sendiri sibuk bekerja di koperasi peternak susu sebagai admin. Meski tidak menamatkan sekolahnya, Meylin sangat memahami pembukuan dan akuntansi. Sejak kecil dia sudah membantu orang tuanya menyusun laporan keuangan toko. Di sekolah juga Meylin mendapatkan nilai tinggi dalam pelajaran akuntansi. Keputusan Meylin untuk bekerja sangat didukung oleh psikiaternya. Kesibukan di tempat kerja mampu mengalihkan pikiran Meylin dari tragedi yang menimpanya. Frekuensi kunjungan ke psikiater pun makin berkurang.
Tak terhitung berapa kali Meylin mengatakan kepada Surya tentang keinginannya untuk mencari tahu keberadaan kedua orang tua dan adiknya. Namun, Surya selalu mengatakan kalau waktunya belum tepat. Keadaan di Jakarta belum sepenuhnya pulih. Surya khawatir Meylin akan kembali terguncang jika datang ke sana. Juhri dan Juminah juga meminta Meylin untuk lebih fokus pada janin yang sedang dikandungnya.
Sembilan bulan kemudian, tangisan bayi memecah keheningan rumah di Cipari. Raya lahir, membawa harapan baru di tengah luka lama. Saat pertama kali Meylin menatap putrinya, ada gejolak aneh di dadanya. Sebagian dirinya masih dihantui asal-usul Raya, namun sebagian lainnya merasakan ikatan tak terputuskan. Raya adalah bagian darinya, darah dagingnya. Kerepotan menjadi ibu muda yang harus bekerja sekaligus mengurus bayi, memudarkan pikiran Meylin tentang tragedi yang menimpanya. Takdir memang tak bisa diubah. Meylin hanya punya dua pilihan: menyerah pada kepedihan atau melangkah maju demi masa depan putrinya. Dia memilih yang kedua. Senyum Raya, tawa kecilnya, sentuhan tangan mungilnya, adalah obat yang paling mujarab. Raya adalah alasannya untuk bangkit, alasannya untuk hidup.
Tepat di tahun ketiga dia tinggal di Cipari, Meylin menyatakan kepada Juhri kalau dia ingin memeluk Islam. Pengalaman hidup yang pahit, kasih sayang tulus dari keluarga Surya, serta kedamaian yang ia rasakan di Cipari, perlahan membuka hatinya pada spiritualitas yang berbeda. Ia melihat kekuatan dan ketenangan dalam ajaran Islam yang dianut oleh Surya dan keluarganya. Ia menemukan penghiburan dalam doa dan bimbingan Juhri.
Dua tahun kemudian, Surya memberanikan diri untuk menikahi Meylin secara resmi. Bukan lagi sekadar menjaga nama baik, namun kini didasari cinta yang tulus dan ikatan batin yang kuat. Begitulah takdir akhirnya menggenapkan keinginan Surya untuk menjadikan Meylin sebagai istrinya, seutuhnya, dalam suka dan duka.
***