Restu untuk Raya
CERITA KELAM MASA SILAM 2
Keduanya lalu diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Surya mencoba mencerna informasi tentang kerusuhan yang mengerikan itu, sementara hatinya terus terbebani oleh nasib Meylin. Berkat bantuan Dokter Mumun, Meylin akhirnya bisa mendapatkan perawatan maksimal. Hasil pemeriksaan menunjukkan banyak lebam di tubuh Meylin. Terlihat beberapa bagian tubuh yang lecet dan ada luka terbuka di sekitar paha. Dokter juga menemukan luka di bagian kemaluan. Ada bercak noda selain darah yang disinyalir sebagai sperma menempel di celana dalamnya.
Meylin yang sudah siuman, masih belum bisa memberikan penjelasan apapun. Matanya terlihat kosong, pandangan yang menyimpan kengerian tak terucap. Kuat dugaan dokter, Meylin mengalami pelecehan seksual. Setelah mengamati kondisi Meylin, Dokter Mumun meminta kepada Surya agar Meylin dirawat di sana sampai kondisinya pulih, karena trauma psikisnya pasti sangat parah. Tentu saja Surya tidak menolak saran itu. Hatinya tergerak untuk membantu. Surya teringat tas sekolah milik Meylin yang tadi sempat dimasukkan ke dalam tas ransel Surya oleh orang yang menolongnya.
Sambil menunggu proses pemindahan Meylin ke ruang rawat inap, Surya duduk dan mulai memeriksa isi tas Meylin. Berharap ada identitas yang bisa membantu Surya menghubungi keluarga Meylin. Dalam dompet Meylin, ada KTP, kartu pelajar, juga tiga buah ATM. Meylin masih delapan belas tahun. Surya membaca alamat yang tertera di KTP. Rumah Meylin terletak di Jalan Gajah Mada. Namun, dengan situasi yang sedang kacau seperti ini, bagaimana Surya bisa mendatangi keluarga Meylin? Pertanyaan itu melingkupi benaknya.
Surya meremas rambutnya. Jelas dia tidak bisa pulang dan meninggalkan Meylin sendirian dalam kondisi seperti ini. Tapi bagaimana dengan biaya rumah sakit? Surya saat ini tidak memegang uang yang cukup untuk membayar semuanya. Rasa putus asa mulai menyelinap.
“Biar Mamang yang ngurus semuanya. Kasihan anak itu. Bukan cuma fisiknya saja yang terluka. Psikisnya pasti jauh lebih parah. Saat ini dia tidak punya siapa-siapa, kamu harus membantu dia untuk bisa pulih lagi. Masalah biaya, nggak usah kamu pikirin. Mamang nggak akan jadi miskin hanya dengan menanggung biaya berobatnya.” Ucapan Dokter Mumun yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Surya, seketika membuat Surya lega, seolah beban berat terangkat dari pundaknya.
Dampak dari kerusuhan itu begitu masif, aktivitas Jakarta seperti mengalami mati suri. Banyak sekali pusat perbelanjaan, toko, dan kantor yang menghentikan kegiatannya. Termasuk kantor tempat Surya bekerja. Seluruh karyawan diliburkan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Mau tidak mau Surya harus memikirkan bagaimana hidupnya ke depan, apalagi dia juga tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan Meylin, yang kini entah bagaimana, telah menjadi bagian dari tanggung jawabnya.
Allah seakan menuntun kaki Surya untuk menemukan gadis malang itu, batinnya, sebuah keyakinan yang menguatkan tekadnya.
***
Nyaris sebulan Meylin dirawat. Untunglah di hari kedua, Surya bisa pulang sebentar ke Bogor memakai mobil Dokter Mumun, mengambil pakaian ganti dan perlengkapan lainnya yang dia butuhkan untuk bertahan menemani Meylin. Dokter Mumun sudah menjelaskan kalau luka di tubuh Meylin membaik dengan sangat cepat. Hanya saja psikisnya masih butuh penanganan dari psikiater. Meylin mengalami trauma berat yang membuatnya depresi.
Perlahan, fakta mengenai apa yang dialami Meylin di hari itu mulai terungkap dari sesi terapi dan ingatannya yang samar. Dia baru saja pulang sekolah dan sedang menuju rumahnya di Jalan Gajah Mada. Meylin terkejut melihat kondisi toko milik ayahnya yang sedang dilahap kobaran api, asap hitam membumbung tinggi ke langit yang mendung. Beberapa orang menyuruh Meylin pergi menjauh dari toko sekaligus rumah tempat tinggalnya, namun Meylin panik dan hanya ingin mencari orang tua serta adiknya. Asap hitam mulai mengganggu pandangan Meylin. Dia tak sadar ketika beberapa pemuda yang tidak dikenalnya mulai menyeretnya menjauh dari tempat itu, ke sudut yang lebih gelap. Meylin mulai berteriak ketakutan saat seorang dari mereka mulai merobek baju seragamnya, hatinya dipenuhi teror. Namun jerit tangis Meylin tenggelam begitu saja dalam keriuhan suara-suara yang terdengar makin menjauh, melenyap bersama harapannya. Meylin kehabisan tenaga. Tubuhnya terasa remuk. Pandangannya mulai samar lalu berubah menjadi gelap.
Ketika membuka mata, Meylin merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Dia bahkan tidak tahu sedang berada di mana, pikirannya kosong, hanya tersisa rasa sakit. Surya tak mampu membendung air matanya ketika mendengar cerita dari psikiater. Meylin belum mampu mengingat semuanya dengan jelas, mungkin karena mekanisme pertahanan dirinya, atau memang tidak mau memanggil ingatan di hari naas yang mengubah hidupnya itu.
Dua pekan pasca kerusuhan, dengan hati yang berat, Surya menelusuri keluarga Meylin. Berbekal alamat yang tercatat di KTP gadis itu, Surya mendatangi rumah sekaligus toko keluarga Meylin. Apa yang dilihat matanya mencengangkan Surya. Toko itu nyaris rata dengan tanah, hanya menyisakan puing-puing hangus. Tak ada yang tersisa selain pondasi dan tembok setinggi pinggang di beberapa bagian. Surya tak mampu menggerakkan tubuhnya, hatinya mencelos melihat kehancuran itu.
Kemana orang tua Meylin? Pertanyaan itu menggantung di udara.
Saat kesadaran kembali datang, Surya mencari orang di sekitarnya yang bisa memberikan keterangan. Ada seseorang yang sedang merapikan puing-puing toko, hanya berjarak empat toko dari tempat Surya berdiri.
“Toko itu tadinya punya Koh Lee. Dia meninggal waktu kerusuhan kemarin. Dia nggak bisa keluar dari toko karena tokonya terkunci. Nggak tahu juga siapa yang tega berbuat jahat ke Koh Lee. Istrinya juga meninggal. Kalau nggak salah sih beda dua atau tiga hari. Istrinya Koh Lee punya sakit jantung. Kayaknya dia nggak kuat. Kalau anak-anaknya saya nggak tahu, Mas.”
Surya kembali ke rumah sakit dengan perasaan hampa, membawa kabar duka yang memilukan. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Meylin kalau tahu kondisi keluarganya. Setelah bicara dengan psikiater yang menangani Meylin, Surya memilih menyimpan cerita itu untuk sementara waktu, sampai mental Meylin benar-benar membaik. Ini adalah beban berat, namun ia merasa harus melindungi Meylin dari pukulan yang lebih dahsyat.
Sebulan satu minggu Meylin di rumah sakit. Kini dia dinyatakan sudah mulai membaik secara fisik. Dokter dan psikiater meminta Surya untuk bisa menjaga emosi Meylin, karena kondisinya masih sangat rapuh. Selama itu pula, Surya memikirkan matang-matang langkah apa yang akan ditempuhnya. Apalagi saat ini ada Meylin yang secara tidak langsung sudah menjadi tanggung jawabnya, Meylin yang sebatang kara dan tanpa perlindungan.
Atas saran Dokter Mumun dan juga berbagai pertimbangan lainnya, Surya memilih pulang ke kampungnya di Kuningan. Apalagi Surya juga belum mendapat kejelasan dari tempatnya bekerja di Jakarta yang masih lumpuh. Dia bertekad akan membuka usaha di Kuningan dengan modal yang dimilikinya. Surya juga akan membawa Meylin pulang bersamanya. Surya yakin, suasana kampungnya yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota bisa membantu pemulihan Meylin.
Sebelum pulang, Surya sempat meminta bantuan Dokter Mumun untuk menjelaskan kondisi Meylin kepada keluarga Surya, agar mereka mengerti dan bisa menerima Meylin. Kebetulan Dokter Mumun memang rutin pulang ke Kuningan karena dia juga praktik di salah satu rumah sakit swasta di sana.
Begitulah, Surya membawa Meylin bersamanya. Namun, ternyata semua tidak berjalan sesuai rencana dan harapan. Seminggu setelah tinggal di Kuningan, didapatkan fakta baru yang mengejutkan. Meylin setiap pagi muntah-muntah. Dia juga menjadi sangat sensitif terhadap berbagai bau parfum. Ibu Surya yang khawatir dengan kondisi Meylin pun membawanya ke klinik terdekat. Hasil pemeriksaan dokter membuat ibunya Surya nyaris pingsan. Meylin hamil. Sebuah takdir tak terduga yang akan mengubah segalanya.
***