Restu untuk Raya

CERITA KELAM MASA SILAM 1

14 Mei 1998.

Jam kerja belum berakhir, namun situasi di kantor Surya yang berada di Duta Merlin makin tidak terkendali. Suara-suara riuh rendah di luar gedung bercampur dengan kepanikan yang mulai merayap di dalam. Banyak karyawan yang memilih pulang tanpa peduli lagi dengan pekerjaannya, atau bahkan sanksi dari atasan. Surya, dengan rasa was-was, mengikuti teman-temannya keluar dari kantor dan mulai berlari menuju Stasiun Juanda. Sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Juanda sudah terasa begitu mencekam. Teriakan demi teriakan bersahutan dengan jerit tangis yang sangat memilukan, menciptakan simfoni kekacauan yang tak pernah ia dengar sebelumnya.

Stasiun Juanda terasa begitu jauh ditempuh oleh Surya. Jalanan padat oleh orang yang berlarian, sebagian besar dengan wajah takut dan bingung, seperti dirinya. Sejak tadi, Surya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Jakarta yang ia kenal kini berubah menjadi lautan kepanikan. Saat bertanya ke para penjaga di kantor, ia hanya mendapatkan jawaban samar bahwa dia harus segera menjauh dari sana. Pulang ke Bogor. Itulah pilihan yang paling aman, harapan satu-satunya. Dia berharap semoga kereta masih beroperasi seperti biasa.

Tidak ada kendaraan yang biasanya menjadi alasan kemacetan Jakarta. Jalan Gajah Mada dan Jalan Juanda seketika berubah menjadi lautan manusia. Hanya dalam hitungan menit, Surya merasa dia berada di dunia lain, seolah terlempar ke masa lalu yang penuh perjuangan.

Seperti inikah keadaan saat melawan penjajah? batin Surya, sebuah pertanyaan pilu di tengah desakan kerumunan. Kakinya terus berlari menuju Stasiun Juanda. Mulutnya beberapa kali mendesis menahan nyeri ketika bahunya berkali-kali tertabrak orang yang berpapasan dengannya. Surya mengatupkan bibirnya kuat-kuat, menahan rasa sakit, dan tetap fokus mengayunkan langkahnya, berlari cepat ketika kondisi memungkinkan.

Beberapa puluh meter lagi dia akan sampai di pintu masuk Stasiun Juanda. Senyum tipis, samar-samar, mulai mengembang di bibir Surya, sebuah kelegaan kecil di tengah kekacauan. Namun, kakinya mendadak terpaku diam. Matanya menangkap pemandangan yang mengoyak hatinya: seorang gadis berpakaian putih abu-abu terduduk tepat di seberang pintu masuk stasiun. Keadaannya sungguh mengenaskan. Seragam putihnya jauh dari kata layak untuk dipakai. Bagian lengan kanannya robek sempurna, entah di mana sisa robekan bajunya itu. Tiga buah kancing baju bagian atas terlepas, memperlihatkan pakaian dalam yang masih melekat di tubuh gadis itu, sebuah pemandangan yang mengisyaratkan kekerasan. Warna putih baju itu nyaris sudah berganti sepenuhnya menjadi kecokelatan, kotor oleh debu dan noda yang tak teridentifikasi.

Surya mendekat lamat-lamat, hatinya dipenuhi perasaan campur aduk antara kengerian dan iba. Sesuatu mengganggu matanya. Darah. Surya melihat darah yang sedikit mengering di bibir gadis itu. Kini mata Surya memindai dengan saksama tubuh ringkih di depannya. Dia tahu, hanya dengan menatapnya dalam sekali pindai, gadis ini tidak baik-baik saja.

Tiba-tiba mata gadis itu menoleh ke arah Surya. Mata mereka bertemu. Tanpa Surya duga, tatapan gadis itu berubah nyalang, penuh kengerian yang membuat Surya ikut merasakan ketakutan itu. Takut dan marah tergambar jelas di manik hitam itu. Gadis itu berusaha berdiri, namun tubuhnya kembali tersungkur, terlalu lemah. Seketika Surya terkejut melihat ada noda darah juga yang menempel di rok seragam si gadis, di bagian paha, sebuah petunjuk mengerikan tentang apa yang mungkin telah menimpanya. Sebelum Surya mampu membuka mulut untuk bersuara, tubuh yang sejak tadi menarik perhatiannya itu tiba-tiba saja terkulai. Terkapar di aspal jalanan. Dia pingsan. Ya, Surya yakin gadis di depannya itu pingsan.

Panik. Itu yang dirasakan Surya, sebuah gelombang kepanikan yang murni. Dia segera memeluk tubuh si gadis, hatinya berdenyut nyeri melihat kerapuhannya. Susah payah Surya melepas jaket yang dipakainya agar bisa menutupi bagian depan tubuh si gadis yang terbuka, sebuah insting untuk melindungi. Saat memakaikan jaket itulah Surya melihat emblem nama yang terpasang di baju seragam bagian kiri atas. Meylin Lee. Surya menggumamkan nama yang tertera, seolah mengukirnya dalam ingatannya.

Surya berteriak minta tolong, suaranya tercekat oleh keputusasaan. Berharap ada orang yang mendengar dan memberikan bantuan. Meylin butuh dibawa ke rumah sakit segera. Surya tidak tahu pasti apa yang menimpa gadis ini, tapi Surya yakin, keadaan Meylin akan semakin parah jika tidak segera mendapat pertolongan. Hampir lima belas menit Surya menunggu sambil terus berteriak menarik perhatian siapa pun yang ada di sana, ketika sebuah mobil tua akhirnya berhenti di dekat mereka. Seorang pria paruh baya tergopoh-gopoh menghampiri Surya yang masih memeluk erat Meylin.

“Adeknya kenapa, Mas?” tanya pria itu, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

“Rumah sakit, Pak. Tolong antar kami ke rumah sakit,” jawab Surya, suaranya terburu-buru.

Tanpa banyak bertanya lagi, pria itu membantu Surya mengangkat tubuh Meylin dan membawanya ke dalam mobil. Setelah memastikan posisi Meylin nyaman di kursi belakang, pria itu kembali duduk di kursi kemudi, sementara Surya duduk di sisi kanan kursi penumpang. Pahanya menjadi alas kepala Meylin. Entah kenapa, hati Surya terasa perih seperti diiris sembilu menyaksikan Meylin yang tak berdaya.

“Kita ke rumah sakit mana, Mas?”

“RSPAD, Pak.” Rumah sakit itu yang terlintas cepat di kepala Surya. Dia kenal baik dengan salah seorang dokter senior di sana yang merupakan teman dekat bapaknya, sama-sama dari Kuningan. Surya hanya berharap dokter tersebut sedang ada di sana.

Setibanya di UGD, Surya segera mengurus administrasi dan memastikan Meylin mendapatkan penanganan yang tepat. Dalam hiruk pikuk UGD, Surya mencari keberadaan pria paruh baya yang tadi menolong mereka. Nihil. Sejauh mata mencari, Surya tidak bisa menemukan sosok lelaki itu. Padahal Surya sangat ingin berterima kasih kepadanya. Akhirnya Surya kembali masuk ke dalam UGD, hatinya diselimuti rasa cemas.

“Maaf Mbak, bisa hubungkan saya dengan Dokter Mumun? Dokter spesialis jantung di sini,” Pinta Surya kepada petugas yang ada di balik loket pendaftaran.

Petugas jaga itu memandang tajam ke arah Surya, seolah menilai. “Bilang saja, saya keponakannya dari Kuningan. Anaknya Abah Juhri,” ucap Surya, seolah mengerti isi kepala si petugas dan mencari cara untuk mempercepat proses. Tak lama petugas tersebut menyodorkan gagang telepon ke arah Surya.

“Halo, Mang. Ini Surya. Sekarang di UGD, Mang.”

Tak sampai sepuluh menit, Dokter Mumun datang menghampiri Surya yang sedang duduk di kursi tunggu. “Siapa yang sakit?” tanya Dokter Mumun setelah Surya mencium punggung tangannya takjim.

“Surya nggak tahu, Mang. Tadi liat dia di pinggir jalan,” Surya menunjuk ke arah Meylin yang terbaring di ranjang. Jarum infus sudah terpasang di tangannya. Beberapa perawat dan seorang dokter jaga masih sibuk memeriksa kondisi Meylin. Dokter Mumun mengamati Meylin sambil menduga-duga apa yang menimpa gadis itu. Kulit putih dan nama yang Surya sebutkan sedikit menjelaskan kalau gadis itu seorang keturunan Tionghoa. Sebuah kesadaran menghampiri Dokter Mumun, menghubungkannya dengan peristiwa kerusuhan yang baru saja terjadi.

“Apa mungkin dia korban kerusuhan hari ini?” tanya Dokter Mumun kepada Surya.

“Kerusuhan yang tadi itu, Mang? Surya nggak tahu. Memang ada kerusuhan apa sebenarnya? Dari tadi Surya lihat jalanan benar-benar kacau. Tadi Surya niatnya mau pulang ke Bogor. Tapi di Stasiun Juanda malah lihat dia,” jawab Surya, suaranya dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab.

“Mamang tadi lihat sekilas di berita. Ada bentrok mahasiswa. Tapi entah siapa yang mulai, sekarang banyak toko-toko dijarah dan dibakar. Toko-toko di Glodok kayaknya hampir semua kena.”

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!