Restu untuk Raya

BUKAN MENANTU IDAMAN

Tiga tetes air mata luruh di pangkuan Meylin yang sedang menunduk. Meylin kehabisan kata, bahkan untuk sekadar menyuarakan rasa terkejutnya pun dia tak mampu. Dadanya kini bergemuruh. Sakit dan sesak membaur jadi satu.

“Istigfar, Yah. Ayah sadar dengan apa yang Ayah katakan?” Sekar memegang lengan Samiadi. Berusaha menenangkan suaminya meski Sekar sendiri tidak tahu apa yang disembunyikan oleh suaminya. Samiadi bergeming. Tidak menggubris ucapan Sekar.

“Saya masih ingat dengan baik. Setahun lalu, anak saya Danu membawa Raya masuk ke dalam rumah saya. Saat itu, dia mengatakan bahwa Raya adalah calon istrinya.”

“Waktu itu Ayah nggak bilang kalau Ayah keberatan,” sela Danu, nada suaranya penuh kekecewaan.

“Ayah juga tidak pernah mengatakan kalau Ayah setuju dan memberikan restu. Kembali ke masalah utama, saya sebagai kepala keluarga, memiliki kewajiban untuk mencari tahu perempuan seperti apa yang akan menjadi menantu saya. Mendampingi anak saya seumur hidupnya. Sekarang, apakah Pak Surya dan Bu Meylin bisa menjelaskan kepada saya, siapa ayah kandung anak kalian?” Samiadi menekan, tidak memberi ruang untuk alasan.

“Tidak... tidak... ini tidak boleh terjadi.” Meylin bergumam sambil memegangi kepalanya. Kejadian itu... seringai mencemooh dari para lelaki biadab itu... api yang berkobar melahap rumahnya... Meylin menutupi wajah dengan kedua tangannya. Isak yang ditahannya setengah mati kini berubah menjadi tangis yang tak terkendali.

“Mah, tenang Mah. Istigfar, Mah. Tarik napas pelan-pelan. Tenang Mah.” Surya memeluk erat tubuh Meylin, berusaha menenangkan istrinya yang kini terguncang hebat.

“Apa maksud Bapak menanyakan siapa ayah kandung saya? Jelas tadi saya katakan kalau papa kandung saya sudah meninggal. Saat ini, papa saya adalah Pak Surya, dan dia ada di sini.” Raya menatap Samiadi penuh kemarahan, matanya berkilat menahan air mata.

“Saya hanya menjalankan tugas saya. Sebagai seorang ayah, tentu saja saya ingin anak saya mendapatkan yang terbaik. Apalagi dalam urusan menentukan istri. Menantu saya bukan hanya akan membawa nama suaminya, dia juga akan menyandang nama besar keluarga kami. Saya akan menutup mata jika kamu bukan berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Saya juga tidak akan peduli kalau orangtuamu bukan pejabat terhormat. Tapi saya tidak bisa diam saja, ketika tahu calon menantu saya tidak jelas asal usulnya.” Samiadi mengucapkan kata-kata itu dengan dingin, seolah Raya hanyalah sebuah komoditas yang tidak memenuhi standar.

“Katakan kepada saya, dari mana Bapak mendapatkan kabar itu?” Tantang Raya, suaranya bergetar namun penuh keberanian.

“Saya tidak pernah mengatakan omong kosong yang tidak ada manfaatnya. Orang-orang saya juga tidak akan salah memberikan informasi. Sekarang, lebih baik kamu tanyakan kepada orang tua kamu, apa benar ayah kandung kamu sudah meninggal?” Samiadi balik menantang Raya, senyum sinis tersungging di bibirnya.

“Sudah, cukup. Tolong jaga perasaan dan kondisi istri saya. Masalah ini saya anggap sudah selesai. Saya paham apa arti ucapan Pak Samiadi. Anak saya mungkin tidak pantas menjadi menantu di keluarga Bapak, tapi bukan berarti Bapak bisa semena-mena mengatakan kalau anak saya tidak jelas asal usulnya.” Surya akhirnya angkat bicara, suaranya tegas dan penuh kemarahan yang tertahan.

“Lalu, sebutan apa yang pantas untuk seseorang yang bahkan tidak tahu siapa sebenarnya ayah kandung dia?” Samiadi tak gentar, terus menusuk.

“Yah...” Danu membentak Samiadi, tidak percaya dengan kekejaman kata-kata ayahnya.

“Sekarang kamu berani membentak ayah kamu sendiri, ayah yakin kalau kamu tahu cerita yang sebenarnya, kamu akan menjauh dari perempuan itu tanpa perlu ayah suruh.” Samiadi menatap Danu dengan tatapan mengancam.

“Yah, sudah. Cukup. Jangan membuat keributan di sini. Kamu juga diam. Jangan membuat ayahmu makin marah.” Sekar menatap tajam Samiadi dan Danu bergantian, mencoba meredakan suasana yang kian panas.

“Kita pulang.” Tegas Surya kepada Raya. Harga dirinya benar-benar terkoyak. Surya merengkuh Meylin. Mengajaknya pergi dari sana tanpa mengindahkan kehadiran keluarga Samiadi lagi. Raya membantu Surya memapah Meylin tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya kalut, hatinya hancur berkeping-keping oleh kenyataan yang baru saja menghantamnya.

***

Malam baru saja mengepakkan sayapnya dengan sempurna, namun bagi Meylin, ia membawa kembali kegelapan yang tak pernah hilang. Hitam menyapa luka yang tak pernah mengering, meski sudah dua puluh lima tahun berlalu. Teramat menyakitkan. Tubuh Meylin menggigil, bukan karena dinginnya malam Secret Garden, melainkan karena bayang-bayang kejadian kelam itu tiba-tiba saja melintas dalam ingatannya. Perlahan, keping kenangan mulai merambati seluruh serambi memori dalam dirinya, satu per satu, tak bisa dihindari. Napasnya mulai tersengal, oksigen yang dihirupnya tak lagi mampu menembus paru-paru yang terasa terimpit beban tak kasat mata.

“Pah, Mama sesak, Pah...” Suara Raya memecah keheningan mencekam di kursi belakang mobil, penuh kecemasan saat melihat kondisi mamanya yang duduk di samping papanya. Raut wajah Meylin memucat, matanya terpejam erat menahan rasa sakit.

“Cari Nebu punya Mama.” Surya melirik ke arah Meylin, tangannya spontan meraih tangan sang istri, tak kalah terkejut dengan kondisi yang tiba-tiba memburuk itu. Ia bisa merasakan tubuh Meylin bergetar hebat.

Napas Meylin sudah pendek-pendek, terputus-putus. Tangan kanannya memegangi dada, berusaha mencari kelegaan yang tak kunjung datang. Dari matanya yang terpejam rapat, Surya dan Raya tahu bahwa Meylin sedang kesakitan luar biasa. Raya dengan panik menggeledah tas Meylin dan tasnya sendiri mencari Nebu, hasilnya nihil. Malam ini Meylin tidak membawa alat bantu napasnya. Tidak satu pun dari mereka bertiga yang menduga Meylin akan mengalami sesak napas separah ini setelah kejadian di restoran tadi. Surya, dengan rahang mengeras dan fokus yang tajam, memacu mobilnya lebih kencang. Prioritas utamanya saat ini adalah segera tiba di rumah, tempat Meylin bisa mendapatkan pertolongan pertama.

Sesampainya di rumah, Raya dengan sigap berlari menyiapkan Nebu dari kotak P3K mereka, sementara Surya segera memapah Meylin masuk ke dalam rumah. Tubuh Meylin begitu ringan dalam rengkuhannya, rapuh seperti daun kering. Meylin didudukkan di sofa ruang tamu. Raya memasangkan masker Nebu dengan tangan gemetar, lalu menyalakan alat itu. Suara dengungan Nebu yang lembut mengisi ruangan, dan perlahan, perlahan sekali, napas Meylin mulai teratur. Isak tangis pelan masih lolos dari bibirnya.

Surya duduk di sisi kanan Meylin. Dipeluknya perempuan yang sudah dua puluh tahun menjadi teman hidupnya, pelukan yang terasa seperti mencoba menyatukan kembali kepingan rapuh. Surya bisa merasakan tubuh Meylin masih menggigil hebat dalam dekapannya, meski napasnya sudah mulai stabil. Tangan kiri Surya melepas pelukannya sejenak, beralih menggenggam kedua telapak tangan Meylin yang terasa begitu dingin, sedingin es. Mata Meylin masih terpejam saat bulir demi bulir air mata mulai luruh membasahi pipinya. Meylin meremas jari jemari Surya, genggaman itu adalah isyarat bisu, permohonan kekuatan yang hanya bisa dipahami oleh Surya.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!