Restu untuk Raya
RENCANA MAKAN MALAM KELUARGA
Setelah Danu lulus kuliah, mereka makin jarang bertemu. Danu langsung diangkat menjadi pegawai tetap di kantor pengacara tempatnya magang. Kehebatannya terus terasah. Danu benar-benar sibuk menangani berbagai kasus. Raya tidak mengeluh. Dia terus memantaskan diri agar bisa menjadi pendamping yang sepadan untuk berdiri di sisi Danu. Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Tidak sampai empat tahun, Raya mampu merampungkan kuliahnya. Setelah itu, dia bekerja keras memenuhi seluruh persyaratan untuk menjadi seorang pengacara. Sama seperti Danu. Ketika dia diterima di firma hukum yang memang sudah dia incar sejak awal, Raya tak bisa menutupi rasa bahagianya. Dia mantap berkarir sebagai pengacara.
Setahun lalu, Danu mulai membicarakan rencana masa depannya. Danu akan berhenti menjadi pengacara dan mencoba peruntungan di jalur politik. Lagi-lagi Raya diam tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Karir Danu begitu cemerlang. Di sela-sela kesibukannya bekerja, Danu masih sempat melanjutkan kuliah S2-nya. Dengan pencapaian yang luar biasa seperti itu, wajar saja jika ada partai politik yang meminang Danu. Memintanya untuk maju sebagai bupati Kabupaten Kuningan. Danu yang didukung penuh oleh keluarganya, langsung menyatakan kesediaannya bertarung di panggung politik.
Ketika Danu menyampaikan semuanya kepada Raya, Raya tahu, Danu bukan meminta pendapat atau persetujuan darinya. Danu hanya memberikan informasi kepada Raya. Setelahnya, Danu benar-benar berhenti dari pekerjaannya dan pulang ke Kuningan untuk mulai membangun karirnya sebagai politisi. Dalam kesempatan itu, Raya ikut pulang bersama Danu dan dikenalkan kepada keluarga Danu. Sebuah kejutan tersirat ketika Samiadi terkejut saat Raya mengatakan dia adalah cucu dari Juhri Waria Perwata. Ternyata Samiadi cukup mengenal kakeknya Raya. Ada sekelebat firasat tak nyaman yang melintas di benak Raya, namun ia memilih mengabaikannya.
***
Seminggu yang lalu, Danu datang mengunjungi Raya di Jakarta sekaligus ada rapat partai yang harus dihadapinya. “Ayah mengundang kamu untuk makan malam. Sekalian sama keluarga kamu juga,” ucap Danu.
“Kapan?”
“Minggu depan. Jumat malam. Sekitar jam tujuh. Kalau nggak ada halangan, hari minggunya aku sama keluarga mau melamar kamu secara resmi.”
“Hah? Secepat itu?”
“Menurutku, nggak terlalu cepat juga. Kita pacaran udah tiga tahun. Sudah saatnya kita menikah. Apalagi beberapa bulan ke depan aku bakalan mulai sibuk kampanye. Sebelum itu, aku pengen kamu sudah resmi menjadi istriku.”
Raya berpikir, satu lagi mimpinya akan segera terwujud. Menjalani hidup bersama dengan Danu dalam susah maupun senang. Sebuah kebahagiaan yang sempurna, atau setidaknya begitulah yang ia bayangkan.
***
Secret Garden Kuningan. Tempat ini tak pernah gagal menyuguhkan romantisme malam. Taburan bintang di ketinggian, dingin udara yang nyaris menembus tulang, kelezatan cita rasa makanan, aroma racikan rempah yang membuat orgasme indera penciuman, senyuman ramah yang meluluhkan lelah, semuanya berpadu. Bermetamorfosis menciptakan kerinduan untuk selalu kembali. Tak salah jika seorang pengusaha besar seperti Samiadi menginvestasikan kekayaannya untuk membangun Secret Garden. Kenyamanan. Itu yang tak terbeli. Secret Garden menawarkan kenyamanan laksana pulang ke kampung halaman.
Dan di sinilah dua keluarga bertemu. Asmaralaya Kusumaningrum, datang diapit kedua orangtuanya. Surya Suryantaka dan Meylin Lee. Di salah satu meja yang terletak di sudut ruangan, sudah duduk Raden Samiadi dan istrinya, Sekar Asih. Anak mereka, Danu Ganendra Samiadi, berdiri menyambut kedatangan keluarga Raya. Keenam orang itu bersalaman, lalu duduk berhadapan di kursi yang sudah disediakan. Aneka hidangan yang menjadi menu andalan Secret Garden sudah tersaji apik di atas meja. Samiadi mempersilakan tamunya untuk makan terlebih dahulu.
Surya melihat tangan Meylin sedikit gemetar saat memegang sendok dan garpu. Meylin hanya makan beberapa suap saja. Beruntung, Meylin duduk di tengah, antara Surya dan Raya. Tangan kiri Surya bergerak ke bawah meja. Menggenggam jemari Meylin yang sedang bertaut dan bertumpu di atas pahanya. Surya bisa merasakan Meylin sedang mengepalkan jari-jarinya. Padahal, keluarga Danu belum membuka percakapan tentang anak mereka. Namun, Meylin sudah mulai gelisah. Di bawah meja, Surya terus menggenggam sambil sesekali mengusap lembut jemari istrinya. Selalu begitu. Pembahasan mengenai Raya, selalu membangunkan trauma yang sedang terlelap dalam diri Meylin.
Selesai makan, Sekar memanggil pelayan untuk merapikan beberapa piring yang sudah tidak terpakai. Basa basi alakadarnya pun mulai terdengar. Suara Meylin sedikit tersendat ketika berinteraksi dengan Sekar.
“Sudah berapa kamu mengenal anak saya?” Samiadi membuka suara. Tatapan tajamnya mengarah langsung kepada Raya.
“Hampir enam tahun, Pak.” Raya menjawab lembut, mencoba menyembunyikan kegugupan yang mulai merayapi hatinya.
“Lalu sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?”
“Tiga tahun, Yah.” Danu yang menjawab pertanyaan Samiadi, ada nada protektif dalam suaranya.
“Hmmmm... Pak Surya, apa ada yang ingin Anda sampaikan kepada saya?” Kali ini tatapan Samiadi beralih kepada Surya, penuh selidik.
“Maaf, saya belum paham maksud Pak Samiadi.” Ada kebingungan yang tampak begitu jelas di wajah Surya, meskipun ia berusaha keras menyembunyikan kekhawatiran yang mulai muncul.
“Tidakkah Pak Surya ingin menjelaskan kepada kami, siapa sebenarnya Raya?” Selidik Samiadi, suaranya dingin dan menusuk.
Kali ini, dingin merambat ke seluruh tubuh Meylin. Aliran darahnya seolah berhenti, membuat Meylin membeku. Tangan kiri Meylin terangkat memegangi dada sebelah kirinya yang mulai terasa sesak. Meylin memejamkan mata. Berusaha untuk tetap tenang. Mungkin, inilah waktunya. Gumam Meylin dalam hati, sebuah kepasrahan pahit. Rahasia itu sepertinya tak bisa lagi disembunyikan. Berkali-kali Meylin menggelengkan kepala. Mencoba menepis bayangan hitam yang mulai mengunjunginya. Harusnya sudah sejak dulu aku mati saja. Membawa semuanya ke dalam liang kubur dan membiarkan cerita ini hancur bersama ragaku. Menyatu bersama tanah sehingga tidak lagi menimbulkan masalah. Meylin meratap dalam diam.
Setali tiga uang dengan Meylin. Kali ini Surya tidak mampu mengeluarkan suara. Apa yang harus dia katakan? Bagaimana mungkin Surya membuka lembaran usang yang sudah lama dia lupakan. Membaca tiap paragraf yang tertulis, tentunya akan menghancurkan Meylin dan Raya.
“Kenapa? Apa masalah ini terlalu berat untuk kalian ceritakan? Atau anak kalian sama sekali belum tahu tentang asal usulnya?” cecar Samiadi tanpa perasaan, nadanya merendahkan.
“Bisakah kita mengesampingkan masalah tersebut?” Surya memberikan penawaran, mencoba mencari jalan tengah di tengah ketegangan yang mencekik.
Keempat orang lainnya masih diam. Raya, Danu, dan Sekar sudah jelas tidak paham dengan apa yang sedang dibicarakan oleh dua kepala keluarga itu. Meylin sibuk menyingkirkan ketakutan yang mulai menyelimutinya.
“Bagi keluarga saya, masalah itu justru menjadi masalah utama yang membuat saya tidak memberikan restu kepada Danu untuk menikahi Raya.” Suara Samiadi tegas, memecah keheningan dengan vonis yang tak terduga.
“Yah? Apa maksud Ayah?” Danu begitu terkejut, suaranya meninggi. Selama ini kedua orangtuanya tidak pernah mengatakan apapun tentang Raya. Kenapa malam ini semuanya menjadi berubah?
“Pah...” Raya memandang Surya meminta penjelasan. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan, matanya dipenuhi kebingungan dan ketakutan.
“Saya memang bukan anak kandung Pak Surya. Ayah kandung saya sudah meninggal saat masih berada dalam kandungan mama saya. Apa itu akan menjadi masalah besar untuk keluarga Bapak?” Raya akhirnya mengatakan apa yang dia tahu tentang keluarganya, sebuah kebenaran yang selama ini ia yakini. Sebelum hari ini, dia sama sekali nyaris melupakan kenyataan dia bukan anak Surya.
***