Restu untuk Raya
PILIHAN itu TEPAT
Jumat. Seharusnya menjadi pagi yang nyaris sama dengan pagi-pagi lain yang pernah dilaluinya. Namun kali ini memang sudah seharusnya berbeda. Awal pagi, Raya memacu kendaraannya bukan menuju tempat kerja, tapi membelah jalan tol ke arah Cikampek. Dia akan pulang. Malam ini akan menjadi penentu hidupnya sebagai calon Nyonya Ganendra Samiadi.
Raya yang bekerja sebagai pengacara muda di Jakarta, sengaja cuti dan pulang ke Kuningan, tempat yang dia yakini sebagai kampung halamannya. Gadis berkulit putih dengan mata yang sedikit sipit itu pulang dengan penuh kebahagiaan. Impian masa kecilnya untuk menjadi pengacara hebat yang bisa membantu orang-orang tidak mampu secara ekonomi, kini perlahan terwujud. Ketekunan dan idealismenya tercermin dalam setiap kasus yang dia tangani.
Bagaimana tidak, Danu, kekasihnya, minggu lalu datang dan mengabarkan kalau malam ini keluarganya mengundang Raya untuk makan malam. Setelah itu, di hari Minggu lusa, keluarga Danu akan melamar Raya. Tiga tahun masa pacaran yang dilakoni Raya dan Danu dirasa sudah cukup untuk mereka saling mengenal.
Raden Danu Ganendra Samiadi, lelaki itulah yang selama tiga tahun ini menjadi sosok istimewa di hati Raya. Mereka bertemu di kampus. Saat itu Raya adalah mahasiswi baru di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, sedangkan Danu menjadi seniornya yang kebetulan datang ke kampus karena sedang mengurus skripsi. Sambil menunggu dosen pembimbing yang masih mengajar, Danu iseng-iseng melihat bagaimana kegiatan penerimaan mahasiswa baru berjalan. Dari radius sekitar sepuluh meter, Danu melihat Raya yang sedang berbaris di barisan ketiga dari depan. Hampir semua mahasiswa baru mendengarkan instruksi dengan sangat cermat. Dalam sepersekian detik, tatapan mereka sempat bertemu saat Raya menolehkan wajahnya ke arah Danu.
Tidak ada yang spesial bagi Raya di pertemuan pertama mereka. Bahkan Raya tidak bisa mengingat dengan baik bagaimana awal mula mereka bertemu. Saat itu, Raya fokus mengikuti seluruh kegiatan yang sedang dijalaninya sebagai mahasiswa baru.
Hal berbeda dirasakan oleh Danu. Cinta pada pandangan pertama. Begitulah Danu menyebutnya. Danu yang awalnya datang ke kampus hanya untuk minta tanda tangan dosen pembimbing skripsi, malah menghabiskan waktu untuk melihat acara penyambutan mahasiswa baru setelah urusannya selesai. Wajah polos Raya dengan mata indahnya sudah mengusik Danu. Mata Raya tidak cukup sipit untuk seorang keturunan Tionghoa, namun tidak terlalu besar juga jika dibandingkan mata orang Indonesia pada umumnya.
Musim semi mendadak hadir di hati Danu. Mengakhiri musim dingin yang selama ini berlangsung. Bunga-bunga bermekaran, berlomba menebarkan berbagai rasa dan mengalirkannya ke seluruh indera Danu. Gelombang dahsyat menyentak emosinya. Danu tak mampu menjabarkan satu per satu badai apa yang sedang menghantamnya. Tak ingin larut dalam untaian kegelisahan yang baru kali ini dirasakannya, Danu pun pergi meninggalkan area kampus. Logikanya berusaha menenangkan gundah dalam hati Danu. Ini hanya perasaan sesaat. Begitulah Danu meyakinkan hatinya.
Namun, pada akhirnya cinta mengalahkan logika. Hari berganti, bulan berjalan, cinta yang dirasakan Danu malah tumbuh kian subur. Danu makin rajin datang ke kampus hanya untuk melihat Raya. Tidak ada yang tahu perasaan Danu. Termasuk Raya. Danu terlalu malu jika harus mengakui kalau Raya adalah cinta pertamanya.
Semesta lalu bekerja dengan caranya. Danu diminta untuk menjadi asisten dosen oleh dosen pembimbingnya. Karena skripsinya sudah selesai dan dia belum memiliki kesibukan lain, Danu pun menerima tawaran tersebut. Dari sinilah Danu bisa mulai mendekati Raya. Tugas-tugas kuliah menjadi jembatan komunikasi yang makin mendekatkan mereka berdua. Danu cukup terkejut ketika tahu kalau Raya adalah adik kelasnya saat di SMA. Mereka sama-sama bersekolah di SMA Negeri 2 Kuningan. Namun, mereka tidak pernah bertemu di sekolah. Setahun setelah Danu lulus, Raya baru masuk ke sekolah tersebut.
Mereka makin dekat. Beberapa kali pulang ke Kuningan berdua. Danu yang kemana-mana membawa mobil sendiri, beralasan dia butuh teman selama di perjalanan pulang. Jarak tempuh Depok – Kuningan lumayan membuatnya bosan jika sendirian. Interaksi selama perjalanan panjang itu, obrolan ringan, dan candaan yang tercipta, perlahan membangun koneksi yang lebih dalam di antara mereka.
***
Raya tidak bodoh untuk menyadari semua perhatian Danu kepadanya. Walaupun dia belum pernah berpacaran, tapi Raya tahu kalau apa yang dilakukan oleh Danu sudah melebihi batas perhatian seorang senior kepada juniornya. Diam-diam Raya juga menyimpan perasaan lain ke Danu. Entah karena memang benar-benar cinta atau hanya sebatas kagum. Apapun itu, Raya yakin dia tidak akan menyesal jika harus memperjuangkan Danu.
Sebagai warga Kuningan, siapa yang tidak mengenal latar belakang keluarga Danu? Ayahnya Danu, Raden Samiadi, dikenal sebagai pengusaha sukses yang memiliki resort di Kuningan dan Cirebon, mall di Cirebon dan Bandung, serta beberapa rumah makan dan tempat wisata yang bisa dijadikan sebagai destinasi wisata jika ke Kuningan. Raya bukan perempuan yang silau dengan harta kekayaan. Meski kedua orangtuanya bukan orang kaya yang masuk dalam kategori bergelimang harta, Raya dan adiknya tidak pernah merasa kekurangan. Apa yang mereka butuhkan selalu terpenuhi. Sikap sederhana dan apa adanya yang diperlihatkan oleh Danu, justru hal itulah yang membuat Raya memiliki ketertarikan kepada Danu.
Nilai plus lainnya, saat duduk di semester enam, Danu sudah menyelesaikan seluruh mata kuliahnya dan mulai magang di salah satu kantor pengacara yang sangat terkenal di Indonesia sambil menyusun skripsi. Dengan wajah manis, kulit cokelat, senyum ramah, dan postur tegap menjulang, aneh rasanya bagi Raya, jika Danu tidak pernah pacaran sama sekali.
“Aku malas buang-buang waktu hanya untuk pacaran,” Danu memberikan alasan ketika Raya menyangsikan ucapannya. Raya hanya tersenyum memberikan tanggapan. Dia sendiri bingung harus memberikan komentar apa.
“Aku tidak akan mengajakmu untuk sekadar berpacaran. Aku ingin kita punya tujuan dan komitmen yang sama, sebuah pernikahan. Kamu mau nggak berkomitmen untuk serius bersamaku?” tanya Danu saat malam itu mereka menikmati Sate Padang di dekat kampus.
Raya memandang Danu takjub. Bagaimana dia harus menerjemahkan ucapan Danu? Itu sebuah permintaan untuk pacaran dan saling mengenal lebih jauh atau sebuah lamaran tak resmi menuju ke jenjang pernikahan? Diamnya Raya diartikan setuju oleh Danu. Sejak malam itu, Danu mulai mengklaim kalau Raya adalah calon istrinya. Raya tidak protes, dia merasa tidak ada alasan baginya untuk menolak Danu. Hatinya dipenuhi keyakinan bahwa Danu adalah pilihan yang tepat.
Mereka menjalani hari-hari layaknya sepasang kekasih, walaupun frekuensi kebersamaan mereka hanya seminggu sekali atau seminggu dua kali. Kesibukan Danu menyelesaikan skripsi, menjadi asisten dosen, dan menuntaskan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya telah menyita waktu yang dia miliki. Raya sadar betul dengan kondisi itu. Alih-alih protes karena Danu jarang sekali bisa meluangkan waktu untuk bersamanya, Raya lebih memilih fokus menjalani kuliahnya dengan harapan bisa segera lulus. Impian Raya sejak kecil adalah menjadi pengacara hebat yang bisa membantu orang-orang yang tidak mampu secara ekonomi. Apa yang sudah diraih Danu menjadi tolak ukur dan motivasi Raya agar bisa mewujudkan impiannya. Tidak ada yang tidak mungkin jika dia terus berjuang. Bukankah itu rencana yang sempurna?
***