Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Petunjuk
Julia menerima laporan itu di pagi hari, saat rumah masih sepi dan aroma kopi belum sempat mengisi ruang makan. Suaminya pun masih mandi.
Ia duduk di meja kerja kecil dekat jendela, mengenakan daster rumah, rambutnya diikat asal. Ponsel diletakkan telentang. Suara di seberang terdengar datar, profesional.
“Nama anak itu Starla. Umur diperkirakan hampir lima tahun. Tinggal bersama seorang perempuan bernama Eliza. Alamat kosnya di daerah belakang pasar lama.”
Julia menegakkan punggung.
“Kecelakaan itu?” tanyanya singkat.
“Benar. Anak itu korban tabrak lari. Mobil milik Anda dan keluarga Ibu Hasnawati.”
Julia mengangguk pelan, jarinya mengetuk meja sekali, lalu berhenti.
“Lanjutkan,” katanya.
“Belum ditemukan hubungan darah antara anak itu dan perempuan yang mengasuhnya. Dokumen kelahirannya juga belum lengkap.”
Julia menutup mata sesaat. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya—bukan iba, bukan juga marah. Lebih seperti rasa ingin tahu yang tajam.
“Kirimkan fotonya,” ucapnya.
Beberapa detik kemudian, layar ponselnya menampilkan wajah kecil dengan mata bening dan senyum polos. Julia menatap lama. Terlalu lama.
“Cukup,” katanya akhirnya. “Pantau saja. Jangan bertindak dulu.”
Telepon ditutup. Julia bersandar di kursi, bersedekap. Dia merasa seperti pernah melihat wajah itu. Ada sesuatu yang tak ia pahami sepenuhnya—dan itu membuatnya gelisah.
Sementara itu, Eliza berdiri di depan sebuah rumah sempit bercat kusam, hanya dua gang dari kosannya sendiri. Ia hampir tak percaya ketika alamat itu cocok dengan catatan samar yang ia miliki.
Rumah itu tampak tua, pintunya terbuka separuh. Dari dalam terdengar suara televisi yang terlalu keras.
Eliza menarik napas, lalu mengetuk.
Seorang lelaki muncul. Tubuhnya kurus, wajahnya kusam, mata cekung seperti orang yang lama tak tidur nyenyak. Begitu melihat Eliza, ia langsung menegang dan akan menutup pintu lagi.
Eliza buru-buru menahannya.
“Saya cuma mau tanya,” kata Eliza cepat, sebelum lelaki itu sempat menutup pintu. “Soal bayi yang dulu ditemukan di depan kosan tak jauh dari ini.”
Wajah lelaki itu berubah. Pucat. Tangannya gemetar saat memegang kusen pintu.
“Aku… aku nggak ngambil apa-apa,” katanya terbata. “Sumpah.”
Eliza menggeleng. “Saya bukan mau menuduh.”
Beberapa detik yang terasa panjang berlalu sebelum akhirnya lelaki itu membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. Di dalam, rumah itu lebih sempit dari bayangan Eliza. Bau lembap dan asap rokok bercampur.
Lelaki itu duduk di kursi plastik, menunduk. Air matanya jatuh sebelum ia sempat bicara.
“Ada perempuan,” katanya akhirnya, suaranya parau. “Malam-malam. Turun dari mobil. Mobilnya bagus. Dia taruh kardus di depan pagar dan kabur lagi. Cepat sekali. Kayak orang dikejar sesuatu.”
Eliza menahan napas.
“Di dalamnya bayi?” tanyanya pelan.
Lelaki itu mengangguk. “Iya. Sama kresek hitam. Isinya uang.”
“Berapa?”
“Dua puluh juta,” jawabnya lirih, lalu menangis lebih keras. “Aku bodoh, Mbak. Aku ambil. Aku pakai buat bayar utang judi. Aku pikir… aku pikir itu rezeki nomplok yang nggak bakal dicariin.”
Eliza memejamkan mata. Jantungnya berdegup hebat. “Terus bayinya?”
“Hujan deras malam itu,” katanya, terisak. “Kardusnya basah. Aku panik. Takut bayi itu mati. Aku pindahin ke depan kamar Mbak. Tanpa mikir apa-apa. Aku cuma… iba."
Sunyi menyelimuti ruangan...
“Ada surat?” tanya Eliza akhirnya. “Atau benda lain? Apa pun?”
Lelaki itu menggeleng cepat. “Nggak ada. Cuma uang itu.”
Eliza meraup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak, tapi pikirannya justru semakin jernih. Tak ada pesan. Tak ada penjelasan. Hanya uang dan seorang bayi yang ditinggalkan begitu saja.
“Aku cuma butuh satu hal,” katanya kemudian. “Tanda tangan. Sebagai saksi.”
Lelaki itu mendongak, ketakutan. “Aku nggak mau diseret-seret, Mbak. Aku takut. Aku bisa digerebek. Dituduh nyuri.”
Ia berdiri tiba-tiba, melepas cincin dari jarinya—cincin emas sederhana, sudah kusam.
“Ini,” katanya, menyodorkannya dengan tangan gemetar. “Aku beli cincin ini tiga gram. Buat jaga-jaga… kalau ada yang nagih. Tapi sekarang… aku kasih ke Mbak. Asal jangan sebut namaku. Sisa uangnya udah nggak ada.”
Eliza menatap cincin itu lama. Bukan kilau emasnya yang ia lihat, tapi berat cerita yang menempel padanya.
Ia mengambil cincin itu perlahan. “Baik,” katanya. “Aku janji.”
Lelaki itu terduduk kembali, seperti kehilangan seluruh tenaga. "Aku nggak tahu itu kamar Mbak. Sekarang lega, Mbak kayaknya orang baik."
Eliza diam. Dia keluar rumah dengan langkah pelan. Di tangannya, cincin itu terasa dingin—bagai membayar harga sebuah kejujuran yang terlambat.
Malam itu, Eliza duduk di tepi kasur kos, memandangi Starla yang tertidur pulas. Cincin itu diletakkan di atas map lusuh, berdampingan dengan surat penemuan bayi.
“Ini bukan milikku,” bisiknya. “Tapi kalau ini bisa bikin kamu punya status … ibu izin pakai.”
Di tempat lain, Julia berdiri di depan jendela kamarnya, ponsel masih menampilkan foto Starla. "Kenapa Mama mikirin kamu?"
***
Pagi itu Eliza berangkat lebih awal dari biasanya. Map lusuh kini terasa lebih tebal—bukan karena isinya, tapi karena harapan yang ia selipkan di dalamnya.
Langkah pertamanya adalah kantor desa.
Ia duduk di bangku panjang, menunggu giliran, mendengar suara kipas angin tua berdecit. Saat namanya dipanggil, Eliza maju dengan tangan sedikit gemetar.
“Ini surat penemuan bayi, Pak,” katanya hati-hati. “Saya mau ngurus akta lahir anak.”
Perangkat desa meneliti berkas-berkas itu lama. Terlalu lama.
“Bisa,” katanya akhirnya. “Tapi harus ada saksi. Dua orang. Dan SPTJM. Nanti setelah ini ke Dukcapil.”
Eliza mengangguk cepat. “Saya siap.”
Baru satu langkah.
Siangnya ia ke kelurahan. Mengisi formulir demi formulir, tanda tangan di atas materai, menatap tegas petugas saat ditanya berulang-ulang dengan nada yang sama : Ini anak siapa? Ibu kandungnya mana?
Jawaban Eliza tak pernah berubah. “Tidak diketahui.”
Menjelang sore, ia menggenggam cincin emas itu di dalam tas. Besok, ia akan menjualnya.
Namun hari itu belum selesai. Di toko tempat Eliza bekerja, suasana mendadak berbeda. Kepala toko mondar-mandir sejak pagi, merapikan rak yang sebenarnya sudah rapi.
“Pengawas regional datang,” bisiknya pada staf.
Eliza baru tahu saat ia sedang menghitung stok di gudang.
“Eliza,” panggil kepala toko. “Ke ruang belakang. Sekarang.”
Jantungnya langsung jatuh. Di dalam ruangan kecil itu, seorang pria berdiri dengan map tipis di tangan. Kemeja rapi, wajah tenang, sorot mata tajam tapi tidak dingin.
“Saya Indra,” katanya singkat. “Duduk.”
Eliza duduk. Telapak tangannya basah.
“Saya dapat laporan,” lanjut Indra tanpa basa-basi. “Kinerja kamu bagus. Tapi sering terlambat.”
Eliza menelan ludah. “Iya, Pak.”
“Kenapa?”
Ia menarik napas panjang. “Saya kuliah sambil kerja. Dan… saya punya anak balita.”
Indra mengangkat alis. “Anakmu?”
Eliza menggeleng cepat. “Bukan, Pak. Saya mengasuhnya. Dan sekarang sedang berjuang buat legalitasnya.”
Ruangan hening.
“Jangan pecat saya, Pak,” ucap Eliza akhirnya, suaranya bergetar tapi jujur. “Saya berusaha keras supaya ini nggak ngaruh ke kerjaan. Saya butuh pekerjaan ini.”
Indra menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menimbang. Menilai.
“Masalahnya,” katanya pelan, “kalau sering ada urusan pribadi yang ganggu jam kerja… perusahaan juga punya aturan.”
Deg.
Ia menunduk, kedua tangannya saling menggenggam. Di kepalanya, wajah Starla muncul—tersenyum dengan boneka lusuhnya.
“Saya cuma minta kesempatan, Pak,” katanya lirih. “Sedikit saja.”
Indra menatapnya lama.
Eliza menunduk dalam. Satu keputusan hari itu menentukan segalanya—Starla dan satu-satunya pintu nafkah yang ia miliki.
.
.