Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Meet Julia
“Julia,” ucapnya dingin.
Tatapan Julia tak lepas dari anak di gendongan Saba . Lalu ia tersenyum lagi, sinis. “Anak siapa?” tanyanya ke Saba. “Dan kenapa… ada di pelukan kamu?” matanya turun lagi ke Starla yang terlelap, lalu naik perlahan ke wajah Eliza.
“Nyonya?” ulang Eliza.
“Oh… jadi kamu, ya.”
Eliza menelan ludah. Tangannya spontan menggenggam erat tas Starla, seolah itu satu-satunya pegangan. “Maaf,” katanya sopan tapi kaku. “Kami mau pulang.”
Julia terkekeh pendek. “Pulang?” Ia melirik Saba. “Cepat amat. Padahal kelihatannya… kalian seperti keluarga Cemara.”
Rahang Saba mengeras. “Julia, jangan di sini.”
“Kenapa?” Julia mendekat satu langkah. Sepatunya berhenti tepat di depan Eliza. “Takut anak ini dengar?” Ia menunjuk Starla dengan dagu.
Saba refleks memutar badan, memposisikan Starla lebih terlindung di dadanya. “Jaga omonganmu.”
Julia tersenyum miring. “Protektif sekali.” Ia menatap Eliza tajam. “Aku cuma penasaran. Kamu tahu nggak… siapa aku?”
Eliza mengangguk pelan. “Istri Pak Saba.”
“Oh, pinter.” Julia menepuk tangan pelan. “Terus kamu tahu juga nggak… apa artinya dekat-dekat sama suami orang?”
Dada Eliza naik turun. “Saya nggak pernah punya niat seperti itu.”
“Niatan itu urusan belakang,” potong Julia. “Yang kelihatan sekarang…” matanya melirik Starla lagi, “…anak ini nempel di suamiku.”
“Cukup, Julia,” suara Saba rendah tapi tegas. “Kalau ada yang mau kamu bicarakan, ke aku. Bukan ke Eliza.”
Julia tertawa kecil, dingin. “Tenang. Aku cuma mau lihat dari dekat.” Ia mencondongkan badan sedikit, berusaha melihat wajah Starla. “Lucu juga. Pantas.”
Eliza refleks maju setengah langkah. “Dia lagi tidur.”
Julia berhenti. Tatapannya beralih ke Eliza, kali ini lebih tajam. “Kamu menggoda suamiku dengan anakmu, ya.”
Eliza tak menjawab. Tapi tubuhnya jelas menegang.
Saba menghela napas panjang. “Kami mau pergi.”
Julia mendengus. “Iya, iya.” Ia melangkah mundur, lalu menatap Saba lama. “Nanti kita ngobrol. Di rumah.”
Nada itu bukan permintaan.
Julia berbalik menuju mobilnya. Tumitnya berdetak pelan di lantai basement, meninggalkan udara yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
Begitu Julia masuk mobil dan pintunya tertutup, Eliza baru berani menghembuskan napas. Tangannya gemetar, baru sadar menahannya sejak tadi. “Aku… minta maaf. Kalau ini bikin masalah.”
Saba menoleh. Wajahnya tenang meski tetap tegas. “Bukan kamu yang bikin ini jadi masalah. Aku nggak nyangka dia ke sini.”
Eliza menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.” Tapi suaranya tidak meyakinkan. Ia melihat Starla yang masih tidur nyenyak. “Starla… nggak boleh kebawa ke urusan orang dewasa.”
Saba mengangguk. “Aku jaga itu.” Ia melirik Starla, lalu menatap Eliza. “Dan apa pun yang terjadi setelah ini… aku nggak akan tarik langkahku.”
Eliza menggigit bibir. Di dadanya, ketakutan yang baru, tumbuh lebih besar. Karena kini, bukan cuma soal Saba, tapi juga istri yang mulai merasa terancam.
Mereka melanjutkan langkah ke mobil. Tapi kali ini, jarak di antara mereka terasa berbeda, canggung. Keduanya lantas berpisah, Eliza ke arah parkir motor sementara Saba menuju mobilnya.
Di dalam mobil, Starla bergerak kecil. Matanya terbuka setengah. “Ibu…” gumamnya.
Saba langsung mengusap pipi anak itu. “Iya, Nak.”
Dia menatap wajah kecil itu lama. Dalam dadanya, satu rasa makin jelas, bahaya yang sesungguhnya bukan pada pertemuan pertama dengan Julia… tapi pada apa yang akan datang setelahnya.
***
Ruang kerja Saba dingin. Penghuninya masih duduk di kursi dengan tenang ketika pintu itu terbuka dan seseorang melangkah masuk.
Julia berdiri di seberang meja, tangannya mengepal di sisi tubuh dan dagunya terangkat. Matanya merah, karena menahan terlalu banyak pertanyaan yang akan dia lemparkan ke hadapan suaminya ini.
“Jadi pertemuan di basement itu apa, Saba?” Suaranya bergetar. “Kebetulan? Atau memang sudah kamu rencanakan?”
Saba tidak menjawab. Ia bersedekap di sisi meja, bahunya kaku, rahangnya mengeras. Diamnya saja sudah bikin orang kesal. Tapi Julia, tak putus asa. Dia terus mendesak Saba agar berbicara.
Julia tertawa pendek. Pahit. “Anak itu… Starla.” Ia menarik napas. “Kamu mau adopsi dia?”
Saba tetap diam.
Julia melangkah lebih dekat. “Atau jangan-jangan…” suaranya serak menuduh, “kamu mau menikahi perempuan itu?”
Sunyi.
“Karena aku nggak bisa hamil, ya?” Matanya berkaca-kaca sekarang. “Karena aku gagal jadi perempuan yang lengkap?”
Hasnawati yang berjalan melewati ruangan itu, berhenti lalu masuk tanpa permisi. Langkahnya tegas, wajahnya membaca isi ruang dalam satu detik.
“Ada apalagi ini, Julia?” tanyanya dingin.
Julia langsung menoleh. Emosinya meledak. “Anakmu ini nyiapin pengganti aku, Ma!” Ia menunjuk ke arah Saba. “Kalau aku nggak terima, dia bilang apa coba?”
Saba akhirnya bicara, suaranya rendah dan datar. “Kalau kamu nggak terima, gugat aku.”
Kalimat itu seperti bensin, menyambar emosi Julia yang memang sudah menyala.
“Oh, benar?” Julia tertawa keras, suaranya memantul di dinding ruangan. “Jadi selama ini kamu miara lonte cilik itu?” Ia menyeringai. “Yang kamu pungut dari jalanan? Sama sepertimu.”
Plak.
Suara tamparan menggema di ruangan. Kepala Julia terpelanting ke samping. Ia terdiam, kaget. Pipi kirinya memerah.
“Jaga bicaramu!” bentak Hasnawati.
Julia menoleh, air mata akhirnya jatuh. “Mama…” suaranya berubah merengek, rapuh. “Anakmu nyakitin aku.”
Hasnawati menatapnya lama, kecewa. “Perbaiki dirimu,” katanya pelan tapi menusuk. “Belajarlah jadi ibu yang baik.”
Julia tertawa di sela tangis. “Untuk anak gembel itu?” Ia menggeleng keras. “Ogah.”
Di kepalanya, Starla bukan anak, melainkan simbol. Simbol dari semua yang tak bisa ia berikan, dari kekosongan yang tiap malam menganga di antara ia dan Saba. Kebencian itu menyesakkan, bercampur takut digantikan, takut tak lagi punya alasan untuk dipertahankan.
Hasnawati mendelik tajam. “Bukan untuk dia,” katanya dingin. “Tapi untuk kamu sendiri. Supaya kamu pantas dipercaya diberi keturunan.”
Julia terhenyak. Wajahnya mengeras. “Oh, jadi nyalahin aku sekarang?” Ia menyeringai pahit. “Mama sendiri siapa dulunya, hm? Sama kan? Nggak bisa ngasih anak, makanya Saba itu di—”
Plak.
Tamparan kedua. Lebih keras. “Cukup,” bentak Hasnawati. “Dia bukan anak gembel. Dia—”
“Ma, cukup.”
Saba akhirnya melangkah maju. Suaranya tenang, saat berdiri di antara dua perempuan itu. “Semua yang perlu dikatakan Julia … sudah kupahami.”
Julia menatapnya dengan mata basah dan penuh benci. Yang sedang ia lawan bukan anak kecil itu, tapi keputusan Saba atau Hasnawati yang diam-diam sudah diambil, bahkan sebelum ia sempat memohon.
Saba tetap bersedekap, rahangnya mengeras. Jarinya mengetuk lengan sendiri seolah menahan kata-kata agar tak keluar sebagai amarah.
Da tidak menatap Julia, pandangannya jatuh ke lantai marmer yang dingin. Posturnya tegap, tapi bahunya sedikit turun saat berkata, "Kamu ... diam dan tinggal di sini, masih sebagai nyonya, asal tak lagi ikut campur semua urusanku. Atau..."
Julia menatapnya tajam, wajahnya terangkat, menantang Saba. "Atau apa, hm?"
"Julia!"
.
.