Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Oh jadi Dia
“Saya…”
Saba tersenyum tipis, “Keluarga Starla,” katanya. Nada suaranya tenang, tapi matanya sempat melirik ke arah Eliza seolah meminta pengertian.
Beberapa ibu saling pandang. Ada yang mengangguk-angguk, sebagian masih menyimpan tanda tanya.
“Oh… pantesan,” gumam salah satu dari mereka. “Mirip, ya.”
Eliza menahan napas. Kalimat sederhana itu menghantam lebih keras dari yang ia duga. ~Keluarga Starla. Cukup untuk menanam petunjuk kebenaran di kepala orang-orang.
Saba segera pamit dengan sopan, lalu menghampiri Eliza yang sudah berdiri dekat motornya. “Maaf,” katanya pelan. “Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman.”
Eliza menggeleng, meski dadanya terasa makin sempit. “Anda nggak salah apa-apa.” Ia menunduk, merapikan tali helm yang sebenarnya sudah rapi. “Aku cuma… belum siap.”
Saba mengangguk, memahami lebih dari yang Eliza ucapkan. “Aku juga,” jawabnya jujur. “Tapi pelan-pelan aja. Demi Starla.”
Nama itu kembali menggantung di udara di antara mereka. Eliza menaiki motor tanpa banyak kata. Saat mesin menyala, ia sempat menoleh. Saba masih berdiri di sana, menatap ke arah gedung sekolah.
Di perjalanan pulang, bayangan Starla melambaikan tangan dan senyum Saba terus tumpang tindih di kepalanya. Eliza sadar, ini bukan lagi soal keberanian menyimpan rahasia. Ini tentang waktu yang mulai berjalan berlawanan dengan keinginannya.
Di dalam hatinya, sebuah kalimat berulang, lirih namun pasti : Jika hari itu datang… apakah aku cukup kuat untuk merelakan?
Saba baru sadar saat jarum jam mendekati angka sebelas. Ia gegas turun ke parkiran kantor, kunci mobil sudah di tangan, tapi malah terdiam.
Ia menghela napas pendek dan segera mengetik pesan. "Eliza, aku lupa izin ke wali kelas. Bisa tolong bilang ke Bu gurunya kalau siang ini aku yang jemput Starla?"
Eliza membaca pesan itu lama. Jarinya gemetar di atas layar. Dia tahu, sekali dirinya mengirim pesan ke Bu Ratna, kesempatan Saba akan terbuka.
Tapi ia tetap mengetik, meskipun dengan debar yang kian sering muncul.
"Bu Ratna, siang ini Starla dijemput oleh pria yang ikut denganku tadi pagi, Pak Saba. Terima kasih."
Pesan terkirim.
Lalu mengirim pesan satu lagi, ke Bu Gendhis. Eliza menjelaskan singkat bahwa keluarga Starla muncul dan memberikan bukti test DNA padanya.
Tak sampai satu menit, balasan masuk. "Mbak El… kok njenengan percaya?"
Eliza menatap layar, dadanya mendadak sesak. Ia menarik napas, menulis pelan. "Beliau ayah Starla, Bu."
Tak lama, ponselnya bergetar. Telepon masuk dari Bu Gendhis. Eliza mengangkatnya, tapi suaranya lebih dulu terdengar parau.
“Bu…”.Tangisnya langsung tumpah.
Di seberang sana, Bu Gendhis terdiam sejenak. Lalu suaranya terdengar lebih pelan, lebih hati-hati. “Mbak El… terus kita ini siapa?” Pertanyaan itu menghantam tepat di dada.
“Kalau memang dia ayah kandungé Starla,” lanjut Bu Gendhis lirih, “ya berarti… waktu kita sudah habis. Bener, tho?”
Eliza tak sanggup menjawab. Isaknya makin menjadi. “Tapi, Bu…” katanya tertahan. “Saya…”
“Ngerti,” potong Bu Gendhis, suaranya berat tapi hangat. “Sakit. Nggak ikhlas. Wong ngasuh dari kecil.” Ia menghela napas. “Tapi piye maneh, mbak. Kita nggak bisa mutus nasab, to?”
Eliza mengangguk, meski tahu tak terlihat. “Iya, Bu. … aku akan coba nerima.”
Telepon pun ditutup dengan doa singkat dari Bu Gendhis. Eliza memegang ponselnya lama, lalu mengendur pelan. Dia baru saja dipaksa melepas sesuatu yang selama ini ia genggam erat.
Siang itu, Saba menjemput Starla. Anak itu semringah melihatnya, tas kecilnya diayun-ayunkan.
“Mau makan apa?” tanya Saba.
Starla berpikir serius. “Ayam… tapi yang ada es krimnya.”
Saba tertawa kecil. “Deal.”
Mereka makan siang di Mall. Starla bercerita banyak—tentang temannya, guru yang galak tapi baik, dan ibu yang selalu bangunin pagi-pagi.
Saba mendengarkan, sesekali bertanya, sesekali hanya menatap, seolah ingin menghafal tiap gerak dan suara putrinya.
Mereka lalu bermain sampai waktu pulang Eliza hampir tiba.
Saba lalu mengirim pesan. "Kita di Mall. Kalau kamu mau, nyusul aja. Starla masih main."
Eliza membaca pesan itu ketika meraih jaketnya di gudang karyawan. Jantungnya berdegup tak karuan.
Ia tahu, pertemuan itu tak bisa dihindari lagi.
Eliza menarik napas panjang, menatap cermin kecil di dinding gudang, yang memantulkan wajahnya sendiri.
Dia keluar toko, menyalakan motornya menuju Mall.
Sesampainya di Mall. Eliza berhenti beberapa langkah dari mereka. Dari kejauhan ia melihat Starla tertawa lepas dalam gendongan Saba—kepalanya sedikit mendongak, matanya menyipit bahagia. Tawa yang jarang ia dengar akhir-akhir ini. Ada sesuatu yang hangat sekaligus perih menjalar di dada Eliza. Mungkin… dia memang akan bahagia bersamanya, pikirnya.
Ia mendekat. Begitu melihat Eliza, Starla langsung meronta kecil. “Turun.”
Saba menurunkannya, dan bocah itu tanpa ragu berlari memeluk Eliza, menempelkan pipinya ke perut perempuan itu seolah mencari rumah.
“Makan es krim, Ibuuu,” kata Starla riang.
Mereka menurut. Resto yang ditunjuk Starla ramai, penuh tawa anak-anak lain. Starla makan dengan lahap, tangannya belepotan es krim, sesekali menengadah ke Saba, lalu ke Eliza.
Tak lama, geraknya melambat. Kepalanya menunduk. Matanya setengah terpejam.
“Ngantuk ya?” tanya Eliza lembut.
Starla tak menjawab. Ia menguap lebar. Saba masih menyuap makanannya ketika tiba-tiba tubuh kecil itu rubuh ke samping, menyandar di lengannya. Kepalanya pas di lengan Saba, napasnya mulai teratur.
Eliza refleks hendak mengangkat Starla. Namun Saba menggeleng pelan. “Nggak apa,” katanya lirih. “Habiskan makanmu, El.”
Eliza membeku sesaat, lalu duduk kembali. Tangannya meremas ujung serbet. Starla sudah nyaman ... Dengan Saba.
Hening turun di antara mereka. Eliza menatap wajah Starla yang terlelap sambil menarik napas panjang.
“Aku…” suaranya hampir goyah, tapi ia memaksakan tenang. “Aku akan mulai mengenalkan Anda lebih intens padanya.”
Saba menoleh. Menatap Eliza lama. Ada syukur di matanya. “Terima kasih,” katanya singkat.
Beberapa menit kemudian, mereka sepakat pulang.
Starla tetap digendong Saba, dibawa ke mobilnya. Mereka akan bertemu lagi di kosan Eliza.
Eliza mengangguk saja. Tak banyak bicara. Keduanya berjalan berdampingan menuju basement.
Eliza membawa tas Starla, juga beberapa kantong belanjaan. Mainan. Baju. Sepatu kecil. Ia melirik sekilas ke dalamnya. Merk bagus dan semua terlihat mahal.
Dadanya terasa ditekan pelan. 'Iya…' batinnya pahit. 'Kalau sama ayahnya, Starla pasti hidup lebih layak.'
Saba berjalan di sampingnya, menggendong Starla dengan satu tangan. Tubuhnya tegap. Langkahnya tenang. Starla tidur nyenyak, pipinya menempel di dada Saba, sama sekali tak gelisah.
Mereka hampir sampai di pintu basement. Lalu langkah Saba terhenti. Seorang perempuan berdiri tak jauh dari mobil hitam yang terparkir. Rambutnya rapi, tas mahal menggantung di lengannya. Tatapannya tajam, lurus ke arah Saba, lalu bergeser ke Starla.
Senyumnya tipis. Sinis. “Oh,” katanya pelan, tapi menusuk. “Jadi ini…”
Eliza refleks menoleh. Jantungnya berdenyut hebat. Saba mengencangkan sedikit pelukannya pada Starla. Rahangnya mengeras.
“Nyonya,” ucap Eliza, mundur selangkah di belakang Saba. Perasaannya tak enak.
.
.