Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Ayahnya Starla

Eliza tercekat saat mengintip dari balik celah pintu. Indra berdiri masih dengan kemeja kerja, tas selempang menggantung di bahu, wajahnya tegang tapi sorot matanya lembut.

“El…” panggilnya pelan. “Maaf kalau malam-malam datang. Aku khawatir.”

Eliza cepat menoleh ke belakang. Starla sudah duduk di pinggir ranjang, mengucek mata. “Ibu… siapa?”

Refleks, Eliza membuka pintu sedikit saja. “Pak Indra… kenapa ke sini?”

Indra menurunkan suaranya. “Kamu tadi bilang hal yang nggak mungkin kamu jawab sekarang ... dan cerita nunggu kalau semuanya sudah baik-baik aja.”

Eliza menggenggam gagang pintu. “Aku bilang nanti.”

“Aku tahu. Tapi perasaanmu keburu cemas duluan,” jawab Indra tenang. “Aku cuma mau pastiin kamu nggak sendirian.”

Starla melangkah mendekat. Matanya membesar melihat tamu. “Om Indra?”

Indra langsung berjongkok. Senyumnya muncul, tulus. “Hai, Starla. Maaf ya Om ganggu malam-malam.”

Starla tersenyum kecil. “Gak apa soalnya Ibu juga habis sedih.”

Kalimat polos itu seperti pisau.

Indra menoleh ke Eliza. Sorot matanya seakan bilang : Naah, kaaaan...

Eliza menelan ludah. Dadanya bergetar. “Mau masuk sebentar?” katanya lirih. “Tapi… jangan lama-lama.”

Indra mengangguk.

Saat pintu tertutup, ponsel Eliza yang tergeletak di meja kembali bergetar. Nama Saba menyala di layar.

Eliza meliriknya. Lalu menatap Indra kemudian ke arah Starla yang kembali tidur di ranjang.

Eliza tidak mengatakan apa pun tentang siapa sebenarnya Saba.

Ia hanya duduk di lantai, menunduk, lalu berkata pelan, “Aku cuma takut…” suaranya serak. “Takut kalau suatu hari keluarganya datang… Starla bakal milih mereka. Bukan aku.”

Indra terdiam. Tatapannya lama menempel di wajah Eliza. Ia tahu—Eliza menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kecemasan.

Tapi Starla sedang beristirahat, tidur miring sambil memeluk bonekanya.

Indra menghela napas. Ia tidak berani memaksa. “Ada aku, El,” katanya lembut. “Jangan ngerasa berjuang sendiri.”

Eliza mengangguk pelan. Matanya basah, tapi ia memaksakan senyum.

Tak lama, Indra pamit. Pintu tertutup perlahan, menyisakan keheningan yang terasa lebih kosong dari sebelumnya.

Eliza bersandar di daun pintu. Beberapa detik ia hanya diam, lalu melirik ponselnya. Ada satu panggilan tak terjawab dari Saba.

Dia duduk di tepi kasur, tak menelepon balik Saba, hanya menulis pesan.

"Baik. Besok sebelum berangkat sekolah, sarapan bareng dengan Starla. Tempatnya yang atur, Anda."

Tak lama kemudian balasan masuk, singkat. ["Ok."] 

Eliza memejamkan mata. Dadanya terasa sesak. Ia meletakkan ponsel, lalu berbaring, meski masih setengah mengantuk.

Eliza memeluknya erat. Terlalu erat untuk sebuah pelukan biasa.

“Ibu?” gumam Starla.

“Nggak apa-apa,” jawab Eliza cepat. “Tidur ya.”

Lampu dimatikan. Eliza berbaring, membelakangi Starla, menatap kegelapan. Pikirannya tak berhenti berputar. Antara takut, rela dan kehilangan yang akan terjadi.

Dalam tidurnya, alis Eliza berkerut. Dadanya naik turun tak beraturan. Jarinya mencengkeram sprei, seolah mencari pegangan. Bibirnya bergerak-gerak pelan, tapi tak bersuara. Kepalanya menggeleng kecil berulang kali, seperti menolak sesuatu yang terus datang menghantamnya.

Saat suara itu terdengar—“Kamu nggak berhak jauhkan anakku…”—tubuh Eliza tersentak keras.

Ia duduk mendadak, napasnya terputus-putus, tangan menutup dada. Matanya membelalak, basah, lalu perlahan ia meraup wajahnya sendiri, telapak tangannya gemetar.

Eliza lalu menoleh ke jam di meja. Pukul satu malam. Ia bergeser, duduk bersandar di pangkal kasur, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sunyi terasa menekan dada.

"Apa usahaku sampai di sini saja?"

Air mata menetes perlahan. “Aku tahu,” bisiknya pada diri sendiri, suaranya nyaris tak terdengar. “Orang akan datang dan pergi…”

Eliza menoleh ke arah Starla yang tidur tenang di sampingnya. “Tapi kamu…” suaranya pecah. “Kamu sudah seperti anakku.”

Tangisnya jatuh tanpa suara sebab Eliza tahu, esok adalah awal dari perpisahan yang belum ia siap terima.

***

Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin cuma perasaan Eliza saja. Mereka datang lebih awal dari Saba.

Starla duduk di kursi kecil dekat jendela kafe sederhana yang Saba pilih. Ada bau roti panggang dan susu hangat yang samar-samar membuat napsu makan muncul.

Starla menatap Saba dengan penasaran, tapi tidak takut. Justru ada senyum kecil yang muncul tanpa diminta.

“Om kemarin itu ya?” tanyanya polos sambil menggoyang-goyangkan kaki.

Saba tersenyum. “Iya. Nama Om ... Saba.” Ia menunduk sedikit agar sejajar dengan mata Starla. “Starla suka sarapan apa?”

“Telur dadar… tapi harus ada kecapnya,” jawab Starla mantap. Lalu menoleh ke Eliza. “Boleh kan, Bu?”

Eliza mengangguk pelan. Dadanya terasa aneh—campur aduk antara lega dan takut. Bagaimana jika Starla merasa nyaman dengannya?

“Boleh,” katanya singkat.

Saba tertawa kecil. “Deal. Telur dadar pakai kecap.”

Ia lalu menoleh ke Starla lagi. “Kalau nanti Om ajak jalan-jalan sepulang sekolah… Starla mau nggak?"

Starla langsung semringah. “Mau!” Lalu ekspresinya berubah ragu. Ia melirik Eliza cepat-cepat. “Tapi… sama Ibu.”

Saba tak langsung menjawab. Ia menoleh ke Eliza lebih dulu, seperti meminta izin dengan cara paling halus. “Sama Ibu,” ulangnya. “Om nggak keberatan.”

Starla mengangguk puas. “Kalau gitu mau.”

Eliza menunduk, pura-pura mengaduk minuman. Ada sesuatu yang hangat mengalir, dan itu justru kian membuatnya gelisah.

Setelah sarapan, Saba berdiri sambil meraih kunci mobilnya. “Om boleh ikut anter Starla ke sekolah?”

Starla terdiam. Wajahnya berubah serius, berpikir. “Engghhh?”

“Boleh ga?” tanya Saba, sabar menunggunya.

Starla langsung menggeleng kecil. “Motor Ibu sempit. Nggak muat.”

Eliza refleks tertawa kecil. Saba ikut tertawa, agak terkejut tapi senang.

“Om ikutin motor Ibu aja,” kata Saba cepat. “ngekorin dari belakang.”

Starla berpikir sebentar, lalu mengangguk. “Ya udah.”

Di depan sekolah, Saba turun lebih dulu. Ia tidak berdiri, menjaga jarak. Tapi tetap ikut masuk ke area gerbang bersama Eliza dan Starla.

Bisik-bisik langsung terdengar.

“Itu ayahnya ya?”

“Mirip nggak sih?”

“Baru keliatan sekarang…”

Eliza pura-pura tidak dengar. Tangannya menggenggam tas Starla sedikit lebih erat.

Bu Ratna menghampiri dengan senyum ramah tapi penuh rasa ingin tahu. “Starla, diantar siapa hari ini?”

Starla tersenyum lebar. Menunjuk Eliza dulu. “Ibu.” Lalu ia melirik Saba. Wajahnya memerah. “Dan… ennghhh…” Ia tertunduk malu, lalu buru-buru masuk ke barisan kelas.

“Starla,” panggil Saba pelan.

Starla menoleh. “Ya?”

“Dadah. Jangan lupa… ya.” Tak ada kalimat lanjutan. Tapi tatapan itu penuh arti.

“Okaay,” jawab Starla ceria sambil melambaikan tangan.

Eliza berdiri kaku. Ia melihat semua itu—cara Starla tersenyum, cara Saba menatap, interaksi di antara mereka terasa begitu… pas. Chemistry itu nyata. Terbentuk tanpa paksaan.

Ketakutannya bukan tanpa alasan. "Apakah ini yang orang sebut ikatan batin?"

Eliza menelan ludah. Dia melambaikan tangan ke arah Starla sebelum berbalik badan menuju parkiran. Langkahnya gontai, pikirannya semrawut.

Saba ingin mengikuti Eliza, tapi dia ditahan beberapa ibu-ibu yang menyapanya.

"Ayahnya Starla?" 

Saba tak langsung menjawab, dia melihat Eliza yang kini menoleh padanya.

"Saya...."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!