Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Hasil Test
Julia mendorong pintu ruang kerja tanpa mengetuk.
Saba refleks menoleh. Tangannya masih memegang amplop cokelat itu. Tapi, dia langsung menyelipkan ke laci meja, lalu ditutup.
“Mau apa?” tanyanya datar.
Julia melangkah masuk. Sepatu haknya berbunyi pelan menggema di ruangan. Ia berhenti di depan meja, lalu mengulurkan tangan.
“Uang.”
Saba menyandarkan punggung ke kursi. “Nggak ada.”
Julia mendengus. “Kamu potong bulananku lagi, kan?”
“Aku batasi,” jawab Saba singkat. “Beda.”
Wajah Julia berubah. “Kurang ajar kamu,” katanya sambil menunjuk. “Kamu tuh harusnya tahu posisimu. Tinggal ngasih aja apa susahnya, sih?”
Saba menatapnya lurus, sorot matanya dingin.
“Aku sudah ngasih,” katanya pelan tapi tegas. “Dan salahmu sendiri kalau habis sebelum waktunya.”
Julia mendekat satu langkah. Nada suaranya menurun, matanya menyipit menatap Saba. “Kamu nggak pulang beberapa hari,” katanya. “Ke mana?”
“Apa pedulimu?” balas Saba tanpa ragu.
Julia tertawa kecil. “Aku ini istrimu. Berhak tahu, lah.”
Saba ikut tertawa sinis. “Istri?” ulangnya. “Sejak kapan kamu ingat peran itu?”
Julia terdiam sesaat. Lalu matanya melirik ke laci meja. Curiga. Ia merangsek, tangannya hendak menarik laci itu.
Saba berdiri cepat. Tangannya menahan pergelangan Julia. Cengkeramannya kuat tapi tidak sampai menyakitinya. “Jangan coba-coba.”
Julia menoleh, matanya menyipit. “Kenapa segitunya?” Lalu tersenyum miring. “Siapa sih yang kamu sembunyiin?”
“Bukan urusanmu.”
“Oh…” Julia mendengus. “Perempuan ya?” Nada suaranya meninggi. “Lonte mana lagi sekarang?”
Saba diam menatap Julia. Seolah semua kesabarannya sudah menipis. “Keluar.”
Julia terkejut. “Apa?”
“Keluar,” ulang Saba lebih keras. “Dari ruang kerjaku. Sekarang.”
Julia tertawa kecil, gemetar. “Kamu pikir aku takut?”
Saba mendekat satu langkah. Tatapannya membuat Julia refleks mundur. “Jangan paksa aku ngusir kamu dengan cara yang nggak enak.”
Sunyi.
Julia menatap laci itu sekali lagi. Rahangnya mengeras. “Ini belum selesai,” katanya pelan, penuh dendam.
Ia berbalik dan keluar. Pintu dibanting.
Saba berdiri lama setelah itu. Dadanya naik turun. Ia duduk kembali, membuka laci. Amplop cokelat itu masih di sana. Tangannya gemetar saat menyentuhnya.
“Masalah satu belum selesai,” gumamnya pelan. “Sekarang nambah satu lagi.”
Di kepalanya, wajah Starla kembali muncul. Saba sadar, kebenaran yang sedang ia sembunyikan sebentar lagi pecah.
Ketukan terdengar lagi. Kali ini lebih pelan, tapi tegas.
Tok. Tok.
Saba mengangkat kepala. Tatapannya berhenti di pintu yang terbuka sedikit. Hasnawati berdiri di sana.
Ia tidak langsung menyapa. Hanya berdiri, menunggu. Saba menatapnya beberapa detik, lalu berkata singkat, "Masuk aja, Maa.”
Hasnawati melangkah masuk dan menutup pintu. Ia duduk di kursi depan meja Saba, menyilangkan kaki dengan rapi. “Kamu sudah ketemu Eliza?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi. “Sudah bicara soal Starla?”
Saba menyandarkan punggung ke kursi. “Belum,” jawabnya. “Kemarin ketemu, ya ketemu aja. Biasa.”
Hasnawati mengangkat alis. “Biasa? Nggak ada pembahasan apa pun?”
Saba menggeleng. “Belum waktunya.”
Hasnawati menatap anaknya lama. “Lalu,” katanya pelan, “apa yang akan kamu lakukan?”
Saba terdiam. Pandangannya jatuh ke laci meja tempat dimana amplop itu di simpan. Wajah kecil dengan senyum polos di lorong rumah sakit, membayang di matanya.
Ia menarik napas panjang. “Aku belum tahu,” katanya jujur.
Hasnawati tersenyum tipis. “Kamu selalu begitu kalau sudah melibatkan perasaan.”
Saba mendongak. “Menurut Mama?”
Hasnawati menyandarkan punggungnya ke kursi. Suaranya tenang, “Kalau menurut Mama, Starla itu darahmu. Hakmu.”
Saba mengerutkan kening. “Hak di atas kertas, mungkin.”
“Bukan cuma kertas,” potong Hasnawati. “Kamu punya nama, uang, dan posisi. Semua yang dibutuhkan.”
Saba menggeleng pelan. “Tapi Eliza yang membesarkan.”
Hasnawati tersenyum kecil, “Dan itu bisa diganti.”
Saba langsung menatapnya tajam. “Jangan bicara seperti itu, Maa.”
Hasnawati mencondongkan tubuh sedikit. “Kalau kamu terlalu lembut, kamu akan kalah. Kalau kamu datang tiba-tiba, kamu akan terlihat kejam. Jadi pilihannya tinggal satu.”
“Apa?” tanya Saba lirih.
“Buat dia percaya dulu,” jawab Hasnawati.
“Bahwa kamu bukan ancaman. Sampai saatnya… keberadaanmu nggak bisa diabaikan lagi.”
Hening jatuh di antara mereka. Saba memejamkan mata sebentar.
“Aku nggak mau Starla trauma.”
Hasnawati berdiri. Merapikan bajunya. “Trauma itu urusan nanti. Yang penting, anak itu kembali ke tempat yang seharusnya.”
Saba tetap duduk. Tangannya mengepal di atas meja. Di kepalanya, suara Eliza terngiang. Dan di dadanya, satu keputusan mulai tumbuh.
“Tapi aku nggak tega…” Suara Saba terdengar lebih pelan dari biasanya.
Kata-kata Hasnawati terulang di telinganya. Bicara dan memberi Eliza waktu untuk menata hatinya. Masuk perlahan ke kehidupan mereka.
Saba menghela napas. Pandangannya kosong. “Apa Starla mau sama aku?” tanyanya ragu. “Aku ini orang asing buat dia.”
Hasnawati menatap anaknya. “Dia juga rindu sosok ayah. Anak sekecil itu peka. Dia cuma belum tahu apa yang ia rindukan.”
Hasnawati bilang bahwa Saba bisa mengenalkan Starla ke Julia. Saba menolaknya, dia malah tak ingin Julia dekat dengan putrinya.
Hasnawati terdiam sesaat. Lalu ia menghela napas panjang, seolah menyerah pada keras kepala anaknya. “Pokoknya,” katanya akhirnya, “masuklah pelan-pelan. Jangan paksa. Kasih Eliza pengertian.”
Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti. “Kamu anak Mama,” katanya tanpa menoleh. “Jangan biarkan perempuan lain membesarkan anakmu selamanya.”
Hasnawati melangkah keluar dari sana. Pintu pun tertutup, menyisakan Saba seorang diri.
Saba berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, langit mulai berubah warna. Senja selalu datang dengan cara yang sama—pelan, tapi pasti.
Di kepalanya, wajah Starla muncul lagi. Senyumnya. Pelukan singkat di rumah sakit. Dua jari kecil yang terangkat sambil bilang, sedikit aja.
Saba mengusap dadanya sendiri. “Kalau aku mulai sekarang…” gumamnya pelan. “Apa aku malah merusak semuanya?”
Saba memejamkan mata. Apakah ia harus segera memulai? Atau menunggu… sampai keberaniannya benar-benar siap menanggung akibatnya?
Pagi itu, Saba berdiri lama di depan meja kerjanya. Laci yang semalam belum sempat dibuka, akhirnya ia tarik pelan. Amplop cokelat itu ada di sana.
“Udah,” gumamnya. “Nggak bisa ditunda lagi.” Saba memejamkan mata membaca hasil di tangannya.
Dan sesaat kemudian, Saba mengirimkan pesan kepada Eliza.
Taman kecil di dekat toko masih sepi. Embun belum sepenuhnya menguap. Beberapa orang tua sudah mulai jogging, sisanya cuma burung dan angin pagi.
Eliza datang dengan langkah terburu-buru. Memakai seragam kerjanya yang disetrika rapi, rambutnya diikat sederhana. Begitu melihat Saba berdiri di dekat bangku taman, langkahnya melambat.
“Pak Saba?” sapanya hati-hati.
“Iya,” jawab Saba. “Makasih udah mau ketemu sebelum kerja.”
Eliza duduk di ujung bangku. “Ada apa ya?” tanyanya tanpa basa-basi.
Saba tak langsung menjawab. Ia duduk, lalu meletakkan amplop di antara mereka.
“El,” katanya pelan, “tolong lihat ini dulu.”
Eliza menatap amplop itu. Alisnya berkerut. Tangannya ragu-ragu mengambilnya. Begitu dibuka dan matanya membaca sekilas, wajahnya langsung berubah.
Membelalak.
.
.