Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Akta Starla

Saba masih berdiri di dekat jendela ketika ponselnya bergetar pelan di genggamannya. Layar menyala, nama orang suruhannya muncul.

Ia mengangkat, menjawab singkat. “Ya.”

Di seberang, suara itu terdengar sedikit ragu, seolah tahu apa yang akan disampaikan bukan hal ringan.

“Bidan itu awalnya tidak mau bicara, Bos,” lapornya. “Dia bilang… sudah tidak mau terlibat urusan seperti ini.”

Saba memejamkan mata sesaat. “Lalu?”

“Kami terus mendesak. Sampai akhirnya dia bertanya… kalau membuka ini, dia minta namanya tidak disangkutpautkan sama siapa pun.”

Saba menghela napas pendek. “Kalian setuju?”

“Iya, Bos. Kami buat perjanjian. Dan… memberinya uang.”

Sunyi sejenak.

“Bidan itu bilang,” lanjut suara di seberang, kini lebih pelan, “anak Wulan perempuan.”

Jantung Saba berdenyut satu kali, tapi makin lama ritmenya berubah lebih cepat.

“Perempuan?” ulangnya lirih.

“Diambil langsung setelah tali pusat dipotong,” kata orang itu. “Dan… ada tanda lahir di perutnya. Bentuknya seperti pulau Bali. Jelas sekali, katanya.”

Saba terdiam. Tangannya mengendur di sisi tubuh. “Lalu?” tanyanya akhirnya.

“Lahir pukul dua satu nol lima. Tanggal dua puluh satu Mei.”

Angka itu menggantung di udara. Saba memejam, otaknya berpikir cepat.

“Ada lagi?” suara Saba terdengar rendah.

“Selesai.”

“Belum,” potong Saba pelan. Ia membuka mata, menatap lurus ke luar jendela. “Eliza menemukan bayi itu jam berapa?”

Di seberang terdengar suara membalik catatan.

“Pegawai Indoapril biasanya pulang sekitar jam sepuluh sampai sebelas malam, Bos.”

Saba mengangguk pelan, meski lawan bicaranya tak bisa melihat.

“Lanjutkan,” katanya. “Selidiki juga… apakah ibuku sedang menyelidiki sesuatu akhir-akhir ini?"

“Siapp, Bos.”

Saba menahan napas sejenak. “Ada lagi?”

“Untuk saat ini—”

“Julia,” sela Saba. “Beri aku lebih banyak foto dia. Dengan siapa pun yang mencurigakan.”

Suara di seberang langsung sigap. “Baik, Bos.”

Telepon terputus.

Sunyi kembali memenuhi ruangan.

Saba menoleh ke arah ranjang. Hasnawati masih terlelap, wajahnya terlihat lelah di balik selang oksigen.

Pikiran Saba mulai merangkai sendiri.

Lima tahun lalu. Wulan melahirkan bayi perempuan. Ada tanda lahir di perutnya.

Malam hari. Eliza pulang kerja.

Menemukan bayi perempuan di depan kos.

Saba mengepalkan rahangnya perlahan. “Jadi ini yang Mama sembunyikan…” gumamnya nyaris tak terdengar.

Ia menatap ibunya lama. Bukan dengan amarah, tapi dengan kecewa yang baru mengerti arah.

“Ma,” bisiknya. "Mama sedang mencari siapa?”

Saba berdiri tegak. Dadanya naik turun pelan.

Ia ingin mencari Eliza. Hanya untuk memastikan, apakah potongan hidup yang hilang itu… benar-benar ada di hadapannya sekarang.

Dan jika iya, apakah ia siap menghadapi kebenaran itu?

***

Di ruang tunggu yang dingin dan terang, Eliza duduk dengan map cokelat di pangkuannya. Tangannya sedikit gemetar saat ia membuka lembar paling depan.

Akta kelahiran itu sudah jadi. Namanya tercetak jelas di sana. Meskipun bukan sebagai ibu kandung, melainkan sebagai pihak yang mengurus Starla.

Namun, tetap… ada namanya.

Eliza menelan ludah. Dadanya menghangat oleh sesuatu yang sulit ia beri nama. Antara syukur, haru, dan tanggung jawab yang kini terasa sah di mata negara.

Ia mengusap pelan nama kecil itu.

Starla Vali Dwipa.

Nama yang selama ini hanya hidup di angan-angannya, kini tercatat resmi.

Tak ingin berlama-lama tenggelam dalam perasaan haru, Eliza berdiri dan segera menuju loket lain. Pengurusan Kartu Keluarga.

Ia menyerahkan KK lamanya, menunggu dengan sabar saat petugas menambahkan satu baris baru.

“Jadi ini statusnya masih pengasuhan sementara, ya, Mbak?” tanya petugas sambil mengetik.

“Iya,” jawab Eliza pelan. “Sambil nunggu proses selanjutnya.”

Petugas mengangguk, lalu menunjuk layar.

“Nanti dicek email secara berkala. Kalau sudah masuk, Mbak bisa lanjutkan cetak di mesin pencetak sebelah sana,” tunjuk petugas ke arah pojok kanan depan. "Atau di print di kecamatan atau kios fotokopi yang sedia fasilitas ini," tuturnya lengkap.

Eliza mengangguk, mengucap terima kasih, lalu melangkah keluar gedung dengan langkah cepat.

Ia melihat jam, sudah terlambat satu jam. Hati Eliza tak enak. Pasti bakal kena tegur lagi.

Toko sudah ramai saat Eliza sampai. Kepala toko menatapnya dengan alis berkerut.

“Eliza, ini sudah lewat satu jam,” tegurnya dengan nada tegas.

Eliza menarik napas, lalu membuka map yang masih ia bawa.

“Maaf, Pak. Urusan ini nggak bisa ditunda.” Ia menunjukkan dokumen itu.

Kepala toko membaca sekilas. Wajahnya langsung berubah. “Oh… ini untuk anak itu?”

Eliza menganggu cepat, senyumnya semringah.

Ekspresi keras kepala toko ikut melunak. “Ya sudah. Lain kali kabari. Tapi… baguslah, El. Akhirnya yaa ... Selamat.”

Marah yang sempat muncul, batal begitu saja. Bahkan ada senyum kecil dan ucapan selamat dari kepala toko.

Namun setelah kembali bekerja, pikiran Eliza justru masih gelisah.

Saba.

Nama itu menggelayut, seperti bayangan yang enggan pergi.

Pak Sarip… apa ada kaitannya dengan mereka?

Kalau dipikir-pikir, masuk akal sih, Orang yang mengambil obat atas nama Hasnawati. Paham soal istilah adopsi.

Bersikap seolah tahu lebih banyak daripada yang ia katakan. 

"Karena mereka terbiasa berinteraksi dengan anak-anak panti." 

Berarti benar—obat itu memang untuk Nyonya Hasnawati. Dan apakah tiba-tiba Saba juga tertarik dengan Starla? berniat mengadopsi Starla karena merasa ibunya sudah mengenal mereka?

Atau… apa karena ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa iba?

Eliza menghela napas panjang. Pikirannya semrawut. Potongan-potongan petunjuk itu berloncatan di kepalanya.

Yang ia tahu pasti hanya satu—ketenangan yang ia rasakan selama 5 tahun belakangan mengurus Starla, perlahan mulai retak.

Dan entah kenapa, Eliza merasa… Starla sedang menarik perhatian yang tidak bisa ia duga.

Sore yang ditunggu, akhirnya tiba. Saat hendak pulang, Eliza berpapasan dengan Indra di area parkir. Langkah mereka tertahan hampir bersamaan.

Eliza berhenti lebih dulu. Ia teringat sesuatu. “Pak…” katanya pelan. “Uang pinjaman itu kan nggak kepakai.”

Indra menoleh. “Kenapa?”

“Aku mau transfer balik sekarang.”

“Pegang aja dulu, El. Buat jaga-jaga kan Starla belum fit betul. Prepare,” jawab Indra ringan.

Eliza menggeleng kecil. “Nggak mau.”

Ia mengeluarkan ponsel, jari-jarinya bergerak cepat. Beberapa detik kemudian notifikasi terkirim.

“Selesai,” katanya singkat.

Indra menghela napas, tapi tak memaksa. “Starla sekarang gimana?”

Eliza tersenyum. "Mendingan dan aktenya sudah jadi.”

“Syukur, Alhamdulillah” ujar Indra tulus. Lalu, seolah mengingat sesuatu, ia menambahkan,

“Sebenarnya… kalau mau bikin status Starla lebih kokoh, ada cara lain.”

Eliza mengernyit. “Apa?”

Indra menatap ke depan sesaat, lalu kembali padanya. “Menikah, El.”

Eliza tertawa renyah. “Sama siapa?”

Indra tak langsung menjawab. Ia diam. Menatap Eliza lebih lama dari yang seharusnya. Tatapannya tak bercanda, terasa dalam. “Kamu…”

Kata itu menggantung di udara. Eliza menunggu, tapi senyumnya perlahan memudar. Ada sesuatu di mata Indra yang membuat dadanya mengencang, sebuah keseriusan yang datang terlalu tiba-tiba.

"Ya?"

"Kamu... Nggak ngerti apa gimana, El?"

Eliza bingung. "Eh?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!